Ultras Mania Gresik

Kita pernah juara. Gresik pernah juara. Dan sekarang "KAMI RINDU JUARA" Liga Indonesia

Roma Club Indonesia

Kami ada. Kami berpesta. Kami bersatu. Hanya untuk satu kebanggaan, AS ROMA

AS ROMA

LA ROMA NON SI DISCUTE SI AMA

Fan Fiction

Cerita fiksi untuk meluapkan ekspresi jiwa. Tentang hiburan, luapan perasaan, dan pengorbanan.

48 Family

The power of Idol. Idol can't make you horny, just can make you proud with them. Kita pecinta idol sebagaimana kita mencintai sepakbola.

Tampilkan postingan dengan label AS Roma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AS Roma. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 September 2015

Selamat Ulang Tahun, Kapten !

Satu lesatan pelan Totti ke gawang Sassuolo pekan lalu, mampu menambah jumlah Gol Totti menjadi 300 gol sepanjang karirnya. Gol yang ia cetak hanya untuk satu klub, AS Roma. Ia pun menjadi pencetak gol kedua terbanyak di Serie A dibawah Pioli. Dan menjadi pencetak gol terbanyak di Serie A yang masih aktif. Hebatnya, ia bukanlah seorang striker murni.
Totti bukan seperti Messi ataupun Ronaldo yang bisa mencetak 30-40 gol dalam satu musim. Ia bukanlah seorang pemain yang bisa memberikan atraksi sulap di lapangan. Ia bukanlah tipikal pemain yang bisa menyisir sisi sayap dan menusuk ke tangah untuk menyelesaikan pertandingan. Ia tidak seperti itu.
Dan Totti bukan seperti Lewandowski, Ibrahimovic, ataupun Benzema yang berdiri sedekat mungkin dengan gawang dan menanti asupan bola dari rekan satu timnya. Totti bukanlah tipikal pemain yang siap menunggu ke-apes-an seorang kiper.
Totti juga bukan seperti Diego Costa yang gemar melakukan aksi provokasi dan menghalalkan segala cara agar tim nya bisa menang. Ia bukanlah pemain yang gemar akting di lapangan. Ia hanya dilatih di lapangan, bukan di gedung teater layakyna aktris. Tenang, saya tidak membahas Busquet ataupun Neymar.
Totti hanya manusia biasa. Yang bermain di klub super biasa, AS Roma. Dan bertanding di liga yang mulai tidak populer, Serie A. Mungkin banyak yang heran, kenapa pencetak gol terbanyak di Serie A cuma di kisaran 200 an. Padahal Messi ataupun Ronaldo yang sudah mencetak 200 gol lebih disaat umur mereka yang masih memasuki usia produktif.
Serie A bukanlah La Liga atau BPL yang mengandalkan sisi penyerangan. Serie A tidak seperti itu. Serie A membosankan. Se membosankan Ballon D’Or yang dimenangkan oleh alien. Ini Serie A, bung.
Seperti yang telah saya jabarkan di atas, Totti hanyalah pemain biasa. Ia tidak memiliki kaki yang lentur ala Ronaldinho yang mampu mengelabui lawan dengan gocekan mautnya. Ia bukanlah seorang pemain yang punya kecepatan kilat ala Roberto Carlos. Tapi mengapa banyak yang menaruh hormat pada Totti ?
Mungkin, tak banyak yang tahu Totti itu siapa dibandingkan Messi dan Ronaldo. Tapi Messi sendiri menaruh hormat untuk Totti. Seorang Alien hormat pada manusia biasa. Apa yang istimewa dari Totti ? Mengapa banyak pemain ingin berada satu tim dengan Totti ? Mengapa Florentino Perez begitu menyesal tak bisa bawa Totti di Los Galacticos Jilid I ?
Totti adalah sosok nyata seorang gladiator sejati. Pemain yang enggan untuk menyerah dan memilih untuk melawan kemustahilan. Salah satu pemain yang mampu bangkit dari cedera parah dan membawa Italy menjuarai Piala Dunia 2006. Pemain yang mampu bangkit dengan cepat dan tetap berjalan, disaat banyak pemain yang harus terjatuh kembali dan tak kuat berdiri.
Kalau ada pemain yang memberikan 100% untuk klub, Totti adalah salah satunya. Pemain yang menolak untuk pindah ke klub lain, dan memilih bertahan di klub yang sejak kecil ia bela. Pemain yang menolak untuk mendapatkan banyak gelar dan lebih memilih untuk bertahan di klub yang jelas lebih medioker dibanding klub yang ia tolak. Pemain yang tidak pernah menduakan cinta nya untuk satu klub, AS Roma.
Skill khusus yang hanya dimiliki beberapa pemain sepakbola adalah cinta dan kesetiaan. Totti adalah salah satu pemain yang memiliki cinta dan kesetiaan untuk klub yang sejak kecil ia bela. Kalau kalian merinding melihat konferensi pers terakhir Casillas di Real Madrid atau perpisahan Beckham di PSG, saya tidak bisa membayangkan laga terakhir Totti di AS Roma di akhir musim nanti kala kontrak nya habis, atau ketika tahun-tahun berikutnya. Yang pasti, saat itu akan datang dan saya harus menyiapkan mental saya.
Saya harus menguatkan hati saya, melihat pemain yang sejak saya kecil sampai saya kuliah, selalu saya lihat. Saya harus menyiapkan tissue di samping saya untuk antisipasi air mata yang bisa jadi menetes ketika saatnya tiba. Tidak ada kata lebay untuk seoorang gladiator sejati bernama Totti.

Untuk itu, saat ini saya mulai membiasakan melihat AS Roma tanpa kehadiran Totti di lapangan. Hambar. No Totti No Party. Tapi apa Totti pernah ngambek karena di pinggirkan Rudi Garcia ? Tidak. Asal demi AS Roma, ia rela menjadi pemanas bench. Tidak banyak pemain yang rela di pinggirkan seperti Totti.
Bahkan seorang Walikota Roma, Gianni Alemanno menjadikan Totti sebagai contoh nyata tentang kesetiaan pada Kota Roma, sesaat setelah Totti merayakan 20 tahun berkarir di Serie A bersama AS Roma.
Totti adalah pemain yang sudah mendapatkan semuanya. Piala Dunia, Serie A, Coppa Italia, dan Super Coppa pernah ia rengkuh. Mungkin hanya Liga Champions yang belum ia punya. Golden Boot pun pernah ia dapatkan. Untuk pemain yang bukan seorang striker murni, gelar itu terasa indah. Ah iya, Totti belum pernah mendapatkan gelar Ballon D’Or. Andai Totti menerima pinangan Florention Perez untuk hijrah ke Real Madrid, mungkin ia akan selangkah lebih dekat dengan Ballon D’Or. Tapi sekali lagi, cinta mengalahkan segalanya.
Dan hari ini, 27 September 2015, akan menjadi hari yang istimewa buat Totti. Ia akan berumur 39 tahun besok. Tepat satu hari setelah AS Roma menjamu Carpi. Kemenangan menjadi kado manis dari AS Roma untuk Totti. Andai gagal menang pun, saya yakin seluruh kota Roma akan berpesta merayakan hari bahagia sang kapten.
Jauh di dalam lubuk hati saya, senang rasanya melihat Totti bermain melawan Carpi dan mencetak gol. Karena bisa jadi, melawan Carpi adalah ulang tahun terakhir Totti bersama AS Roma sebelum kontraknya habis pada tahun depan. Meskipun Totti ingin merasakan hangatnya rumput stadion baru AS Roma. Namun, umur tak bisa dibohongi. Totti yang sekarang bukan Totti yang dulu. Bukan Totti yang mampu mencetak gol indah ketika melumat Lazio 1-5.
Musim lalu, Totti sempat kecewa harus ditarik keluar sebelum mencetak gol. Ia ingin traktir seluruh pendukung AS Roma di pesta ulang tahunnya dengan mencetak gol. Ia ingin membuktikan kecintaanya untuk AS Roma.
Mungkin saat ini, di saat sepakbola yang modern menguasai, Totti hanyalah figuran di tengah-tengah sekumpulan bintang yang datang dari planet lain ataupun dari bumi sendiri. Tapi bagi saya dan sebagian orang, Totti adalah pemeran utama yang akan selalu bersinar dibandingkan pemain yang lainnya.
Selamat Ulang Tahun Kapten kami, idola kami, panutan kami, Francesco Totti.

Jumat, 07 Agustus 2015

Selamat Ulang Tahun Roma Club Indonesia

Saya mulai menyadari kalau ternyata tidak hanya manusia dan makhluk hidup lainnya yang bertambah tua. Benda-benda mati pun ternyata bisa menjadi semakin tua. Benda-benda mitos pun bisa semakin tua.
Semua tentang waktu. Waktu lah yang membuat dunia dan seisinya menjadi semakin tua. Coba kalau tidak ada yang namanya waktu, maka umur pun menjadi tidak lagi penting. Tidak ada lagi yang namanya sakit karena umur.
Tapi tuhan menciptakan waktu. Entah tujuannya apa. Kalau saya boleh menebak, mungkin waktu diciptakan agar kita tidak melupakan masa lalu. Masa lalu kita yang bisa membentuk kita menjadi seperti sekarang. Masa lalu yang bisa membuat kita berdiri tegak seperti ini. Masa lalu yang akan selalu kita kenang.
Selain itu, kadang saya mikir, waktu ini ada agar kita punya rencana untuk masa depan. Agar kita bisa memetakan apa yang akan kita lakukan lima atau bahkan lima puluh tahun lagi. Hingga nantinya rencana yang kita susun sebelumnya bisa terlaksana.
.......
Sepuluh tahun yang lalu, umur saya dua belas tahun. Saat itu saya baru saja masuk SMP. Saya belum kenal yang namanya nakal. Saya masih jadi anak rajin, suka menabung, dan suka mengaji (ini serius). Kecintaan saya akan duniawi (wanita) belum lah tumbuh. Bahkan saya belum mengenal belahan dunia lain yang mengajarkan tentang cinta dan kasih sayang. Apalagi melakukan perzinahan. Tobatlah, naque.
Tapi dua tahun kemudia saya mulai mengenal duniawi. Saya mulai mengenal yang namanya fanatisme. Meskipun setahun sebelumnya atau tepat saya kelas 2 SMP, saya sudah sempat keliling kota demi sesuatu yang saya cinta. (Red: Sepakbola)
Tepat ketika masuk kelas 3 SMP, saya dikenalkan oleh kawan saya (sebut saja namanya Wan) dengan satu forum yaitu Romanisti Indonesia. FYI, AS Roma adalah klub luar negeri pertama yang sudah menempel di hati. Bahkan saya sudah di kontrak secara permanen untuk tetap setia pada AS Roma. Surat kontraknya mungkin sudah ada di tangan tuhan. Jadi tidak ada yang bisa merevisi kontrak antara saya, tuhan, dan AS Roma.
Kelas 3 SMP pula saya mulai mengenal jatuh cinta. Tapi lupakan tentang cinta di era SMP. Tak enak di ungkapkan.
Tahun 2010 adalah saat-saat dimana saya dicekoki lagi tentang fanatisme. Mulai fanatisme moderat sampai liberal masuk ke otak. Sampai akhirnya tahun 2010 saya dan dua teman saya yang sudah sepuh mendirikan Romanisti Indonesia Regional Gresik. Sebelum akhirnya berubah nama menjadi Roma Club Indonesia Gresik.
Saya sempat dipanggil “anak nakal” karena sering gonta-ganti id di forum. Maklum, kadang lupa id forum. Dan yang dulu pernah panggil saya anak nakal, sekarang telah menjadi koordinator Roma Club Indonesia Jawa Timur. Yap, Mas Ethe. Dia orangnya. Dan dia juga berperan mencekoki saya tentang Romanisti.
........
Sepuluh tahun yang lalu dari tahun ini. Tahun 2005 di bulan Agustus. Berawal dari dua kakak beradik. Saya menyebutnya Captain. Mas Ario dan Bang Ricky. Melahirkan sebuah komunitas. Sebut saja namanya Romanisti Indonesia yang sekarang ber metamorfosis menjadi Roma Club Indonesia (Selanjutnya saya sebut dengan RCI). Komunitas Fans AS Roma pertama dan terbesar di Indonesia. Komunitas yang diakui di negeri dimana AS Roma berada, di Italy. Komunitas yang menjadi ibu sekaligus bapak bagi regional-regional di hampir seluruh penjuru negeri. Komunitas yang sudah banyak makan asam garam pahitnya putus cinta dan manisnya senyum mu.
Seperti layaknya seorang manusia, RCI tidak pernah lepas dari masalah. Mungkin saya bukan generasi pertama dari RCI. Pun saya bukanlah member yang rajin datang di setiap gelaran National Gathering. Dan saya pun bukanlah orang di balik suksesnya RCI sampai seperti ini. Tapi setidaknya saya meyakini bahwa setiap komunitas pasti ada permasalahan.
Dan RCI masih kuat. Permasalahan yang selama ini menimpa RCI, mampu dilewati. Ancaman pemberontakan sampai pembelotan member pernah dihadapi RCI. Member yang kadar “nakal” nya melebihi saya pun banyak. Apa RCI pernah dicaci maki ? Jangan tanya pernah atau tidak. Karena pasti pernah. Tapi apakah kalian sejenak bertanya, Bagaimana cara RCI melewati semua itu ? Saya yakin bahwa masalah yang datang tak sebesar kekuatan dan kekompakan RCI itu sendiri.
...........
Saat ini, sepuluh tahun sudah RCI meramaikan khazanah komunitas sepakbola di Indonesia. Mungkin, RCI bukan satu-satunya komunitas fans AS Roma di Indonesia. Diluar sana, ada banyak komunitas (lebih dari satu) yang mengatasnamakan pecinta AS Roma. Tapi saya tidak akan menjabarkan siapa-siapa nya. Yang pasti tidak hanya RCI. Tapi tahukah siapa yang terbesar ? Tahukah siapa yang pertama ? Saya bisa jamin, jawaban semua itu hanya satu, Roma Club Indonesia. Bahkan embrio dari komunitas diluar RCI ya berasal dari RCI.
Di umur yang ke sepuluh ini, RCI belum mampu mencapai level tertinggi. RCI baru memasuki tahapan tengah. RCI belum mencapai puncak. Dibandingkan dengan komunitas yang lain, ada yang lebih bagus dari RCI. Saya jamin itu. Tapi, percayalah bahwa tak ada tempat se nyaman di rumah sendiri. Jadikanlah RCI sebagai rumah maka RCI akan menjadi tempat yang nyaman bagi kalian.
RCI akan tetap menjadi RCI. Saya pun mengharapkan seperti itu. Banyak member yang pergi. Banyak pula member yang masuk. Dinamika kelompok akan selalu seperti itu. Tapi yang penting adalah bahwa kita tidak memanfaatkan RCI untuk bisa hidup. Tapi hidupilah RCI. Hidupkan RCI dengan kekuatan yang kalian punya.

Selamat Ulang Tahun Roma Club Indonesia
Tanti Auguri Roma Club Indonesia

#10AnniRCI #10TahunRCI #RomaClubIndonesia

Kamis, 12 Februari 2015

Verde, Si Hijau Yang Menjadi Harapan Si Biru dan Si Merah Kuning

Umurnya belum genap 19 tahun. Sepasang assist yang ia berikan, yang masing-masing untuk Ljajic dan wonderkid Paredes menjadikan ia sebagai pemain termuda yang memberikan assist di Serie A (18 tahun 7 bulan). Menjalani debut sebagai starter di AS Roma musim ini, Daniele Verde mampu memberikan magis dan memutus mata rantai kegagalan AS Roma meraih kemenangan. Verde menjalani debut ketika AS Roma melawan Palermo pada 15 Januari 2015.
Verde memberikan magical pass ke Ljajic dan membantu Ljajic mencetak gol pertama Roma ke gawang Cagliari. Magis Verde kembali ia keluarkan ketika memasuki 10 menit terakhir babak kedua. Mendapat umpan lambung dari Holebas, Verde berhasil mengalahkan bek Cagliari dalam perburuan bola. Lalu ia memberikan umpan lambung yang tepat mengarah ke Paredes.
Verde merupakan pemain asli dari akademi Roma. Menambah banyaknya deretan pemain akademi Roma yang bermain di tim inti. Totti, De Rossi, dan Florenzi adalah nama lain yang lebih dulu bermain di Seri A. Khusus untuk Florenzi, dia di orbitkan oleh Zeman  pada musim 2012-2013 lalu.
Verde juga merupakan anggota dari skuad U19 Italy. Id dipanggil timnas pertama kali pada september silam.Ia telah bermain sebanyak 3 kali dan mencetak satu gol ke gawang Armenia pada 10 Oktober 2014 dalam Kualifikasi UEFA U-19.
Penampilan perdana Verde sebagai starter mendapat pujian banyak pihak. Bahkan, dia menjadi Man of The Match laga Cagliari melawan AS Roma, minggu malam kemarin. Garcia, sang pelatih pun memuji Verde. “Verde is an ipmortant member of the squad. Aside from his speed and technique, he works very hard.” Seperti yang dilansir oleh The Guardian.

Saat ini, Italy memiliki banyak sekali darah segar di posisi striker. Selain Verde, ada pula wonderkid dari Sassuolo, Simone Zaza dan Domenico Berardi. Serta ada striker yang “terbuang” dari Roma dan saat ini bermain di Sampdoria, Stefano Okaka. Ketika Balotelli sedang mengalami masa-masa sulit di Liverpool, setidaknya Italy masih memiliki harapan khususnya di lini depan dari pemain-pemain diatas. Kita tunggu, bagaimana kiprah selanjutnya dari Verde. Dan semoga AS Roma dan Italy bisa menemukan Verde Verde Verde yang lain. Pertanyaan besarnya adalah, mampukah Verde (dalam bahasa Italy yg berarti Hijau) mampu menambah warna baru di dalam Si Biru (Italy) dan Si Merah Kuning (Giallorossi/AS Roma) ?

Kamis, 01 Januari 2015

Mengapa AS Roma Perlu Belajar Dari AC Milan ?

AC Milan adalah salah satu penguasa Serie A, liga dengan kasta tertinggi di Italia. Bersama dengan Ancelotti, Milan sukses meraih gelar UCL dengan menumbangkan perlawanan Liverpool. Tapi itu dulu. Bak roller coaster, kondisi Milan saat ini berubah total.

Sejak musim lalu, Milan kesulitan untuk sekedar bisa bersaing di papan atas. Pemecatan Allegri pun menjadi hal wajib bagi Milan agar bisa kembali bersaing merebutkan satu tempat di eropa meraih Scudetto yang terakhir di raih ketika Allegri masih jadi primadona klub.

Revolusi besar pun di lakukan oleh Milan. Di mulai dari sisi skuad. Milan melakukan kebijakan transfer yang berbeda. Jika sebelumnya, Milan jarang melakukan pembelian pemain, maka musim ini Milan melakukan pembelian pemain besar-besaran. Tetapi dengan cara yang sama, pembelian secara gratis atau bahasa gaul nya, Free Transfer.

Milan (membuang) pemain yang secara terang-terangan mengakui bahwa ia adalah Fans Milan ketika masih berkostum Inter Milan yang notabene adalah saudara sekaligus musuh abadi. Balotelli, Si bengal Si jenius yang di beli Liverpool. Pergi dengan ekspektasi besar untuk menggantikan peran Suarez Sebagai penerus indisipliner player sebagai striker haus gol di Liverpool. Balotelli pergi dengan mahar 20 juta. Pantas untuk pemain yang memberikan banyak ulah nakal gol bagi Milan.

Silahkan ingat mahar yang di dapat Milan dari penjualan seorang Balotelli, 20 juta. Belum dari penjualan pemain muda nan berbakat, Bryan Cristante sebesar 6 juta. Pemain andalan saya dalam FM 2014 di beli oleh Benfica.

Dan AC Milan musim ini mendapatkan 9 pemain. Dan salah satu pemain tersebut, sebut saja namanya Torres telah di pinang oleh Atletico Madrid. Dan sebagai gantinya, AC Milan mendapatkan Alessio Cerci. Ah, mulai dari transfer awal musim.

Milan hanya mengeluarkan dana sebesar 11,25 juta untuk 2 pemain, Bonaventura dan Adil Rami. 7 pemain sisanya di dapatkan dengan biaya transfer 0. Cerdas sekali bukan. Dan salah satu pemain gratisan tersebut menjadi pilar penting Milan. Jeremy Menez. Dengan torehan 8 gol di Serie A. Dari 25 gol yang di sarangkan Milan ke gawang musuh, 9 di antaranya di dapat dari pemain gratisan. 8 dari Menez, dan satu sisanya dari Lord Torres.

Bahkan, Galliani dalam suatu kesempatan seperti dikutip dari goal.com menyebut bahwa Van Ginkel akan jadi seperti Kevin Strootman, pemain AS Roma. Padahal, Van Ginkel baru bermain sebanyak 2 kali. Hanya dalam 2 kali bermain, seorang petinggi klub bisa menyebut kualitas dari seorang pemain. Mungkin dia mengatakan seperti itu agar Van Ginkel mau gabung secara gratis di Milan, karena statusnya saat ini masih sebagai pemain pinjaman. Rayuan gombal ala Galliani.

Pemain gratisan Milan lainnya adalah Keisuke Honda. Pemain yang di datangkan dari CSKA Moskow pada Transfer Window Januari lalu ini juga di datangkan dengan status Free Transfer. Lihat konstribusi nya di Milan musim ini. Dia telah bermain sebanyak 15 kali dengan torehan 6 gol. Sungguh super sekali. Dari 3 pemain gratisan ini saja, Milan telah mencetak 15 gol dari 25 gol atau separuh gol lebih.

Mari lihat ke klub seberang, AS Roma. Meskipun AS Roma saat ini masih di atas Milan dandi bawah Juventus, tapi kebijakan transfer Roma sangat sedikit lebih boros di banding Milan. Roma musim ini saja telah menghabiskan mahar sebesar 38.5 juta untuk 4 pemain. Itu belum mahar yang di keluarkan Roma ketika meminjam Astori, Yanga-Mbiwa (Roma harus beli ketika mencapai 20 caps. Saat ini 17 caps), danuntuk membeli setengah kepemilikan Nainggolan yang di perkirakan sebesar 10 juta. Karena saat ini Nainggolan sedang di rayu oleh tim pesakitan, Liverpool. Hitung berapa banyak uang yang di keluarkan AS Roma hanya untuk musim ini.

Roma bukannya tanpa pemain gretongan. Roma mendapatkan A. Cole, Seydou Keita, dan URBY EMMANUELSON. Nama terakhir di dapat dari AC Milan. Pemain dari tim pecinta gratisan yang di dapat secara gratis. Dari 3 pemain itu, hanya satu nama yang bersinar (sampai saat ini), Keita. Bahkan jumlah caps Cole dan Emmanuelson tidak lebih banyak (9 caps) dari Keita dengan 13 caps. Bahkan di isukan kalau Cole musim depan akan bermain di MLS dan Emmanuelson sudah tidak betah di Roma. Bandingkan dengan Milan yang memiliki banyak pemain gratisanmacam Alex, Menez, dan Diego Lopez yang menjadi pilar penting Milan.


Mirisnya, Roma di kandang pada musim ini gagal mengalahkan Milan dengan pemain gratisannya. Tim 38.5 juta tidak bisa menang dari tim 11.25 juta. Sungguh terlalu. Maka, dar tulisan ini saya berharap Om Sabatini berlajar dari manajemen Milan dalam melakukan aktivitas di bursa transfer. Mumpung hari ini, transfer window akan di buka. Selamat bekerja, Om Sabatini.

Selasa, 02 Desember 2014

No Pjanic No Magic

Sepasang gol cantik yang di bukukan oleh Miralem Pjanic pas laga melawan Inter Milan menjadikan Pjanic sebagai Man of The Match. Gol via Free Kick indah nan cantik di detik-detik akhir menjelang laga usai adalah gol ke 15 Pjanic selama membela AS Roma selama 3 tahun. Dan laga melawan Inter kemarin jadi laga ke 105 Pjanic selama 3 musim.
Pjanic yang di awal musim sempat di kabarkan akan pindah klub membuktikan kelas nya sebagai salah satu dirigen terbaik yang bermain di Serie A. Lesatan indah Free Kick Pjanic bukan kali ini saja di keluarkan. Lesatan indah Free Kick Pjanic di kala melawan Napoli musim lalu di Olimpico menjadi satu-satunya gol di laga itu. Laga itu pula Totti cedera dan membuat pasukan Rudi Garcia kehabisan bensin.
Little Prince
Pangeran Charles dan Pangeran William adalah contoh dua pangeran yang bisa hidup berdampingan. Salah satu dari mereka yang akan menjadi pemimpin masa depan Kerajaan Inggris. Seperti itu lah Roma saat ini. Jika Totti adalah Pangeran, maka Pjanic adalah Pangeran Kecil atau Little Prince. Berlebihan ? Tidak juga. Karena Pjanic di anggap mewarisi skill yang di miliki Totti. Meskipun untuk saat ini Totti masih berada sedikit di atas Pjanic dalam hal apapun. Bukan tidak mungkin, Pjanic suatu saat akan melebihi Totti.
Di boyong dari Lyon pasca Revolusi Roma 3 tahun silam, Pjanic menjelma menjadi sosok yang di agung-agungkan publik kota Roma. Pjanic seakan menjadi pemain yang bisa merubah keadaan.
Ambil contoh ketika Roma melawan Juve di Perempat Final Coppa Italy. Lini depan Roma seakan buntu dan susah menembus pertahanan kokoh yang di pimpin Chiellini. Sampai akhirnya, Rudi Garcia memasukkan Pjanic dan aksi Solo Ron nya mampu menyisir sisi kanan pertahanan Juve dan memberikan Assist yang akurat untuk Gervinho. Satu-satunya gol itu mampu membawa Roma ke Semifinal meskipun kalah oleh Napoli.
Atau aksi melewati 4 pemain yang di lakukan Pjanic ketika laga melawan AC Milan. Kalau di lihat lagi, aksi Pjanic tersebut berbeda dengan aksi Messi bahkan Maradona yang membawa bola dari tengah. Tetapi Pjanic lepas dari kawalan Mexes, Montolivo dan pemain Milan lainnya dengan jarak yang sangat dekat. Dan Abbiati hanya melongo melihat gawangnya di bobol oleh Pjanic.

Dari sederetan Magic yang di berikan oleh Pjanic, label Little Prince tampaknya tidak berlebihan. Layaknya Pangeran dalam sebuah kerajaan, Pjanic di harapkan mampu memimpin Roma menuju kejayaan. No Pjanic No Magic

De Rossi : Kapten Masa Depan AS Roma ?

Siapa yang tak kenal pemain Italy didikan AS Roma ini. Pemilik nomor 16 di klub adalah pemain yang selama ini di anggap meneruskan ban kapten Totti atau bahasa kerennya Futuro Capitano. Kalau Buffon dan Pirlo memutuskan pensiun pasca Piala Dunia kemarin, nampaknya Ban Kapten Italy akan terpasang dengan manis di lengan De Rossi.
De Rossi adalah simbol lain dari kesetiaan yang di miliki oleh Roma. Karena bapak dari De Rossi, Alberto De Rossi juga mantan pemain Roma dan saat ini masih jadi pelatih AS Roma Primavera. Dan berhasil memberikan gelar juara Coppa Italy Primavera untuk AS Roma.
Pemain yang punya Tatto pemain yang sedang melakukan tackling ini adalah pemain komplit. Posisi aslinya adalah seorang Holding Midfielder. Ketika era Spaletti, De Rossi bersama Pizarro mengisi Double Pivot yang menjadi ciri khas dari formasi 4-2-3-1 ala Spaletti. Posisi De Rossi sempat tergesar ketika Zdenek Zeman kembali ke Trigoria. Zeman lebih memilih memainkan Tachtchidis daripada De Rossi. Dan ini memicu De Rossi untuk angkat kaki dari Trigoria. Untung De Rossi mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk memperpanjang kontraknya dengan Roma.
Capitano Roma ?
De Rossi menyandang status sebagai Futuro Capitano. Karena De Rossi adalah putra asli Roma dan hidup dan tumbuh di lingkungan Roma. Tetapi banyak pihak tidak yakin kalau De Rossi akan jadi kapten Roma. Why ? Jawabannya hanya ada di satu nama, Francesco Totti.
Totti bisa di katakan menghambat De Rossi menjadi seorang kapten. Posisi De Rossi hanyalah Vice Captain dari Totti. De Rossi akan jadi kapten ketika Totti absen atau Totti memutuskan pensiun. But when Totti Retired ? Tidak ada yang tahu. Bahkan Totti kabarnya akan terus bermain dan mencoba Stadion baru Roma, Stadio Della Roma. Dan Stadio Della Roma sendiri di perkirakan selesai tahun 2017. Atau 3 tahun lagi. Ketika itu, umur Totti menginjak 40 tahun. Di kuatkan oleh Statement Totti yang ingin terus bermain sampai umur 40.
Terlebih lagi, Totti sampai saat ini menjadi sosok sentral di lini depan Roma. Selisih umur Totti dan De Rossi yang selisih sedikit inilah di sinyalir jadi alasan mengapa De Rossi sulit menjadi kapten Roma. Apalagi, saat ini lini tengah Roma di huni oleh pemain-pemain dengan kualitas setara dengan De Rossi. Sebut saja Nainggolan, Keita, Strootman, dan Pjanic. Dengan skema 4-3-3 akan ada 3 pemain yang mengisi pos lini tengah. Dan satu slot hampir pasti milik Nainggolan yang musim ini (masih berjalan) menjadi pemain dengan penampilan terbanyak untuk Roma. Slot sisa untuk De Rossi akan di perebutkan dengan keita. Dengan penampilan Keita yang semakin bagus serta penampilan De Rossi yang sampai saat ini masih angin-anginan, tampaknya Romanisti harus sabar melihat Kapten masa depannya duduk di bangku cadangan.
Masa depan De Rossi pun abu-abu. Kendati DDR (sapaan De Rossi) sudah memutuskan untuk memperpanjang kontrak nya bersama Roma. Karena De Rossi sampai saat ini masih banyak dilirik oleh tim lain. Sebut saja Man. City yang masih ngebet mendapatkan jasa DDR.

Jadi, layak di tunggu apakah De Rossi masih ingin menunggu dirinya menjadi seorang Capitano Roma atau pindah ke klub lain.

Selasa, 30 September 2014

Selamat Ulang Tahun, Capt !

27 September, bisa jadi hari yang tidak akan di luakan seluruh Romanisti se antero negeri bahkan dunia dan bahkan se akhirat. Karena fans Roma ada juga yang alien. Ada apa di 27 September ? Bagi Romanisti, pertanyaan itu tidak akan sulit untuk di jawab. Sangat mudah malah.
27 September, 38 tahun lalu lahir seorang yang hebat. Seorang yang memberikan segalanya untuk sepaknola, Kota Roma, dan Italy. Francesco Totti namanya. Totti merupakan seorang pribumi atau putra asli kota Roma. Masuk ke akademi Roma bahkan sebelum saya sendiri lahir. Dan melakukan debut ketika saya baru bisa bilang, “Ibu”.
Hebat memang orang ini. Lelaki yang memiliki dua orang anak, yakni Chanel dan Cristian telah memberikan gelar Scudetto untuk AS Roma yang ketiga dan Trophy World Cup ke 4 bagi Italy. Untuk urusan individu, Totti pernah meraih Golden Boot. Untuk pemain yang bukan seorang striker murni pada tahun 2010.
Artikel ini sengaja saya buat telat bukan pas tanggal 27 September. Pertama karena 27 september ada hal sakral lain. Dan memang saya sengaja menunda ini karena saya yakin, AS Roma dan Totti akan memberikan hadiah terindah. Terbukti ? J
Susahnya kalahkan Verona                                                    
27 September, atau Sabtu malam waktu Indonesia, AS Roma harus melawan tim kuda hitam, Hellas verona. Tim asal dimana Iturbe berada sebelum pindah ke Roma ini memang jadi Kuda hitam. Musim kemarin, Verona hampir saja lolos ke UCL. Dengan punggawa gaek seperti Luca Toni, Hellas verona menjelma menjadi kekuatan yang di takuti lawan.
Malam itu, Roma seperti melawan tim yang punya formasi 6-3-1. Dengan 3 gelandang berada di sisi dalam bukan sisi luar. Bayangkan 6 pemain Verona harus menjaga sisi pertahanan Verona. Roma amat sangat kesulitan memasuki kotak pinalti Verona. Ketat sekali seperti celana cowok yang lihat cewel seksi.
Totti, yang di harapkan mencetak gol pun tidak bisa memberikan gol nya. Sampai akhirnya, Rudi Garcia harus mengganti seorang Totti dengan Florenzi. Darah muda asli Roma yang di gadang-gadang sebagai penerus Totti dan De Rossi. Kecewa pada awalnya, karena memang kami berharap Totti lah yang menjadi pemecah kebuntuan.
Kekecewaan itu berubah jadi kebahagiaan. Kala Florenzi mencetak gol pertama untuk Roma berkat assist dari Nainggolan. Blaaar 1-0. Pertandingan semakin ketat dengan Verona yang mulai menekan. Destro yang sering membuang peluang mulai mendapat kecaman. Untung, beberapa menit menjelang laga usai, Destro mencetak gol sensasional dari setengah lapangan dengan sekali control. Blaaaaammm skor akhir 2-0 dan kado dari seluruh punggawa Roma adalah sebuah kemenangan indah.
Sorry, Man. City
Roma masuk ke dalam Grup Neraka. Grup yang isinya adalah langganan UCL. Bayern Munich, Manchester City, dan CSKA Moskow. Banyak pihak pesimis dengan kiprah Roma di UCL. Ya wajar karena Roma lama absen di kompetisi Eropa.
Tapi Roma membuktikan ke publik bahwa mereka siap bermain di UCL. Pertandingan awal, Roma bantai CSKA Moskow 5-1 di Olimpico. Laga kedua melawan Man. City, aroma pesimistis masih memayungi Roma. Ya, karena yang di lawan adalah tim yang punya catatan bagus ketika bermain di kandang. Apa Roma bisa ?
Sebelum pertamdingan di mulai, terjadi “Twitwar” antara akun twitter resmi Manchester City dan AS Roma.

Twitwar di mulai ketika akun twitter MCFC, menyindir AS Roma karena Totti belum pernah mencetak gol di Inggris. Ye, sejarah kelam Roma memang ketka bermain di Inggris. Di gunduli MU 7-1 dan di hajar Arsenal 2-1. Ya, itu sejarah kelam AS Roma beberapa tahun yang lalu.
Totti belum pernah mencetak gol di Inggris dan laga lawan MCFC akan jadi yang pertama. Itu twit akun twitter AS Roma sebelum pertandingan di mulai. Daaaaan baaam, Joe Hart harus rela gawang nya di jebol Totti. Kiper pertama yang gawangnya di bobol Totti di Inggris.

Ini kado terindah buat Totti. Kemenangan manis atas Verona dan gol pertama Totti di Inggris.



Selasa, 15 April 2014

IL Nostro Capitano

Siapa yang tidak kenal Totti. Sosok yang telah mengabdikan dirinya selama hampir 20 tahun. Pemain yang hanya bermain di level klub untuk satu tim. Satu tim yang dia bela sejak awal meniti karir juniornya sampai saat ini. Klub tersebut beruntung mendapatkan tanda tangan pemain ini. Pemain yang rela gajinya di potong. Nomer punggung pemain ini kemungkinan besar akan di pensiunkan untuk menghormati pengabidan dirinya. Klub beruntung tersebut bernama AS Roma.

Beruntung sekali AS Roma memiliki pemain serba bisa seperti Totti. Pemain yang mampu memainkan peran sebagai goal getter ataupun sebagai pemberi umpan yang manis bagi lini depan AS Roma. Dengan torehan 235 goal, Totti menempati posisi kedua tabel pencetak gol terbanyak Serie A. Masih di bawah Silvio Piola dengan 274 gol. Terpaut sekitar 30 gol. Dengan umur yang semakin tua, pada September nanti akan berumur 37 tahun. Mampukah Totti melampaui capaian gol Piola ? Masih sangat bisa terjadi. Apalagi jika di lihat ketajaman Totti yang kembali. Di musim sini saja, Toti mampu mencetak 7 gol dengan 6 giornata tersisa.

Untuk ukuran Serie A Italy, liga yang lebih mengedepankan pertahanan dibanding penyerangan, torehan 274 milik Piola atau 235 milik Totti adalah hal yang istimewa. Berbeda dengan La Liga yg menyerukan serangan frontal, Italy lebih kokoh secara pertahanan. Catenaccio kata lainnya, atau pertahanan grendel dan berlapis. Jangan coba-coba bandingkan jumlah torehan gol Totti atau Piola dengan Messi ataupun CR7. Karena jelas berbeda.

Profesionalitas seorang Totti jangan pernah di ragukan. Bermain sampai umur 37 tahun bukan hal mudah. Banyak pemain yg sudah menyerah sebelum mencapai umur segitu. Pengecualian buat Zanetti. Javier Zanetti adalah manusia dari planet lain yang mampu terus bermain sampai umur 40 tahun.

Karir Totti bukanlah tanpa halangan. Tidak ada satupun pemain sepakbola yang karir bermainnya lurus dan lempeng-lempeng saja. Totti pernah mengalami cedera parah di tahun 2006. Tahun dimana dia sangat di butuhkan oleh Italy dengan Lippi nya untuk mengarungi pertarungan di Piala Dunia. Cedera yang diterima Totti ketika AS Roma melawan Empoli. Sebuah pukulan telak untuk Totti, AS Roma, dan Italy.

Tapi Totti belum habis. Totti masih ingin dan terus bermain sampai saat ini. Totti masih akan terus menginjakkan kakinya di rumput Olimpico paling tidak sampai musim depan berakhir bahkan 2 musim ke depan atau akhir musim 2016-2017. Atau ketika TOTTI berumur 39 tahun. Atau 1 tahun sebelum TOTTI pensiun. Yaa, Totti akan berhenti bermain di usia yang ke 40 tahun. Tapi penulis yakin jika Totti tidak di terpa cedera parah, Totti tidak akan berhenti bermain di umur yang ke 40. Kenapa ? Alasannya satu, stadion baru Roma.

Totti sangat ingin bermain di stadion baru AS Roma yang akan di bangun pada 2016 atau pada Totti berumur 39 tahun. Di perkirakan selesai pada 2018 ketika Totti berumur 41 tahun. Relakah Totti berhenti bermain ? Maybe no. Bagi penulis, satu plot pemain akan tetap ada buat Totti ketika dia masih ingin dan masih kuat bermain. Pelatih tidak akan kesulitan mencari kan posisi untuk Totti. Totti adalah pemain serba bisa.

Dia maestro lapangan hijau. Pemain yang menolak uang demi sebuah kecintaannya terhadap satu klub. Pemain yang sangat ingin di beli oleh presiden Real Madrid saat itu untuk melengkapi skuad Los Galacticos jilid I yang memang dia inginkan. Siapa yang tidak tergiur akan gemerlapnya uang dan kemewahan. Totti pun berfikiran seperti itu. Tapi hati nya mengatakan tidak. Tidak ingin meninggalkan klub yang membesarkan namanya. Klub yang membuat nama Totti melambung sampai meraih Golden Boot 2010 dan meraih Trophy World Cup 2002 bersama Italy.

AS Roma adalah TOTTI dan TOTTI adalah AS Roma. AS Roma adalah TOTTI itu sendiri dan TOTTI adalah AS Roma itu sendiri. Demikian para Romanisti (Fans AS Roma) menyebutnya. Kedua hal di atas tidak akan pernah bisa di pisahkan. Oleh uang sekalipun. Tidak akan ada yang bisa membeli loyalitas seorang TOTTI.
C’E SOLO UN CAPITANO

FRANCESCO TOTTI

Selasa, 04 Maret 2014

Happy Anniversary Roma Club Indo Gresik


Hari ini, empat tahun yang lalu adalah hari dimana satu komunitas fans club AS Roma yang pertama di Gresik terbentuk. Hari dimana embrio kecil nan istimewa yang nantinya akan tumbuh menjadi sebuah bocah yang luar biasa. Sepakat saat itu, kita menamakan embrio itu bernama Romanisti Indonesia ULTRAS Gresik atau jika di singkat RIUG.
Saat itu 4 orang sepakat untuk membentuk sebuah wadah, sebuah komunitas, dan sebuah keluarga baru. 4 orang itu bisa dikatakan adalah saksi mata atau pelaku utama dibalik terbentuknya RIUG. Empat orang ini memiliki background yg berbeda tapi memiliki tujuan yang sama, menyatukan fans AS Roma di Gresik. Berhasil ? Kita yakin itu berhasil, tapi tidak mudah.
Benar saja, perjuangan untuk membawa keluarga baru ini ke arah yang lebih panjang tak mudah. Kita harus blusukan untuk mencari fans AS Roma. Karena Gresik berbeda dengan kota besar yang lain. 1 diantara 4 orang yang saya sebutkan tadi adalah tokoh kunci dibalik terbentuknya salah satu keluarga lain kita, Romanisti Indonesia Jember. Dan satunya adalah salah satu orang yang membangun Romanisti Indonesia Malang dari NOL.
Apa itu membantu ? Jelas. Tapi kondisi sulit ketika kedua orang tadi tidak ada di Gresik. Tonggak perjuangan yang hanya dikerjakan oleh segelintir orang ternyata memaksakan RIUG untuk vakum sementara. Vakum bukan berarti kita mati. Tapi memang posisi kita yang tidak memungkinkan. Tapi itu tak berlangsung lama. Hanya sekitar 4-5 bulanan.
Sampai akhirnya angin segar datang. Muncul banyak anggota keluarga yang baru yang mereka merelakan setengah waktunya untuk membesarkan RIUG. Anggota kita perlahan mulai membesar. Hal ini ditandai dengan perubahan nama kita. Kita yang masih menggunakan Romanisti Indonesia Ultras Gresik, akhirnya berubah menjadi Roma Club Indonesia Gresik. Lalu kata-kata ULTRAS tidak akan pernah bisa kita hilangkan. Kita pakai kata ULTRAS di “pasukan” serigala kita, Ultras Grissegala. Grissegala itu singkatan dari Grisse (Nama kota Gresik pada jaman dahulu) dan Serigala.
Puncaknya adalah bulan kemarin. Dimana kita akhirnya menyelesaikan event akbar yang sejak awal terbentuknya RCI Gresik sudah kita gagas. Yes, Gathering Wilayah Roma Club Indonesia Jawa Timur.
Dan tepat hari ini, 4 Maret 2014. Bocah yang dulu masih berupa embrio, kini telah berusia empat tahun. Umur yang masih sangat kecil dan sangat riskan untuk sakit, bahkan mati. Tapi saya yakin, kita akan berusaha sekuat tenaga agar “bocah” ini tidak terluka sedikitpun. Kita berusaha untuk menjadikan bocah ini menjadi sebuah remaja dewasa yang nantinya akan menjadi lebih besar dan kuat.

Selamat ulang tahun ROMA CLUB INDONESIA GRESIK yang ke 4. Semoga panjang umur dan semoga bisa menjadi RUMAH yang baik untuk ROMANISTI. Grande

Minggu, 02 Maret 2014

Belajar Chant AS Roma

Alangkah baiknya berbagi. Disini saya membantu teman-teman semua untuk belajar chant AS Roma. Bagi seorang Romanisti, hafal chant AS Roma itu hal yg wajib. Apalagi yg sering ikut nonton bareng AS Roma. Bareng Roma Club Indonesia pastinya :)) Silahkan download Disini

Minggu, 09 Februari 2014

Gathering Wilayah RCI Jatim X

Roma Club Indonesia atau yg di singkat dg RCI daerah Jawa Timur memiliki kegiatan rutin, yakni Gathering Wilayah Jatim. Kegiatan ini di ikuti seluruh regional RCI di Jawa Timur. Dan Gathering ini telah sepuluh kali di adakan. Dan Gresik, di amanahkan untuk jadi tuan rumah.
Mengambil tema, “Sedoso Ing Pangastuti”. Sedoso sendiri artinya sepuluh. Tapi kita menjadikan kata sedoso menjadi sebuah singkatan dari, “Sedulur Solid.” Dan “Ing Pangastuti” bisa di artikan sebagai kebajikan atau kebaikan. Jika digabung, menjadi sedulur solid dalam kebajikan dan kebaikan. Mulia seru arek RCI Gresik, bung.
Acara ini di selenggarakan 8-9 Februari 2014. Tempatnya di daerah kota Gresik. Penginapan di daerah yg biasa disebut, Blandongan. Destinasi wisata event ini menjadi masalah. Gresik kekurangan tempat wisata. Panitian akhirnya menyepakati untuk melakukan wisata religi di 2 makam waliyullah, Sunan Giri dan Malik Ibrahim. Malamnya, kita mengadakan malam keakraban di Cafe Bukit Bintang, di daerah bukit Giri.
Besok paginya, kita mengadakan penggalangan dana di lokasi CFD Gresik. Penggalangan dana ini sesuai dengan himbauan dari Roma Club Indonesia pusat yang ada di Indonesia. RCI yang mendapat perintah dari Italy, langsung membentuk sebuah badan atau lembaga yg bernama RCI Cares. Sebuah badan bentukan dari RCI utk membantu saudara kita sebangsa dan setanah air. Penggalangan dana yg hanya berlangsung satu jam, kita mendapatkan 783.000. Alhamdulillah.
Sorenya, ada Trofeo La East Java. Sebuah turnamen futsal antar regional yg memperebutkan piala bergilir. Piala legendaris, yg di perebutkan sejak Gath Jatim pertama. Turnamen ini di menangkan oleh regional yg baru terbentuk, regional yg baru mengikuti Gath Jatim, RCI Banyuwangi setelah mengalahkan RCI Pasuruan dg skor 3-1.
Malamnya, ada event terakhir. Yakni nobar Derby Della Capitale (DDC). Nobar kali ini istimewa, karena melibatkan seluruh regional di Jatim. Peserta gath jatim disarankan mengikuti nonbar. Peserta gath jatim tanpa panitia berjumlah 80. Ditambah panitia menjadi 115 orang. Dan peserta nobar membeludak, karena dari RCI Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan yg membernya tidak sempat ikut Gath Jatim, ikut datang di nobar. Tercatat peserta nobar menjadi sekitar 150 orang. Itu yg tercatat oleh kami, panitia.
Gath jatim berakhir dengan sedikit kekecewaan karena AS Roma ditahan imbang oleh saudara tua nya. Tapi rasa bangga dan senang tetap ada. Bukti bahwa Gresik siap untuk menyelenggarakan event besar. Bukti bahwa Gresik ramah bagi siapapun yg datang. Bukti bahwa RCI Gresik siap menyelenggarakan event seperti ini lagi. Bukti bahwa RCI Gresik siap menjadi tuan rumah nobar jatim yg akan di lakukan setiap tahunnya secara bergiliran. Bahkan salah satu peserta nobar berbisik ke saya, ”Wah, Gresik siap ini adakan gathnas. Paling tidak, untuk menyediakan tempat nobar. Tempat nobarnya istimewa. Salut.”
Terakhir, saya ingin mengucapkan ribuan terima kasih untuk seluruh peserta, baik peserta GathWil RCI_Jatim ataupun peserta nobar atas partisipasinya. Dan mewakili panitia, saya meminta maaf apabila ada kesalahan baik yg di sengaja ataupun tidak, baik dalam penjemputan, penyambutan, makan, sampai event nobar DDC. Kesalahan milik kita dan kesempurnaan milik AS Roma dan Totti. Heheh.
Untuk seluruh panitia, GOOD JOB GUYS. Saya yakin, salah satu orang lama di RCI yg saat ini ada di Jogja dan yg mendirikan RCI Gresik akan bangga. Mimpi kami sejak lama yg belum tuntas akhirnya terselesaikan juga. Selamat untuk kalian, bukan saya. Karena saya memang tidak fokus di event kali ini. Saya pun hanya ikut membantu di Hari H karena keterbatasan kesempatan. Sedikit pesan utk kawan2 RCI Gresik, tidak ada senior dan junior di Roma Club Indo Gresik. Kita semua sama, fans AS Roma dan Member Roma Club Indo Gresik.  Tidak ada sesepuh, yg di tuakan atau apalah itu namanya. Forza Roma Club Indonesia Gresik.

@alipjanic @RCI_Gresik

Jumat, 07 Februari 2014

Proyek Jangka Panjang Ala AS Roma

AS Roma menjadi salah satu tim yang paling giat menjelajahi dunia di bursa transfer tengah musim. Nama-nama mentereng, seperti Naninggolan dan Bastos, dan Toloi didatangkan. Kedua pemain di datangkan bukan tanpa alasan, Nainggolan datang karena Roma kehilangan Bradley. Bastos datang karena roma harus melepas Marquinho. Selain itu, Roma juga mencari pelapis Balzaretti dan dodo yg berkutat dengan cedera. Karena Bastos bisa dimainkan di posisi Full Back kiri. Dan untuk nama terakhir, Rafael Toloi yg di datangkan dari Sao Paolo untuk menambal pertahanan Roma yg ditinggal Burdisso. Khusus untuk Toloi, bagi kalian yg gemar bermain game Football Manager tentu tak asing. Bek masa depan Brazil.
Selain nama mentereng di atas, Roma juga membeli sederet pemain muda yang secara umur masih “berondong”. Radonjic, Berisha, Paredes, Abner, dan masih ada banyak lagi. Merupakan pemain yg sengaja di datangkan manajemen untuk memperkuat kedalaman tim serta utk menjadi penerus pemain “tua” yg ada di tubuh Roma. Jelas proyek ini penuh resiko dan penuh dengan spekulasi.
Sebenarnya, Roma memiliki banyak sekali pemain muda bertalenta. Baik yg sedang naik atau yg akan naik. Untuk nama yg sudah naik, kita kenal dengan Florenzi. Untuk yg sedang di siapkan untuk naik. Caprari dan Viviani yg saat ini sedang menikmati masa peminjaman di klub lain. dan jangan lupakan, Nico Lopez. Pencetak gol pertama AS Roma musim lalu yg saat ini “magang” di Udinese.
Roma saat ini mulai melirik program jangka panjang. Program yg sebenarnya sudah biasa di Eropa. Melirik pemain muda dan ketika sudah matang, dibawa ke level senior dan nantinya akan bisa menjanjikan. Sulit memang, karena butuh kesabaran yg lebih dari pemain dan manajemen.
Hal itu bisa menjadi investasi buat tim. Kita liat, berapa besar keuntungan Arsenal dg Fabregas nya atau AS Roma dg Marquinhos. Kedua pemain yg di beli denan murah dan harus dijual dg harga yang sangat mahal. Keuntungan berlipat untuk tim.

Satu lagi, ketika AS Roma menjanjikan proyek jangka panjang, artinya kita sebagai fans jg harus yakin bahwa Roma di bangun bukan utk satu dua musim, tapi panjang. Kesabaran kita sebagai fans diuji, semoga manajemen mempertahankan Rudi Garcia dan memberikan waktu yang lama agar beliau bisa membawa Roma kembali ke jalur Scudetto. FORZA ROMA

Minggu, 01 Desember 2013

Dibalik Mandeknya Rekor Kemenangan AS Roma

Roma sempat menggemparkan panggung sepakbola Italy bahkan eropa ketika mampu menyabet 10 kemenangan beruntun di awal musim. Berhasil mematahkan rekor Juve yang sempat meraih 9 kemenangan beruntun yang akhirnya membawa Juve meraih scudetto sebelum akhirnya gelar scudetto itu di cabut. Di level eropa, Roma hanya kalah dari Spurs.
Masuk ke giornata 2 digit, yakni ke 10 Roma sempat kesulitan untuk menang sebelum Bradley menjadi protagonista dengan satu gol nya di penghujung laga. Padahal saat itu Roma sedang bermain dengan 10 pemain setelah diusirnya Mehdi Benatia. Dan Roma menghancurkan rekor tidak pernah kalah Udinese di kandang dalam 22 pertandingan terakhirnya.
Tepatnya di giornata ke 11, rekor 100% Roma terhenti. Adalah Torino yang menghentikannya. Torino menjadi tim pertama yang berhasil meredam auman serigala ibu kota. Dengan sebiji gol dari Alessio Cerci, serigala Roma seakan kehilangan aumannya di kandang Torino. Padahal Roma sempat memimpin di interval 45 menit awal sebelum Cerci menyamakan kedudukan di babak kedua. Gol itu semakin menyakitkan karena Cerci adalah mantan pemain Roma. Gawang Roma yang sempat perawan dalam beberapa petandingan terakhir ahirnya bobol juga.
Disini saya mencatat ada beberapa penyebab kendornya Roma :
1.      Kehilangan Francesco Totti
Faktor absen lamanya Totti bisa dikatakan menjadi salah satu alasan terkuat mlempemnya Roma. Totti yang cedera ketika Roma mengalahkan tamunya, Napoli di kandang pada bulan lalu hingga saat ini belum bisa di pastikan kapan akan bermain. Ketika Totti bermain, Roma sangatlah ganas. Totti telah mencetak 3 gol dan masuk dalam top three pencetak gol Roma di musim ini. Il Capitano menjadi pusat serangan AS Roma musim ini. Tidak hanya tajam, Totti juga mampu menjadi pengumpan yang baik bagi 2 striker bayangan Roma. Ketika Roma bermain dengan Totti, Roma mampu mencetak 22 gol dalam 8 pertandingan. Ketika Totti absen, Roma hanya mampu mencetak 3 gol dalam 4 pertandingan. Bahkan lawan Cagliari, menjadi pertandingan pertama Roma tanpa mencetak gol. Dan itu semua terjadi ketika Totti absen. Totti masih menjadi pusat serangan Roma hingga saat ini. 4 pertandingan terakhir, Roma bermain seakan tanpa arah. Kebingungan menentukan arah serangan.

2.      Belum Terlihatnya Pelapis Pertahanan Roma

Roma harus kemasukan 3 gol dalam 4 pertandingan terakhirnya. Padahal dalam 10 pertandingan awal, Roma hanya kemasukan 1 gol. Disini, kinerja Burdisso yang di plot sebagai pelapis dari Benatia dan Castan belum menunjukkan kinerjanya. Burdisso yang masuk ketika Castan dan Benatia terkena akumulasi kartu, menjadi lubang besar yang mudah di tembus. Berkali-kali passing yang di lepaskan Burdisso pun malah menjadikan blunder buat Roma sendiri.
Selain Burdisso, pusat masalah Roma ada di full back kirinya, yakni Dodo. Dodo dipasang ketika Balzaretti masih terkena cedera. Area kiri Roma menjadi salah satu area paling rawan yang mudah ditekan lawan. 2 pemain tadi belum menunjukkan kelasnya. Mereka berdua menjadi titik terlemah Roma.

3.      Terbacanya Strategi Rudi Garcia

Sebenarnya, alasan terkuat mlempemnya Roma selain kehilangan Totti adalah hal ini. sejak Totti masih bermain, atau ketiak melawan Napoli, strategi Roma sebenarnya sudah mulai di baca. Ketika lawan Napoli, meskipun Roma unggul, tapi kedua gol nya dicatatkan melalui set piece bukan open play. Pelatih-pelatih di Italy mulai sadar akan bahayanya Roma dan mencatat kelemahan-kelemahan Roma. Terbukti, roma seperti macan ompong di 5 giorata terakhir.


Semoga Garcia memberikan formula nya untuk bisa mengangkat lagi performa AS Roma yang mulai menurun. Di sisa 5 giornata sebelum paruh musim, Roma masih bisa untuk bangkit. Dan pertandingan melawan Fiorentina akan jadi ajang pembuktian AS Roma. Forza Roma

Selasa, 06 Agustus 2013

Alessandro Florenzi

Mungkin banyak yang belum mengenal siapa itu Alesandro Florenzi. Dia merupakan seorang ‘wonderkid’ yang dimiliki oleh AS Roma. Pemain asli Italy ini lahir pada 11 Maret 1991. Pemain ini asli didikan AS Roma.

Memasuki skuad AS Roma senior merupakan hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Pemain ini sempat dipinjamkan ke Crotone sebelum kembali dan mengabdi di klub yang ia banggakan, AS Roma.

Pemain ini berposisi sebagai Midfielder dan Attacking Midfielder. Pemain yang bernomor pungung 48 ini memiliki fisik yang tidak proporsional sebagai pemain sepakbola. Memiliki tubuh yang relatif kecil (173cm) Florenzi sering kalah dalam duel-duel udara dan ketika duel one by one langsung dengan kontak badan. Tetapi Florenzi dikaruniai kecepatan yang luar biasa cepat.

Florenzi pantas berterimakasih kepada allenatore Roma sebelum Andreazzoli, yakni Zeman. Dia lah yang menemukan bakat Florenzi dan akhirnya menarik pulang Florenzi ke Roma. Terjadi perbedaan cara bermain ketika AS Roma berganti pelatih. Dan itu berdampak terhadap peran dari Florenzi. Ketika era ZZ, peran Florenzi lebih kepada pemecah konsentrasi pemain belakang dengan berposisi sebagai Midfielder murni yang menyerang via tengah. ZZ yang memiliki pakem 4-3-3, Florenzi sering di tempatkan di tengah menemani De Rossi dan Bradley. Florenzi bergantian dengan Pjanic saat itu.

Ketika era Andreazzoli, Florenzi seakan diberi kebebasan bermain. Florenzi yang memiliki fisik yang prima bebas berlari. Tetapi dia sering di tempatkan di posisi sayap kanan-kiri. Skill dribble Florenzi juga di atas rata-rata. Sesuai dengan bentuk fisik Florenzi yang kecil.

Meskipun kondisi fisik Florenzi yang kecil, Florenzi dikarunia dengan kekuatan jumping yang tinggi. Ingat ketika gol Florenzi ke gawang Inter pada leg pertama Serie A musim ini. Selain itu, penempatan posisi Florenzi juga hebat. Mungkin karena kondisi fisiknya yang kecil, jadi dia bebas mencari posisi tanpa diketahui lawan.

Umur dia yang masih 22 tahun membuat semangat bermain dia tinggi. Determinasi bermain Florenzi juga perlu di acungi jempol. Dia salah satu pemain yang sering dijatuhkan. Tetapi salah satu pemain yang bukan tipikal ‘ingin’ dijatuhkan.

Florenzi merupakan salah satu pemain yang subur. Saat ini dia telah mencetak 4 gol bagi AS Roma di semua ajang. Rinciannya 3 gol di Serie A dan 1 gol di Coppa Italia. Di timnas sendiri, Florenzi telah bermain 2X bagi Italia. Di umurnya yang masih muda, merupakan sebuah prestasi tersendiri bagi dia.

Kekurangan Florenzi adalah dia masih sangat labil. Kondisi emosi dia menjadi sorotan utama para pecinta AS Roma. Inkonsistensi dalam bermain menjadi nilai min bagi dia. Selain itu, Florenzi memiliki saingan yang berat di AS Roma. Karena di posisi yang dia mainkan, banyak nama-nama hebat yang lebih berpengalaman dripada dia. Sebut saja Pjanic dan Bradley.

Tetapi saya pribadi yakin, Florenzi mampu bersinar bagi Italy dan AS Roma. Dan saya harap, Florenzi bisa menjadi The Next TOTTI.


DAJE ALESSANDRO FLORENZI




Minggu, 04 Agustus 2013

Transfer AS Roma. Puas ?

Bisa dikatakan, AS Roma menjadi salah satu tim tersibuk di Serie A. AS Roma menempati rating kedua klub dengan pengeluaran terbanyak. AS Roma juga salah satu klub dengan pendapatan terbesar. Penjualan Marquinhos yang mencapai 32 juta menjadi salah satu penjualan terbesar tim di Italia. Hanya kalah dengan Cavani ke P$G. Dan apapun masih bisa terjadi, kejutan-kejutan di jendela transfer masih sangat mungkin terjadi.

Napoli bisa dikatakan, klub dengan penuh kejutan di jendela transfer musim ini. Itu tidak terlepas dari aktivitas transfer Napoli yang sanggup membeli Higuain, Callejon, Raul Albiol, dan Pepe Reina. Sedikit Spanyolisasi yang dilakukan oleh Napoli. Hal itu tidak terlepas dari andil pelatih baru mereka, Rafael Benitez.

AS Roma, sukses mendaratkan banyak pemain musim ini. Gervinho, Maicon, Strootman, Skorupski, Benatia, De Sanctis, dan Tin Zedvaj merupakan nama-nama yang berhasil di daratkan Roma. Yang istiwemanya lagi, adalah ada 2 nama di atas yang sebenarnya di incar oleh klub mapan Liga Inggris dan Italia. Ibaratnya, Roma berhasil membajak mereka sebelum resmi pindah. Yakni Zedvaj yang sebelumnya hampir pasti ke Tottenham dan Strootman yang di incar oleh MU dan AC Milan. Dan saat ini AS Roma sedang menunggu kedatangan Abel Hernandez dari Palermo dan Gonzalo Bueno dari Nacional. Tapi AS Roma harus menunggu penjualan Boriello dan Osvaldo. Karena mereka berdua memiliki posisi yang sama dengan Bori dan Osvaldo.

Sudah cukupkah itu ? Sudah sesuai porsikah itu untuk menutupcelah kekurangan AS Roma musim lalu ? Jika diteliti lagi, kelemahan AS Roma musim kemarin adalah di sektor pertahanan. Dan AS Roma harus kehilangan salah satu pilar penting di lini belakang, yakni Marquinhos ke klub kaya raya, P$G. Tetapi Roma bergerak cepat dengan membeli pilar Udinese, Mahdi Benatia meskipun dengan mahar yang bagi saya mahal, karena harus mengorbankan wonderkid kita. Selain itu, di sektor belakang, Roma berhasil memboyong pilar penting Inter ketika era Mou, yakni Maicon. Keberadaan Maicon memang diharapkan untuk menambal kelemahan Roma ketika menghadapi serangan balik dari sayap.

Menurut saya, lini terkuat AS Roma ada di lini tengah. Bisa dikatakan, salah satu tim dengan lini tengah terbaik di Italia. Berlebihan kah ? Bagi saya tidak. Keberadaan De Rossi, Pjanic, Wonderkid Florenzi, Bradley, dan amunisi baru, Strootman menjadi alasan. Untuk nama terakhir, manajemen Milan sendiri yang mengungkapkan kekecewaan setelah gagal memboyong Strootman ke Milan. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji coba ketika melawan MLS All Star di AS. 2 dari 3 gol AS Roma dicetak pemain tengah, yakni Strootman dan Florenzi. Dan ketiga gol tersebut bisa dikatakan kreasi dari lini tengah AS Roma.

Portiere Roma yang 2 musim lalu di isi oleh Stekelenburg akhirnya berganti. Musim kemarin bisa dikatakan musim terburuk bagi Stek. Rangkaian cedera mengganggu performa Stek di bawah mistar yang akhirnya membuat posisi dia tergeser oleh Goi dan Lobont. Untuk Lobont, dia satu-satunya kiper yang bertahan di Roma. Karena Stek sudah di transfer ke Fulham, dan Goi sudah kembali ke klub lamanya setelah habis masa peminjaman. Untuk menutup celah di mistar gawang, As Roma membeli Skorupski dari Polandia dan Morgan De Sanctis. Untuk De Sanctis, mungkin nama yang sejak musim kemarin di harapkan manajemen dan Romanisti. Ya, mantan kiper Napoli memang di incar AS Roma sejak musim kemarin. Tetapi memang Napoli belum mau melepasnya sebelum menemukan pengganti. Transfer De Sanctis bisa dikatakan transfer terlama selain kasus Gervinho. Karena memang Napoli belum mau melepas dia sebelum menemukan pengganti. Awalnya Napoli incar Julio Cesar dari QPR. Proses kepindahan Cesar ke napoli memakan waktu lama dan ujung-ujungnya gagal. Hingga akhirnya transfer De Sanctis di blokir oleh Napoli. De Sanctis sempat frustasi karena ingin pindah ke Roma. Untungnya, transfer Pepe Reina ke Napoli cepat dan dia bisa gabung ke Roma.

Lini depan AS Roma di isi oleh Totti, Lamela, Osvaldo, Boriello, dan nama baru Gervinho. Boriello kembali ke Roma setelah masa peminjaman ke Genoa. Dan Bori sepertinya tidak masuk dalam rencana permainan Garcia. Dengan skema 3 striker, yang akan mengisi pos tengah hanya Osvaldo dan mungkin Totti. Garcia sangat berarap Osvaldo bertahan tetapi manajemen ingin agar Osvaldo pindah. Karena Roma akan mendapatkan dana segar dari penjualan Osvaldo. Yang nantinya dana tersebut akan digunakan untuk memboyong Abel Hernandez dan Bueno.

Mungkin itu rangkuman transfer dari AS Roma. Dan saya masih sangat ingin AS Roma memiliki satu bek tangguh lagi untuk mengawal pertahanan. Karena saat ini, Roma hanya memiliki 3 bek berpengalaman. Burdisso, Benatia, dan Castan. Tahu sendiri Burdisso sudah memasuki usia senja yang rawan cedera. Harus ada satu pemain lagi untuk melapis mereka. Dan Garcia pun tampaknya akan mencari satu bek lagi, karena bagi dia tipikal Castan dan Benatia sama. Maka harus ada satu bek lagi yang memiliki tipikal berbeda. Mungkin pemain seperti Mexes bisa cocok. Atau Davide Astori milik Cagliari. Memiliki tipe yang berbeda.

Mengenai kebijakan transfer, biarlah Garcia dan manajemen yang mengurus. Tugas kita hanya mendukung dan mensupport. Forza Roma.