Ultras Mania Gresik

Kita pernah juara. Gresik pernah juara. Dan sekarang "KAMI RINDU JUARA" Liga Indonesia

Roma Club Indonesia

Kami ada. Kami berpesta. Kami bersatu. Hanya untuk satu kebanggaan, AS ROMA

AS ROMA

LA ROMA NON SI DISCUTE SI AMA

Fan Fiction

Cerita fiksi untuk meluapkan ekspresi jiwa. Tentang hiburan, luapan perasaan, dan pengorbanan.

48 Family

The power of Idol. Idol can't make you horny, just can make you proud with them. Kita pecinta idol sebagaimana kita mencintai sepakbola.

Tampilkan postingan dengan label Footbalindo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Footbalindo. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 April 2015

Sengkarut Benang Kusut Sepakbola Indonesia

Media massa di Indonesia seakan tak pernah habis berita. Kalau beberapa saat yang lalu sempat gempar berita tentang pemilihan Kapolri dan kalau ditarik lebih panjang, kasus Kapolri itu merebak setelah ada isu kriminalisasi KPK. Tapi ada yang dilupakan masyarakat dan mungkin media massa. Perlawanan gesit dan giras dari ibu-ibu dari Warga Rembang. Pemberitaan media massa tak se massive pemberitaan pemilihan Kapolri atau bahkan pemberitaan kematian salah satu komedian. Ya, saya paham kalau pemberitaan media terhadapa perlawanan keras nan giras ala ibu-ibu Rembang yang menolak pembangunan pabrik Semen tidak bisa menjual menurut media.

Dan saat ini, semua mata tertuju pada sepakbola Indonesia. Hiburan yang paling ditunggu dan di nanti ribuan orang di seantero negeri. Sepakbola Indonesia gaduh dengan keputusan Menpora, Imam Nahrowi yang membekukan PSSI. Induk tertinggi sepakbola Indonesia yang penuh dengan masalah. Sudah lama federasi yang tak berani menyentuh, ada yang berani menyentuh dan bahkan melakukan “cubitan” keras.

Sejak Menpora di pimpin Adhyaksa Dault sampai era Menpora yang terkena kasus hukum, Andi Malarangeng dan penggantinya Roy Suryo, PSSI di biarkan hidup dengan penuh luka dan borok. Menpora yang baru dengan membawa semangat dan keberanian baru berani mengobati PSSI meskipun kadang proses pengobatan menyakitkan.

Sebagai salah satu pecinta sepakbola Indonesia, saya harus bisa menguatkan hati, mata, dan keinginan untuk datang ke stadion dan berteriak memberikan semangat untuk tim idola. Saya rindu suara khas penghuni stadion. Saya rindu aroma harum khas rumput stadion. Saya rindu pemandangan indah seluruh elemen di stadion tertawa gembira selepas pertandingan selesai dan melihat tim lawan tertunduk lesu karena pulang dengan tangan hampa. Jujur, saya rindu itu. Saya rindu stadion.

Saya tak bisa membayangkan puluhan ribu orang yang nyawa nya bergantung ke sepakbola dan segala aktivitas yang melibatkan sepakbola. Dan saya mengutip kata-kata Pak Djamal Aziz anggota Exco PSSI dalam suatu kesempatan di Metro TV beberapa saat yang lalu, bahwa ada banyak orang yang merugi ketika liga berhenti. Mulai dari pelatih, pemain, tukang pijat, anak gawang, calo tiket (contoh buruk), dan mungkin yang hanya ada di stadion Gresik, ada penjual lumpia, air mineral, dll. Bayangkan puluhan ribu nyawa manusia bergantung ke sepakbola.

Kompetisi harus dan harus berjalan. Tak boleh ada penundaan lagi. Sebagai seorang suporter yang selalu berusaha datang ke stadion dan menjadikan stadion sebagai tempat rekreasi dan melepas penat, penundaan liga ibarat kehilangan tempat rekreasi dan ajang silaturahmi antar warga. Bayangkan, dari 24 jam setiap hari kita beraktivitas, kita cenderung melupakan orang sekitar. Lalu, acara apa yang bisa mengumpulkan massa sebanyak ribuan bahkan puluhan ribu dalam satu tempat ? Pertandingan sepakbola.

Dan mungkin inilah yang membuat kita secara atau tidak sadar menolak keputusan Menpora untuk membekukan PSSI. Federasi yang selama ini berjalan tanpa menghiraukan kritik, kecaman, dan arahan pemerintah dan masyarakat. Federasi yang selama ini jadi pesakitan. Federasi yang selama mampu bikin suporter di lapangan membentangkan spanduk kecaman untuk federasi. Federasi yang sejak dulu kita ingin revolusi.

Saya sebagai pecinta sepakbola Indonesia ingin sepakbola kembali seperti sedia kala. Seperti sebelum-sebelumnya. Tentu dengan penataan, organisasi, dan struktur yang lebih baru dan diharapkan lebih baik dari sebelumnya. Liga yang berjalan sesuai dengan asas Fair Play. Asas yang di dengung-dengungkan oleh bapak nya PSSI, FIFA. Liga yang berjalan dengan profesional yang tidak ada lagi alasan klub untuk menunggak gaji pemain dan pelatih. Liga yang bersih dari intervensi politik. Liga yang berjalan dengan wasit yang bersih. Liga yang berjalan dengan keputusan juara ditentukan oleh pertandingan di lapangan bukan dengan deal-deal sebelum liga berjalan. Itu baru liga yang kita inginkan.

Belum lagi federasi. Federasi harus bersih dari kepentingan politik partai dan golongan tertentu. Federasi yang tidak punya dendam politik. Federasi yang isinya orang-orang yang mengerti sepakbola dan memiliki keinginan untuk memajukan sepakbola Indonesia. Federasi yang sukses mengembalikan posisi Timnas Indonesia ke posisi asli sebagai salah satu Macan Asia, bukan sebagai Pecundang Asia. Karena hanya pecundang lah yang kalah, tunduk, dan di bokongi oleh lawan yang dulu jadi bulan-bulanan.

Kita tak bisa berharap federasi di isi oleh malaikat. Karena malaikat punya tugas yang lebih dari menjalankan federasi. Tapi kita boleh berharap federasi di isi oleh manusia berhati malaikat bukan berhati maksiat. Kita tentu ingin federasi di isi oleh manusia yang bersih, bukan manusia yang sok bersih. Kita tentu boleh bermimpi Timnas Indonesia mampu masuk Piala Dunia tahun 2022, bukan tahun 2045 seperti yang selama ini PSSI inginkan. Kita tentu boleh bermimpi salah satu klub di Indonesia mampu bermain di World Club Championship dan bertanding melawan jawara Eropa, bukan hanya menjadi penonton klub eropa bertanding. Kita tentu punya keinginan pemain Indonesia bisa bermain di Eropa seperti sebelumnya, bukan hanya melihat pemain Eropa di layar kaca Indonesia.

Kita tentu boleh bermimpi dan punya keinginan. Selama federasi dan liga masih berjalan dengan penuh luka yang federasi sendiri tak sadar akan luka itu, maka kita selamanya akan terus bermimpi dan tidak pernah terwujud. Dan ini waktu yang tepat untuk membenahi, membersihkan, menyehatkan, dan sekaligus operasi darurat untuk sepakbola Indonesia yang lebih baik.

Jumat, 17 April 2015

Curhat Untuk Akhi Fahri Hamzah

Assalamualaikum akhi. Semoga kebaikam dan kesehatan selalu ada di diri akhi. Akhi, izinkan saya untuk menceritakan salah satu olahraga yang saya gemari dan sempat akhi komentari beberapa saat yang lalu. Tentang sepakbola.

Akhi, saya mengenal sepakbola tepat 16 tahun yang lalu. Saat itu saya masih duduk di kelas 1 SD. Dan 2 tahun kemudian, tangisan air mata saya keluar pertama kali untuk sepakbola. Tahun 2002, Petrokimia Putra jadi Juara Liga Bank Mandiri. Itu tangisan pertama saya di dalam stadion. Tangisan pertama saya di dalam Stadion Gelora Bung Karno yang sempat jadi venue konser One Direction.

Tetapi sejatinya, saya “dikenalkan” oleh orang tua saya sepakbola sejak di dalam kandungan. Ibu saya ngidam ingin lihat sepakbola. Mungkin ini lah hasilnya. Dul;u saya ikut sekolah sepakbola di Jakarta, SSB Arcici. Tapi berhenti karena harus kembali ke Gresik. Tapi gar\irah sepakbola saya tidak berhenti sampai disitu. Kadang saya berfikir, saya mencintai sepakbola lebih dari saya mencintai pacar saya.

Dulu ketika saya masih sekolah dengan seragam putih merah, saya hanya bermain sepakbola seperti layaknya anak kecil. Saat itu belum mengenal apa itu mafia wasit, mafia sepakbola, skandal pengaturan skor, skandal pajak, dll. Dan keburukan yang saya sebutkan diatas terjadi di Indonesia.

Dan semua itu saya sadari keberadaannya setelah saya duduk di bangku SMP. Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri Gresik United saat itu dikerjai wasit di Bantul. Pertandingan berhenti sebelum waktu berakhir. Disitulah saya mulai sadar, ada yang tak beres. Belum lagi setelah saya tahu kalau PSSI sempat dipimpin oleh seorang penjahat yang menjalankan tugasnya di balik jeruji besi.

Kita butuh revolusi besar-besaran, akhi. Dan statement akhi agar PSSI mengabaikan Menpora dan agar ISL jalan terus itu seakan menambah luka kami. Luka saya dan luka teman-teman pecinta sepakbola di Indonesia. Padahal saat itu, Menpora dan BOPI sedang berusaha sedang berikhtiar untuk memperbaiki liga agar lebih professional.

Apa akhi lupa, kalau beberapa tahun terakhir ada pemain asing yang meninggal di Indonesia karena tidak digaji ? Apa akhi lupa, kalau banyak pemain local di Indonesia yang tidak digaji berbulan-bulan ? Apa akhi tahu kalau ada salah satu pmain asing di Indonesia yang terlibat mafia bola karena ia tak digaji oleh klub  ? Apa akhi tahu kalau klub-klub di Indonesia banyak yang belum punya NPWP ? Kalau saya sebutkan semua pertanyaan yang mengganjal hati saya, akan sangat banyak sekali, akhi.

Di statement ini, akhi bilang kalau PSSI tidak ambil dana dari pemerintah, jadi Menpora tidak usah ikut campur. Apa it benar akhi ? Kalau itu benar statement akhi, tolong cek putusan hokum yang memenangkan FDSI (Forum Diskusi Sepakbola Indonesia) di Komisi Informasi Publik desember lalu. Mungkin akhi lupa, atau mungkin akhi tidak tahu hal itu. Silahkan ditanyakan kembali ke yang bersangkutan.

Akhi, apa akhi lupa kalau tidak boleh ada intervensi pemerintah. Dan ini yang selalu di gembar-gemborkan PSSI ketika Menpora datang untuk membantu menyelesaikan masalah di PSSI. Kampanye menolak intervensi pemerintah semakin nyaring suaranya setelah Menpora yang baru berani dan tegas.

Tetapi apa yang dilakukan PSSI. Dia malah “wadul” ke DPR dan ke Wapres. Seakan mereka lup[a kalau Wapres dan DPR itu juga bagian dari pemerintah. Dan akhi membela PSSI sekuat tenaga. Harusnya akhi marah. Lembaga DPR yang terhormat dianggap bukan lembaga pemerintah.

Ah akhi, saya tahu, niatnya baik (kalau niat baik) untuk memajukan sepakbola kita. Tapi akhi harusnya belajar lebih dulu tentang sepakbola secara umm dan sepakbola Indonesia sebelum nantinya akhi datang dan menjadi seorang pahlawan.

Akhir kata akhi, saya mendoakan akhi sehat. Agar selalu bisa mengikuti perkembangan sepakbola di Indonesia. Dan akhi, saat ini 18 April 2015 Kongres 5 tahunan PSSI digelar. Akhi ingat atau memang tidak tahu ? Dan saat ini pula ribuan BONEK datang meminta keadilan atas segala aksi tipu-tipu yang dilakukan PSSI ke Persebaya 1927. Saya bukan seorang BONEK, tapi saya sebagai pecinta sepakbola mendukung aksi BONEK.

Semoga PSSI bersih dari MAFIA meskipun susah. Kami, akan terus dan tetap akan melawan.
Salam dari anak bangsa.

Wassalamualaikum….

Minggu, 11 Januari 2015

The Power Of No Return

Semangat itu kembali membara. Gairah yang sempat meredup, akhirnya kembali terang. Layaknya kehidupan di kerajaan langit. Dimana matahari yang menjadi pusat perhatian. Matahari yang menjadi penguasa langit. Matahari tahu saat yang tepat bagi dia untuk menunjukkkan sinarnya. Dan matahari tahu kapan waktu dia memberikan ruang bagi bulan dan bintang untuk bermesraan berdua.
Saat ini bisa dikatakan adalah saat yang tepat bagi semua yang merasa memiliki Gresik United dan semua elemen di dalamanya (suporter) untuk menunjukkan sinarnya. Setelah sekian lama memberikan ruang bagi kegagalan dan keterpurukan untuk bermesraan di dalam kerajaan yang di pimpin Jaka Samudero sebagai Patih dan Maulana Malik Ibrahim sebagai raja. Persis seperti pemerintahan dengan sistem parlementer.
Mungkin terlalu dini jika melihat ini saat yang tepat untuk kembali bersinar. Kalau hanya berkaca dari satu gelaran Pra Musim yang “katanya” milik arek jawa timur, Piala Gubernur. Piala yang secara khusus di tujukan untuk tim-tim jawa timur. Itu normalnya. Karena kondisi saat ini, sedang terjadi kejadian yang abnormal. Bagaimana klub jawa timur sendiri enggan bertanding di Piala Gubernur yang (kembali) katanya milik arek jawa timur. Dan akhirnya memilih untuk bertanding di kompetisi pra musim yang lain. Karena hidup adalah pilihan, maka itu terserah.
Sekitar 1000 an “pengawal” datang dan melakukan invasi ke kota tetangga. Niatnya untuk mengawal pejuang kami yang sedang mencoba membuat sang raja, patih, dan seluruh rakyatnya tersenyum. Setelah sekitar 13 tahun yang lalu, seisi kerajaan tersenyum bahagia. Tak kenal takut, layaknya pasukan berani mati yang di miliki Densus 88 anti teror, perwakilan kerajaan berangkat ke kerajaan sebelah. Meskipun sebagian besar pasukan pejuang adalah rekrutan dari kerajaan lain, tapi kami tak pernah meragukan semangat mereka yang juga ingin membuat seisi kerajaan tersenyum bahagia dan menangis terharu.
Sudah lama semangat rakyat dari kerajaan Gresik tak sebesar ini. Bagaikan api, semangat mereka berkobar. Tak ada asap kalau tak ada api. Karena selalu ada sebab dari sebuah akibat. Semangat yang besar tentu ada sebab. Karena semangat ini hanyalah sebuah akibat yang tak mampu beridiri tanpa ada pemicu yang biasa disebut sebab. Lalu penyebab yang tepat apa ? Karena semangat para pejuang juga terkobar tinggi.
Lama sekali tak melihat pejuang menyalakan api dengan sangat gagah berani. Tak kenal takut tak kenal rasa gentar. Meskipun di antara kobaran api di sekitar dan diantara gemuruh perang yang tak semua pejuang bisa bertahan. Dan mereka mampu bertahan. Dan kami tak akan membiarkan mereka bertahan sendirian tanpa adanya dukungan. Dan masyarakat biasa yang tak bisa berjuang di battlefield hanya mampu menyaksikan mereka dari sebelah dan mencoba memadamkan api yang di percikkan oleh lawan.
Panglima perang China mengenalkan adanya The Power of No Return. Bisa dikatakan itu adalah strategi yang dicoba oleh sang panglima perang untuk membakar semangat pejuangnya. Sata itu, pasukan China terdesak karena adanya pasukan perang musuh. Jalan terakhir adalah berjuang dengan melawan pasukan musuh. Karena kalaupun mereka mundur, mereka akan kalah. Untuk memompa semangat, sang panglima membakar seluruh kapal perang dengan menyisakan satu kapal perang saja. The power of no return.
Jika latar saat itu adalah di atas lautan, dan kapal adalah sebagai objek utama dan pasukan perang sebagai subjek. Maka yang dihadapi pasukan pejuang Kerajaan Gresik bukan itu. Latarnya adalah stadion dengan kobaran api di semua 4 penjuru mata angin. Objek utama adalah sepakbola dan para pejuang adalah subjek. Kita sudah berjalan sejauh ini, mundur akan mati meskipun ketika maju ada kemungkinan untuk mati. Lalu yang dipilih hanya satu, maju. Apapun resikonya. Untuk membantu pasukan yang akan bertanding, masyarakat menyiapkan segala perlengkapan yang nantinya bisa membuat mereka tidak merasa sendirian menghadapi lawan.
Gerakan itu mungkin tak sebesar dengan gerakan 13 tahun yang lalu. 13 tahun yang lalu ketika mereka (pejuang) mampu membuat raja, patih, dan seluruh rakyat tersenyum bahagia dan bangga. Gerakan yang di ikuti oleh puluhan ribu orang.
Memang, butuh waktu lama untuk mengembalikan semangat dan gairah tersebut. 13 tahun setelah kejadian itu, aroma semangat 13 tahun lalu kembali tercium. Ribuan orang RELA meninggalkan tanah asal mereka dan menempuh jarak ratusan kilometer demi mengawal perjuangan para pasukan.
Hasil memang mengecewakan seluruh elemen Kerajaan. Tapi kami yakin, para pendiri kerajaan ini merasakan kembali atmosfer kebangkitan kerajaan kita yang sempat berada di dalam titik terendah. Kami yakin, kekecewaan ini tidak akan berlangsung lama. Kami yakin, dalam setahun ke depan, kerajaan kami akan kembali dipandang kerajaan-kerajaan lain sebagai salah satu kerajaan yang disegani, seperti 13 tahun yang lalu.
Hal yang paling mudah di lakukan adalah Optimis. Ketika optimisme dalam diri seluruh elemen hilang, maka perjuangan mereka akan semakin berat dengan memikul ratusan ribu perasaan pesimis. Optimisme kami masih ada dan masih akan terus ada. Semangat kami masih ada dan akan terus berkembang. Api gairah kami masih menyala dan akan terus berkobar, sampai menyentuh langit sekalipun. Agar matahari, sang penguasa kerajaan langit merestui perjuangan kerajaan kami.


Tentang Pengorbanan Loyalitas Cinta dan Harga Diri
MUSUH KAMI HANYA RASA LELAH

Sabtu, 08 November 2014

Football is Our Religion

“Play our football in he street. Make a magic with the feet. Wave your flags for the game. Lets score a hattrick for the fame. Football is our religion.”

Di atas adalah lirik dari sebuah lagu dari Band Rednex. Judulnya, Football is Our Religion. Berlebihan ? Bisa iya dan bisa tidak. Kalau sepakbola adalah sebuah agama, lalu siapakah tuhannya ? Dan layaknya sebuah agama yang memiliki banyak aliran, artinya di agama sepakbola memiliki aliran yang banyak pula. Kick and Rush, Total Football, Jogo Bonito, Catenaccio, dan lain sebagainya.
Begitu pun malaikat dari agama tersebut pun banyak. Bisa jadi, setiap aliran memiliki malaikat bahkan nabi nya sendiri. Aliran Catenaccio bisa jadi memilih Del Piero, Totti, Maldini, dan Giuseppe Meazza. Atau aliran Jogo Bonito meenjadikan Romario, Ronaldinho, dan Ronaldo menjadi Malaikat dan Nabi mereka secara bersamaan.
Lalu siapa tuhan mereka ? Pertanyaan yang sulit. Karena sejatinya meskipun berbeda aliran, mereka di satukan menjadi satu agama yang sama, Football. Artinya, harus ada satu tuhan bersama yang di akui kekuatannya oleh mereka. Siapa ?

Iglesia Maradonia

The Iglesia Maradonia atau Church of Maradona. Di buat oleh fans dari Maradona ketika dia memutuskan untuk gantung sepatu. The Iglesia di bentuk (atau bisa di katakan di temukan) pada 30 Oktober 1998 di saat Ulang Tahun Maradona ke 38 di Rosario, Argentina.
Iglesia Maradonia bisa di katakan adalah simbol dari kecintaan warga Argentina terhadap sepakbola dan di wujudkan dengan sebuah janji setia dalam Iglesia Maradona. Iglesia Maradona sendiri bukan berbentuk gereja yang sebagaimana mestinya. Lebih kepada sebuah perasaan memiliki seorang D10S atau Maradona itu sendiri.
Warga Argentina memang gila terhadap sepakbola.
“Our Religion is Football and, like all religions, it must have a god. We will never forget the miracles he showed on the pitch and the spirit he awoke in us, the fanatics.” Kata Alejandro veron yang bertanggung jawab dalam Offcicial Website dari Iglesia Maradonia ketika menjelaskan tentang kecintaannya terhadap sepakbola dan kehadiran sosok Maradona.
Tidak berlebihan memang ketika Warga Argentina mencintai Maradona. Seperti Indonesia begitu cinta nya terhadap Evan Dimas yang masih sangat muda. Mungkin dia adalah anak tuhan atau Son Of God. Tak ada yang tahu, bung.
Bahkan ada upacara yang mereka sebut sebagai Baptis untuk mengenang Mano del Dios (Hand of God) yang sangat terkenal di era 1986 ketika Argentina menghentikan laju Inggris di Quarter Final. 29 Oktober bagi mereka (Jama’ah Iglesia Maradonia) adalah hari istimewa. Bagi mereka adalah Christmas Eve atau sehari sebelum tuhan mereka lahir. Jalanan di Argentina di buat Biru Putih, lambang bendera Argentina. Sebegitu cinta nya mereka dengan Maradona.
Ketika itu, Maradona hendak di tunjuk menjadi pelatih baru Argentina. Jama’ah Iglesia Maradonia berpesta.
“We have been with Maradona during the Darkest Moment. And now we are here with him – how can we not be celebrating ?” kata penulis La Iglesia Maradonia, Jose Caldeira.
Darkest Moment merujuk ketika Maradona menjadi sahabat karib Cocaine yang membelenggu dirinya di penghujung karirnya. Tapi, Maradona tetaplah sosok yang di cintai.
“Diego is in another dimension. He says and does many stupid things. He makes a mistakes and he is pardoned because he is myth, a living legend.” Mariano Israelit. Seburuk apapun citra dari legenda, para fans akan berusaha menutupi dari itu. Apalagi, jika dia (legenda) sudah di anggap sebagai tuhan. Tuhan tak pernah salah. Ya kan ?
Andai benar kalau ada agama baru yang bernama Sepakbola, maka Maradona kah tuhannya ? Bagi jama’ah Iglesia Maradona mungkin berbicara seperti itu. Bagi warga aliran Kick and Rush tentu tidak menerima kehadiran sosok tuhan yang telah merusah nasib baik mereka pada tahun 1986. Tetapi bisa saja, Maradona adalah tuhan. Karena hanya dengan tangan tuhan, Argentina bisa melaju dan mengalahkan Inggris. Apalagi dengan menggunakan seluruh kekuatannya.
Di Indonesia, saat ini sedang ribut mengenai di cantumkannya Agama dalam E-KTP. Bagi jama’ah sepakbola-niyah, itu tak penting. Karena bagi mereka, yang penting adalah datang ke stadion dan berharap tuhan mereka hadir dan memberikan keajaiban bagi mereka.

Jumat, 05 September 2014

Review Gresik United 2013-2014

Penampilan Gresik United di tutup dengan sangat mengecewakan. Di tekuk Persik Kediri di Stadion Brawijaya dengan menurunkan tim lapis kedua dengan skor 3-0. Dengan alasan untuk mengevaluasi tim. Memilih mana yang layak di pertahankan dan tidak. Apalah itu alasannya, kekalahan tetap kekalahan. Dan kekalahan di Stadion Brawijaya merupakan sesuatu yang pantas kita dapatkan. Dengan permainan yang sangat buruk.
Para pemain seperti tidak punya determinasi untuk bermain. Hanya beberapa pemain yang punya determinasi tinggi untuk bermain. Apa karena pertandingan sore kemarin sudah tidak menentukan nasib apapun. Bahkan ada satu pemain yang menjadi buah bibir suporter. Bukan karena permainan indah. Tapi karena permainan busuk nan lamban ala kura-kura. Harusnya, ketika staff pelatih memilih untuk memainkan tim lapis kedua yang tujuannya untuk evaluasi tim, para pemain yang berlaga harus memberikan 100% bahkan 150% dari yang di punya. Harus mampu unjuk gigi ke pelatih, manajemen, serta suporter yang datang.
Selain kekalahan memalukan tersebut, ada banyak hal yang bisa di cermati dari Gresik United di musim ini.
1.      Kehabisan Bensin
Seperti musim lalu, Gresik United sempat merangsek ke papan tengah. Tapi masuk pertengahan kita hancur lebur dan akhirnya terjadi pergantian nahkoda. Musim kemarin pelatih kita juga di ganti. Karena kita kehabisan bensi di tengah jalan. Bahkan yang lebih parah, kita tak punya kekuatan lagi untuk mendorong mobil yang kehabisan bensin. Karena skuad kita tidak mendukung. Yang ekstrim, selama 3 musim berturut-turut, kita selalu mencapai Peak Performance di akhir musim. Musim pertama di ISL, kita lolos degradasi karena di Playoff kita menang. Musim kedua, kita lolos dari degradasi setelah menang di 2 laga kandang terakhir melawan Tim asal Papua. Dan bahkan kita harus menunggu hasil tim lain untuk memastikan lolos. Dan musim ini, momentum kita terjadi setelah libur puasa. Biasanya, di musim ke empat ada perubahan besar. Semoga.
2.      Salah Pilih Pemain
Bukan rahasia lagi, kalau pelatih akan selalu punya anak emas di setiap tim yang di belanya. Dan musim ini apes terjadi di Gresik United. Kehadiran Pape bukan malah membuat tim kuat, malah membuat tim menjadi rusak. Pape adalah anak emas Agus Yuwono ketika masih menukangi Persidafon. Dan itu di bawa ke Gresik United yang memiliki kultur sepakbola yang berbeda. Kurang mampu adaptasi, itulah yang kurang dari Pape. Serta kurang punya determinasi. Buktinya, Pedro yang masuk di tengah musim mampu memberikan angin segar dan menjadi salah satu pemain kunci yang mampu membawa tim menjadi lolos degradasi.
3.      Rombakan Besar-Besaran
Musim ini,GU melakukan perubahan besar. Dengan mendatangkan banyak sekali pemain baru. Baik di awal musim ataupun di tengah musim. Dan membuang banyak pemain di tengah musim juga banyak. Fajar Handika, Elthon Maran, dan Pape adalah pemain yang masuk di awal musim dan di tendang di tengah musim. Untuk menggantikan posisi mereka, di datangkan lah Pedro, Wismoyo, serta pemain dengan skill tinggi dan serba istimewa, Gustavo Chena (applause). Tapi apa hasil dari perombakan besar ? Nihil. Bukan tentang kualitas tim yang kurang. Tapi karena setiap musim, GU memiliki pelatih baru dan dengan skuad yang baru dan adaptasi baru lagi. Dan itu tidak efektif.
Banyak yang menyayangkan manajemen tidak mempertahankan Sultan Samma, Rizky Nofriansyah, Siswanto, Erol Iba, Ambrizal, serta The Legend, Agus Indra Kurniawan. Yang di perlukan adalah keteraturan dan kesolidan tim. Lihat Juventus dan Persipura yang memiliki skuad yang tidak jauh berbeda dari musim-musim sebelumnya. Secara kualitas bagus dan mereka saling mengenal satu sama lain. Bedakan dengan Man City di awal ketika mereka merekrut banyak pemain bintang. Juara ? Tidak. Musim berikutnya juara. Atau Persib Bandung yang skuad nya penuh pemain bintang. Juara ? Tidak. Tapi musim ini, dengan skuad yang tidak banyak berubah, Persib jadi kekuatan besar yang memiliki peluang besar raih gelar ISL.

Musim 2013-2014 sudah berakhir. Musim ini di tutup dengan kesedihan. Dan semoga musim depan di buka dan di tutup dengan senyuman. We Love You Gresik United

Rabu, 20 Agustus 2014

Atas Nama Cinta

“Arek-arek iku lapo ngadek nyanyi.. Di bayar piro emang. Goblok.” – Anak-anak itu ngapain berdiri bernyanyi. Di bayar berapa memang. Bodoh.
Sejenak saya tertegun setelah mendengar celetukan orang belakang saya ketika lihat Gresik United bermain melawan Sriwijaya FC, 20 Agustus kemarin. Ada benarnya memang kata dia. Berdiri 90 menit dan hanya bisa duduk selama 15 menit, yaitu ketika rehat babak pertama. Tak jarang mereka harus ikut bernyanyi dan menggoyangkan tangannya mengikuti aba-aba dirigen yang berdiri.
Mereka tidak di bayar layaknya para pendemo bayaran yang akhir-akhir ini lagi jadi trending topic. Mereka tidak di beri makan layaknya Panasbung atau pasukan nasi bungkus. Kalau beruntung, mereka semua hanya mendapatkan air minum yang jumlahnya tidak sesuai dengan jumlah yang berdiri dan bernyanyi. Artinya ke legowo an antar mereka untuk berbagi lah yang paling penting dan di butuhkan. Air minum itu di dapat ternyata dari patungan kawan-kawan sendiri.
Mereka mengorbankan banyak hal ketika datang ke dalam stadion. Tiket kelas ekonomi atau suporter di seluruh Indonesia sekitar Rp. 10.000-Rp.30.000. Bahkan mereka juga mengeluarkan uang lebih untuk membeli aksesoris tambahan sebagai pelengkap. Mulai dari kaos, syal, bendera, tongkat bendera, dan yang ekstrim flare.
Mereka juga mengorbankan waktu. Dalam sekali pertandingan sepakbola, membutuhan sekitar 2 jam selama pertandingan berlangsung. Di antara yang datang di stadion, mereka merelakan waktu kerja nya, waktu istirahatnya, dan yang paling parah banyak yang bolos sekolah dan kuliah demi melihat tim kesayangannya ke stadion.
Untuk apa mereka melakukan itu ? Iseng saya tanya, “Demi tim kesayangan, bos.” “Loh kan iki di gawe kuto kene. (Kan itu untuk kota kita)” dan yang terakhir, “Cinta sama tim kesayangan, bro. Apapun di lakukan.” Wow sebegitu banyak alasan yang di ungkapkan. Dan saya menyimpulkan alasannya adalah cinta kepada tim kesayangan dan membela kota kelahiran.
Kadang, kalau sudah cinta apapun di lakukan. Lihat cerita Romeo dan Juliet atau cerita-cerita di FTV di Indonesia. Kadang, cinta bisa membuat kita bertindak bodoh. Tetapi bagi kita, tindakan yang di anggap bodoh itu adalah tindakan yang wajar.
So, atas nama cinta mereka (suporter fanatik) rela mengeluarkan uang berapapun, menghabiskan waktu selama apapun, dan menghabiskan tenaga demi tim kesayangan.

“Saiki aku ngenteni kowe, dino iki males nyambut gawe. GU FC ayo di belani. Arek Ultras, mendem rame-rame.”

Sabtu, 16 Agustus 2014

Buat Virus Yang Lebih Mematikan, Coach !

Dalam sepakbola, kalah dan menang adalah hal yang biasa. Setidaknya itu yang pernah di katakan pelatih sekolah sepakbola saya semasa kecil ketika tim kami saat itu menderita kekalahan setelah menang di 2 laga awal turnamen SSB se Jabodetabek. Tidak ada yang aneh ketika sebuah tim kalah atau menang. Tetapi menderita kekalahan berturut-turut dan yang mengalahkan adalah tim yang secara peringkat jauh di bawah tim tersebut. Saat ini saya sedang membicarakan tentang Timnas U19.
Prestasi yang di dapat dan di hasilkan secara keras selama mengikuti turnamen tahun kemarin seakan tidak ada artinya. Pondasi yang sudah di bangun selama ini seakan runtuh begitu saja, ketika hasil yang di dapat akhir-akhir ini jeblok. Dan saya mencoba melihat, mengapa Timnas U19 saat ini sedang “jeblok”
1.      Minim Kreasi Serangan
Dalam Football Manager, ada yang namanya Familiarity Tactic. Semakin penuh tabel nya, artinya pemain semakin paham dengan formasi dan taktiknya. Tapi, FM memberikan 2 lagi slot kosong yang bisa di isi manager untuk memberikan alternatif taktik. Tujuannya adalah agar manager bisa memberikan variasi permainan kepada tim yang di tukangi nya. Hubungannya dengan U19 ?
Mari lihat formasi yang di keluarkan oleh Coach Indra Sjafri sejak AFF U19, Kualifikasi Piala Asia. Tur Nusantara, serta Turnamen Hasanah Bolkiah ini. SAMA. Skema 4-3-2-1 yang di keluarkan dengan pemain yang sama. Tidak ada sama sekali perubahan.
Lawan yang di hadapi Indonesia rata-rata adalah lawan ketika di AFF U19, meskipun beberapa mengirim tim U-21 nya. Tetapi beberapa masih mengirimkan pemain yang notabene alumni AFF Cup.
Mereka sudah bisa membaca arah permainan timnas. Mengandalkan serangan balik cepat mematikan dari sayap. Menjadikan Striker as False Nine not Advanced Striker. Yang berbahaya adalah pergerakan second line timnas, umpan silang yang membuat Korsel hancur lebur. Tenang, ini bukan tentang musik, kalau musik kita masih kalah jauh dengan K-Pop.
Senjata mematikan itu sudah bisa “di matikan” balik oleh lawan. Dalam dunia kedoteran, di kenal yang namanya vaksin bagi virus penyakit tertentu. Nah, bagi lawan, permainan Timnas ibarat penyakit. Tetapi itu dulu. Mereka saat ini sudah punya vaksin yang mampu mematikan pergerakan bakteri-bakteri yang ada di 11 pemain di lapngan.
Virus dalam laptop setiap tahun selalu berubah menjadi lebih baik. Itu pun, anti virus yang di keluarkan oleh produsen juga akan selalu berubah mengikuti irama virus nya. Nah ini virus U19 tidak ber transformasi. Stagnan dan sangat mudah di tebak.
2.      Mental
Menjadi tim yang selama ini menang, lalu kalah adalah ha yang sulit. Sulit untuk bangkit. Selama Tur Nusantara, Timnas U19 jarang sekali kamasukan terlebih dahulu. Tapi ini, 3 pertandingan di HBT, Timnas kemasukan terlebih dahulu, ketidak biasaan ini menjadikan Timnas kebingungan. Mereka sulit untuk bangkit.
Lihat, mereka setelah ketinggalan bermain seolah tidak bisa bangkit. Mereka terus memegang bola memang. Tetapi permainan mereka berbeda. Seakan tidak tahu harus menyerang dari sisi mana. Kebingungan ibaratnya. Seperti aku yang tanpa dirimu.
3.      Pikiran Mereka Ada di Spanyol
Ah ini adalah faktor paling bodoh mungkin yang saya tulis. Beberapa saat yang lalu timnas sempat akan di daftarkan di turnamen yang di adakan di Spanyol. Lawan yang di hadapi pun berkelas. Argentina, Mauritania, dll. Beda kelas lah jika di bandingkan yang di Brunei ini. Mereka mempersiapkan segalanya. Lalu hasilnya ?
Mereka tidak jadi tampil. Mereka hanya akan tampil di Brunei dan yang di kirimkan adalah Timnas U21 yang sebagian besar adalah pemain Sriwijaya U21 yang menjuarai ISL U21. Bahkan banyak yang bilang bahwa saat ini di Spanyol itu Sriwijaya U21 yang di paksakan tampil memakai nama Indonesia.
Apa berpengaruh ? IYA. Bagaimana sih rasanya di PHP oleh orang yang selama ini kita banggakan dan yang selama membuat mereka bangga adalah KITA. Ya, BTN yang merubah itu. BTN dan jajaran PSSI lah yang merubah semua itu. Sempat di bahas di @Footballnesia , baca tuh.
4.      Tingginya Ekspektasi Masyarakat
U19 saat ini tengah menikmati ketenaran yang luar biasa. Setelah menjadi pemecah kebuntuan dan menjadi juara di Sidoarjo. Lalu mereka menghancurkan Korea Selatan dan lolos ke Piala Asia U19. Tentu harapan masyarakat ketika bermain di Brunei adalah mereka menjadi juara. Karena memang yang akan di lawan Indonesia adalah negara di Asia Tenggara yang notabene mereka adalah penguasa nya dalam kelompok umur yang relatif setara.
Ekspektasi yang tinggi tersbeut tampaknya menjadikan permainan Timnas menjadi tidak lepas. Mereka terbebani dengan pencapaian yang selama ini mereka dapatkan. Dan masyarakat pun mengamini beban mereka dengan harapan yang tinggi, JUARA. Meskipun tidak terucap oleh masyarakat, tetapi terlihat jelas ketika Timnas U19 kalah, masyarakat kecewa bukan main. Artinya mereka berharap Timnas bermain baik dan menjadi juara.
Dalam sepakbola, kalah dan menang adalah hal biasa. Sempat saya bahas di awal. Apalagi mereka kalah dalam turnamen pemanasan sebelum turnamen asli, yakni di Myanmar. Masih jauh menilai permainan Indonesia buruk, karena lawan yang di hadapi saat ini bukanlah yang akan di hadapi nanti di Myanmar. Di tambah, tim yang di turunkan lawan banyak yang Timnas U21, bukan U19. Artinya dari kelompok umur, sudah berbeda.
Tetapi, itu semua bagi tim yang menjadi raja asia tenggara tentu tidak bisa di tolerir. Setidaknya sampai saat ini. Aroma pesimis mulai tercium. Mereka mulai meragukan Timnas U19 untuk bisa berprestasi di kancah Asia. Ya, itu karena ekspektasi yang timbul sangatlah tinggi. Jadi, ketika bermain sedikit di bawah form, mereka seakan bermain jelek sekali.
Selain itu, U19 saat ini menjadi primadona baru. Hal yang tidak aneh, karena mereka menjadi pemuas dahaga gelar. Ibarat orang puasa, bisa minum itu adalah hal yang paling menggembirakan. Dan bagi mereka, timnas U19 adalah harapan baru. Sesuatu yang jelek yang di lakukan U19 adalah sebuah hal cacat dan tidak bisa di tolerir. Lihat kasus yang di alami Marshanda beberapa saat ini dan beberapa tahun yang lalu. Primadona itu harus A dan B. Jika melakukan kesalahan artinya itu sebagai dosa yang sangat besar. Ibarat Barcelona yang dalam beberapa tahun belakangan menjadi tim spesialis gelar, tetapi musim kemarin tidak ada satu pun gelar bergengsi yang mereka dapat. Apa hasilnya ? Tata Martino mengundurkan diri. Karena dia merasa berdosa dan bersalah tidak bisa membawa Barcelona juara. Di tambah dengan adanya desakan dari fans untuk Barca kembali berprestasi.
Hal ini lah yang saat ini di alami Timnas U19. Sebagai sebuah harapan baru, melakukan kesalahan sedikit adalah sebuah dosa besar. Sesuatu yang terbentuk karena dua hal. Karena adanya tekanan dari masyarakat serta belum punya mental yang baik.

Tulisan ini bukan untuk menjustifikasi bahwa U19 atau Garuda Jaya saat ini sudah habis. Tetapi sebagai analisa kritis saja. Masih ada waktu untuk membenahi sisi-sisi yang selama ini rusak. Masih ada lagi membangkitkan virus-virus yang saat di Brunei mati terkapar. Mari buat virus yang lebih canggih, coach. Dan satu lagi, jauhkan U19 dari politik. Ini salah satu harapan kami.

Jumat, 20 Juni 2014

Struggle For Recognition and Football

Mungkin sekilas tidak ada korelasi antara sepakbola dan politik pengakuan. Karena memang kedua hal ini berada di ranah yang berbeda. Politik yang selama ini identik dengan kondisi yang berada di dalam pemerintahan dan negara. Apalagi jika di gabungkan dengan politik pengakuan. Politik pengakuan sendiri secara teoritis berada di tataran sosial. Dari berbagai sumber yang saya baca, saya simpulkan bahwa politik pengakuan adalah bentuk cara yang dilakukan oleh negara ataupun social movement mendapatkan pengakuan dari negara ataupun aktor lain. Yang akhirnya mereka melakukan berbagai cara yang dinamakan “struggle for recognition”.
Lalu apa hubungannya dengan Sepakbola ? Jarak kedua hal ini jauh sekali. Tapi ada ternyata.
Saya akan ajak anda semua untuk mengembalikan memori kita 3 tahun yang lalu dan setahun yang lalu. 3 tahun yang lalu, yakni ketika ada Pertandingan Uji Coba antara Indonesia dan Palestina yang terjadi 22 Agustus 2011 akhirnya di menangkan Indonesia dengan sor 4-1. Setahun yang lalu, masih dengan Indonesia dan Palestina. Tetapi kali ini yang bertanding adalah Timnas U-23 di turnamen International Solidarity Games yang berlangsung di Palembang. Lalu, apa yang aneh dengan semua itu ? wait, jangan justifikasi itu semua sebelum melihat ini.
Pertama, saat 2011 kondisi Palestina masih tidak stabil. Maksudnya, saat itu Palestina keberadaannya masih belum di akui dunia sebagai nation-state atau negara bangsa, bahkan sampai sekarang. Dan nama Palestina di mata internasional adalah West Bank atau Tepi Barat bukan Palestina. Artinya, keberadaan Palestina belum di akui oleh dunia, baik secara de jure dan de facto.
Untuk mendapatkan pengakuan secara de facto dan de jure, Palestina harus mendapatkan itu semua dengan mendekati negara-negara yang selama ini simpati dengan mereka. Seperti yang kita ketahui, pengakuan secara de jure artinya pengakuan secara hukum di dunia internasional. Dan pengakuan secara de facto, artinya pengakuan oleh NEGARA LAIN. Jika di masukkan ke dalam politik pengakuan di paragraf atas, secara tidak langsung Palestina sedang melakukan Struggle for Recognition. Why ?
Karena, ketika sebuah negara melakukan kerjasama ataupun menjalin hubungan dengan negara lain, artinya mereka telah mengakui keberadaan negara itu. Untuk itulah, Gus Dur di kritik karena ingin melakukan hubungan dagang dengan Israel, karena Indonesia tidak mengakui Israel sebagai negara bangsa.
Lebih jelas lagi terlihat di tahun kemarin, dalam turnamen International Solidarity Games 2013 di Palembang. Dari labil jelas terpampang, International Solidarity Games 2013. Pesertanya adalah seluruh negara yang mayoritas islam. Indonesia, Maroko, Palestina, dan Turki adalah beberapa negara yang ikut serta di turnamen ini. Struggle for recognition jelas terlihat dari Palestina. Secara tidak langsung, Palestina “memanfaatkan” Indonesia dan negara-negara islam untuk mendukung pengakuan terhadap entitas baru, Palestina.
Disini, saya tidak ingin ikut campur dalam urusan Israel dan Palestina. Tetapi saya hanya mencoba mengaitkan antara sepakbola dengan politik. Jika selama ini selalu identik dengan hal-hal yang sifatnya destructif, maka disini “football influence politics”.


Alief Maulana

@alipjanic

Jumat, 13 Juni 2014

Loyalitas Bodong Bernama Piala Dunia

Tahun 2014 bukan hanya tahun nya pesta demokrasi, tetapi juga tahunnya sepakbola dunia beraksi. Gelaran akbar pesta sepakbola yang berlangsung selama sebulan penuh akan mengiringi keseharian kita. Dan Brazil berkesempatan menjadi tuan rumah pesta akbar sepakbola dunia.
Meskipun Piala Dunia hanya di ikuti oleh 32 negara yang notabene adalah negara dengan kekuatan sepakbola yang cukup bagus, tetapi euforia nya bisa mencakup ke seluruh lapisan dunia. Baik itu dunia nyata ataupun dunia ghaib. Karena siapa tahu ada Pocong yang juga rela begadang demi lihat sepakbola di banding melakukan kewajiban menggoda manusia.
Tetapi benar, euforia Piala Dunia dapat di rasakan di seluruh pelosok dunia. Meskipun negara tersebut tidak menjadi salah satu peserta Piala Dunia. Dan itu juga merembet ke negara kita tercinta, Indonesia. Euforia Piala Dunia sangat besar terasa di negara terbesar di Asia tenggara ini. Meskipun kedigdayaan Piala Dunia sempat di senggol oleh adanya kampanye dan Pemilu 2014, tetapi keberadaan Piala Dunia tidak akan mampu di tandingi oleh apapun, pengumuman kelulusan UNAS sekalipun.
Dan yang menarik adalah adanya suporter dadakan yang muncul di setiap gelaran piala dunia. Bahkan mereka berani memproklamirkan kalau mereka pendukung setia salah satu negara. Misalnya saja ada yang mengaku dirinya adalah seorang suporter Spanyol sejati yang barusan di bantai Belanda 5-1. Atau suporter garis keras dari Selecao yang barusan menang 3-1 berkat aksi akting yang indah dan aksi impresif dari Oscar. Atau Tifosi Azzurri yang besok pagi akan mencoba mengembalikan Inggris ke tempat asalnya (neraka). Atau Fans garis miring Der Panser Jerman yang akan mencoba mematikan CR7.
Mereka sampai lupa kalau Timnas U-18 kita sedang berjuang mati-mati an di Solo melawan Korea Selatan di babak Semifinal Asian School Football U-18. Dan hasilnya, Timnas kita kalah 1-0 dan gagal lolos ke Final.
Sebenarnya wajar, karena euforia Piala Dunia memang lebih besar jika di banding Turnamen sekelas Asian School Football U-18 yang skala cuma se Asia di banding Piala Dunia. Tetapi atas nama loyalitas, mereka mati-mati an mendukung timnas negara lain dan melupakan Indonesia. Untung, salah satu akun twitter ada yang emmbuka obrolan utnuk melakukan #awayday ke Myanmar untuk mendukung Timnas U-19. Bagi mereka yang rela bermahal-mahal ria datang ke Brazil untuk melihat Piala Dunia, alangkah eloknya jika kalian juga ke Myanmar untuk menyempatkan diri minimal memberikan penghormatan dan memberikan penyemangat buat pahlawan kita yang berjuang di Myanmar.

Bukan maksud untuk menghentikan aksi kalian untuk mendukung Timnas negara lain, karena saya pun juga mendukung Timnas negara lain. Tetapi ingat, GARUDA DI DADAKU.

Support Your Local Team

Arus globalisasi menjadikan arus informasi dengan sangat mudah menyebar ke tempat yang sebenarnya terpisah jarak yang amat jauh sekali. Adanya internet sehingga informasi bisa dengan mudah di akses dengan sekali klik. Dan adanya TV yang sudah bisa mengakses segala acara yang tidak erpaku di acara domestik semata.
Dan sepakbola adalah salah satu olahraga yang terkena efek dari adanya globalisasi. Arus informasi sepakbola di eropa begitu dengan mudah tersebar di internet dan bisa dengan mudah di akses oleh siapapun, kapanpun, dan di manapun. Yang akhirnya menghasilkan adanya pengetahuan tentang setiap unsur di dalam sepakbola. Mulai dari klub, pemain, suporter, dan bahkan WAGs. Apa itu WAGs ? Silahkan cari di internet, kawan.
Dimulai karena adanya pengetahuan, akhirnya menimbulkan perasaan suka yang berlebih kadarnya. Kadar cinta yang berlebihan dalam mencintai produk luar negeri sebenarnya halal saja. Karena tidak ada peraturan tertulis maupun tak tertulis yang melarang itu. Asalkan perasaan cinta yang berlebih itu harus bisa di imbangi dengan perasaan cinta dengan yang sifatnya lokal. Seperti apa ? #SupportYourLocalTeam
Yes, dukung sepakbola asalmu berada. Tempat dimana kalian tinggal, kalian hidup, dan mungkin nanti tempat kalian akan meninggal. Bagi cintamu terhadap klub sepakbola luar negeri dengan dalam negeri. Mungkin akan saya jabarkan, kenapa kalian harus perlu mencintai dan mendukung klub sepakbola dalam negeri.
1.      Kebanggan dan identitas
Kita bisa lihat bagaimana Aremania bangga dengan identitasnya sebagai orang Malang dan pendukung Arema Cronus. Atau Persebaya Surabaya 1927 dengan Bonek nya. Atau Ultras Roma di kota Roma dengan AS Roma nya. Yes, itu identitas yang akan terus mereka bawa. Identitas yang didasarkan atas tempat dimana dia hidup dan tempati. Karena akan sangat lucu ketika kita melupakan identitas asli kita sebagai orang Surabaya, orang Malang, ataupun orang Jakarta dan begitu bangga dengan identitas “palsu” kita. Identitas palsu yang kalian buat sendiri dengan mengatas namakan diri kalian sebagai Tifosi Klub sepakbola orang luar negeri.
2.      Klub Lokal Lebih Mudah Kalian Temui
Ketika kita mendukung klub lokal, kita lebih mudah menemui mereka dan melihat aksi mereka secara LANGSUNG dari atas tribun bukan dari layar kaca apalagi hanya tahu dari internet dan media massa belaka. Mereka lebih NYATA dan lebih jelas adanya. Bukan berarti mereka yang ada di luar negeri tidak jelas, bukan itu maksudnya. Tetapi yang lokal lebih jelas adanya. Kalian tak perlu repot-repot naik pesawat agar bisa menemui pemain idolamu. Kalian hanya perlu bayar maksimal 50 ribu untuk bisa melihat aksi mereka.
3.      Dukungan Kalian Lebih Nyata
Ini bisa jadi sindiran paling keras bagi para pecinta bola luar negeri yang lupa akan kebanggan dalam negeri nya. Sindiran yang saya pun tak tahu berasal dari mana datangnya. Tetapi muncul begitu saja dan seakan menampar keras mereka yang melupakan aset dalam negeri nya dan bahkan lebih memilih menonton sepakbola yang hanya bisa kalian liat dari layar kaca. Fans layar kaca itu ibarat bagi mereka yang hanya bisa melihat sepakbola dari layar kaca. Dengan berbagai yel yel yang kalian nyanyikan tampak tidak akan berguna bagi tim idola kalian yang bertanding nun jauh di Eropa sana. Terpisah jarak ratusan ribu kilometer dan suara kalian akan hilang.
Beda ketika kalian mendukung tim sepakbola lokal yang bisa kalian lihat dna bisa kalian dukung secara nyata. Teriakan kalian akan terdengar dengan jelas oleh gladiator yang sedang bertanding membawa nama kota kalian. Iya, KOTA KALIAN. Bukan kota orang lain. Teror yang kalian akan terasa lebih nyata jika kalian berada di dalam stadion. Adalah hal *maaf* BODOH kalau kalian mengaku pecinta sepakbola tapi belum pernah satu kali pun datang ke STADION dan melihat sepakbla secara langsung. Terserah ketika nanti di stadion kalian duduk menikmati pertandingan ataupun ikut ‘meneror’ musuh.

Sejatinya, mendukung klub luar negeri itu adalah HAK. Dan mungkin bagi para gila bola, punya tim kebanggan luar negeri itu adalah hal wajar bahkan kewajiban. Artinya, pengetahuan bola mereka luas. Karena saya sendiri adalah fans dari salah satu klub di Italy. Dan saya juga datang ke stadion mendukung Gresik United secara langsung. Bahkan juga harus ikut #awayday ke stadion kota lain untuk support GU. Dan ini pun juga banyak di lakukan oleh rekan-rekan saya baik itu sesama fans Roma ataupun fans GU yang lainnya. Never Forget Your Local Team. Dan alangkah indahnya, jika kalian tidak mencaci sepakbola dalam negeri tanpa memberikan solusi dan melupakan sepakbola dalam negeri dan tidak peduli dengan adanya kerusakan di sepakbola dalam negeri. Karena inilah saatnya bagi kalian yang mengaku sebagai FANS SEPAKBOLA untuk beraksi #SaveOurFootball. Jangan hanya karena sepakbola di Indonesia yang penuh mafia, sehingga membuat kalian enggan mendukung bahkan untuk melihat pun kalian enggan. Karena jika alasan itu (skandal dna mafia) sangat mudah dibantah. Sepakbola di Eropa sangat lekat dengan adanya skandal dan mafia, lho. Bahkan saya salut untuk kawan-kawan Milanisti Indonesia yang setiap Indonesia bertanding, mereka selalu hadir di stadion dengan Spanduk besar nya.

Minggu, 02 Maret 2014

Gresik United

Gresik United