Ultras Mania Gresik

Kita pernah juara. Gresik pernah juara. Dan sekarang "KAMI RINDU JUARA" Liga Indonesia

Roma Club Indonesia

Kami ada. Kami berpesta. Kami bersatu. Hanya untuk satu kebanggaan, AS ROMA

AS ROMA

LA ROMA NON SI DISCUTE SI AMA

Fan Fiction

Cerita fiksi untuk meluapkan ekspresi jiwa. Tentang hiburan, luapan perasaan, dan pengorbanan.

48 Family

The power of Idol. Idol can't make you horny, just can make you proud with them. Kita pecinta idol sebagaimana kita mencintai sepakbola.

Tampilkan postingan dengan label Fanfict. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fanfict. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Mei 2015

Tetaplah Tersenyum, Bulan

Bulan tampak semakin indah ketika ditemani ribuan bintang. Keberadaan bintang sekilas memang seperti pengiring dari bulan. Tapi kembali, bulan tanpa bintang hanya satu titik yang memancarkan cahanya sendiri. Cahaya nya menandakan ke egoisan. Tapi ketika ada bintang, langit seakan lebih indah. Bagaikan bintik-bintik putih di kertas hitam.

Mungkin bagi sebagian orang, bintik-bintik putih di kertas hitam bagaikan noda abstrak yang tak berguna. Tapi bagiku, itulah keindahan. Melihat bintang dan bulan menghiasi langit malam hari itu sebuah harta yang berharga.

Bayangkan kalau nanti sang bulan sedih dan urung muncul di malam hari. Gelap, tak indah rasanya. Bisa jadi ia sedih karena di langit, ia sedang bertengkar dengan matahari yang masih ingin menampakkan kekuatannya dan tak mau mengalah dan memberikan langit sebagai catwalk bagi seluruh penghuni langit. Bisa apa sang bulan. Ia hanya makhluk langit yang tak berdaya. Ia nampak besar dan kekar. Tapi kekuatannya tak sebesar matahari, dan bahkan ada atau tidaknya bulan tergantung dari matahari. Ia lemah, tapi punya tekad.

Hari itu, sekolah terlihat seperti apa adanya. Tak ada yang berbeda. Pelajaran membosankan seperti biasa. Kadang saya berfikir, apa semua pelajaran membosankan kayak gini ya. Atau itu cuma saya yang rasakan. Kita hanya di jejali puluhan rumus dan teori tanpa bisa melakukan pembenaran atau sekedar menyalahkan status quo yang ada.

Saya ingat, saat itu adalah 21 Mei. 17 tahun yang lalu ada Reformasi besar-besaran. Reformasi untuk mengganti status quo yang bertahan selama 32 tahun. Status quo yang dibangun dengan pondasi yang kokoh. Bagaimana tidak kokoh, pondasi nya di isi dengan aparat negara dan ancaman.

Saat itu, yang saya ingat adalah guru sejarah saya menjelaskan bahwa rezim orde baru di turunkan mahasiswa dan rakyat karena sudah tidak pro rakyat. Kata buku seperti itu. Cuma, saya tertarik dengan kejadian sebelumnya. Estafet perubahan dari orde lama ke orde baru. Ya, supersemar. Apa benar supersemar yang kita kenal dan kita pahami itu sesuai dengan kenyataan. Apa tidak ada unsur kesengajaan untuk mengganti supersemar.

Saya ingat, sejarah ditulis oleh pemenang perang. Entah itu quote siapa. Tapi, saya semakin yakin kalau sejarah Indonesia saat supersemar ditulis oleh pemenang perang. Perang ini bukan angkat senjata semata.

Ah, mata mulai ngantuk. Membosankan. Yang dijelaskan, semua ada di buku. Tidak ada satupun guru sejarah yang berani mengatakan yang sebenarnya terjadi. Bagaimana kekejaman rezim sebelumnya dan bagaimana suksesi dari Orde lama ke orde baru.

Posisi duduk ku di sisi meja guru tapi d belakang sendiri. Entah kenapa cowok selalu punya kebanggaan pas mampu mengamankan posisi duduk paling belakang. Kayak bisa dapatkan cewek idola di sekolah.

Kucoba memalingkan muka ke satu sudut ruangan kelas. Sampai akhirnya mata ini berhenti melakukan petualangan dan berhenti di satu orang. Namanya Bulan. Bukan cewek populer di sekolah. Cuma cewek ceria yang kebetulan menghiasi hari-hariku.

Bulan mungkin beda dengan kebanyakan. Dia tak cuma mengandalkan parasnya yang elok untuk sekedar menjalin hubungan pertemanan. Dia bukan minyak dalam pusaran air yang dengan sombongnya menolak untuk bergabung dengan air menyatukan kekuatan. Ia adalah madu. Yang rela menyatu dengan air dan menghilangkan warna aslinya, hanya untuk memberikan rasa manis. Dia itu bagaikan mutiara di dasar laut. Kalau belum diasah, tampak biasa saja. Kalau sudah diasah, tak ternilai lagi harganya.

Ya, itulah Bulan. Gadis ceria yang mencairkan suasana dengan celotehan lucu nan menggemaskannya. Bulan bukanlah cewek yang pintar di kelas. Cuma, ia rajin dan tak punya rasa takut untuk menjadi maju. Jangan heran kalau ia mampu masuk 10 besar di kelas. 

Beberapa minggu berselang, ada yang aneh dari Bulan. Ia yang ceria mendadak murung. Senyumnya yang murah bahkan di diskon itu pun seakan menjadi mahal dan enggan untuk di lepaskan. Aneh pikirku.

Saya, meskipun mengidolakan Bulan, tak ada keberanian untuk sekedar mendekat. Rasa malu ku mengalahkan keinginan ku. Lemah memang. Tapi inilah aku dengan segala kekurangannya.

“Bin, ngerasa ada yang aneh gak sih dari si Bulan ?”, tanyaku ke teman sekelasku yang dekat sama Bulan. Bintang namanya. “Iya nih, aku juga bingung dia kenapa. Murung mulu kerjaannya.”, jawab Bintang. “Padahal kemarin-kemarin itu dia ketawa ketiwi gitu sama anak-anak. Eh, sekarang murung gak jelas gini.”, lanjut Bintang. Fyi, Bintang ini teman masa kecil Bulan. Banyak yang bilang kalau ada Bintang pasti ada Bulan. Jadi, minimal Bulan cerita masalahnya ke Bintang. Tapi Bintang sendiri kaget. Aneh.

Hari itu anomali bagiku. Tak sesuai kebiasaan yang sudah digariskan tuhan. Bulan sedih itu menyalahi aturan yang sudah di buat tuhan. Kadang saya mikir, apa tuhan sengaja menurunkan Bulan dari surga untuk menceriakan kesedihan. Kalau itu benar, hari ini adalah hari dimana Bulan manyalahi aturan.

Di rumah, rasa penasaranku semakin membuncah. Otak ku berasa di isi oleh larva yang kapanpun bisa meledak. Yang kandungan larva nya adalah semua tentangmu, Bulan. Sampai ku putuskan besok harus berani. Sekedar say hello dan kalau bisa tanya kabar dan kenapa dia berani menyalahi aturan tuhan untuk bersedih.

Esoknya, terjadi seperti biasa. Daun berguguran. Bukan, ini bukan Bunga Sakura yang gugur. Tapi daun pohon mangga di depan sekolah yang hampir tiap hari memberikan pekerjaan buat penjaga sekolah.

Ah, itu Bulan, kata ku dalam hati. Kaki ku otomatis berhenti seketika Bulan lewat depan. “Hai Angga.”, sapa Bulan padaku. “Hai juga lan. Sehat ?”, jawabku. Duh, pertanyaan bodoh macam apa itu. “Baik kok ngga. Duluan yo. Ditunggu Bintang soalnya. Bye.”, jawab Bulan.

Tak terasa air asin meluncur deras dari atas kepala menelusuri seluruh badan. Dari hulu ke hilir. Mungkin keringat sudah tahu waktu kapan dia harus keluar. Semacam BOT twitter yang sudah tahu kapan harus muncul.

Pelajaran dimulai dan aura negatif sudah mengelilingi guru ku yang berdiri di depan. Entah, selalu bosan kalau pelajaran matematika. Mungkin ini alasanku milih IPS daripada IPA. Tak ada penyesalan sama sekali pas pilih IPS daripada IPA.

Bel istirahat berbunyi. Bulan masih sama seperti kemarin. Ia tak banyak omong. Sekedar melayani sapaan orang. Padahal biasanya ia punya segudang topik yang ingin dibagi ke orang banyak. Atau bisa bikin perut teman-temannya kesakitan karena ketawa. Ya, itulah Bulan yang dulu.
Entah setan apa yang merasuki otak ku. Aku ajak Bulan keluar kelas dan ngobrol di luar kelas. Rasa malu dan keringat yang biasanya keluar sesuai jadwal, terasa hilang dan mengerti kondisi yang punya badan.

“Bulaaaannn, mau ngobrol nih. Sharing gitu. Boleh kan ?”, tanyaku ke Bulan. “Eh iya silahkan Ngga. Ada apa toh. Kok kayaknya penting gitu. Baru putus sama ceweknya ya.”, tanyanya nyerocos sambil makan permen. Ah, ini Bulan yang dulu. Banyak ngomong. Kadang ngeselin tapi ngangenin. Itulah Bulan.

“Eh cewek apaan sih. Orang gak punya cewek alias single, bukan jombl.”, kataku. Dia ketawa sambil jitak kepala ku. “Dasar Angga si raja gombal. Ga mau di bilang jomblo tapi single. Sama aja geblek. Hahaha.”, jawab nya. Entah, hati ku mulai senang. Dia tak lagi cemberut.

“Gini gini lan, kamu kenapa sih ? Kok kemarin-kemarin cemberut terus. Ada masalah apa ?”, tanyaku. Bulan sontak kaget mendengar pertanyaanku yang mungkin menohok. “Lah aku kenapa ngaa ? Aku biasa aja kok.”, jawabnya ngeles. “Bohong banget kalau kamu biasa aja. Jangan bohong lah. Aku tahu kamu ada masalah. Kamu jadi aneh ih. Suka diem sendiri, murung sendiri. Ga suka ah aku.”, kataku.

Bulan diam sebentar. “Hahah, kamu lebay ngga. Suer aku ga ada masalah kok. Cuma malas aja buat ketawa-ketawa. Hahaha. Aku aneh ya ngga.”, jawabnya sambil ketawa. “Iya kamu aneh kalau sedih murung gitu. Kamu ya yang suka ketawa dan bikin ceria. Aneh tau gak.”, ketusku. “Ih, Angga kok marah-marah sih. Takut ah. Hahaha.”, jawabnya sambil muka nya sok ketakutan.

“Bukan apa-apa lan, ada banyak orang yang rindu celotehan dan sikap mu yang lucu itu. Kamu gak sadar kan kalau banyak yang bisa ketawa karena tingkah mu.”, kataku. “Kalau boleh jujur, aku salah satu orang yang rindu sama tingkah lucu menggelikan mu. Meskipun kadang menjijikan. Hahah.”, kataku sambil ketawa. “Heh, jahat. Menjijikkan katanya. Marah nih. Hahaha.”, katanya sambil pukul tanganku.

“Eh serius. Ada yang aneh pas suasana kelas jadi sunyi senyap dan garing. Yang selama ini bisa menghidupkan suasana kan Cuma kamu. Aku yakin, banyak yang ngerasa aneh.” “Aku gak pengen tahu alasanmu. It’s your privacy. Cuma, aku pengen kamu tahu aja kalau ada banyak orang yang terbiasa hidup dengan celotehanmu dan merindukan tingkah lucumu.”, kataku.

Ia diam sejenak. “Iya sih ngga. Aku akhir-akhir ini merasa kalau aku agak murung. Tapi santai ya. Aku sudah baikan kok. I will make you and my friend cries caused me. Ahaha.”, jawabnya sambil ketawa lepas.

Bel masuk sudah berbunyi. Entah gonjalan yang sempat ada di hati seakan menghilang. Lega rasanya. Seluruh kegelisahan sudah tersampaikan. Meskipun saya tak tahu alasan dia murung. Asalkan dia kembali tersenyum, itu luar biasa.

Di mataku, Bulan itu sebagai pelengkap sekaligus pemeran utama dalam cerita kehidupanku. Tanpa Bulan, hidupku sepi. Mungkin ini yang dirasakan teman-teman yang lain. Bulan sukses menorekan bintik putih di kertas hitam perjalanan hidupku. Tetaplah menjadi Bulan yang menyinari semua orang di kegelapan malam. Tetaplah tersenyum, Bulan.

Selasa, 18 Maret 2014

Pulau Matahari

“Ayo yang bagus dong gerakannya. Lembek banget, sih.”

Kalimat itu membuat Helen sedikit mengrenyitkan dahi. Sampai jenong yang selama ini dia banggakan seakan tidak kelihatan. Memang bukan sekali ini saja dia merasakan kerasnya kehidupan yang dia jalani. Bukan dia saja semestinya. Karena ada sekitar 20 an gadis yang sedang berusaha meraih impiannya. Impian yang bukan sekedar mimpi.

Tempat apakah ini ? Apa tempat ini tepat bagi Helen dan anak-anak lainnya mewujudkan mimpinya ? Helen pun tak akan tahu seperti apa jawaban yang mewakli pertanyaannya tadi. Bahkan, Helen yakin kalau teman-temannya tidak ada yg bisa menjawab. Tempat macam apa ini ?

Helen dan anak-anak lainnya ibarat anak ayam yang kehilangan induk. Berjuang untuk dapat merasakan nikmatnya jagung sendiri. Tanpa induk artinya kebingungan. Yang bisa mereka lakukan cuma berharap induknya datang dan membantu mereka menjalani hidup. Atau paling tidak, mereka yang mencari induknya sendiri, tapi mereka sudah tahu dimana letak induk mereka. Sebuah kepastian yang tidak pasti.

“Ma, aku capek banget nih. Badanku lemes banget.”, kata Helen ke sahabatnya, Maria. “Udah, kamu istirahat aja, len. Ga usah dipaksakan. Nanti km sendiri yang repot.” Helen masih mencoba buat ikutin irama. Tapi rasa sakit yg ada di badannya tak kunjung hilang atau mereda sekalipun. Malah semakin bertambah dan sekarang rasanya semakin mencekik. “Tapi aku takut kena semprot sensei nih. Tau sendiri kan klo udah marah. Macan aja kalah serem.” “Etdah len, km masih sempet-sempetnya bercanda. Udah, izin aja sana. Pasang wajah pucet sana.” “Apaan pasang wajah pucat. Ini aku udah pucat mukanya. Jangan di pucat-pucatin. Jadi mayat ntar aku. Hahah.” Kataku sambil berlalu meninggalkan Maria dan menuju ke Sensei.

“Sensei, aku izin istirahat dulu bisa ya. Ini lagi ga enak badan banget. Kudu muntah. Lemes banget.” Kata ku sambil pasang muka memelas. Kebangetan kalau ga di izinin, pikirku. “Iya udah, kamu istirahat aja dulu, len. Jangan terlalu dipaksain. Ntar km juga yang makin sakit. Duduk sana sudah” Kata dia sambil menunjuk ke kursi di sebelahnya. “Makasih sensei.” Aku menutup pembicaraan sambil berjalan ke kursi.

Sampai kapan aku harus seperti ini. menjemput impian tapi aku pun tak tahu, apa ini benar impianku atau impian orang lain yang sedang aku rebut. Atau bahkan, impian ini tidak pernah ada dalam otakku. “Ah, ini masih awal. Belum saatnya menyerah.” Hanya kalimat itu yang bisa mengalihkan rasa putus asaku yang selama ini terus menghantui.

Tak cuma Helen yang meringik kesakitan sebenarnya. Banyak gadis-gadis lain yang sering mengeluh kesakitan dan merasa saya harus berhenti dan blablabla. Tapi apa kita semua berhenti ? Tidak. Karena kita masih ingin mengejar impian kita. Tapi sekali lagi, impian semacam apa ini ? Dan apa ini impian kita ?

Kita menyebut tempat ini sebagai Pulau Matahari. Pulau yang akan membuat kita bersinar atau pulau yang bisa buat kita makin cantik di kegelapan layaknya rembulan di kala malam. Karena bulan tanpa adanya matahari tidak akan terlihat cantik.

Alasan lain kita masih bertahan adalah itu. Pulau Matahari. Pulau cantik yang berhasil mengumpulkan 20 an gadis remaja. Bersatu meraih mimpi yang sama. Pulau yang bersilau dari kejauhan dan bersinar dari penjuru semesta. Ya, Pulau Matahari namanya. Pulau yang hanya di isi 20 gadis-gadis remaja dan satu ketua suku. Membuat pulau ini semakin nyaman di tempati.

Tak ada keriuhan dan kemacetan dan bunyi klakson. Tak ada polusi asap kendaraan ataupun polusi dari asap pabrik. Yang ada cuma rasa nyaman yang kanan kiri jalan di pulau ini di selimuti kabut. Dingin sekali pulau ini. Tak seperti namanya memang. Pulau Matahari dengan nama Matahari yg identik dengan rasa panas, gerah, dan semua orang pasti enggan lama tinggal di pulau yang panas.

Tapi ini beda. Pulau ini sungguh indah. Banyak sekali turis-turis yang ingin datang lagi setelah sempat berkunjung ke tempat ini. “Beautiful Place.” Kata salah satu turis dari Jepang yang sempat berkunjung ke pulau ini. Bagi yang belum sempat kesini, mereka ingin kesini. Ke tempat yang orang lain yang tidak tahu apapun tentang pulau ini,ketika di kasih tahu tentang pulau ini, akan tertarik untuk datang.

Pulau ini tak pernah sepi para wisatawan. Baik wisatawan asing atau wisatawan domestik. Iya, penghuni tetap cuma 20 an orang. Tapi wisatawan yang datang tiap hari mencapai 500 orang. Pulau kecil ini serasa sesak oleh lautan manusia. Tua muda pria wanita.

Apa yang mereka lakukan di pulau ini ? Menikmati pulau ini ? Pasti. Beli marchendise ? Of course. Tapi mereka juga menikmati pertunjukkan kita. Ya, kita setiap hari harus berdiri di atas panggung untuk membuat para wisatawan merasa gembira. Kita bernyanyi menari membuat mereka senang. Kita tidak boleh mengecewakan mereka. Makanya kita setiap hari harus belajar untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan.

Setiap malam kita harus membuat mereka keluar dari pulau ini dengan membawa perasaan senang. Setiap malam. Apa tidak capek ? Pasti. Tapi kita ikhlas menjalani itu. Demi meraih mimpi kita. Kita ? Mimpi kita? Ah, sudahlah. Mungkin itu impian satu dua orang yang harus kita lakukan agar menjadi mimpi kita bersama.

Wanita itu makhluk yang paling sensitif. Kadang secuil masalah bisa menjadi besar dan seakan dibesar-besarkan. Lalu penghuni pulau ini apa seperti itu? Jelas. Rivalitas satu penghuni dengan penghuni lain itu pasti. Mereka saling berebut simpati dari pengunjung. Apa yang mereka lakukan untuk mengalahkan rivalnya ? Menampilkan yang terbaik. Saling menjatuhkan ? Tidak pernah. “Meskipun semuanya adalah rival, tapi kita mengejar mimpi yang sama.”, kata Sandra pemimpin kita.

Helen sempat merasa kalau kehidupannya ibarat katak dalam tempurung. Terkungkung dalam ketidak pastian. Terisolasi dari kehidupan luar. Bukan karena dia tidak bisa bebas untuk hidup, tapi ada berbagai aturan yang harus di taati penghuni pulau ini.

Biasa disebut dengan Peraturan Cinta. Peraturan yang wajib ditaati seluruh penghuni pulau ini dengan alasan cinta. “Kita cinta kalian semua. Jangan mencoba menubruk peraturan ini. Peraturan ini toh juga untuk kalian semua. Agar kalian fokus mengejar mimpi kalian.”, kata sang empunya Pulau. Pulau ini ada yang punya ? Iyalaaah. Ada yang menghuni pasti ada yang punya. Siapa dia ? Investor asing yang menanamkan modalnya ke Pulau ini. Pulau ini di kelola orang asli sini tapi karena dia punya banyak bisnis, jadi dia menyerahkan pulau ini pada kita.

“Ingat, selalu senyum ramah ke pengunjung. Jangan sampai mereka kecewa sama kalian.” “Ayo Indah, mana senyumnya.” “Kamu juga Maria, matanya ikut berbicara juga dong.”

Hampir setiap haru saya dengar kalimat itu. seakan menjadi makanan sehari-hari kita semua. Jenuh itu pasti. Kadang kita bebas dan bisa sejenak mengunjungi pulau yang lain. Sejenak untuk melepas kerinduan dengan keluarga atau bisa jalan-jalan dengan teman kita diluar pulau ini.

Jangan pernah tanya apa kita punya pacar atau tidak. Beberapa punya pacar dan beberapa yang lain tidak. Boleh pacaran ? Pemilik pulau ini memberika peraturan cinta yang tadi, salah satu isinya adalah dilarang pacaran. Katanya sih biar fokus. Pacaran atau tidak, kalau pintar atur waktu, it’s not problem. Really. Indah, Maria, Hany, Giselle, dan Oca. 5 orang itu yang punya pacar. Inilah enaknya jadi wanita. Sensitif dan bisa merasakan aroma percintaan. Yang lainnya apa bersih dari percintaan ? Tidak. Helen salah satu gadis yang diam-diam menaruh hati pada salah satu pengunjung. Pengunjung tetap malah. Karena hampir tiap hari dia mampir ke pulau ini.

“Kalau aku sih, karena masih kecil jadi ga tau apa-apa sama begituan.” Kata si Yunda. Preettttt. Pacar sih ga ada, tapi gebetan itu ada. “Lebih baik mencinta dibanding dicinta.”, kata Nadia. Kalau bagi Anna, “Setiap wanita itu semua. Kita semua itu punya cinta. Semua orang juga begitu. Kita juga seorang perempuan biasa. Kuat atau tidaknya kita membendung perasaan ini aja. Kalau pertahanan hati kita kuat, aman deh. Kalau lembek, ya cupu namanya” Kata sensei kita dan sambil diiringi senyuman kecut dari lima orang yang saya sebut di atas yang sudah memiliki hubungan cinta.

Adilkah peraturan cinta yang tidak melihat perasaan cinta kita ? Demi impian kita? Preeettt.

Tak sedikit teman-teman Helen yang menyerah. Sebagian juga telah memutuskan untuk pergi dari pulau ini. Mengejar mimpi yang lain, katanya. Ada yang pergi karena dia merasa kurang bebas untuk berekspresi. Ini bukan hidup saya, katanya. Atau yang pergi karena muak dengan peraturan cinta. Sampai akhirnya kita tersisa 17 orang saja.

Sedih kehilangan teman ? Pasti. Apa tidak ingin ikut jejak mereka ? Ingin sekali, tapi berat rasanya pergi dari pulau ini, sangat berat. Pulau sederhana nan indah ini seakan memiliki magnet yang daya lekatnya sangat kuat. Sebanding dengan daya gedor Messi dan Cristiano Ronaldo kalau di sepakbola. Atau sebanding dengan daya rindu seorang Romeo terhadap Juliet.

Mereka telah pergi dari pulau ini. Pulau yang Helen pun tak berfikir sedikitpun untuk menetap. Bahkan untuk sekedar berkunjung pun, daia tak ada fikiran sama sekali. Lalu kenapa dia menjadi penunggu pulau ini. Wait, ga enak banget bahasanya penunggu. Karena dia ingin mewujudkan mimpinya. Preeettt, mimpi lagi.

Hari itu, tanggal 20 Februari yang bertepatan dengan hari Jum’at. Setelah kita menghibur para pengunjung atau sekitar jam 10 malam. “Ayo semuanya kumpul disini. Ada yang mau saya bicarakan dengan kalian semua.” Kata pemimpin Pulau Matahari yang biasa kita panggil Bang Angga sambil melambaikan tangan ke arah kita yang sedang kecapekan pasca perform. “Ada apaan sih, Len ? Aku penasaran nih. Kok kayaknya penting banget gitu ya.” Kata maria ke Helen. “Aku juga ga tau nih, Mar. Bingung juga aku. Tapi kayaknya penting banget gitu.” “Iya juga sih. Yaudah, dengerin aja dulu, Len.”
“Jadi gini, kita sudah lama sekali menghuni Pulau Matahari. Suka duka selama hampir setahun sudah kita lewati bersama. Dari yang kita ber 20 orang sampai yang sekarang tinggal 17 an orang. Pulau ini hampir jadi rumah kedua kita kan ?” Katanya sambil menatap mata kita satu per satu. Kita kompak menganggukkan kepala tanda menyetujui. Tapi Helen dan teman-temannya masih belum juga mengerti maksud dari perkataan Bang Angga itu apa. Karena masih misterius kan.

Apa Bang Angga mau keluar dari Pulau ini ? Atau Pulau ini akan di gusur ? Atau jangan-jangan. Terlalu banyak spekulasi yang muncul di pikiran. Dan belum tentu spekulasi itu benar.

“Saya yakin, Pulau ini memberikan sejuta kenangan di diri kalian. Saya bisa melihat itu dari mata kalian. Kita harus meninggalkan Pulau Matahari ini. Cepat atau lambat. Paling cepat bulan depan atau dua bulan ke depan. Kalian harus siap dan harus mulai di persiapkan. Bukan untuk membereskan perlengkapan kalian. Tapi kesiapan kalian dari dalam diri kalian.” Satu persatu teman-teman Helen mulai merubah mukanya. Dari yang awalnya penasaran sampai akhirnya sekarang berubah jadi sedih. Raut-raut kesedihan jelas tampak dari mimik muka mereka.

“Pulau ini telah menjadi kenangan indah yang akan selalu ada di hati dan aliran darah kalian. Tidak akan pernah bisa hilang. Pulau inilah yang selama hampir setahun menjadi teman hidup kalian. Menjadi pendamping kalian. Dan yang mengantar kalian hingga kalian memiliki banyak pengunjung di banding pentas yang lain. Saya akui itu.” Bang Angga melanjutkan pembicaraannya. Kita semua diam. Tanpa ada yang bisa berkata-kata sedikitpun.

Pimpinan kita, Sandra yang seharusnya menjadi orang pertama yang menanggapi ini juga diam. “Bang, kenapa kita harus pergi dari sini ? Kita di usir ? Belum bayar pajak ?” celetuk, Manda. Manda memang salah satu orang yang polos. Entah polos atau geblek. Hampir mirip soalnya. Setelah celetukan Manda tadi, suasana mulai mencair. Apalagi setelah kita ketawa semua mendengar celetukan itu.

“Hahaha, bukan Manda. Tapi karena kita sudah harus pergi. Waktu kalian di Pulau ini sudah selesai. Kalian sudah hebat dan bukan di tempat ini lagi. Level kalian sudah bukan di Pulau ini lagi. Terlalu mudah pulau ini bagi kalian. Ada pulau-pulau yang lain yang harus kalian taklukan. Kalian siap menaklukan pulau yang lain ? kata Bang Angga. Kita masih diam. “Kalian siap?” tanya nya lagi. Semua masih diam membisu. “Kalian siap atau tidak menaklukan pulau yang lain ?” Kali ini nada nya mulai meninggi. “Saya siap, bang.” Ucap Sandra sambil di ikuti teman-teman yang lain. “Kalian siap ? Jawab yang kencang.” “Siaaaappp.” “Ini yang saya suka dari kalian. Semangat kaliam yang membuat kalian menjadi seperti ini. Hebat kalian. Salut buat kalian. Tepuk tangan buat kalian semua.” Kata Bang Angga sambil mengajak kita tepuk tangan bersama.

 “Kita harus memberikan 100% dari yang kita punya untuk membahagiakan pengunjung.”
Sampai akhirnya besok adalah hari terakhir kita menjadi penghuni Pulau Matahari. Artinya hari ini kita harus beres-beres. Pasti bisa, pasti. Kita harus mempersiapkan hati kita. Untuk sekedar sehari melupakan Pulau ini saja sangat sulit. Apalagi besok, kita harus pergi meninggalkan pulau ini. “Ah, ini tidak mungkin.” Gumam Helen dalam hati.

Hari perpisahan pun tiba. Saatnya kita pergi dan bersiap menghuni Pulau yang baru. Pulau yang sama sekali kita tidak mengerti. Apa ada hewan buas ? Apa ada penghuni lain ? Atau ada rintangan yang jauh lebih sulit ? Karena kata Bang Angga, level Pulau ini jauh lebih besar dibanding Pulau Matahari. Tapi kita pasti bisa.

Para pengunjung berdatangan. Mereka membawa karangan bunga, ucapan perpisahan untuk Pulau Matahari yang kita yakin, mereka sangat merindukan Pulau Matahari. “Mereka yang sekedar berkunjung pun merindukan pulau ini, apalagi kita. Kita yang menjadi penghuni pulau ini. Ah, sulit sekali” gumam Helen lagi.

Mau tidak mau, Pulau ini harus kita tinggalkan. Akhir pertunjukkan, ada spanduk besar yang di bentangkan pengunjung yang bunyinya, “Terima Kasih Pulau Matahari. From turis pulau matahari.” Spanduk yang tentu bikin bulu kuduk merinding. Bukan karena ada hantu, tapi kita merasaan betapa besar rasa cinta mereka pada kami dan pulau ini.

Tanpa sadar tangisan kita mendampingi perpisahan ini. Kita semua yang ada di pulau ini menangis. Entah menangis sedih ataupun  menangis gembira. Tak satupun yang tahu tangisan seperti apa ini.
“Jangan menangis Helen. Jangan menangis Sandra.” Sayup sayup terdengar teriakan dari para pengunjung. Yaaaa, makin membuat tangisan kita menjadi semakin kuat.

Terima kasih Pulau Matahari. Terima kasih atas segala kenaangan indahnya. Suka duka yang bercampur menjadi satu akan selalu kita kenang. Selamat datang pulau baru. Semoga menjadi pulau yang menjadi teman terbaik bagi kami.


Terima kasih seluruh penghuni Pulau Matahari

                            


Kamis, 13 Februari 2014

Valentine Untuk Sang Idol

14 Februari, kalau kata orang itu dinamakan sebagai hari kasih sayang. Hari dimana orang berbondong-bondong memberikan ucapan kasih sayang untuk orang yang tersayang. Kadang malah memberikan hadiah buat orang yang tersayang. Tak peduli berapa harganya itu barang. Yupz, 14 Februari dikenal sebagai Hari Valentine. Hari kasih sayang.
Bagi gue, tidak ada hari-hari tertentu utk mengungkapkan rasa sayang kita ke orang. Tak peduli itu buat sahabat, keluarga atau pacar. Tapi gue mengikuti trend dan gue pun dulu ikut merayakan “upacara” valentine.
Nama gue Dinda. Nama panjang gue Adinda Saraswati. Gue entertain. Gue seorang anggota dari salah satu idol group di Indonesia. Awalnya gue ga ada niat sama sekali untuk masuk di dunia entertainment. Gue salah satu anak yg memang tidak suka sama begituan. Dunia entertain bagi gue adalah dunia nya orang yang punya keunggulan secara fisik semata. Dan gue ga merasa punya itu.
Gue lebih suka bergelut dengan kehidupan yang keras dan liar. Kehidupan yang selama ini gue jalanin dengan penuh tantangan. Gue lebih suka berorganisasi dibanding bergelut dengan gemerlap dunia nya artis yg glamour.
Sampai akhirnya gue kenal dengan salah satu idol group. Idol group yang katanya beda dg girlband. Terserah sih, bagi gue ketika ada kreasi anak negeri yg bisa merambah dunia akan gue dukung. Gue tertarik buat gabung di idol group. Gue cuma mau buktikan sendiri aja sih, apa bener, masuk di idol group itu susahnya bukan main. Mumpung lagi ada pembukaan audisi.
Gue yang memang tinggal di Jakarta ga kesulitan buat ikut audisi. Karena audisinya memang di lakukan di Jakarta. Audisi di adain dalam 4 tahap. Setiap tahapan jangka waktunya beda. Tapi jika di total, memakan waktu 3 bulanan lebih.
Ketika daftar audisi, gue lagi deket sama salah satu cowok. Dia temen sekolah gue. Namanya Brian. Kita deket sejak kelas 1 SMA. Awal kenal ketika masa orientasi siswa baru. Gue nyaman aja pas lagi sama dia. Sampai sekarang kelas 2, gue pun masih deket sama dia. setahap lebih deket dibanding kelas 1. Belum pacaran sih. Gue sih suka sama dia. Tapi kan ga enak kalau gue bilang duluan. Malu lah, gue kan cewek hahah.
Sampai akhirnya, gue di terima di idol group itu. Seneng banget rasanya. Bener-bener ga nyangka banget gue. Karena awalnya gue ga niat buat ikutan. Tapi gue di awal bergabung, agak down pas manajemen bilang kalau seluruh member dilarang untuk berpacaran. Artinya, gue harus bisa menahan perasaan gue buat Brian.
Awalnya, gue merasa itu mudah. Karena bisa lah di siasati nanti. Masih ada yg namanya backstreet dan masih bisa menyembunyikan rahasia. Rahasia yang hanya gue dan Brian yg tahu. Tepat sebulan setelah gue resmi jadi bagian idol group itu, gue jadian sama Brian. Brian  bilang kalau dia sudah suka sama gue sejak lama. Tapi dia takut kalau gue nolak dia. Padahal gue juga suka sama dia.
Hari-hari gue semakin indah. Karir gue di idol group itu semakin mantap. Gue semakin siap untuk lebih fight untuk mendapatkan posisi inti di sana. Karena memang di idol group ini, tidak mudah tuk masuk senbatsu. Senbatsu itu bisa dikatakan member terpilih utk mengisi single tertentu atau posisi tertentu. Gue harus bener-bener fight.
Apalagi dukungan dari fans buat gue itu sangat mengalir deras. Dan itu jadi motivasi gue untuk terus berjuang. Gue memang memulia “kehidupan baru” gue di idol group ini dari titik terendah. Gue harus berjuang dari tim trainee. Tim yg memang wajib dijalani seluruh member baru. Bagi gue, itu adalah pembuktian awal. Ketika di tim trainee gue gagal, gimana gue bisa berjuang ketika udah masuk tim. Jadi gue bener-bener berjuang. Dan kekuatan terbesar gue dari fans. Selain dari keluarga dan Brian tentunya. Hihihi.
Kehidupan cinta gue juga berjalan mulus. Gue tahu, ketika backstreet itu resikonya besar. Apalagi ketika ketahuan publik dan fans gue. Hukuman sosial lebih berat di banding hukuman pengadilan. Gue ga mau kejadian yg menimpa idola gue, member AKB48, Minami Minegishi menimpa gue. Skandal dia kebongkar dan dia “dihabisi” publik dan fans. Dan gue ga mau itu. Jadi gue sama si Brian berusaha menutupi rapat-rapat perihal hubungan gue ini.
Tak terasa hubungan gue memasuki bulan ke 8. 8 bulan sudah gue menutupi hubungan gue sama Brian. Tapi pas memasuki bulan ke 5, gue merasa kalau ini sangatlah berat. Brian mulai malas dengan kondisi yang kayak gini. Sebenarnya kasihan gue sama dia. Tapi mau gimana lagi, gue ga mau hubungan gue putus dan karir gue rusak.
Dan bulan depan adalah Valentine Day. Bulan kasih sayang. Tentu gue mau ngerayain Valentine bareng Brian. Dan si Brian sejak Januari juga sudah ngajak gue buat jalan-jalan. Gue mau ngebuktikan cinta gue ke Brian. Gue akan ngebikin Brian senang. Tentu Brian pun gitu.
Menjelang tanggal empat belas februari, semua planning yg gue rencanain ternyata rusak. Gue ada show dari tanggal 13 sampai tanggal 17. Gue mau ga mau harus mementingkan show. Dan gue bingung karena gue harus batalin janji yg sejak awal sudah gue susun ke Brian. Tapi mau ga mau gue harus segera ngomong ke Brian.
Sampai akhirnya, gue ajak Brian ketemuan di sekolah. Dan gue omongin semuanya ke Brian. “Brian, kamu boleh marah ke aku. Tapi aku harus ngomong ini. Aku dari tanggal 13-17 Februari ada kerja. Dan yg pasti, aku belum bisa jalan-jalan bareng kamu.” Brian menjawab, “Iya aku tau kok. Gue harus menghargai keputusanmu. Gue ga mau menghambat karirmu. Gue mau hubungan kita break aja dulu. Bukan karena masalah Valentine ini kok. Tapi memang gue ga mau hubungan kita ini malah mmembuat karirmu rusak.” Sontak gue nangis dengar jawaban dari dia. Gue ga tahu harus ngapain lagi. gue shock setengah mati.
Balik dari sekolah, gue masih tetep belum bisa menyembunyikan kegalauan gue. Gue coba utk interaksi dengan fans gue via media sosial. Hal yg bisa bikin gue gembira. Moodboster lah klo bahasa gaulnya. Gue ajak mereka interaksi, walaupun gue tidak bisa balas interaksi mereka secara langsung. Sebenarnya gue juga ingin ajak mereka interaksi langsung via medsos. Tapi apadaya, golden rules mengatakan bahwa itu haram. Gue yakin kalau seluruh member pasti ingin interaksi dengan fans. Dan fans pun pasti ingin segala keluh kesah dan keinginannya di tanggapi langsung oleh member.
Tanggal 12 atau sehari sebelum gue bertolak ke Malang karena ada perform di sana, gue sempet ngetweet “H-2 menjelang Valentine Day. Ada yg spesial ?” Dan banyak fans yg langsung membalas tweet saya. Yg paling banyak adalah mereka ingin kasih gue gift atau hadiah. Jujur, gift mereka banyak sekali di kamar. Gue sediakan satu almari besar yg isinya gift dari fans. Gue simpan seluruhnya. Gue seneng banget ketika ada gift yg masuk ke gue. Artinya, mereka menghargai dan menganggap klo keberadaan gue itu ada.
Tanggal 13 gue bertolak ke Malang bareng seluruh member. Gue ga bisa menyembunyikan raut kekecewaan gue karena besok Valentine day dan gue lagi jauh dengan Brian. Karena melihat tingkah laku gue yang ga biasa, temen gue si Nadia nyamperin gue. Dia nepuk pundak gue sambil bilang, “Lo kenapa sih ? Dari di Jakarta sampai di Malang, mukamu murem aje. Keselek biji salak, neng ?” Gue cuma bisa bales dengan senyuman doang. Sampai akhirnya gue ga kuat dan gue tumpahin segala isi hati gue ke Nadia. Nadia bisa dikatakan sebagai sohib gue. Gue sama dia dikenal dengan geng metal. Karena kita suka lagu metal. Chemistry kita kuat banget. Bahkan gue berani bilang, kalau di AKB48 ada Yuko-Acchan, klo di Indo ada gue sama Nadia. Gue bilang semua masalah gue ke Nadia. Dia kaget bukan main dengar cerita gue. “Gue cuma ga pengen lo keluar dari sini cuma karena cowok. Usaha lo buat masuk kesini ga mudah. Jangan nyerah hanya karena cowok.”, kata Nadia. Dan kata-kata Nadia kayaknya merasuk sampai ke otak gue. dalam otak gue mikir kalau itu benar. Tapi hati gue belum bisa membenarkan itu. Gue cinta sama Brian dan belum siap kehilangan Brian.
Frustasi gue saat itu. Mau nangis juga ga bisa. Karena gue di tuntut untuk profesional. Sesekali gue ngetweet. Sampai pada puncaknya, gue ngetweet “H-1 Valentine dan masih belum ada yg spesial. Aku yakin Valentine atau hari kasih sayang bukan hanya untuk dan dari pacar, tapi bisa dari sahabat dan teman-teman. Aku akan berusaha memberikan yang terbaik untuk seluruh teman-teman yang ada di Malang. Mohon do’anya.” Banyak banget yang merespon tweet gue tadi. Banyak yg nebak klo gue skrg lagi ada masalah. Banyak yg kasih support buat gue. Dan jujur gue tarharu banget.
Tiba saatnya gue dan teman-teman perform. Perjalanan dari hote ke venue memakan waktu yg lumayan, sekitar 20-30 menit. Gue sempatkan buat baca mention yg masuk ke akun twitter gue. Banyak sekali yg kasih support ke gue. Gue sempetin buat nyapa mereka, “Halo semuanya. Apa kabar semua ? Semoga semuanya sehat yaa. Mohon do’anya yaa. Semoga perform kita diberi kelancaran. Tunggu kejutan dari kita yaa ^^.”
Tiba di pintu gerbang gedung, gue kaget dengan banner besar yang terpasang rapi. Banner itu jelas memampang foto gue dan foto all member. Tulisannya “Selamat Datang di Bhumi Aremania.” Bis yg membawa rombongan mulai masuk dan menuju ke backstage. Gue mulai grogi. Wajar sih klo gue grogi. Ini pertama kalinya gue ikut tour ke luar kota.
Show di mulai. Dan Overture pun menggema se antero penjuru gedung. Lampu sontak mati. Bukan karena ga kuat, tapi memang sengaja di matikan oleh tim. Ketika Overture selesai, dan kita masuk, otomatis lampu di hidupkan. Lagu pertama kedua dan ketiga berlalu dengan sukses. Masuklah di lagu unit song. Gue masuk ke dalam venue dan kaget karena ada spanduk besar bertuliskan “Valentine Untukmu, Adinda.” Ada foto gue besar. Spanduk ini di pasang sama fans gue. Ukurannya sekitar 2X3 meter memanjang ke bawah. Gue balik ke backstage dan gue terharu. Gue mencoba menahan tangisan gue. Pas sesi MC, tangisan gue pecah. Gue nangis di depan mereka. Gue malu sebenernya. Tapi gue ga peduli. Gue ga nyangka begitu besarnya dukungan dari fans buat gue. mereka sampai rela ngebikan spanduk besar begitu besarnya. Gue hanya mampu bilan, “Terima kasih semuanya. Terima kasih spanduknya, bunganya, seluruh gft buat aku. Jangan pernah lelah mendukung saya dan seluruh tim. Akan kita balas dukungan kalian dengan semangat kita dan saya pastinya. Terima kasih semuanya.” Nadia yg ada di samping gue juga ikutan menangis.
Show selesai dan seluruh tim berkumpul untuk mengungkapkan kegembiraannya dan tak lupa mengucapkan kata syukur ke tuhan. Gue masih belum bisa move on dari kejadian tadi. Gue masih terharu dengan kejadian tadi. Gue merasa bersalah dengan gue mengkhianati dukungan mereka. Gue fokus ke hubungan gue, padahal mereka sangat kuat memberikan dukungan ke gue, gue menyesal dan merasa gagal menjadi idola yang baik.
Sebelum balik, gue sempatkan turun dari bis dan gue teriak ke sekumpulan fans gue. Gue tahu klo mereka fans gue karena mereka membentangkan banner dan spanduk gue besar. gue turun dan teriak ke mereka, “Aku sayang kalian. Maafkan aku klo belum bisa menjadi idola yg baik buat kalian. Jangan pernah lelah mendukung aku. Aku janji akan lebih giat lagi belajar dan berusaha agar bisa lebih baik lagi. Terima kasih semuanya. Aku sayang kalian.
Mereka ada yg teriak, “Kita sayang Adinda. Kita akan selalu mendukung Adinda. Tetap semangat Adinda. Jangan pernah bersedih.” Gue balik ke bis sambil melambaikan tangan ke mereka. Gue menangis sambil masuk ke bis. Gue bingung mau ngomong apa ke mereka. Dukungan mereka begitu berarti buat gue.

Gue sekarang sadar, bahwa gue tanpa mereka (fans) bukan apa-apa. Gue janji ga akan pernah melupakan mereka. Bagi gue, mereka adalah segalanya. Gue ga akan pernah berhenti berjuang demi mereka yang telah melakukan apapun demi gue. Mereka penyemangat gue. Gue minta maaf klo gue belum bisa jadi idola yg baik bagi mereka. Dan gue sadar juga, kalau ini kado Valentine terindah buat gue. Kado terindah yang gue dapatin bukan dari pacar tapi dari mereka yang jauh lebih berharga dibanding pacar, yakni teman-teman gue. gue anggap fans adalah teman dekat gue. Terima Kasih kado Valentine terindah, nya kawan.