Jumat, 17 April 2015

Curhat Untuk Akhi Fahri Hamzah

Assalamualaikum akhi. Semoga kebaikam dan kesehatan selalu ada di diri akhi. Akhi, izinkan saya untuk menceritakan salah satu olahraga yang saya gemari dan sempat akhi komentari beberapa saat yang lalu. Tentang sepakbola.

Akhi, saya mengenal sepakbola tepat 16 tahun yang lalu. Saat itu saya masih duduk di kelas 1 SD. Dan 2 tahun kemudian, tangisan air mata saya keluar pertama kali untuk sepakbola. Tahun 2002, Petrokimia Putra jadi Juara Liga Bank Mandiri. Itu tangisan pertama saya di dalam stadion. Tangisan pertama saya di dalam Stadion Gelora Bung Karno yang sempat jadi venue konser One Direction.

Tetapi sejatinya, saya “dikenalkan” oleh orang tua saya sepakbola sejak di dalam kandungan. Ibu saya ngidam ingin lihat sepakbola. Mungkin ini lah hasilnya. Dul;u saya ikut sekolah sepakbola di Jakarta, SSB Arcici. Tapi berhenti karena harus kembali ke Gresik. Tapi gar\irah sepakbola saya tidak berhenti sampai disitu. Kadang saya berfikir, saya mencintai sepakbola lebih dari saya mencintai pacar saya.

Dulu ketika saya masih sekolah dengan seragam putih merah, saya hanya bermain sepakbola seperti layaknya anak kecil. Saat itu belum mengenal apa itu mafia wasit, mafia sepakbola, skandal pengaturan skor, skandal pajak, dll. Dan keburukan yang saya sebutkan diatas terjadi di Indonesia.

Dan semua itu saya sadari keberadaannya setelah saya duduk di bangku SMP. Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri Gresik United saat itu dikerjai wasit di Bantul. Pertandingan berhenti sebelum waktu berakhir. Disitulah saya mulai sadar, ada yang tak beres. Belum lagi setelah saya tahu kalau PSSI sempat dipimpin oleh seorang penjahat yang menjalankan tugasnya di balik jeruji besi.

Kita butuh revolusi besar-besaran, akhi. Dan statement akhi agar PSSI mengabaikan Menpora dan agar ISL jalan terus itu seakan menambah luka kami. Luka saya dan luka teman-teman pecinta sepakbola di Indonesia. Padahal saat itu, Menpora dan BOPI sedang berusaha sedang berikhtiar untuk memperbaiki liga agar lebih professional.

Apa akhi lupa, kalau beberapa tahun terakhir ada pemain asing yang meninggal di Indonesia karena tidak digaji ? Apa akhi lupa, kalau banyak pemain local di Indonesia yang tidak digaji berbulan-bulan ? Apa akhi tahu kalau ada salah satu pmain asing di Indonesia yang terlibat mafia bola karena ia tak digaji oleh klub  ? Apa akhi tahu kalau klub-klub di Indonesia banyak yang belum punya NPWP ? Kalau saya sebutkan semua pertanyaan yang mengganjal hati saya, akan sangat banyak sekali, akhi.

Di statement ini, akhi bilang kalau PSSI tidak ambil dana dari pemerintah, jadi Menpora tidak usah ikut campur. Apa it benar akhi ? Kalau itu benar statement akhi, tolong cek putusan hokum yang memenangkan FDSI (Forum Diskusi Sepakbola Indonesia) di Komisi Informasi Publik desember lalu. Mungkin akhi lupa, atau mungkin akhi tidak tahu hal itu. Silahkan ditanyakan kembali ke yang bersangkutan.

Akhi, apa akhi lupa kalau tidak boleh ada intervensi pemerintah. Dan ini yang selalu di gembar-gemborkan PSSI ketika Menpora datang untuk membantu menyelesaikan masalah di PSSI. Kampanye menolak intervensi pemerintah semakin nyaring suaranya setelah Menpora yang baru berani dan tegas.

Tetapi apa yang dilakukan PSSI. Dia malah “wadul” ke DPR dan ke Wapres. Seakan mereka lup[a kalau Wapres dan DPR itu juga bagian dari pemerintah. Dan akhi membela PSSI sekuat tenaga. Harusnya akhi marah. Lembaga DPR yang terhormat dianggap bukan lembaga pemerintah.

Ah akhi, saya tahu, niatnya baik (kalau niat baik) untuk memajukan sepakbola kita. Tapi akhi harusnya belajar lebih dulu tentang sepakbola secara umm dan sepakbola Indonesia sebelum nantinya akhi datang dan menjadi seorang pahlawan.

Akhir kata akhi, saya mendoakan akhi sehat. Agar selalu bisa mengikuti perkembangan sepakbola di Indonesia. Dan akhi, saat ini 18 April 2015 Kongres 5 tahunan PSSI digelar. Akhi ingat atau memang tidak tahu ? Dan saat ini pula ribuan BONEK datang meminta keadilan atas segala aksi tipu-tipu yang dilakukan PSSI ke Persebaya 1927. Saya bukan seorang BONEK, tapi saya sebagai pecinta sepakbola mendukung aksi BONEK.

Semoga PSSI bersih dari MAFIA meskipun susah. Kami, akan terus dan tetap akan melawan.
Salam dari anak bangsa.

Wassalamualaikum….

0 komentar:

Posting Komentar