Ultras Mania Gresik

Kita pernah juara. Gresik pernah juara. Dan sekarang "KAMI RINDU JUARA" Liga Indonesia

Roma Club Indonesia

Kami ada. Kami berpesta. Kami bersatu. Hanya untuk satu kebanggaan, AS ROMA

AS ROMA

LA ROMA NON SI DISCUTE SI AMA

Fan Fiction

Cerita fiksi untuk meluapkan ekspresi jiwa. Tentang hiburan, luapan perasaan, dan pengorbanan.

48 Family

The power of Idol. Idol can't make you horny, just can make you proud with them. Kita pecinta idol sebagaimana kita mencintai sepakbola.

Tampilkan postingan dengan label Football. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Football. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 April 2015

Sengkarut Benang Kusut Sepakbola Indonesia

Media massa di Indonesia seakan tak pernah habis berita. Kalau beberapa saat yang lalu sempat gempar berita tentang pemilihan Kapolri dan kalau ditarik lebih panjang, kasus Kapolri itu merebak setelah ada isu kriminalisasi KPK. Tapi ada yang dilupakan masyarakat dan mungkin media massa. Perlawanan gesit dan giras dari ibu-ibu dari Warga Rembang. Pemberitaan media massa tak se massive pemberitaan pemilihan Kapolri atau bahkan pemberitaan kematian salah satu komedian. Ya, saya paham kalau pemberitaan media terhadapa perlawanan keras nan giras ala ibu-ibu Rembang yang menolak pembangunan pabrik Semen tidak bisa menjual menurut media.

Dan saat ini, semua mata tertuju pada sepakbola Indonesia. Hiburan yang paling ditunggu dan di nanti ribuan orang di seantero negeri. Sepakbola Indonesia gaduh dengan keputusan Menpora, Imam Nahrowi yang membekukan PSSI. Induk tertinggi sepakbola Indonesia yang penuh dengan masalah. Sudah lama federasi yang tak berani menyentuh, ada yang berani menyentuh dan bahkan melakukan “cubitan” keras.

Sejak Menpora di pimpin Adhyaksa Dault sampai era Menpora yang terkena kasus hukum, Andi Malarangeng dan penggantinya Roy Suryo, PSSI di biarkan hidup dengan penuh luka dan borok. Menpora yang baru dengan membawa semangat dan keberanian baru berani mengobati PSSI meskipun kadang proses pengobatan menyakitkan.

Sebagai salah satu pecinta sepakbola Indonesia, saya harus bisa menguatkan hati, mata, dan keinginan untuk datang ke stadion dan berteriak memberikan semangat untuk tim idola. Saya rindu suara khas penghuni stadion. Saya rindu aroma harum khas rumput stadion. Saya rindu pemandangan indah seluruh elemen di stadion tertawa gembira selepas pertandingan selesai dan melihat tim lawan tertunduk lesu karena pulang dengan tangan hampa. Jujur, saya rindu itu. Saya rindu stadion.

Saya tak bisa membayangkan puluhan ribu orang yang nyawa nya bergantung ke sepakbola dan segala aktivitas yang melibatkan sepakbola. Dan saya mengutip kata-kata Pak Djamal Aziz anggota Exco PSSI dalam suatu kesempatan di Metro TV beberapa saat yang lalu, bahwa ada banyak orang yang merugi ketika liga berhenti. Mulai dari pelatih, pemain, tukang pijat, anak gawang, calo tiket (contoh buruk), dan mungkin yang hanya ada di stadion Gresik, ada penjual lumpia, air mineral, dll. Bayangkan puluhan ribu nyawa manusia bergantung ke sepakbola.

Kompetisi harus dan harus berjalan. Tak boleh ada penundaan lagi. Sebagai seorang suporter yang selalu berusaha datang ke stadion dan menjadikan stadion sebagai tempat rekreasi dan melepas penat, penundaan liga ibarat kehilangan tempat rekreasi dan ajang silaturahmi antar warga. Bayangkan, dari 24 jam setiap hari kita beraktivitas, kita cenderung melupakan orang sekitar. Lalu, acara apa yang bisa mengumpulkan massa sebanyak ribuan bahkan puluhan ribu dalam satu tempat ? Pertandingan sepakbola.

Dan mungkin inilah yang membuat kita secara atau tidak sadar menolak keputusan Menpora untuk membekukan PSSI. Federasi yang selama ini berjalan tanpa menghiraukan kritik, kecaman, dan arahan pemerintah dan masyarakat. Federasi yang selama ini jadi pesakitan. Federasi yang selama mampu bikin suporter di lapangan membentangkan spanduk kecaman untuk federasi. Federasi yang sejak dulu kita ingin revolusi.

Saya sebagai pecinta sepakbola Indonesia ingin sepakbola kembali seperti sedia kala. Seperti sebelum-sebelumnya. Tentu dengan penataan, organisasi, dan struktur yang lebih baru dan diharapkan lebih baik dari sebelumnya. Liga yang berjalan sesuai dengan asas Fair Play. Asas yang di dengung-dengungkan oleh bapak nya PSSI, FIFA. Liga yang berjalan dengan profesional yang tidak ada lagi alasan klub untuk menunggak gaji pemain dan pelatih. Liga yang bersih dari intervensi politik. Liga yang berjalan dengan wasit yang bersih. Liga yang berjalan dengan keputusan juara ditentukan oleh pertandingan di lapangan bukan dengan deal-deal sebelum liga berjalan. Itu baru liga yang kita inginkan.

Belum lagi federasi. Federasi harus bersih dari kepentingan politik partai dan golongan tertentu. Federasi yang tidak punya dendam politik. Federasi yang isinya orang-orang yang mengerti sepakbola dan memiliki keinginan untuk memajukan sepakbola Indonesia. Federasi yang sukses mengembalikan posisi Timnas Indonesia ke posisi asli sebagai salah satu Macan Asia, bukan sebagai Pecundang Asia. Karena hanya pecundang lah yang kalah, tunduk, dan di bokongi oleh lawan yang dulu jadi bulan-bulanan.

Kita tak bisa berharap federasi di isi oleh malaikat. Karena malaikat punya tugas yang lebih dari menjalankan federasi. Tapi kita boleh berharap federasi di isi oleh manusia berhati malaikat bukan berhati maksiat. Kita tentu ingin federasi di isi oleh manusia yang bersih, bukan manusia yang sok bersih. Kita tentu boleh bermimpi Timnas Indonesia mampu masuk Piala Dunia tahun 2022, bukan tahun 2045 seperti yang selama ini PSSI inginkan. Kita tentu boleh bermimpi salah satu klub di Indonesia mampu bermain di World Club Championship dan bertanding melawan jawara Eropa, bukan hanya menjadi penonton klub eropa bertanding. Kita tentu punya keinginan pemain Indonesia bisa bermain di Eropa seperti sebelumnya, bukan hanya melihat pemain Eropa di layar kaca Indonesia.

Kita tentu boleh bermimpi dan punya keinginan. Selama federasi dan liga masih berjalan dengan penuh luka yang federasi sendiri tak sadar akan luka itu, maka kita selamanya akan terus bermimpi dan tidak pernah terwujud. Dan ini waktu yang tepat untuk membenahi, membersihkan, menyehatkan, dan sekaligus operasi darurat untuk sepakbola Indonesia yang lebih baik.

Jumat, 17 April 2015

Curhat Untuk Akhi Fahri Hamzah

Assalamualaikum akhi. Semoga kebaikam dan kesehatan selalu ada di diri akhi. Akhi, izinkan saya untuk menceritakan salah satu olahraga yang saya gemari dan sempat akhi komentari beberapa saat yang lalu. Tentang sepakbola.

Akhi, saya mengenal sepakbola tepat 16 tahun yang lalu. Saat itu saya masih duduk di kelas 1 SD. Dan 2 tahun kemudian, tangisan air mata saya keluar pertama kali untuk sepakbola. Tahun 2002, Petrokimia Putra jadi Juara Liga Bank Mandiri. Itu tangisan pertama saya di dalam stadion. Tangisan pertama saya di dalam Stadion Gelora Bung Karno yang sempat jadi venue konser One Direction.

Tetapi sejatinya, saya “dikenalkan” oleh orang tua saya sepakbola sejak di dalam kandungan. Ibu saya ngidam ingin lihat sepakbola. Mungkin ini lah hasilnya. Dul;u saya ikut sekolah sepakbola di Jakarta, SSB Arcici. Tapi berhenti karena harus kembali ke Gresik. Tapi gar\irah sepakbola saya tidak berhenti sampai disitu. Kadang saya berfikir, saya mencintai sepakbola lebih dari saya mencintai pacar saya.

Dulu ketika saya masih sekolah dengan seragam putih merah, saya hanya bermain sepakbola seperti layaknya anak kecil. Saat itu belum mengenal apa itu mafia wasit, mafia sepakbola, skandal pengaturan skor, skandal pajak, dll. Dan keburukan yang saya sebutkan diatas terjadi di Indonesia.

Dan semua itu saya sadari keberadaannya setelah saya duduk di bangku SMP. Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri Gresik United saat itu dikerjai wasit di Bantul. Pertandingan berhenti sebelum waktu berakhir. Disitulah saya mulai sadar, ada yang tak beres. Belum lagi setelah saya tahu kalau PSSI sempat dipimpin oleh seorang penjahat yang menjalankan tugasnya di balik jeruji besi.

Kita butuh revolusi besar-besaran, akhi. Dan statement akhi agar PSSI mengabaikan Menpora dan agar ISL jalan terus itu seakan menambah luka kami. Luka saya dan luka teman-teman pecinta sepakbola di Indonesia. Padahal saat itu, Menpora dan BOPI sedang berusaha sedang berikhtiar untuk memperbaiki liga agar lebih professional.

Apa akhi lupa, kalau beberapa tahun terakhir ada pemain asing yang meninggal di Indonesia karena tidak digaji ? Apa akhi lupa, kalau banyak pemain local di Indonesia yang tidak digaji berbulan-bulan ? Apa akhi tahu kalau ada salah satu pmain asing di Indonesia yang terlibat mafia bola karena ia tak digaji oleh klub  ? Apa akhi tahu kalau klub-klub di Indonesia banyak yang belum punya NPWP ? Kalau saya sebutkan semua pertanyaan yang mengganjal hati saya, akan sangat banyak sekali, akhi.

Di statement ini, akhi bilang kalau PSSI tidak ambil dana dari pemerintah, jadi Menpora tidak usah ikut campur. Apa it benar akhi ? Kalau itu benar statement akhi, tolong cek putusan hokum yang memenangkan FDSI (Forum Diskusi Sepakbola Indonesia) di Komisi Informasi Publik desember lalu. Mungkin akhi lupa, atau mungkin akhi tidak tahu hal itu. Silahkan ditanyakan kembali ke yang bersangkutan.

Akhi, apa akhi lupa kalau tidak boleh ada intervensi pemerintah. Dan ini yang selalu di gembar-gemborkan PSSI ketika Menpora datang untuk membantu menyelesaikan masalah di PSSI. Kampanye menolak intervensi pemerintah semakin nyaring suaranya setelah Menpora yang baru berani dan tegas.

Tetapi apa yang dilakukan PSSI. Dia malah “wadul” ke DPR dan ke Wapres. Seakan mereka lup[a kalau Wapres dan DPR itu juga bagian dari pemerintah. Dan akhi membela PSSI sekuat tenaga. Harusnya akhi marah. Lembaga DPR yang terhormat dianggap bukan lembaga pemerintah.

Ah akhi, saya tahu, niatnya baik (kalau niat baik) untuk memajukan sepakbola kita. Tapi akhi harusnya belajar lebih dulu tentang sepakbola secara umm dan sepakbola Indonesia sebelum nantinya akhi datang dan menjadi seorang pahlawan.

Akhir kata akhi, saya mendoakan akhi sehat. Agar selalu bisa mengikuti perkembangan sepakbola di Indonesia. Dan akhi, saat ini 18 April 2015 Kongres 5 tahunan PSSI digelar. Akhi ingat atau memang tidak tahu ? Dan saat ini pula ribuan BONEK datang meminta keadilan atas segala aksi tipu-tipu yang dilakukan PSSI ke Persebaya 1927. Saya bukan seorang BONEK, tapi saya sebagai pecinta sepakbola mendukung aksi BONEK.

Semoga PSSI bersih dari MAFIA meskipun susah. Kami, akan terus dan tetap akan melawan.
Salam dari anak bangsa.

Wassalamualaikum….

Kamis, 12 Februari 2015

Verde, Si Hijau Yang Menjadi Harapan Si Biru dan Si Merah Kuning

Umurnya belum genap 19 tahun. Sepasang assist yang ia berikan, yang masing-masing untuk Ljajic dan wonderkid Paredes menjadikan ia sebagai pemain termuda yang memberikan assist di Serie A (18 tahun 7 bulan). Menjalani debut sebagai starter di AS Roma musim ini, Daniele Verde mampu memberikan magis dan memutus mata rantai kegagalan AS Roma meraih kemenangan. Verde menjalani debut ketika AS Roma melawan Palermo pada 15 Januari 2015.
Verde memberikan magical pass ke Ljajic dan membantu Ljajic mencetak gol pertama Roma ke gawang Cagliari. Magis Verde kembali ia keluarkan ketika memasuki 10 menit terakhir babak kedua. Mendapat umpan lambung dari Holebas, Verde berhasil mengalahkan bek Cagliari dalam perburuan bola. Lalu ia memberikan umpan lambung yang tepat mengarah ke Paredes.
Verde merupakan pemain asli dari akademi Roma. Menambah banyaknya deretan pemain akademi Roma yang bermain di tim inti. Totti, De Rossi, dan Florenzi adalah nama lain yang lebih dulu bermain di Seri A. Khusus untuk Florenzi, dia di orbitkan oleh Zeman  pada musim 2012-2013 lalu.
Verde juga merupakan anggota dari skuad U19 Italy. Id dipanggil timnas pertama kali pada september silam.Ia telah bermain sebanyak 3 kali dan mencetak satu gol ke gawang Armenia pada 10 Oktober 2014 dalam Kualifikasi UEFA U-19.
Penampilan perdana Verde sebagai starter mendapat pujian banyak pihak. Bahkan, dia menjadi Man of The Match laga Cagliari melawan AS Roma, minggu malam kemarin. Garcia, sang pelatih pun memuji Verde. “Verde is an ipmortant member of the squad. Aside from his speed and technique, he works very hard.” Seperti yang dilansir oleh The Guardian.

Saat ini, Italy memiliki banyak sekali darah segar di posisi striker. Selain Verde, ada pula wonderkid dari Sassuolo, Simone Zaza dan Domenico Berardi. Serta ada striker yang “terbuang” dari Roma dan saat ini bermain di Sampdoria, Stefano Okaka. Ketika Balotelli sedang mengalami masa-masa sulit di Liverpool, setidaknya Italy masih memiliki harapan khususnya di lini depan dari pemain-pemain diatas. Kita tunggu, bagaimana kiprah selanjutnya dari Verde. Dan semoga AS Roma dan Italy bisa menemukan Verde Verde Verde yang lain. Pertanyaan besarnya adalah, mampukah Verde (dalam bahasa Italy yg berarti Hijau) mampu menambah warna baru di dalam Si Biru (Italy) dan Si Merah Kuning (Giallorossi/AS Roma) ?

Minggu, 11 Januari 2015

The Power Of No Return

Semangat itu kembali membara. Gairah yang sempat meredup, akhirnya kembali terang. Layaknya kehidupan di kerajaan langit. Dimana matahari yang menjadi pusat perhatian. Matahari yang menjadi penguasa langit. Matahari tahu saat yang tepat bagi dia untuk menunjukkkan sinarnya. Dan matahari tahu kapan waktu dia memberikan ruang bagi bulan dan bintang untuk bermesraan berdua.
Saat ini bisa dikatakan adalah saat yang tepat bagi semua yang merasa memiliki Gresik United dan semua elemen di dalamanya (suporter) untuk menunjukkan sinarnya. Setelah sekian lama memberikan ruang bagi kegagalan dan keterpurukan untuk bermesraan di dalam kerajaan yang di pimpin Jaka Samudero sebagai Patih dan Maulana Malik Ibrahim sebagai raja. Persis seperti pemerintahan dengan sistem parlementer.
Mungkin terlalu dini jika melihat ini saat yang tepat untuk kembali bersinar. Kalau hanya berkaca dari satu gelaran Pra Musim yang “katanya” milik arek jawa timur, Piala Gubernur. Piala yang secara khusus di tujukan untuk tim-tim jawa timur. Itu normalnya. Karena kondisi saat ini, sedang terjadi kejadian yang abnormal. Bagaimana klub jawa timur sendiri enggan bertanding di Piala Gubernur yang (kembali) katanya milik arek jawa timur. Dan akhirnya memilih untuk bertanding di kompetisi pra musim yang lain. Karena hidup adalah pilihan, maka itu terserah.
Sekitar 1000 an “pengawal” datang dan melakukan invasi ke kota tetangga. Niatnya untuk mengawal pejuang kami yang sedang mencoba membuat sang raja, patih, dan seluruh rakyatnya tersenyum. Setelah sekitar 13 tahun yang lalu, seisi kerajaan tersenyum bahagia. Tak kenal takut, layaknya pasukan berani mati yang di miliki Densus 88 anti teror, perwakilan kerajaan berangkat ke kerajaan sebelah. Meskipun sebagian besar pasukan pejuang adalah rekrutan dari kerajaan lain, tapi kami tak pernah meragukan semangat mereka yang juga ingin membuat seisi kerajaan tersenyum bahagia dan menangis terharu.
Sudah lama semangat rakyat dari kerajaan Gresik tak sebesar ini. Bagaikan api, semangat mereka berkobar. Tak ada asap kalau tak ada api. Karena selalu ada sebab dari sebuah akibat. Semangat yang besar tentu ada sebab. Karena semangat ini hanyalah sebuah akibat yang tak mampu beridiri tanpa ada pemicu yang biasa disebut sebab. Lalu penyebab yang tepat apa ? Karena semangat para pejuang juga terkobar tinggi.
Lama sekali tak melihat pejuang menyalakan api dengan sangat gagah berani. Tak kenal takut tak kenal rasa gentar. Meskipun di antara kobaran api di sekitar dan diantara gemuruh perang yang tak semua pejuang bisa bertahan. Dan mereka mampu bertahan. Dan kami tak akan membiarkan mereka bertahan sendirian tanpa adanya dukungan. Dan masyarakat biasa yang tak bisa berjuang di battlefield hanya mampu menyaksikan mereka dari sebelah dan mencoba memadamkan api yang di percikkan oleh lawan.
Panglima perang China mengenalkan adanya The Power of No Return. Bisa dikatakan itu adalah strategi yang dicoba oleh sang panglima perang untuk membakar semangat pejuangnya. Sata itu, pasukan China terdesak karena adanya pasukan perang musuh. Jalan terakhir adalah berjuang dengan melawan pasukan musuh. Karena kalaupun mereka mundur, mereka akan kalah. Untuk memompa semangat, sang panglima membakar seluruh kapal perang dengan menyisakan satu kapal perang saja. The power of no return.
Jika latar saat itu adalah di atas lautan, dan kapal adalah sebagai objek utama dan pasukan perang sebagai subjek. Maka yang dihadapi pasukan pejuang Kerajaan Gresik bukan itu. Latarnya adalah stadion dengan kobaran api di semua 4 penjuru mata angin. Objek utama adalah sepakbola dan para pejuang adalah subjek. Kita sudah berjalan sejauh ini, mundur akan mati meskipun ketika maju ada kemungkinan untuk mati. Lalu yang dipilih hanya satu, maju. Apapun resikonya. Untuk membantu pasukan yang akan bertanding, masyarakat menyiapkan segala perlengkapan yang nantinya bisa membuat mereka tidak merasa sendirian menghadapi lawan.
Gerakan itu mungkin tak sebesar dengan gerakan 13 tahun yang lalu. 13 tahun yang lalu ketika mereka (pejuang) mampu membuat raja, patih, dan seluruh rakyat tersenyum bahagia dan bangga. Gerakan yang di ikuti oleh puluhan ribu orang.
Memang, butuh waktu lama untuk mengembalikan semangat dan gairah tersebut. 13 tahun setelah kejadian itu, aroma semangat 13 tahun lalu kembali tercium. Ribuan orang RELA meninggalkan tanah asal mereka dan menempuh jarak ratusan kilometer demi mengawal perjuangan para pasukan.
Hasil memang mengecewakan seluruh elemen Kerajaan. Tapi kami yakin, para pendiri kerajaan ini merasakan kembali atmosfer kebangkitan kerajaan kita yang sempat berada di dalam titik terendah. Kami yakin, kekecewaan ini tidak akan berlangsung lama. Kami yakin, dalam setahun ke depan, kerajaan kami akan kembali dipandang kerajaan-kerajaan lain sebagai salah satu kerajaan yang disegani, seperti 13 tahun yang lalu.
Hal yang paling mudah di lakukan adalah Optimis. Ketika optimisme dalam diri seluruh elemen hilang, maka perjuangan mereka akan semakin berat dengan memikul ratusan ribu perasaan pesimis. Optimisme kami masih ada dan masih akan terus ada. Semangat kami masih ada dan akan terus berkembang. Api gairah kami masih menyala dan akan terus berkobar, sampai menyentuh langit sekalipun. Agar matahari, sang penguasa kerajaan langit merestui perjuangan kerajaan kami.


Tentang Pengorbanan Loyalitas Cinta dan Harga Diri
MUSUH KAMI HANYA RASA LELAH

Kamis, 01 Januari 2015

Mengapa AS Roma Perlu Belajar Dari AC Milan ?

AC Milan adalah salah satu penguasa Serie A, liga dengan kasta tertinggi di Italia. Bersama dengan Ancelotti, Milan sukses meraih gelar UCL dengan menumbangkan perlawanan Liverpool. Tapi itu dulu. Bak roller coaster, kondisi Milan saat ini berubah total.

Sejak musim lalu, Milan kesulitan untuk sekedar bisa bersaing di papan atas. Pemecatan Allegri pun menjadi hal wajib bagi Milan agar bisa kembali bersaing merebutkan satu tempat di eropa meraih Scudetto yang terakhir di raih ketika Allegri masih jadi primadona klub.

Revolusi besar pun di lakukan oleh Milan. Di mulai dari sisi skuad. Milan melakukan kebijakan transfer yang berbeda. Jika sebelumnya, Milan jarang melakukan pembelian pemain, maka musim ini Milan melakukan pembelian pemain besar-besaran. Tetapi dengan cara yang sama, pembelian secara gratis atau bahasa gaul nya, Free Transfer.

Milan (membuang) pemain yang secara terang-terangan mengakui bahwa ia adalah Fans Milan ketika masih berkostum Inter Milan yang notabene adalah saudara sekaligus musuh abadi. Balotelli, Si bengal Si jenius yang di beli Liverpool. Pergi dengan ekspektasi besar untuk menggantikan peran Suarez Sebagai penerus indisipliner player sebagai striker haus gol di Liverpool. Balotelli pergi dengan mahar 20 juta. Pantas untuk pemain yang memberikan banyak ulah nakal gol bagi Milan.

Silahkan ingat mahar yang di dapat Milan dari penjualan seorang Balotelli, 20 juta. Belum dari penjualan pemain muda nan berbakat, Bryan Cristante sebesar 6 juta. Pemain andalan saya dalam FM 2014 di beli oleh Benfica.

Dan AC Milan musim ini mendapatkan 9 pemain. Dan salah satu pemain tersebut, sebut saja namanya Torres telah di pinang oleh Atletico Madrid. Dan sebagai gantinya, AC Milan mendapatkan Alessio Cerci. Ah, mulai dari transfer awal musim.

Milan hanya mengeluarkan dana sebesar 11,25 juta untuk 2 pemain, Bonaventura dan Adil Rami. 7 pemain sisanya di dapatkan dengan biaya transfer 0. Cerdas sekali bukan. Dan salah satu pemain gratisan tersebut menjadi pilar penting Milan. Jeremy Menez. Dengan torehan 8 gol di Serie A. Dari 25 gol yang di sarangkan Milan ke gawang musuh, 9 di antaranya di dapat dari pemain gratisan. 8 dari Menez, dan satu sisanya dari Lord Torres.

Bahkan, Galliani dalam suatu kesempatan seperti dikutip dari goal.com menyebut bahwa Van Ginkel akan jadi seperti Kevin Strootman, pemain AS Roma. Padahal, Van Ginkel baru bermain sebanyak 2 kali. Hanya dalam 2 kali bermain, seorang petinggi klub bisa menyebut kualitas dari seorang pemain. Mungkin dia mengatakan seperti itu agar Van Ginkel mau gabung secara gratis di Milan, karena statusnya saat ini masih sebagai pemain pinjaman. Rayuan gombal ala Galliani.

Pemain gratisan Milan lainnya adalah Keisuke Honda. Pemain yang di datangkan dari CSKA Moskow pada Transfer Window Januari lalu ini juga di datangkan dengan status Free Transfer. Lihat konstribusi nya di Milan musim ini. Dia telah bermain sebanyak 15 kali dengan torehan 6 gol. Sungguh super sekali. Dari 3 pemain gratisan ini saja, Milan telah mencetak 15 gol dari 25 gol atau separuh gol lebih.

Mari lihat ke klub seberang, AS Roma. Meskipun AS Roma saat ini masih di atas Milan dandi bawah Juventus, tapi kebijakan transfer Roma sangat sedikit lebih boros di banding Milan. Roma musim ini saja telah menghabiskan mahar sebesar 38.5 juta untuk 4 pemain. Itu belum mahar yang di keluarkan Roma ketika meminjam Astori, Yanga-Mbiwa (Roma harus beli ketika mencapai 20 caps. Saat ini 17 caps), danuntuk membeli setengah kepemilikan Nainggolan yang di perkirakan sebesar 10 juta. Karena saat ini Nainggolan sedang di rayu oleh tim pesakitan, Liverpool. Hitung berapa banyak uang yang di keluarkan AS Roma hanya untuk musim ini.

Roma bukannya tanpa pemain gretongan. Roma mendapatkan A. Cole, Seydou Keita, dan URBY EMMANUELSON. Nama terakhir di dapat dari AC Milan. Pemain dari tim pecinta gratisan yang di dapat secara gratis. Dari 3 pemain itu, hanya satu nama yang bersinar (sampai saat ini), Keita. Bahkan jumlah caps Cole dan Emmanuelson tidak lebih banyak (9 caps) dari Keita dengan 13 caps. Bahkan di isukan kalau Cole musim depan akan bermain di MLS dan Emmanuelson sudah tidak betah di Roma. Bandingkan dengan Milan yang memiliki banyak pemain gratisanmacam Alex, Menez, dan Diego Lopez yang menjadi pilar penting Milan.


Mirisnya, Roma di kandang pada musim ini gagal mengalahkan Milan dengan pemain gratisannya. Tim 38.5 juta tidak bisa menang dari tim 11.25 juta. Sungguh terlalu. Maka, dar tulisan ini saya berharap Om Sabatini berlajar dari manajemen Milan dalam melakukan aktivitas di bursa transfer. Mumpung hari ini, transfer window akan di buka. Selamat bekerja, Om Sabatini.

Selasa, 02 Desember 2014

No Pjanic No Magic

Sepasang gol cantik yang di bukukan oleh Miralem Pjanic pas laga melawan Inter Milan menjadikan Pjanic sebagai Man of The Match. Gol via Free Kick indah nan cantik di detik-detik akhir menjelang laga usai adalah gol ke 15 Pjanic selama membela AS Roma selama 3 tahun. Dan laga melawan Inter kemarin jadi laga ke 105 Pjanic selama 3 musim.
Pjanic yang di awal musim sempat di kabarkan akan pindah klub membuktikan kelas nya sebagai salah satu dirigen terbaik yang bermain di Serie A. Lesatan indah Free Kick Pjanic bukan kali ini saja di keluarkan. Lesatan indah Free Kick Pjanic di kala melawan Napoli musim lalu di Olimpico menjadi satu-satunya gol di laga itu. Laga itu pula Totti cedera dan membuat pasukan Rudi Garcia kehabisan bensin.
Little Prince
Pangeran Charles dan Pangeran William adalah contoh dua pangeran yang bisa hidup berdampingan. Salah satu dari mereka yang akan menjadi pemimpin masa depan Kerajaan Inggris. Seperti itu lah Roma saat ini. Jika Totti adalah Pangeran, maka Pjanic adalah Pangeran Kecil atau Little Prince. Berlebihan ? Tidak juga. Karena Pjanic di anggap mewarisi skill yang di miliki Totti. Meskipun untuk saat ini Totti masih berada sedikit di atas Pjanic dalam hal apapun. Bukan tidak mungkin, Pjanic suatu saat akan melebihi Totti.
Di boyong dari Lyon pasca Revolusi Roma 3 tahun silam, Pjanic menjelma menjadi sosok yang di agung-agungkan publik kota Roma. Pjanic seakan menjadi pemain yang bisa merubah keadaan.
Ambil contoh ketika Roma melawan Juve di Perempat Final Coppa Italy. Lini depan Roma seakan buntu dan susah menembus pertahanan kokoh yang di pimpin Chiellini. Sampai akhirnya, Rudi Garcia memasukkan Pjanic dan aksi Solo Ron nya mampu menyisir sisi kanan pertahanan Juve dan memberikan Assist yang akurat untuk Gervinho. Satu-satunya gol itu mampu membawa Roma ke Semifinal meskipun kalah oleh Napoli.
Atau aksi melewati 4 pemain yang di lakukan Pjanic ketika laga melawan AC Milan. Kalau di lihat lagi, aksi Pjanic tersebut berbeda dengan aksi Messi bahkan Maradona yang membawa bola dari tengah. Tetapi Pjanic lepas dari kawalan Mexes, Montolivo dan pemain Milan lainnya dengan jarak yang sangat dekat. Dan Abbiati hanya melongo melihat gawangnya di bobol oleh Pjanic.

Dari sederetan Magic yang di berikan oleh Pjanic, label Little Prince tampaknya tidak berlebihan. Layaknya Pangeran dalam sebuah kerajaan, Pjanic di harapkan mampu memimpin Roma menuju kejayaan. No Pjanic No Magic

De Rossi : Kapten Masa Depan AS Roma ?

Siapa yang tak kenal pemain Italy didikan AS Roma ini. Pemilik nomor 16 di klub adalah pemain yang selama ini di anggap meneruskan ban kapten Totti atau bahasa kerennya Futuro Capitano. Kalau Buffon dan Pirlo memutuskan pensiun pasca Piala Dunia kemarin, nampaknya Ban Kapten Italy akan terpasang dengan manis di lengan De Rossi.
De Rossi adalah simbol lain dari kesetiaan yang di miliki oleh Roma. Karena bapak dari De Rossi, Alberto De Rossi juga mantan pemain Roma dan saat ini masih jadi pelatih AS Roma Primavera. Dan berhasil memberikan gelar juara Coppa Italy Primavera untuk AS Roma.
Pemain yang punya Tatto pemain yang sedang melakukan tackling ini adalah pemain komplit. Posisi aslinya adalah seorang Holding Midfielder. Ketika era Spaletti, De Rossi bersama Pizarro mengisi Double Pivot yang menjadi ciri khas dari formasi 4-2-3-1 ala Spaletti. Posisi De Rossi sempat tergesar ketika Zdenek Zeman kembali ke Trigoria. Zeman lebih memilih memainkan Tachtchidis daripada De Rossi. Dan ini memicu De Rossi untuk angkat kaki dari Trigoria. Untung De Rossi mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk memperpanjang kontraknya dengan Roma.
Capitano Roma ?
De Rossi menyandang status sebagai Futuro Capitano. Karena De Rossi adalah putra asli Roma dan hidup dan tumbuh di lingkungan Roma. Tetapi banyak pihak tidak yakin kalau De Rossi akan jadi kapten Roma. Why ? Jawabannya hanya ada di satu nama, Francesco Totti.
Totti bisa di katakan menghambat De Rossi menjadi seorang kapten. Posisi De Rossi hanyalah Vice Captain dari Totti. De Rossi akan jadi kapten ketika Totti absen atau Totti memutuskan pensiun. But when Totti Retired ? Tidak ada yang tahu. Bahkan Totti kabarnya akan terus bermain dan mencoba Stadion baru Roma, Stadio Della Roma. Dan Stadio Della Roma sendiri di perkirakan selesai tahun 2017. Atau 3 tahun lagi. Ketika itu, umur Totti menginjak 40 tahun. Di kuatkan oleh Statement Totti yang ingin terus bermain sampai umur 40.
Terlebih lagi, Totti sampai saat ini menjadi sosok sentral di lini depan Roma. Selisih umur Totti dan De Rossi yang selisih sedikit inilah di sinyalir jadi alasan mengapa De Rossi sulit menjadi kapten Roma. Apalagi, saat ini lini tengah Roma di huni oleh pemain-pemain dengan kualitas setara dengan De Rossi. Sebut saja Nainggolan, Keita, Strootman, dan Pjanic. Dengan skema 4-3-3 akan ada 3 pemain yang mengisi pos lini tengah. Dan satu slot hampir pasti milik Nainggolan yang musim ini (masih berjalan) menjadi pemain dengan penampilan terbanyak untuk Roma. Slot sisa untuk De Rossi akan di perebutkan dengan keita. Dengan penampilan Keita yang semakin bagus serta penampilan De Rossi yang sampai saat ini masih angin-anginan, tampaknya Romanisti harus sabar melihat Kapten masa depannya duduk di bangku cadangan.
Masa depan De Rossi pun abu-abu. Kendati DDR (sapaan De Rossi) sudah memutuskan untuk memperpanjang kontrak nya bersama Roma. Karena De Rossi sampai saat ini masih banyak dilirik oleh tim lain. Sebut saja Man. City yang masih ngebet mendapatkan jasa DDR.

Jadi, layak di tunggu apakah De Rossi masih ingin menunggu dirinya menjadi seorang Capitano Roma atau pindah ke klub lain.

Sabtu, 08 November 2014

Football is Our Religion

“Play our football in he street. Make a magic with the feet. Wave your flags for the game. Lets score a hattrick for the fame. Football is our religion.”

Di atas adalah lirik dari sebuah lagu dari Band Rednex. Judulnya, Football is Our Religion. Berlebihan ? Bisa iya dan bisa tidak. Kalau sepakbola adalah sebuah agama, lalu siapakah tuhannya ? Dan layaknya sebuah agama yang memiliki banyak aliran, artinya di agama sepakbola memiliki aliran yang banyak pula. Kick and Rush, Total Football, Jogo Bonito, Catenaccio, dan lain sebagainya.
Begitu pun malaikat dari agama tersebut pun banyak. Bisa jadi, setiap aliran memiliki malaikat bahkan nabi nya sendiri. Aliran Catenaccio bisa jadi memilih Del Piero, Totti, Maldini, dan Giuseppe Meazza. Atau aliran Jogo Bonito meenjadikan Romario, Ronaldinho, dan Ronaldo menjadi Malaikat dan Nabi mereka secara bersamaan.
Lalu siapa tuhan mereka ? Pertanyaan yang sulit. Karena sejatinya meskipun berbeda aliran, mereka di satukan menjadi satu agama yang sama, Football. Artinya, harus ada satu tuhan bersama yang di akui kekuatannya oleh mereka. Siapa ?

Iglesia Maradonia

The Iglesia Maradonia atau Church of Maradona. Di buat oleh fans dari Maradona ketika dia memutuskan untuk gantung sepatu. The Iglesia di bentuk (atau bisa di katakan di temukan) pada 30 Oktober 1998 di saat Ulang Tahun Maradona ke 38 di Rosario, Argentina.
Iglesia Maradonia bisa di katakan adalah simbol dari kecintaan warga Argentina terhadap sepakbola dan di wujudkan dengan sebuah janji setia dalam Iglesia Maradona. Iglesia Maradona sendiri bukan berbentuk gereja yang sebagaimana mestinya. Lebih kepada sebuah perasaan memiliki seorang D10S atau Maradona itu sendiri.
Warga Argentina memang gila terhadap sepakbola.
“Our Religion is Football and, like all religions, it must have a god. We will never forget the miracles he showed on the pitch and the spirit he awoke in us, the fanatics.” Kata Alejandro veron yang bertanggung jawab dalam Offcicial Website dari Iglesia Maradonia ketika menjelaskan tentang kecintaannya terhadap sepakbola dan kehadiran sosok Maradona.
Tidak berlebihan memang ketika Warga Argentina mencintai Maradona. Seperti Indonesia begitu cinta nya terhadap Evan Dimas yang masih sangat muda. Mungkin dia adalah anak tuhan atau Son Of God. Tak ada yang tahu, bung.
Bahkan ada upacara yang mereka sebut sebagai Baptis untuk mengenang Mano del Dios (Hand of God) yang sangat terkenal di era 1986 ketika Argentina menghentikan laju Inggris di Quarter Final. 29 Oktober bagi mereka (Jama’ah Iglesia Maradonia) adalah hari istimewa. Bagi mereka adalah Christmas Eve atau sehari sebelum tuhan mereka lahir. Jalanan di Argentina di buat Biru Putih, lambang bendera Argentina. Sebegitu cinta nya mereka dengan Maradona.
Ketika itu, Maradona hendak di tunjuk menjadi pelatih baru Argentina. Jama’ah Iglesia Maradonia berpesta.
“We have been with Maradona during the Darkest Moment. And now we are here with him – how can we not be celebrating ?” kata penulis La Iglesia Maradonia, Jose Caldeira.
Darkest Moment merujuk ketika Maradona menjadi sahabat karib Cocaine yang membelenggu dirinya di penghujung karirnya. Tapi, Maradona tetaplah sosok yang di cintai.
“Diego is in another dimension. He says and does many stupid things. He makes a mistakes and he is pardoned because he is myth, a living legend.” Mariano Israelit. Seburuk apapun citra dari legenda, para fans akan berusaha menutupi dari itu. Apalagi, jika dia (legenda) sudah di anggap sebagai tuhan. Tuhan tak pernah salah. Ya kan ?
Andai benar kalau ada agama baru yang bernama Sepakbola, maka Maradona kah tuhannya ? Bagi jama’ah Iglesia Maradona mungkin berbicara seperti itu. Bagi warga aliran Kick and Rush tentu tidak menerima kehadiran sosok tuhan yang telah merusah nasib baik mereka pada tahun 1986. Tetapi bisa saja, Maradona adalah tuhan. Karena hanya dengan tangan tuhan, Argentina bisa melaju dan mengalahkan Inggris. Apalagi dengan menggunakan seluruh kekuatannya.
Di Indonesia, saat ini sedang ribut mengenai di cantumkannya Agama dalam E-KTP. Bagi jama’ah sepakbola-niyah, itu tak penting. Karena bagi mereka, yang penting adalah datang ke stadion dan berharap tuhan mereka hadir dan memberikan keajaiban bagi mereka.

Selasa, 30 September 2014

Selamat Ulang Tahun, Capt !

27 September, bisa jadi hari yang tidak akan di luakan seluruh Romanisti se antero negeri bahkan dunia dan bahkan se akhirat. Karena fans Roma ada juga yang alien. Ada apa di 27 September ? Bagi Romanisti, pertanyaan itu tidak akan sulit untuk di jawab. Sangat mudah malah.
27 September, 38 tahun lalu lahir seorang yang hebat. Seorang yang memberikan segalanya untuk sepaknola, Kota Roma, dan Italy. Francesco Totti namanya. Totti merupakan seorang pribumi atau putra asli kota Roma. Masuk ke akademi Roma bahkan sebelum saya sendiri lahir. Dan melakukan debut ketika saya baru bisa bilang, “Ibu”.
Hebat memang orang ini. Lelaki yang memiliki dua orang anak, yakni Chanel dan Cristian telah memberikan gelar Scudetto untuk AS Roma yang ketiga dan Trophy World Cup ke 4 bagi Italy. Untuk urusan individu, Totti pernah meraih Golden Boot. Untuk pemain yang bukan seorang striker murni pada tahun 2010.
Artikel ini sengaja saya buat telat bukan pas tanggal 27 September. Pertama karena 27 september ada hal sakral lain. Dan memang saya sengaja menunda ini karena saya yakin, AS Roma dan Totti akan memberikan hadiah terindah. Terbukti ? J
Susahnya kalahkan Verona                                                    
27 September, atau Sabtu malam waktu Indonesia, AS Roma harus melawan tim kuda hitam, Hellas verona. Tim asal dimana Iturbe berada sebelum pindah ke Roma ini memang jadi Kuda hitam. Musim kemarin, Verona hampir saja lolos ke UCL. Dengan punggawa gaek seperti Luca Toni, Hellas verona menjelma menjadi kekuatan yang di takuti lawan.
Malam itu, Roma seperti melawan tim yang punya formasi 6-3-1. Dengan 3 gelandang berada di sisi dalam bukan sisi luar. Bayangkan 6 pemain Verona harus menjaga sisi pertahanan Verona. Roma amat sangat kesulitan memasuki kotak pinalti Verona. Ketat sekali seperti celana cowok yang lihat cewel seksi.
Totti, yang di harapkan mencetak gol pun tidak bisa memberikan gol nya. Sampai akhirnya, Rudi Garcia harus mengganti seorang Totti dengan Florenzi. Darah muda asli Roma yang di gadang-gadang sebagai penerus Totti dan De Rossi. Kecewa pada awalnya, karena memang kami berharap Totti lah yang menjadi pemecah kebuntuan.
Kekecewaan itu berubah jadi kebahagiaan. Kala Florenzi mencetak gol pertama untuk Roma berkat assist dari Nainggolan. Blaaar 1-0. Pertandingan semakin ketat dengan Verona yang mulai menekan. Destro yang sering membuang peluang mulai mendapat kecaman. Untung, beberapa menit menjelang laga usai, Destro mencetak gol sensasional dari setengah lapangan dengan sekali control. Blaaaaammm skor akhir 2-0 dan kado dari seluruh punggawa Roma adalah sebuah kemenangan indah.
Sorry, Man. City
Roma masuk ke dalam Grup Neraka. Grup yang isinya adalah langganan UCL. Bayern Munich, Manchester City, dan CSKA Moskow. Banyak pihak pesimis dengan kiprah Roma di UCL. Ya wajar karena Roma lama absen di kompetisi Eropa.
Tapi Roma membuktikan ke publik bahwa mereka siap bermain di UCL. Pertandingan awal, Roma bantai CSKA Moskow 5-1 di Olimpico. Laga kedua melawan Man. City, aroma pesimistis masih memayungi Roma. Ya, karena yang di lawan adalah tim yang punya catatan bagus ketika bermain di kandang. Apa Roma bisa ?
Sebelum pertamdingan di mulai, terjadi “Twitwar” antara akun twitter resmi Manchester City dan AS Roma.

Twitwar di mulai ketika akun twitter MCFC, menyindir AS Roma karena Totti belum pernah mencetak gol di Inggris. Ye, sejarah kelam Roma memang ketka bermain di Inggris. Di gunduli MU 7-1 dan di hajar Arsenal 2-1. Ya, itu sejarah kelam AS Roma beberapa tahun yang lalu.
Totti belum pernah mencetak gol di Inggris dan laga lawan MCFC akan jadi yang pertama. Itu twit akun twitter AS Roma sebelum pertandingan di mulai. Daaaaan baaam, Joe Hart harus rela gawang nya di jebol Totti. Kiper pertama yang gawangnya di bobol Totti di Inggris.

Ini kado terindah buat Totti. Kemenangan manis atas Verona dan gol pertama Totti di Inggris.



Jumat, 05 September 2014

Review Gresik United 2013-2014

Penampilan Gresik United di tutup dengan sangat mengecewakan. Di tekuk Persik Kediri di Stadion Brawijaya dengan menurunkan tim lapis kedua dengan skor 3-0. Dengan alasan untuk mengevaluasi tim. Memilih mana yang layak di pertahankan dan tidak. Apalah itu alasannya, kekalahan tetap kekalahan. Dan kekalahan di Stadion Brawijaya merupakan sesuatu yang pantas kita dapatkan. Dengan permainan yang sangat buruk.
Para pemain seperti tidak punya determinasi untuk bermain. Hanya beberapa pemain yang punya determinasi tinggi untuk bermain. Apa karena pertandingan sore kemarin sudah tidak menentukan nasib apapun. Bahkan ada satu pemain yang menjadi buah bibir suporter. Bukan karena permainan indah. Tapi karena permainan busuk nan lamban ala kura-kura. Harusnya, ketika staff pelatih memilih untuk memainkan tim lapis kedua yang tujuannya untuk evaluasi tim, para pemain yang berlaga harus memberikan 100% bahkan 150% dari yang di punya. Harus mampu unjuk gigi ke pelatih, manajemen, serta suporter yang datang.
Selain kekalahan memalukan tersebut, ada banyak hal yang bisa di cermati dari Gresik United di musim ini.
1.      Kehabisan Bensin
Seperti musim lalu, Gresik United sempat merangsek ke papan tengah. Tapi masuk pertengahan kita hancur lebur dan akhirnya terjadi pergantian nahkoda. Musim kemarin pelatih kita juga di ganti. Karena kita kehabisan bensi di tengah jalan. Bahkan yang lebih parah, kita tak punya kekuatan lagi untuk mendorong mobil yang kehabisan bensin. Karena skuad kita tidak mendukung. Yang ekstrim, selama 3 musim berturut-turut, kita selalu mencapai Peak Performance di akhir musim. Musim pertama di ISL, kita lolos degradasi karena di Playoff kita menang. Musim kedua, kita lolos dari degradasi setelah menang di 2 laga kandang terakhir melawan Tim asal Papua. Dan bahkan kita harus menunggu hasil tim lain untuk memastikan lolos. Dan musim ini, momentum kita terjadi setelah libur puasa. Biasanya, di musim ke empat ada perubahan besar. Semoga.
2.      Salah Pilih Pemain
Bukan rahasia lagi, kalau pelatih akan selalu punya anak emas di setiap tim yang di belanya. Dan musim ini apes terjadi di Gresik United. Kehadiran Pape bukan malah membuat tim kuat, malah membuat tim menjadi rusak. Pape adalah anak emas Agus Yuwono ketika masih menukangi Persidafon. Dan itu di bawa ke Gresik United yang memiliki kultur sepakbola yang berbeda. Kurang mampu adaptasi, itulah yang kurang dari Pape. Serta kurang punya determinasi. Buktinya, Pedro yang masuk di tengah musim mampu memberikan angin segar dan menjadi salah satu pemain kunci yang mampu membawa tim menjadi lolos degradasi.
3.      Rombakan Besar-Besaran
Musim ini,GU melakukan perubahan besar. Dengan mendatangkan banyak sekali pemain baru. Baik di awal musim ataupun di tengah musim. Dan membuang banyak pemain di tengah musim juga banyak. Fajar Handika, Elthon Maran, dan Pape adalah pemain yang masuk di awal musim dan di tendang di tengah musim. Untuk menggantikan posisi mereka, di datangkan lah Pedro, Wismoyo, serta pemain dengan skill tinggi dan serba istimewa, Gustavo Chena (applause). Tapi apa hasil dari perombakan besar ? Nihil. Bukan tentang kualitas tim yang kurang. Tapi karena setiap musim, GU memiliki pelatih baru dan dengan skuad yang baru dan adaptasi baru lagi. Dan itu tidak efektif.
Banyak yang menyayangkan manajemen tidak mempertahankan Sultan Samma, Rizky Nofriansyah, Siswanto, Erol Iba, Ambrizal, serta The Legend, Agus Indra Kurniawan. Yang di perlukan adalah keteraturan dan kesolidan tim. Lihat Juventus dan Persipura yang memiliki skuad yang tidak jauh berbeda dari musim-musim sebelumnya. Secara kualitas bagus dan mereka saling mengenal satu sama lain. Bedakan dengan Man City di awal ketika mereka merekrut banyak pemain bintang. Juara ? Tidak. Musim berikutnya juara. Atau Persib Bandung yang skuad nya penuh pemain bintang. Juara ? Tidak. Tapi musim ini, dengan skuad yang tidak banyak berubah, Persib jadi kekuatan besar yang memiliki peluang besar raih gelar ISL.

Musim 2013-2014 sudah berakhir. Musim ini di tutup dengan kesedihan. Dan semoga musim depan di buka dan di tutup dengan senyuman. We Love You Gresik United

Rabu, 20 Agustus 2014

Atas Nama Cinta

“Arek-arek iku lapo ngadek nyanyi.. Di bayar piro emang. Goblok.” – Anak-anak itu ngapain berdiri bernyanyi. Di bayar berapa memang. Bodoh.
Sejenak saya tertegun setelah mendengar celetukan orang belakang saya ketika lihat Gresik United bermain melawan Sriwijaya FC, 20 Agustus kemarin. Ada benarnya memang kata dia. Berdiri 90 menit dan hanya bisa duduk selama 15 menit, yaitu ketika rehat babak pertama. Tak jarang mereka harus ikut bernyanyi dan menggoyangkan tangannya mengikuti aba-aba dirigen yang berdiri.
Mereka tidak di bayar layaknya para pendemo bayaran yang akhir-akhir ini lagi jadi trending topic. Mereka tidak di beri makan layaknya Panasbung atau pasukan nasi bungkus. Kalau beruntung, mereka semua hanya mendapatkan air minum yang jumlahnya tidak sesuai dengan jumlah yang berdiri dan bernyanyi. Artinya ke legowo an antar mereka untuk berbagi lah yang paling penting dan di butuhkan. Air minum itu di dapat ternyata dari patungan kawan-kawan sendiri.
Mereka mengorbankan banyak hal ketika datang ke dalam stadion. Tiket kelas ekonomi atau suporter di seluruh Indonesia sekitar Rp. 10.000-Rp.30.000. Bahkan mereka juga mengeluarkan uang lebih untuk membeli aksesoris tambahan sebagai pelengkap. Mulai dari kaos, syal, bendera, tongkat bendera, dan yang ekstrim flare.
Mereka juga mengorbankan waktu. Dalam sekali pertandingan sepakbola, membutuhan sekitar 2 jam selama pertandingan berlangsung. Di antara yang datang di stadion, mereka merelakan waktu kerja nya, waktu istirahatnya, dan yang paling parah banyak yang bolos sekolah dan kuliah demi melihat tim kesayangannya ke stadion.
Untuk apa mereka melakukan itu ? Iseng saya tanya, “Demi tim kesayangan, bos.” “Loh kan iki di gawe kuto kene. (Kan itu untuk kota kita)” dan yang terakhir, “Cinta sama tim kesayangan, bro. Apapun di lakukan.” Wow sebegitu banyak alasan yang di ungkapkan. Dan saya menyimpulkan alasannya adalah cinta kepada tim kesayangan dan membela kota kelahiran.
Kadang, kalau sudah cinta apapun di lakukan. Lihat cerita Romeo dan Juliet atau cerita-cerita di FTV di Indonesia. Kadang, cinta bisa membuat kita bertindak bodoh. Tetapi bagi kita, tindakan yang di anggap bodoh itu adalah tindakan yang wajar.
So, atas nama cinta mereka (suporter fanatik) rela mengeluarkan uang berapapun, menghabiskan waktu selama apapun, dan menghabiskan tenaga demi tim kesayangan.

“Saiki aku ngenteni kowe, dino iki males nyambut gawe. GU FC ayo di belani. Arek Ultras, mendem rame-rame.”

Sabtu, 16 Agustus 2014

Buat Virus Yang Lebih Mematikan, Coach !

Dalam sepakbola, kalah dan menang adalah hal yang biasa. Setidaknya itu yang pernah di katakan pelatih sekolah sepakbola saya semasa kecil ketika tim kami saat itu menderita kekalahan setelah menang di 2 laga awal turnamen SSB se Jabodetabek. Tidak ada yang aneh ketika sebuah tim kalah atau menang. Tetapi menderita kekalahan berturut-turut dan yang mengalahkan adalah tim yang secara peringkat jauh di bawah tim tersebut. Saat ini saya sedang membicarakan tentang Timnas U19.
Prestasi yang di dapat dan di hasilkan secara keras selama mengikuti turnamen tahun kemarin seakan tidak ada artinya. Pondasi yang sudah di bangun selama ini seakan runtuh begitu saja, ketika hasil yang di dapat akhir-akhir ini jeblok. Dan saya mencoba melihat, mengapa Timnas U19 saat ini sedang “jeblok”
1.      Minim Kreasi Serangan
Dalam Football Manager, ada yang namanya Familiarity Tactic. Semakin penuh tabel nya, artinya pemain semakin paham dengan formasi dan taktiknya. Tapi, FM memberikan 2 lagi slot kosong yang bisa di isi manager untuk memberikan alternatif taktik. Tujuannya adalah agar manager bisa memberikan variasi permainan kepada tim yang di tukangi nya. Hubungannya dengan U19 ?
Mari lihat formasi yang di keluarkan oleh Coach Indra Sjafri sejak AFF U19, Kualifikasi Piala Asia. Tur Nusantara, serta Turnamen Hasanah Bolkiah ini. SAMA. Skema 4-3-2-1 yang di keluarkan dengan pemain yang sama. Tidak ada sama sekali perubahan.
Lawan yang di hadapi Indonesia rata-rata adalah lawan ketika di AFF U19, meskipun beberapa mengirim tim U-21 nya. Tetapi beberapa masih mengirimkan pemain yang notabene alumni AFF Cup.
Mereka sudah bisa membaca arah permainan timnas. Mengandalkan serangan balik cepat mematikan dari sayap. Menjadikan Striker as False Nine not Advanced Striker. Yang berbahaya adalah pergerakan second line timnas, umpan silang yang membuat Korsel hancur lebur. Tenang, ini bukan tentang musik, kalau musik kita masih kalah jauh dengan K-Pop.
Senjata mematikan itu sudah bisa “di matikan” balik oleh lawan. Dalam dunia kedoteran, di kenal yang namanya vaksin bagi virus penyakit tertentu. Nah, bagi lawan, permainan Timnas ibarat penyakit. Tetapi itu dulu. Mereka saat ini sudah punya vaksin yang mampu mematikan pergerakan bakteri-bakteri yang ada di 11 pemain di lapngan.
Virus dalam laptop setiap tahun selalu berubah menjadi lebih baik. Itu pun, anti virus yang di keluarkan oleh produsen juga akan selalu berubah mengikuti irama virus nya. Nah ini virus U19 tidak ber transformasi. Stagnan dan sangat mudah di tebak.
2.      Mental
Menjadi tim yang selama ini menang, lalu kalah adalah ha yang sulit. Sulit untuk bangkit. Selama Tur Nusantara, Timnas U19 jarang sekali kamasukan terlebih dahulu. Tapi ini, 3 pertandingan di HBT, Timnas kemasukan terlebih dahulu, ketidak biasaan ini menjadikan Timnas kebingungan. Mereka sulit untuk bangkit.
Lihat, mereka setelah ketinggalan bermain seolah tidak bisa bangkit. Mereka terus memegang bola memang. Tetapi permainan mereka berbeda. Seakan tidak tahu harus menyerang dari sisi mana. Kebingungan ibaratnya. Seperti aku yang tanpa dirimu.
3.      Pikiran Mereka Ada di Spanyol
Ah ini adalah faktor paling bodoh mungkin yang saya tulis. Beberapa saat yang lalu timnas sempat akan di daftarkan di turnamen yang di adakan di Spanyol. Lawan yang di hadapi pun berkelas. Argentina, Mauritania, dll. Beda kelas lah jika di bandingkan yang di Brunei ini. Mereka mempersiapkan segalanya. Lalu hasilnya ?
Mereka tidak jadi tampil. Mereka hanya akan tampil di Brunei dan yang di kirimkan adalah Timnas U21 yang sebagian besar adalah pemain Sriwijaya U21 yang menjuarai ISL U21. Bahkan banyak yang bilang bahwa saat ini di Spanyol itu Sriwijaya U21 yang di paksakan tampil memakai nama Indonesia.
Apa berpengaruh ? IYA. Bagaimana sih rasanya di PHP oleh orang yang selama ini kita banggakan dan yang selama membuat mereka bangga adalah KITA. Ya, BTN yang merubah itu. BTN dan jajaran PSSI lah yang merubah semua itu. Sempat di bahas di @Footballnesia , baca tuh.
4.      Tingginya Ekspektasi Masyarakat
U19 saat ini tengah menikmati ketenaran yang luar biasa. Setelah menjadi pemecah kebuntuan dan menjadi juara di Sidoarjo. Lalu mereka menghancurkan Korea Selatan dan lolos ke Piala Asia U19. Tentu harapan masyarakat ketika bermain di Brunei adalah mereka menjadi juara. Karena memang yang akan di lawan Indonesia adalah negara di Asia Tenggara yang notabene mereka adalah penguasa nya dalam kelompok umur yang relatif setara.
Ekspektasi yang tinggi tersbeut tampaknya menjadikan permainan Timnas menjadi tidak lepas. Mereka terbebani dengan pencapaian yang selama ini mereka dapatkan. Dan masyarakat pun mengamini beban mereka dengan harapan yang tinggi, JUARA. Meskipun tidak terucap oleh masyarakat, tetapi terlihat jelas ketika Timnas U19 kalah, masyarakat kecewa bukan main. Artinya mereka berharap Timnas bermain baik dan menjadi juara.
Dalam sepakbola, kalah dan menang adalah hal biasa. Sempat saya bahas di awal. Apalagi mereka kalah dalam turnamen pemanasan sebelum turnamen asli, yakni di Myanmar. Masih jauh menilai permainan Indonesia buruk, karena lawan yang di hadapi saat ini bukanlah yang akan di hadapi nanti di Myanmar. Di tambah, tim yang di turunkan lawan banyak yang Timnas U21, bukan U19. Artinya dari kelompok umur, sudah berbeda.
Tetapi, itu semua bagi tim yang menjadi raja asia tenggara tentu tidak bisa di tolerir. Setidaknya sampai saat ini. Aroma pesimis mulai tercium. Mereka mulai meragukan Timnas U19 untuk bisa berprestasi di kancah Asia. Ya, itu karena ekspektasi yang timbul sangatlah tinggi. Jadi, ketika bermain sedikit di bawah form, mereka seakan bermain jelek sekali.
Selain itu, U19 saat ini menjadi primadona baru. Hal yang tidak aneh, karena mereka menjadi pemuas dahaga gelar. Ibarat orang puasa, bisa minum itu adalah hal yang paling menggembirakan. Dan bagi mereka, timnas U19 adalah harapan baru. Sesuatu yang jelek yang di lakukan U19 adalah sebuah hal cacat dan tidak bisa di tolerir. Lihat kasus yang di alami Marshanda beberapa saat ini dan beberapa tahun yang lalu. Primadona itu harus A dan B. Jika melakukan kesalahan artinya itu sebagai dosa yang sangat besar. Ibarat Barcelona yang dalam beberapa tahun belakangan menjadi tim spesialis gelar, tetapi musim kemarin tidak ada satu pun gelar bergengsi yang mereka dapat. Apa hasilnya ? Tata Martino mengundurkan diri. Karena dia merasa berdosa dan bersalah tidak bisa membawa Barcelona juara. Di tambah dengan adanya desakan dari fans untuk Barca kembali berprestasi.
Hal ini lah yang saat ini di alami Timnas U19. Sebagai sebuah harapan baru, melakukan kesalahan sedikit adalah sebuah dosa besar. Sesuatu yang terbentuk karena dua hal. Karena adanya tekanan dari masyarakat serta belum punya mental yang baik.

Tulisan ini bukan untuk menjustifikasi bahwa U19 atau Garuda Jaya saat ini sudah habis. Tetapi sebagai analisa kritis saja. Masih ada waktu untuk membenahi sisi-sisi yang selama ini rusak. Masih ada lagi membangkitkan virus-virus yang saat di Brunei mati terkapar. Mari buat virus yang lebih canggih, coach. Dan satu lagi, jauhkan U19 dari politik. Ini salah satu harapan kami.

Senin, 11 Agustus 2014

Menertawakan Parkir Bus

“Untuk apa menang kalau main super defensif dan parkir bus di gawang.”
Pernyataan di atas membuat perut saya sakit. Bukan karena mules, tapi lucu saja. Di era modern ini, masih ada saja orang yang men-sangsi-kan strategi tim untuk memenangkan pertandingan sepakbola. Asal dengan cara yang halal atau tidak dengan membeli perangkat pertandingan atau jika di Italy di kenal dengan Calciopoli, semua nya terasa halal. Pun dalam agama, sepakbola mengenal halal dan haram. Bukan tuhan yang menentukan bedanya.
Lalu strategi parkir bus yang di nyinyir kan orang-orang adalah satu dari sekian banyaknya strategi dalam dunia sepakbola. Di Italy ada Catenaccio, di Belanda ada Total Football, di Inggris ada Kick and Rush, serta di Brazil terkenal dengan Jogo Bonito. Semua sah dan halal di lakukan karena yang di gunakan adalah otak dan oto untuk memenangkan permainan bukan dengan cara yang curang.
Parkir bus sejatinya adalah strategi untuk menumpuk pemain di garis pertahanan sendiri sambil sesekali melakukan serangan balik yang cepat nan mematikan. Ingat kejadian gol super ajaib ala Torres pas berseragam Chelsea ketika melawan Barcelona ? Atau permainan heroik pasukan La beneamata ketika meluluh lantahkan Barcelona.
Terdapat kemiripan dari 2 contoh di atas. Sama-sama bermain dengan pola bertahan. Atau bisa di katakan yang mengalahkan Barca adalah parkir bus. Strategi bertahan. Dengan strategi bertahan itu saja, Mou sukses memberikan Treble Winners untuk Inter sebelum hijrah ke Madrid. Dan khusus untuk Chelsea, meskipun saat itu bukan di latih oleh Mourinho, tetapi skema permainan Mourinho masih terlihat jelas. Tidak lain dan tidak bukan adalah Di Matteo yang melanjutkan permainan bertahan itu.
Back to topic, dari sini saja terlihat jelas mengapa saya menertawakan pernyataan di atas.

Baiklah, untuk memperjelas saya akan mencoba mengurai alasan kenapa saya meneratawakan pernyataan itu.
Pertama adalah mengenai permainan ultra defensif atau parkir bus dan menang. Tujuan dari sepakbola adalah mencetak gol. Dengan bertahan, apa tidak bisa mencetak gol ? BISA. Tetapi dengan menata serangan yang di susun dengan rapi. Serangan di mulai dengan membuat lawan frustasi dengan pertahanan kita. Lawan akan di buat repot untuk meruntuhkan pertahanan super kuat yang di bangun. Dan biasanya strategi ini di gunakan ketika melawan musuh yang level permainannya di atas tim sendiri. Melakukan serangan sporadis dengan lawan yang level nya di atas kita adalah hal bodoh nan membunuh diri sendiri.
Jengkel memang melawan tim yang pola nya bertahan. Nah, ini yang di manfaatkan oleh musuh ketika tahu lawan yang di hadapinya mulai frustasi. Dan ini yang di manfaatkan dengan sangat rapi oleh Timnas Brunei, senin malam ketika melawan Indonesia U-19. Indonesia di buat frustasi dengan pertahanan kuat yang di galang pemain Brunei.
Kedua, apa ada jaminan tim yang bermain cantik itu akan bisa dengan mudah mencetak gol ? TIDAK. Tidak ada satu pun yang bisa menjamin. Kecuali ISIS dan HTI yang bisa menjamin Khilafah itu yang terbaik bagi Indonesia, itu pengecualian kawan. Balik ke bola. Bermain cantik dan di akhiri dengan kemenangan adalah hal yang indah. Tetapi bermain lebih baik tetapi kalah sangat menyakitkan. “Lawan tim rendahan aja kalah, loe.” Itu nyinyir an yang akan muncul ketika kalah melawan tim yang parkir bus.
Ketiga, saya sempat lihat timeline dan membaca tweet teman saya. Isi tweetnya adalah tentang bagaimana menangkis mereka yang nyinyir in tim yang menggunakan Parkir Bus sebagai strategi nya. Intinya adalah, jangan menyalahkan parkir bus. Biarkan itu terjadi. Yang harus kita lakukan ketika berhadapan dengan tim yang memarkir bus nya di depan gawang adalah bagaimana kita harus bisa menjadi supir yang akan membawa bis itu pergi dan kernet bis yang akan memandu supir membawa bis itu pergi dari depan gawang. Paham ? Intinya adalah bagaimana merusak pertahanan yang di galang oleh tim tersebut.
Dan saya ingat kalimat Mourinho, bahwa yang terpenting dalam sepakbola adalah hasil bukan permainan. Lalu saya ingat pula bagaimana Arsenal yang saya anggap sebagai tim dengan permainan sepakbola paling indah tetapi gagal meraih gelar juara bertahun-tahun. Bukan maksud mengecilkan tim tertentu, tetapi saya hanya berusaha memberikan contoh bahwa permainan cantik dalam sepakbola bukan segalanya. Tetapi hasil. Dan bagi mereka pelatih yang mengusung gaya bertahan, yang terpenting adalah menang.
Jadi, bagi mereka yang nyinyir in parkir bus dan segala strategi nya, haruslah melihat lagi bahwa itu adalah pilihan dan strategi yang sudah di siapkan secara matang oleh tim.