Ultras Mania Gresik

Kita pernah juara. Gresik pernah juara. Dan sekarang "KAMI RINDU JUARA" Liga Indonesia

Roma Club Indonesia

Kami ada. Kami berpesta. Kami bersatu. Hanya untuk satu kebanggaan, AS ROMA

AS ROMA

LA ROMA NON SI DISCUTE SI AMA

Fan Fiction

Cerita fiksi untuk meluapkan ekspresi jiwa. Tentang hiburan, luapan perasaan, dan pengorbanan.

48 Family

The power of Idol. Idol can't make you horny, just can make you proud with them. Kita pecinta idol sebagaimana kita mencintai sepakbola.

Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Juli 2014

Akhirnya Memilih Jokowi

Hiruk pikuk Pilpres semakin terasa menjelang pemilihan. Beragam kampanye semakin masif di lancarkan kedua tim sukses. Baik itu kampanye positif, negatif, ataupun black campaign. Beragam fitnah yang keji semua terkena di kedua calon. Meskipun yang paling merasakan dampak buruk dari kampanye hitam ini adalah calon nomer 2, yakni pasangan Jokowi-Jusuf Kalla.
Disini saya berusaha memberikan sedikit ulasan, mengapa saya menjatuhkan pilihan dan #AkhirnyaMemilihJokowi dibanding pasangan Prahara. Silahkan kalau di nilai subjektif, tetapi saya disini ingin memberikan “kampanye positif” dengan memberikan alasan, mengapa kalian semua yang belum memiliki pilihan, harus memilih Jokowi di banding yang lain. Tetapi mari kita lihat sisi lain. Bukan sisi Visi-Misi yang mungkin bagi kalian semua sifatnya normatif.
Koalisi Rakyat
Seperti yang di dengung-dengungkan, bahwa Jokowi akan menggunakan Koalisi kurus. Dengan hanya ada 5 partai yang mengusung Jokowi-JK. PDI-P, PKB, Hanura, Nasdem, dan PKPI. Bandingkan dengan pasangan nomer satu yang di usung banyak sekali partai. Saya tidak mau bahas partai sebelah.
Cuma mau mengingatkan, bahwa Presiden Indonesia memiliki mandat untuk memimpin rakyat Indonesia, bukan untuk memimpin partai koalisi. Presiden bertanggung jawab langsung kepada rakyat karena di pilih rakyat. Rakyat bisa langsung menyampaikan kritik kepada Presiden, karena memang Koalisi Rakyat yang di bangun. Jika Koalisi Partai yang selama ini di bangun, mereka (rakyat) terbentur oleh kekuatan partai yang membelenggu Presiden. Berbagai kepentingan yang di miliki partai, seringkali berseberangan dengan keinginan rakyat. Ketika partai yang berkoalisi sedikit, dan menang, maka kepentingan partai juga semakin sedikit. Kepentingam rakyat akan di dahulukan.
Koalisi transaksional yang selama ini membelenggu Indonesia. Efek buruknya adalah banyaknya pejabat pemerintah yang background nya partai, yang melakukan aksi korupsi. Korupsi Haji, Korupsi Al Qur’an, Korupsi Hambalang, dan berbagai kasus yang lain. Sudah muak kah kalian semua dengan ini ? Ini di karenakan adanya koalisi bagi-bagi kursi yang di jalankan partai. Lihat koalisi yang di bentuk oleh Jokowi. Koalisi ramping. Dan lihat ketika Jokowi memimpin Jakarta, yang memilih Lurah Susan karena hasil tes dan memberlakukan tes bagi pejabat di pemerintah daerah. Salah satu cara untuk mencari pejabat yang bersih.
Jadi, Koalisi mana yang kalian inginkan ? Saya jelas memilih Koalisi Rakyat !
Kerja Nyata
Selama 2 periode Jokowi memimpin Solo, dan setengah periode memimpin Jakarta, Jokowi sudah menunjukkan taringnya dan menghancurkan persepsi buruk tentangnya. Lihat bagaimana Tanah Abang bisa di tertibkan Jokowi. Jokowi di Solo, berhasil menertibkan PKL yang selama ini dirasa mengganggu.
Dan aksi blusukan yang selama ini bukan di anggap sebagai sebuah kerja, ternyata berhasil memberikan hasil. Karena Jokowi menertibkan PKL itu karena adanya blusukan turun ke rakyat. Beliau mendengar, melihat, beraksi. Bukan menyuruh anak buah nya turun ke jalan dan nanti anak buah nya memberikan laporan ke Jokowi. Potensi miss understanding jelas akan ada ketika bukan Jokowi sendiri yang turun. Dan blusukan ala Jokowi ini berfungsi untuk mendengar langsung.
Pencitraan ? Saya rasa tidak. Kenapa ? Karena sebenarnya blusukan Jokowi sudah ada sejak lama. Bahkan sejak sebelum pemberitaan media yang gencar menceritakan aksi blusukan. Aksi blusukan Jokowi bukan hanya di lakukan sekali dua kali. Ratusan kali saya menjamin sudah pernah beliau lakukan. Bahkan dulu, aksi blusukan tidak pernah sekalipun di ikuti oleh media. Baru ketika di Jakarta ini saja, media turun gunung dan ikut meliput Jokowi. Pencitraan ? Citra baik yang notabene di ciptakan oleh media itu sendiri. Bahkan, semua media pernah meliput aksi blusukan dari Jokowi. Meskipun media itu saat ini memusuhi Jokowi.
Di Cintai Rakyat
Lihat berapa banyak uang yang terkumpul dari donasi untuk kampanye Jokowi sampai hari ini ? Sudah milyar an rupiah terkumpul uangnya. Lihat betapa cinta nya masyarakat Indonesia dengan pak Jokowi. Sosok Jokowi yang humble, tidak arogan akhirnya mengakibatkan Pak Jokowi di cintai rakyat.
Dan besok, tanggal 5 Juli 2014, ada Konser Salam 2 Jari yang akan di adakan di Stadion Gelora Bung Karno yang akan di isi oleh puluhan artis. Puluhan artis ini adalah relawan yang dengan suka rela turun untuk memenangkan Jokowi. Mereka tidak di bayar. buakn seperti Maher Zein yang di undang tetapi tidak mau berkampanye untuk kubu sebelah. Tetapi artis ini datang dengan suka rela untuk mendukung dan memenangkan Jokowi. Sebagian besar dari mereka BUKAN anggota partai yang berkoalisi mengusung Jokowi. Mereka murni rakyat biasa, public figure yang mendukung Jokowi. Slank adalah contoh nyata. Merupakan band papan atas yang ikut memberikan ide nya dengan membuat lagu Salam 2 Jari untuk Jokowi. Tanpa di bayar sepeser pun. Ada lagi Yovie Widianto, Gita Gutawa, Ananda Omesh, Sherina Munaf, Cak Lontong, dan masih banyak yang lain artis pendukung Jokowi.
Dari kaum intelektual, ada Bpk Anies Baswedan yang merupakan rektor bukan anggota partai. Meskipun beliau pernah ikut Konvensi Partai Demokrat.
Masih ragu kamu memilih pemimpin yang di cintai rakyat ? Saya tidak. Saya #TegasMemilih2

Sejatinya, masih banyak lagi keunggulan Jokowi. Cuma daripada nanti di bilang Riya’ dan menkultuskan tuhan dan di anggap syirik karena terlalu memuji manusia, baiklah saya hentikan. Saya juga tidak mau terlalu menyudutkan kubu sebelah. Kubu sebelah yang saya sendiri belum punya satu pun alasan untuk memilih mereka. Selain immunity atau kebal dari hukum yang akan berguna bagi saya nantinya. Itu pun kalau saya tidak taat hukum. Tetapi saya dan para relawan Jokowi yang adalah taat hukum. Jadi, kebal dari hukum berasa tidak berguna.
Kalau bukam KITA, siapa lagi ? Kalau Bukan Sekarang #AkhirnyaMemilihJokowi , kapan lagi ?

Salam 2 Jari !

Senin, 24 Maret 2014

Demo, ngapain sih ?

Kita pasti tahu demo itu apa. Aksi demonstrasi yang sering di lakukan Mahasiswa, Buruh, Aktivis, dan sebagainya. Apa itu demonstrasi ? Untuk apa mereka melakukan aksi demonstrasi ? Untungnya apa sih buat kita ? Segala pertanyaan tentu akan menghujani otak kita ketika kata demonstrasi itu muncul. Saya akan coba sedikit ulas. Ini berdasarkan pengalaman pribadi dan tentang masa lalu Indonesia yang tidak pernah lepas dari demonstrasi.

Berdasarkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), demonstrasi adalah sebuah aksi protes yang di lakukan secara massal. Dari pengertian diatas, ada kata Protes dan Massal yang saya tebali. Protes berarti ada yang mereka tidak setujui. Dan massal berarti tidak hanya satu orang saja yang melakukan aksi protes. Biasanya aksi protes itu ditujukan untuk lembaga pemerintahan.

Demokrasi dan demonstrasi merupakan dua hal yang tidak bisa di lepaskan. Demonstrasi timbul karena adanya demokrasi. Tidak yakin ketika Indonesia masih di pimpin rezim otoriter, aksi demonstrasi ada. Kebebasan kita di renggut oleh beberapa oknum. Dan syukur ketika demokrasi ini dipilih negara kita sebagai sistem baru, artinya kita bisa untuk memberikan aspirasi kita.

Dan INDONESIA mengakui demonstrasi sebagai sesuatu yang LEGAL. Karena ada dan tertulis di UU Nomor 9 Tahun 1998. Meskipun namanya bukan demonstrasi, tetapi menyampaikan pendapat di muka umum. Inilah esensi terpenting dari demokrasi, kedaulatan rakyat. Demokrasi, demos dan kratos. Silahkan cari sendiri artinya. Yang pasti demokrasi menjunjung tinggi hak rakyat.

Karena aksi ini biasanya dilakukan dengan menggunakan massa yang banyak, resiko chaos pun membesar. Tak munafik, setiap demonstrasi, resiko itu selalu muncul. Tetapi ingat, demonstrasi bukan berarti kekacauan. Karena yang hadir sangat banyak, provokator pun ada dan akan selalu ada. Maka dari itu, kita selalu hati-hati dengan provokasi dari provokator.

Lalu apa esensi dari demonstrasi ? Hanya untuk mencari sensasi ? Untuk menyampaikan aspirasi ? Atau apa ?

Kalau saya ditanya, apa esensi demonstrasi, jelas sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah atau penguasa dan untuk ajang mengeluarkan pendapat. Jujur, saya 2X terlibat aksi demonstrasi selama 20 tahun hidup saya. Baru 20 tahun saya hidup soalnya. Mungkin di tahun-tahun selanjutnya saya masih ikut demonstrasi ketika saya merasa kebijakan penguasa tidak pro rakyat.

Pertama saya lakukan ketika menolak kebijakan pemerintah dalam hal kenaikan BBM. Yang saya dan kawan-kawan mahasiswa bela adalah hak rakyat kecil yang mereka tidak mampu beli BBm dengan harga mahal. Apa kita salah membela hak mereka ? Apa kita harus berdiam diri dan membiarkan penguasa menaikkan harga dan membuat rakyat kita mencekik kesakitan karena mahalnya harga BBM. Mungkin bagi beberapa orang, harga BBM naik itu biasa. Tapi lihat bagaimana rakyat kecil yang butuh hidup dan butuh BBM ? Mereka tidak layak dapat BBM ? Mereka menyusahkan ? Silahkan renungkan jika kalian menjadi rakyat miskin yang kehidupannya serba kekurangan. Di suatu saat kalian butuh BBM tapi kalian tak mampu beli BBM. Jangan berdiri sebagai rakyat yang kaya terus, bung.

Yang kedua saya lakukan ketika ikut aksi demonstrasi di kampus tercinta, Universitas Brawijaya. Universitas tempat dimana Alm Munir belajar. Aktivis HAM yang hidup untuk membela rakyat. Tempat dimana beliau mendapat ilmu dan sekarang tempat itu menjadi sarang penguasa mengeruk keuntungan. Mungkin jika Alm Munir masih hidup, UB akan jadi tempat beliau mengabdi dan membersihkan kampus biru ini.

Aksi kita menolak nominal UKT yang dirasa sangat mencekik mahasiswa baru. Iya, MAHASISWA BARU. Yang kita bela mahasiswa baru angkatan 2013. Lalu kita ngapain ikut ? Padahal kita angkatan 2012 ke atas. Kita manusia sosial, bukan manusia yang hiduo dengan benda mati. Kita harus mengerti bagaimana perasaan manusia bukan perasaan benda mati. Nominal yang sangat mencekik. Kita hanya menginginkan penjelasan dan dasar perhitungan yang dilakukan kampus. Karena kawan-kawan sudah punya perhitungan dan nominalnya jauh di bawah perhitungan kampus. Kita lakukan itu karena ada beberapa fakultas yang nominal angkanya turun.

Kita berdiri di depan rekotrat kampus menunggu kedatangan yang mulia, tapi tak pernah datang. Kita hanya ditemui oleh “anak buahnya” dan menjelaskan yang normatif. We don’t need, sir. Sampai sekarang kasus ini seakan mati, hilang ditelan bumi.

Silahkan simpulkan sendiri dari cerita saya mengenai aksi demonstrasi di atas.

Lalu apakah demonstrasi penting ? Kita tidak ingat kejadian tahun 1998 ? Saat itu saya masih umur 5 tahun. Aksi yang membuat berakhirnya rezim otoriter. Pintu gerbang awal dibukanya kehidupan yang baru yang dinamakan demokrasi. Tanpa aksi tersebut, kita tidak akan bisa bebas memilih partai dan presiden. Kita tidak akan bisa “curhat” di medsos dan mengkritik pemerintahan. Siapa yang menggulingkan ? MAHASISWA dan Rakyat Indonesia. Caranya ? DEMONSTRASI. Kejadian Trisakti menjadi saksi bisu perjuangan kawan-kawan saya.

Yang tidak bolah adalah aksi demonstrasi yang berujung kekerasan. Dan semua sudah di atur secara rapi oleh pemerintah dalam UU yang tadi saya sebutkan. Tinggal bagaimana kita mengaplikasikan UU itu saja. Kita diberikan hak untuk melakukan itu dan konstitusi kita pun menghalalkan itu. Lalu kenapa kita harus mengharamkan demonstrasi kalau tujuannya baik ? Yang perlu disoroti adalah kepentingan yang dibawa adalah kepentingan bersama alias rakyat. Dilarang membawa kepentingan kelompok tertentu.

Mahasiswa tugasnya bukan hanya mencerdaskan diri sendiri. Kita harus bisa berguna bagi masyarakat sekitar. Dan sebisa mungkin, kita yang jauh lebih beruntung ini bisa membantu mereka. Rakyat kecil yang tak mampu mendapatkan kesempatan untuk belajar setinggi kita. Untuk apa belajar demi diri sendiri jika tidak di bagi ke kawan-kawan yang tidak beruntung. Sesuai dengan Tri Dharma Pendidikan Perguruan Tinggi yang menjadi acuan mahasiswa. Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat. Kata yang saya bold menunjukkan bahwa pendidikan kita juag menyangkut dalam hal mengabdi terhadap masyarakat. Bagaimana kita bisa kita mengabdi ke masyarakat kalau kita tidak mau membantu memperjuangkan suara dan hak mereka. Mereka hanya butuh hidup dan tenang. Mereka tidak butuh gadget mahal seperti mahasiswa kebanyakan. Mereka tak butuh mobil yang ada stiker nya “The Real Men Use Three Pedals”. Mereka juga tak butuh lihat Theater JKT48. Hanya butuh hak-hak mereka yang semua tercantum dalam UUD Pasal 28 dilaksanakan pemerintah. Itu saja. Tidak lebih. Mereka pasti punya keinginan untuk mendapatkan mobil atau barang mahal lainnya. Tapi bukan itu tujuan utama mereka. “Bisa makan saja saya sudah senang, mas” kata pemulung di daerah saya ketika saya tanya apakah ibu butuh HP atau tidak. Mereka ingin tapi bukan yang dibutuhkan sekarang.

Memang tak mudah menjadi manusia atau mahasiswa yang memiliki jiwa-jiwa sosial. Jiwa-jiwa yang peka akan kesulitan orang lain. Jiwa yang mengerti kebutuhan orang lain. Jiwa yang mau menyuarakan keinginan bersama. Keinginan rakyat kecil yang mau haknya di penuhi. Jiwa yang mau menggerakkan seluruh anggotaa badannya untuk bergerak membantu rakyat kecil. Mahasiswa bisa apa sih. Untuk makan sehari-hari di kos saja kita hemat. Kecuali bagi yang serba berlebihan. Untuk sekedar membantu mereka untuk menjadi “corong” saja enggan. Dan seakan “menghina” yang kawan-kawan saya lakukan.

Mungkin mereka yang menghina, hatinya sudah kaku dan dibutakan oleh kekayaan yang mereka dapatkan selama ini. Perut mereka biarkan kenyang dan membiarkan perut orang lain kelaparan. Kendaraan mereka biarkan punya banyak bensin dan membiarkan kompor orang lain tak mengebul. Dari lubuk hati yang paling dalam, cukup biarkan aktivitas kawan-kawan mahasiswa atau siapapun yang berdemo dengan mengatasnamakan rakyat dan demi kepentingan rakyat yang SESUAI DENGAN KONSTITUSI. Jangan mencela dan menghina bahkan menghardik usaha kawan-kawan. Tegur mereka jika mengganggu kalian. Kalian punya hak juga, kawan. Mari kita bangun INDONESIA menjadi negara yang lebih maju dan makmur. Jangan biarkan INDONESIA di ambil oleh tangan-tangan otoriter.

Artikel ini di bikin tanpa tendensius apapun. Semoga berkenan di hati kawan-kawan sekalian. Mohon maaf apabila ada kata-kata yang salah dan kurang berkenan.


HIDUP MAHASISWA HIDUP RAKYAT INDONESIA

Senin, 03 Maret 2014

Belajar

Kuliah Kuliah dan Kuliah