Tahun 2014 bukan hanya tahun nya pesta demokrasi,
tetapi juga tahunnya sepakbola dunia beraksi. Gelaran akbar pesta sepakbola
yang berlangsung selama sebulan penuh akan mengiringi keseharian kita. Dan
Brazil berkesempatan menjadi tuan rumah pesta akbar sepakbola dunia.
Meskipun Piala Dunia hanya di ikuti oleh 32 negara
yang notabene adalah negara dengan kekuatan sepakbola yang cukup bagus, tetapi
euforia nya bisa mencakup ke seluruh lapisan dunia. Baik itu dunia nyata
ataupun dunia ghaib. Karena siapa tahu ada Pocong yang juga rela begadang demi
lihat sepakbola di banding melakukan kewajiban menggoda manusia.
Tetapi benar, euforia Piala Dunia dapat di rasakan
di seluruh pelosok dunia. Meskipun negara tersebut tidak menjadi salah satu
peserta Piala Dunia. Dan itu juga merembet ke negara kita tercinta, Indonesia.
Euforia Piala Dunia sangat besar terasa di negara terbesar di Asia tenggara
ini. Meskipun kedigdayaan Piala Dunia sempat di senggol oleh adanya kampanye dan
Pemilu 2014, tetapi keberadaan Piala Dunia tidak akan mampu di tandingi oleh
apapun, pengumuman kelulusan UNAS sekalipun.
Dan yang menarik adalah adanya suporter dadakan yang
muncul di setiap gelaran piala dunia. Bahkan mereka berani memproklamirkan kalau
mereka pendukung setia salah satu negara. Misalnya saja ada yang mengaku
dirinya adalah seorang suporter Spanyol sejati yang barusan di bantai Belanda
5-1. Atau suporter garis keras dari Selecao yang barusan menang 3-1 berkat aksi
akting yang indah dan aksi impresif dari Oscar. Atau Tifosi Azzurri yang besok
pagi akan mencoba mengembalikan Inggris ke tempat asalnya (neraka). Atau Fans
garis miring Der Panser Jerman yang akan mencoba mematikan CR7.
Mereka sampai lupa kalau Timnas U-18 kita sedang
berjuang mati-mati an di Solo melawan Korea Selatan di babak Semifinal Asian
School Football U-18. Dan hasilnya, Timnas kita kalah 1-0 dan gagal lolos ke
Final.
Sebenarnya wajar, karena euforia Piala Dunia memang
lebih besar jika di banding Turnamen sekelas Asian School Football U-18 yang
skala cuma se Asia di banding Piala Dunia. Tetapi atas nama loyalitas, mereka
mati-mati an mendukung timnas negara lain dan melupakan Indonesia. Untung,
salah satu akun twitter ada yang emmbuka obrolan utnuk melakukan #awayday ke
Myanmar untuk mendukung Timnas U-19. Bagi mereka yang rela bermahal-mahal ria
datang ke Brazil untuk melihat Piala Dunia, alangkah eloknya jika kalian juga
ke Myanmar untuk menyempatkan diri minimal memberikan penghormatan dan
memberikan penyemangat buat pahlawan kita yang berjuang di Myanmar.
Bukan maksud untuk menghentikan aksi kalian untuk
mendukung Timnas negara lain, karena saya pun juga mendukung Timnas negara
lain. Tetapi ingat, GARUDA DI DADAKU.






0 komentar:
Posting Komentar