Ultras Mania Gresik

Kita pernah juara. Gresik pernah juara. Dan sekarang "KAMI RINDU JUARA" Liga Indonesia

Roma Club Indonesia

Kami ada. Kami berpesta. Kami bersatu. Hanya untuk satu kebanggaan, AS ROMA

AS ROMA

LA ROMA NON SI DISCUTE SI AMA

Fan Fiction

Cerita fiksi untuk meluapkan ekspresi jiwa. Tentang hiburan, luapan perasaan, dan pengorbanan.

48 Family

The power of Idol. Idol can't make you horny, just can make you proud with them. Kita pecinta idol sebagaimana kita mencintai sepakbola.

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Februari 2015

Marahmu Rinduku

Aku benci dengan orang yang suka marah. Aku benci dengan kemarahan.

Saat itu hari pertama masuk perguruan tinggi. Perguruan tinggi yang sejak lama aku inginkan. Salah satu unggulan di jawa timur. Ada kewajiban untuk ospek saat itu. Cuma, karena memang aku malas untuk ikut hal yang menurutku tidaklah penting. Hanya melihat rektor cuap-cuap bilang hal normatif dan bikin kuping dan perut jadi panas.

Saat itu aku putuskan untuk sekedar duduk di sekitaran kampus. Disitulah aku bertemu dengan dia. Saat itu aku lihat dia duduk sambil memegang kamera DSLR. Entah apa dia memang ada passion disitu atau cuma ikut apa kata trend. Dia mengamati sesuatu. Aku tak terlalu jelas apa yang sedang ia amati.

Rasa penasaranku menang dan rasa malu pun hilang. Aku beranikan diri menyapa. “Hai.” Kataku. Dia diam saja sambil terus mengamati sesuatu yang saat aku lihat ternyata seekor kupu-kupu. Kupu-kupu itu terbang. Dia berbalik ke arahku. “Ah, kan kupu-kupu nya terbang. Kamu sih.”, jawabnya sambil muka yang sedikit marah.

“Eh, maaf. Aku ga tahu kalau kamu lagi lihat kupu-kupu. Maaf banget.” Kataku sambil menjulurkan tangan, tanda penyesalan. Dia diam sejenak. “Halo. Minta maaf ya.” Kataku sambil tangan aku arahkan ke muka nya. “Eh jangan sok akrab deh. Iya aku maafkan. Pergi sana.” Katanya sambil mengusir ku.

Hari itu berakhir sampai disitu. Iya, berakhir dengan sebuah perintah untuk pergi. Baru kali ini aku merasa sebuah kata “pergi” jadi begitu menyesakkan.

Kuliah hari pertama pun di mulai. Kuliah di minggu pertama hanya di isi dengan perkenalan. Hanya itu. Bosan rasanya. Durasi kuliah pun cuma 15-20 menit. Kata abangku sih normal. Minggu pertama katanya. Cuma kontrak kuliah. Bahas pembagian nilai dan penentuan ketua kelas. Oh iya, aku ambil jurusan Ilmu Politik. Ada beberapa mata kuliah yang saya harus sekelas dengan teman satu jurusan, dan ada beberapa yang lintas jurusan.

Aku ingat, saat itu mata kuliah Bahasa Indonesia. Mata kuliah lintas jurusan tapi masih dalam satu fakultas, Fisip. Saat itu teman satu jurusanku hanya beberapa saja yang sekelas denganku. Sebut saja Ikha, Dina, Andro, dan 5 orang lain yang jujur aku ga tahu siapa mereka. Mereka selalu bersama macam becak sama tukang becaknya.

Mataku melirik salah satu pojok kelas. Aku merasa ada yang aneh. Mungkin familiar. Lagi-lagi aku penasaran. Aku coba mendekat dan baam. Itu gadis yang sempat membentakku. Yang sempat menyuruhku pergi pas ospek.

Eh tapi kenapa dia malah mendekat. Aku gugup dan coba duduk di bangku paling depan. Jarang aku duduk di bangku depan. Kalau ga karena aku gugup aja ini. Dia melihat ke arahku. “Aku boleh duduk di sini ?” katanya sambil menunjuk ke bangku sebelah. “Eh iya silahkan.” Jawabku. Sejenak aku terdiam. Anak ini yang dulu sempat membentakku. Lalu sikap dia sekarang dingin banget. Aneh ini anak, pikirku dalam hati.

Kuliah berakhir dengan cepat (padahal sangat cepat). Aku bosan. Aku ingin pulang tapi rasanya malas di rumah. Belum sempat mikir mau pulang atau enggak, tiba-tiba ada tangan yang memegang pundakku, sambil berkata “Hei, sibuk kah ? Ke kantin yuk.” Aku menoleh. Kaget, ternyata dia gadis yang tadi. “Eh, anu. Eh anu.” Kataku terbata-bata. “Anu apa. Ayo ke kantin. Mau gak ? Aku yang traktir deh.” Katanya lagi. “Eh anu. Eh iya. Ayo deh. Ga usah di traktir tapi.” Jawabku. “Udah, santai aja. Anggap aja sebagai permintaan maaf yang kemarin.”, katanya sambil meraih tanganku. Dia menyeretku keluar. Gilanya, aku nurut aja.

Duduklah kita di meja di kantin. Dia pesan batagor 2 porsi sama teh 2 porsi. Aku yang traktir jadi aku yang milih makanan, katanya. Dia mulai buka pembicaraan.”Eh iya, aku Grace anak Komunikasi.” Katanya sambil menjulurkan tangannya ke arahku. “Eh iya aku Vito, anak Politik.” Jawabku sambil menyalami tangannya. Pembicaraan kita jauh banget. “Ah maaf ya, kemarin aku marah sama kamu. Aku baru pertama kali lihat kupu-kupu. Makanya aku pengen tahu lebih jelas. Mau aku foto sih, cuma kamu ganggu. Kabur deh dia.” Katanya sambil wajah yang mulai memelas. Lucu deh sebenarnya. Mukanya bisa berubah drastis. Dari yang dulu marah-marah sekarang melas. “Eh iya, santai aja. Aku ga tahu kalau kamu lagi lihat kupu-kupu.”, kataku.

Aku lihat dia mengeluarkan buku kecil. Semacam note gitu. Ah, mungkin dia anak sibuk. Selalu tulis kegiatan. Obrolan kita berakhir pas dia di telfon seseorang. Sudah dijemput katanya. “Itu pacarmu ?” tanyaku berani. “Bukan, itu supir. Aku ga boleh bawa mobil sendiri sama papa. Makanya supir jemput. Aku balik duluan ya. Sampai ketemu minggu depan.” Katanya sambil pergi.

Dini, mulai masuk ke dalam setiap lembaran cintaku. Bukan Grace. Iya, Grace memang sedang ada di dalam cerita persahabatanku. Bukan cinta. Aku mulai merasakan ada sesuatu dari Dini yang selama ini aku cari. Bukan kacamata, bukan parasnya. Tapi sekali lagi, aku malu. Dini nampak begitu jauh. Melihatnya dari jauh, nampak begitu indah.

Bukan tak pernah aku mendekatinya. Hanya mendekatinya dari kejauhan. Bukan mendekati kehidupannya. Pemuja rahasia, kalau kata Duta SO7. Tapi ini lebih dari itu. Lebih parah maksdunya. Sikap acuh mu, pancarkan keindahan. Memandangmu dari kejauhan, nampak menyenangkan. Melihatmu tak melihatku, sungguh menyakitkan. Namun, yang menyakitkan pun seakan bersahabat denganku. Ya, ketika kamu mengabaikanku, anugerah buatku.

Dan Grace, selalu ada. Pernah suatu ketika Grace curiga denganku. Pancaran mataku mengatakan kalau aku sedang bingung. Dan Grace dengan mudah memahami itu. Antara malu tapi ingin meluapkan semuanya padanya. Tapi Grace selalu punya cara untuk meyakinkanku mencertiakan kegundahan hatiku. Ya, dia mengerti emoticon yang terpancar dari dalam hati.

Tapi Grace kali ini beda. Dia nampak aneh. Tak seperti biasanya. Ia seakan acuhkanku. Bahkan ketika aku coba mendekat, dia bingung dan bertanya, “Kamu siapa ?” Sungguh sebuah pertanyaan yang cukup membuat tubuh kaku berdiri. Ada apa dengan dia ? Apa ada salah ? Dia berbeda. Tapi, ada satu hal yang tidak berubah. Marah. Dia selalu marah. Ingat saat dia bertanya, aku siapa ? Dia lakukan itu dengan marah.

Dan aku benci itu. Aku masih benci mereka yang mudah marah.

Aku bingung lagi. Tiba-tiba Grace kembali dekat denganku. Kata-kata “Kamu Siapa” yang sempat di ucapkan, seakan tak pernah terjadi. Aneh, sungguh aneh.

Aku sering main ke rumahnya. Bahkan, orang tuanya sampai kenal akrab denganku. Katanya, baru aku temannya yang pernah masuk ke rumah. Istimewa ? Ga juga. Karena aku ga merasa. Hahah, sombong sekali.

Dia minta tolong diajarkan cara menulis novel yang baik dan benar. Susah, karena aku pun cuma penulis lepas di LKM kampus. Bukan orang yang tepat, pikirku. Tapi dia ngotot minta tolong padaku. Sampai akhirnya, aku kenalkan dia ke temanku yang aku pikir dia lebih ahli. Dita namanya. Jurusan sastra. Anaknya telaten, sabar, dan satu lagi, dia ternyata teman satu sekolah Grace ketika SMA. Cuma, mereka berdua jarang bahkan tak pernah saling ngobrol. Aneh, pikirku.

Mereka makin akrab. Artinya, hidupku tak lagi diganggu sama marahnya Grace. Kadang, aku kasihan sama Dita, apa jadinya dia kalau setiap hari setiap saat si Grace marah. Untungnya, Dita anaknya sabar. Bahkan bagi kawan-lawan LKM, Dita ini ibu nya anak-anak. Istri-able.

Handphone ku bunyi. Ada sms rupanya. Dari Grace. Dia pamer, kalau dia sudah bisa bikin mini novel. “Eh kebo, novel ku udah jadi lho. Gak mau baca ?”, tanyanya padaku lewat sms. “Mau baca dong. Pasti jelek. Hahah.” Jawabku. “Nanti ya, tunggu saatnya. Eh, jelek-jelek gini ini real story ya. Aku bilangin Dita lho. Kan dia yang bantu aku.”, Jawabnya.

Seminggu setelah itu, Dita ajak aku ketemuan. Penting katanya. “Oke, aku tunggu di cafe deket kos mu deh ya. Jam 7 malam. Jangan telat. Telat traktir. Hahah.” Kataku lewat sms.

“Nih, novelnya Grace. Jangan dibuka dulu. Grace mau, buku ini dibuka pas hari ulang tahunmu.”, katanya sembari menyerahkan bukunya padaku. “Oh ini yang dia buat sama kamu ? Wait, kamu kok jadi akrab banget sama dia. Kuat sama dia ?”, tanyaku. “Iya yang dia buat sendiri. Aku cuma bantu dikit banget. Dia anaknya baik. meskipun emosi nya gampang naik turun. Labil sih. Tapi, aku yakin kamu juga sabar orangnya. Hahaha.”, katanya sambil ketawa. Ya, kia berdua akhirnya tertawa bersama. “Oh iya, ada surat dari Grace juga. Buka nya nanti pas kamu mau baca novel ini. Aku ga tahu apa isinya. Janji dibuka pas ulang tahunmu ya.”, katanya. “Oke, janji.”

Ulang tahunku kurang dua hari lagi. Atau 12 Desember. Hari ini Grace harusnya kuliah. Tapi sudah seminggu aku ga lihat dia di kampus. Ada yang aneh, pikirku. Dia pernah janji, akan datang pas ulang tahunku. Dia pernah janji akan rayakan ulang tahun bareng. Dia orang yang selalu menepati janji, pasti.

Karena curiga, aku datang ke rumahnya. Kosong. Tak ada satupun prang di rumahnya. Satpam yang biasa jaga di depan pun gak ada. Kosong. Ku coba hubungi dia pun sama, nihil.

Ulang tahunku pun tiba. Kosong. Perasaanku kacau. Aku mulai marah sama dia. Dia ternyata orang yang ingkar janji, pikirku.

Tok tok tok, suara pintu rumah ada yang ngetuk. Semoga itu Grace. Tapi yang datang Dita. Aku kaget, ada Dini. Dia yang selama ini jadi objek delusi bersih saya sekarang ada di depan mata. Dia masuk ke rumah. Mereka bawa sebuah roti. Mereka membawa kado. Tapi yang kumau cuma satu,Grace.

Dita suruh aku baca surat dari Grace dan buka novelnya. Berdebar hatiku. Berasa ada yang aneh. Memang. Mata mulai berkaca-kaca. Dini pun sama, dia terlihat gemetar, pun dengan Dita.

Dear Vito.
Ini sahabatmu, Grace. Selamat ulang tahun teman, sahabat, saudara beda orang tua. Semoga panjang umur (jangan sepertiku) dan semoga sukses (jangan sepertiku). Mohon maaf, Grace tidak bisa hadir di pesta ulang tahunmu. Grace ada urusan lain di tempat lain. Tapi yakin deh, Grace selalu ada di samping, di depan, dan di belakangmu. Vito, disana ada Dini kan ? Cewek yang kamu suka ? Kamu seneng gak ? Cewek yang kamu suka ada disaat kamu ultah. Heheh. Itu kejutan dari aku, lho. Hanya itu sih yang aku bisa kasih buat kamu. Oh ya, novel, Cepat dibaca novel dariku ya. Jangan lupa. Di sebelahmu ada Dita juga kan ? Sampaikan terima kasihku untuknya. Terima kasih atas segala kebaikan dan kesabarannya bantu aku.
Eh Vit, sebenarnya ada yang mau aku kasih tahu. Aku orangnya penvcemburu ulung. Mungkin aku tidak ekspresif orangnya. Cemburuku selalu tertutupi dengan rasa maluku. Ya, aku sama kan kayak kamu. Pemalu dan pencemburu ulung. Tapi, aku bisa jujur lho. Aku jujur ke Dini kalau aku cemburu padanya. Aku cemburu, kenapa bukan aku yang ada di hatimu. Kenapa bukan aku yang kamu cinta. Kenapa bukan aku dan kenapa bukan aku. Jangan bayangkan wajahku saat nulis ini, ya. Jelek banget.
Oh ya, karena aku sudah jujur, kamu juga dong. Jujur ke Dini kalau kamu suka sama dia. Bilang ya. Jangan dipendam. Kasihan nanti bisa jadi batu ginjal. Kan sakit hahaha.
Terima kasih atas semuamuamuamuanya Vit. Aku ga yakin, di tempat ini di tempat baru ini aku akan menemukan teman sahabat saudara sepertimu. Orang pertama yang bisa bikin mimpi ku lebih berwarna. Orang yang bisa bikin aku bersemangat untuk bangun dari tidur malamku. Tapi maaf, kali ini aku tak kuat bangun dari tidur panjangku. I love You, Muhammad Vito Setiawan.

Antara bingung dan sedih. “Apa ini. Apa maksudnya dit din. Apa maksud surat ini. Dia pindah rumah kan ? Dia kenapa dit din.” Tanyaku pada mereka. Tak ada jawaban. “Hei kalian, tolong jawab.” Bentakku padanya. Dini mulai menangis. Dita menyuruhku duduk dan diam. Kita bertiga duduk. Dita menceritakan semuanya. Dia menyuruhku diam mendengarkan tanpa komentar apapun.

“Jadi kamu ingat kenapa Grace selalu bawa notes kecil kan ? Itu memang sengaja. Katanya, biar aku bisa ingat hal indah selama aku masih bisa hidup. Aku kaget, Vit. Serius. Maksudnya apa. Kamu tahu isi novel itu tentang apa ? Itu true story. Tentang dia dan kamu. Isinya adalah cerita hari-hari kalian yang ada di dalam notes yang dia punya. Notes yang ada hubungannya sama kamu beda warnanya. Ada logo hati di dalamnya. Katanya sebagai kenangan berdua. Dia kena kanker otak stadium akhir. Dokter prediksi umur dia tidak lama lagi. Bahkan, dia bisa merasakan dengan kasih surat dan novel itu, jauh sebelum kamu ulang tahun. Hebatnya, dia bisa meyakinkan Dita untuk datang ke rumahmu hari ini. Padahal, dia baru bisa meyakinkan Dita seminggu yang lalu atau sehari sebelum dia pergia dari rumah. Orang tuanya pindah rumah. Agar kamu tidak datang lagi. Atas permintaan Grace. Dia tak ingin kamu selalu ingat padanya.”, katanya. Aku cuma bisa diam. Badan seakan tersambar listrik. Mati.

“Dan aku, datang kesini untuk Grace dan untuk kamu. Dan roti ini, itu yang beli Grace. Yang minta desainnya Grace. Semua Grace yang atur. Aku dan Dita cuma ikut apa kata Grace. Ini permintaan terakhir Grace sebelum dia meninggal. Yang ia ingat cuma kamu. Bukan yang lain.”, kata Dini. Perkataan dini makin buatku sedih.

“Terima kasih kalian telah baik sama Grace. Terimakasih telah kabulkan permintaan terakhir Grace sebelum meninggal. Dita, terima kasih bantu dia selesaikan novel. Dini, terima kasih sudah mau datang kesini dan menuruti apa kata Grace. Tapi, aku cuma mau Grace. Aku cinta sama Grace. Dini, aku tahu aku suka sama kamu. Cuma aku suka kamu abaikanku. Bukan memilikimu. Aku ga bisa. Aku cuma mau miliki Grace.”, kataku pada mereka.

Diam. Sunyi. Sepi.

Aku benci dengan orang yang suka marah. Aku benci dengan kemarahan. Dan aku rindu dengannya yang suka marah. Aku rindu dengan kemarahannya. Aku rindu kamu, Grace. Aku rindu kamu marah lagi. Aku rindu semua tentangmu. Novelku sudah jadi, lho. Judulnya Grace. Iya judulnya itu namamu. Ceritanya tentangmu. Tentang kamu yang buat aku tampak bodoh dihadapan cewek. Kalau sempat, datang ke mimpi. Aku rindu kamu. Aku sayang kamu, Grace. semoga senang di kehidupan barumu.

Jumat, 04 Juli 2014

Ratu Terindahku

Senja mulai berganti malam. Saat itu pula dingin mulai menyapa. Sapaan sang dingin begitu terasa sampai menusuk tulang lunak di lubuk hati. Sebatang rokok surya menemani kesendirian ku. Sekedar untuk menghangatkan tubuh yang mulai menggigil.
Benar kata orang, saat rindu tubuh seakan menjadi dingin menggigil. Otak seperti memberikan pesan ke seluruh organ tubuh yang lain agar menangkis semua udara panas yang ingin masuk ke tubuh.
Sejatinya, aku tak sendiri. Ada sejuta kenangan yang selalu menemani. Kenangan yang menjadi obat penawar luka sekaligus menjadi garam penambah rasa perih di luka. Bak pisau bermata dua, kenangan itu hadir dan muncul seakan-akan dia enggan untuk memilih menjadi obat penawar luka. Kenangan yang sejatinya menjadikan hidup menjadi lebih indah. Malah menjadikan hidupku menjadi lebih buruk dari yang di bayangkan.
Namaku Heru. Jangan tanya umur. Bagiku, umur tidak lah penting. Tetapi jadi sebuah petaka bagi siapa saja yang memaksaku untuk menjawab berapa umurku. Kawat gigi yang di pakai di gigi pun bisa ku pindah ke mata kalau ada yang berani tanya umur. Sensitif kayak cewek yang lagi dapat tamu yang tak di undang. Bukan tamu dari petugas bank yang mau nagih duit kartu kredit. Tamu yang ini lebih kejam dari itu. Bisa bikin tingkat kemarahan cewek naik seratus kali lipat. Bahaya tingkat dewa.
Tapi memang jangan tanya berapa umurku. Kalau tak mau lesung pipimu jadi cembung.
Mungkin bagi Pak Mario Teguh, hidup itu semudah membalikkan telapak tangan. Tapi bagi saya, tak semudah itu. Bagi saya, hidup itu seperti membalikkan kaki gajah. Meskipun tak selamanya hidup itu kita persulit sendiri.
Dan cinta, bagi saya adalah sebuah anugerah. Tapi itu dulu. Iya sebelum aku merasakan bahwa cinta memiliki 2 fungsi. Menyejukkan dan mematikan. Tergantung siapa yang kita ajak bercinta. Beruntung ketika kita mencintai cewek yang bisa mengerti kita apa adanya. Bukan meminta semau dia dan harus ada pokoknya. Itu beda.
Dan 2 fungsi dari cinta itu sudah saya alami semuanya. Mematikan dan menyejukkan. Bahkan saya memunculkan teori baru. Bahwa fungsi cinta tak hanya itu. Tak hanya mematikan dan menyejukkan. Tetapi ada fungsi lain. Dan ini sudah saya buktikan sendiri. Tetapi saya belum menemukan nama yang pas untuk fungsi cinta ini.
Lebih dari menyejukkan. Iya, lebih dari ini. Dan ini saya rasakan ketika saya memberikan cinta saya teruntuk satu nama. Satu nama yang saya cinta. Namanya Ratu. Ratu Dini Fitria nama panjangnya. Dia adalah makhluk tuhan paling cantik yang pernah saya temui setelah nenek dan ibu saya. Kecantikannya bahkan melebihi Wulan Guritno ataupun Chelsea Islan.
Dengan wajah pribumi yang khas. Dengan bibir kecil tipis dan pipi yang chubby bak bakpo telo, betapa bahagianya saya memiliki cinta dari sang Ratu. Dan yang paling saya suka dari Ratu adalah sifatnya yang dewasa. Bukan sok dewasa layaknya artis cilik yang sedang merasakan cinta monyet. Tetapi Ratu ini beda. Dia bisa bersikap layaknya Ratu Elizabeth. Anggun sekali.
Teman-teman saya bahkan tidak ada yang percaya saya bisa merebut hati sang Ratu. Ya karena yang balapan ngejar si Ratu banyak. Mulai dari si Aldi yang punya sejuta pesona di dompetnya. Si Atra anak Bandung yang pintar. Lalu kenapa dia pilih saya ? Yang notabene tidak punya keunggulan apapun. Oh wait, katanya sih si Ratu suka cowok yang dewasa. It’s me. Really, it’s me.
Awal perkenalanku dengan Ratu ketika di mall. Secara tidak sengaja saya menabrak Ratu yang sedang belanja di pakaian cewek. Dan saya sedang jalan sama teman cewek saya. Teman cewek saya yang belagak cowok alias tomboy. Dan saya sedang berusaha mengembalikan teman saya ke titahnya sebagai cewek tulen alias biar gak tomboy lagi.
Setelah kejadian itu, secara tidak sengaja saya dan Ratu sering ketemu di mall yang sama. Bukan di toko yang sama sih. Dan saya beranikan diri untuk berkenalan dengan si Ratu. Dengan malu-malu, saya mulai ajak Ratu berkenalan. Jangan tanya ekspresi muka saya waktu itu. Merah maroon bagaikan warna jersey sepakbola AS Roma. Klub sepakbola terbaik di dunia akhirat.
“Eh, ini yang kemarin ketemu di FX bukan ? Kita pernah ketemu kan ?” Tanyaku ke si Ratu. Sok basa basi dan ga tau malu. Untung saya punya 2 sifat itu. Jadi bisa mudah kenal dengan siapapun, cowok cewek dan setengah cowok setengah cewek.
“Hmm, kita pernah ketemu kah ? Ratu lupa nih heheh.” Jawab Ratu sambil tertawa kecil. Aduh dek, abang ga kuat liat kamu ketawa. Tak makan nanti kamu dek. Tak kunyah bibirmu tak perkedel nanti. “Iya kita pernah kita di toko ***** (menyebutkan toko tertentu). Yang aku sama temen cewekku yang setengah cowok alias ga jelas itu lho.” Balasku dengan sedikit senyum. Sorry ya Yuv, aku bilang kamu ga jelas. Tapi memang sih, si Yuvi ga jelas cowok atau cewek. “Oh iya, Ratu ingat. Tapi agak-agak lupa juga sih. Aku Ratu, kak. Heheh.” “Oh, namanya Ratu ya. Kalau gitu, aku Raja ny deh. Biar seimbang alias cocok banget kan.” Celetuk ku dan di balas dengan ketawa nya si Ratu, kampreeet keceplosan, kataku dalam hati.
Disitu lah awal pertemuan laknat tapi asyik saya dengan si Ratu. Tak lupa saya minta pin bbm, nomer hp, id line, pokoknya biar saya bisa kenal lebih lanjut dengan si Ratu. Yang ternyata dia satu kampus dengan saya di *** (menyebutkan salah satu kampus negeri di jakarta).
Hubungan saya dengan si Ratu semakin akrab, kita sering jalan bareng ke kampus. Dia anak pertama dari dua bersaudara, dan adiknya cowok. Namanya Angga. Kata si Ratu, Angga anaknya baik meskipun sering minjem duit. Padahal uang jajannya udah banyak. Boros kata si Ratu.
Sampai akhirnya saya jadian dengan si Ratu. Bagaikan ketiban durian montong nan seksi yang jatuh dari pohon, senang rasanya. Ambil nyawaku tuhan ambil nyawaku, asal kau ambil nyawaku bersama si Ratu. Aku rela tuhan aku rela. Hidupku dengan su Ratu seperti perangko dan surat. Atau seperti bola dan sepatu bola. Hmm seperti mulut dengan gigi. Selalu bersama alias tidak bisa di pisahkan.

Lalu alarm berbunyi. Saya pun terbangun dari mimpi indah tersebut, “Oh, jadi itu Cuma mimpi. Sang Ratu yang saya inginkan ternyata Cuma ada di mimpi. Semoga mimpi itu segera terwujud di dunia nyata ataupun minimal, saya mimpi yang sama lah ya.”

Selasa, 18 Maret 2014

Pulau Matahari

“Ayo yang bagus dong gerakannya. Lembek banget, sih.”

Kalimat itu membuat Helen sedikit mengrenyitkan dahi. Sampai jenong yang selama ini dia banggakan seakan tidak kelihatan. Memang bukan sekali ini saja dia merasakan kerasnya kehidupan yang dia jalani. Bukan dia saja semestinya. Karena ada sekitar 20 an gadis yang sedang berusaha meraih impiannya. Impian yang bukan sekedar mimpi.

Tempat apakah ini ? Apa tempat ini tepat bagi Helen dan anak-anak lainnya mewujudkan mimpinya ? Helen pun tak akan tahu seperti apa jawaban yang mewakli pertanyaannya tadi. Bahkan, Helen yakin kalau teman-temannya tidak ada yg bisa menjawab. Tempat macam apa ini ?

Helen dan anak-anak lainnya ibarat anak ayam yang kehilangan induk. Berjuang untuk dapat merasakan nikmatnya jagung sendiri. Tanpa induk artinya kebingungan. Yang bisa mereka lakukan cuma berharap induknya datang dan membantu mereka menjalani hidup. Atau paling tidak, mereka yang mencari induknya sendiri, tapi mereka sudah tahu dimana letak induk mereka. Sebuah kepastian yang tidak pasti.

“Ma, aku capek banget nih. Badanku lemes banget.”, kata Helen ke sahabatnya, Maria. “Udah, kamu istirahat aja, len. Ga usah dipaksakan. Nanti km sendiri yang repot.” Helen masih mencoba buat ikutin irama. Tapi rasa sakit yg ada di badannya tak kunjung hilang atau mereda sekalipun. Malah semakin bertambah dan sekarang rasanya semakin mencekik. “Tapi aku takut kena semprot sensei nih. Tau sendiri kan klo udah marah. Macan aja kalah serem.” “Etdah len, km masih sempet-sempetnya bercanda. Udah, izin aja sana. Pasang wajah pucet sana.” “Apaan pasang wajah pucat. Ini aku udah pucat mukanya. Jangan di pucat-pucatin. Jadi mayat ntar aku. Hahah.” Kataku sambil berlalu meninggalkan Maria dan menuju ke Sensei.

“Sensei, aku izin istirahat dulu bisa ya. Ini lagi ga enak badan banget. Kudu muntah. Lemes banget.” Kata ku sambil pasang muka memelas. Kebangetan kalau ga di izinin, pikirku. “Iya udah, kamu istirahat aja dulu, len. Jangan terlalu dipaksain. Ntar km juga yang makin sakit. Duduk sana sudah” Kata dia sambil menunjuk ke kursi di sebelahnya. “Makasih sensei.” Aku menutup pembicaraan sambil berjalan ke kursi.

Sampai kapan aku harus seperti ini. menjemput impian tapi aku pun tak tahu, apa ini benar impianku atau impian orang lain yang sedang aku rebut. Atau bahkan, impian ini tidak pernah ada dalam otakku. “Ah, ini masih awal. Belum saatnya menyerah.” Hanya kalimat itu yang bisa mengalihkan rasa putus asaku yang selama ini terus menghantui.

Tak cuma Helen yang meringik kesakitan sebenarnya. Banyak gadis-gadis lain yang sering mengeluh kesakitan dan merasa saya harus berhenti dan blablabla. Tapi apa kita semua berhenti ? Tidak. Karena kita masih ingin mengejar impian kita. Tapi sekali lagi, impian semacam apa ini ? Dan apa ini impian kita ?

Kita menyebut tempat ini sebagai Pulau Matahari. Pulau yang akan membuat kita bersinar atau pulau yang bisa buat kita makin cantik di kegelapan layaknya rembulan di kala malam. Karena bulan tanpa adanya matahari tidak akan terlihat cantik.

Alasan lain kita masih bertahan adalah itu. Pulau Matahari. Pulau cantik yang berhasil mengumpulkan 20 an gadis remaja. Bersatu meraih mimpi yang sama. Pulau yang bersilau dari kejauhan dan bersinar dari penjuru semesta. Ya, Pulau Matahari namanya. Pulau yang hanya di isi 20 gadis-gadis remaja dan satu ketua suku. Membuat pulau ini semakin nyaman di tempati.

Tak ada keriuhan dan kemacetan dan bunyi klakson. Tak ada polusi asap kendaraan ataupun polusi dari asap pabrik. Yang ada cuma rasa nyaman yang kanan kiri jalan di pulau ini di selimuti kabut. Dingin sekali pulau ini. Tak seperti namanya memang. Pulau Matahari dengan nama Matahari yg identik dengan rasa panas, gerah, dan semua orang pasti enggan lama tinggal di pulau yang panas.

Tapi ini beda. Pulau ini sungguh indah. Banyak sekali turis-turis yang ingin datang lagi setelah sempat berkunjung ke tempat ini. “Beautiful Place.” Kata salah satu turis dari Jepang yang sempat berkunjung ke pulau ini. Bagi yang belum sempat kesini, mereka ingin kesini. Ke tempat yang orang lain yang tidak tahu apapun tentang pulau ini,ketika di kasih tahu tentang pulau ini, akan tertarik untuk datang.

Pulau ini tak pernah sepi para wisatawan. Baik wisatawan asing atau wisatawan domestik. Iya, penghuni tetap cuma 20 an orang. Tapi wisatawan yang datang tiap hari mencapai 500 orang. Pulau kecil ini serasa sesak oleh lautan manusia. Tua muda pria wanita.

Apa yang mereka lakukan di pulau ini ? Menikmati pulau ini ? Pasti. Beli marchendise ? Of course. Tapi mereka juga menikmati pertunjukkan kita. Ya, kita setiap hari harus berdiri di atas panggung untuk membuat para wisatawan merasa gembira. Kita bernyanyi menari membuat mereka senang. Kita tidak boleh mengecewakan mereka. Makanya kita setiap hari harus belajar untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan.

Setiap malam kita harus membuat mereka keluar dari pulau ini dengan membawa perasaan senang. Setiap malam. Apa tidak capek ? Pasti. Tapi kita ikhlas menjalani itu. Demi meraih mimpi kita. Kita ? Mimpi kita? Ah, sudahlah. Mungkin itu impian satu dua orang yang harus kita lakukan agar menjadi mimpi kita bersama.

Wanita itu makhluk yang paling sensitif. Kadang secuil masalah bisa menjadi besar dan seakan dibesar-besarkan. Lalu penghuni pulau ini apa seperti itu? Jelas. Rivalitas satu penghuni dengan penghuni lain itu pasti. Mereka saling berebut simpati dari pengunjung. Apa yang mereka lakukan untuk mengalahkan rivalnya ? Menampilkan yang terbaik. Saling menjatuhkan ? Tidak pernah. “Meskipun semuanya adalah rival, tapi kita mengejar mimpi yang sama.”, kata Sandra pemimpin kita.

Helen sempat merasa kalau kehidupannya ibarat katak dalam tempurung. Terkungkung dalam ketidak pastian. Terisolasi dari kehidupan luar. Bukan karena dia tidak bisa bebas untuk hidup, tapi ada berbagai aturan yang harus di taati penghuni pulau ini.

Biasa disebut dengan Peraturan Cinta. Peraturan yang wajib ditaati seluruh penghuni pulau ini dengan alasan cinta. “Kita cinta kalian semua. Jangan mencoba menubruk peraturan ini. Peraturan ini toh juga untuk kalian semua. Agar kalian fokus mengejar mimpi kalian.”, kata sang empunya Pulau. Pulau ini ada yang punya ? Iyalaaah. Ada yang menghuni pasti ada yang punya. Siapa dia ? Investor asing yang menanamkan modalnya ke Pulau ini. Pulau ini di kelola orang asli sini tapi karena dia punya banyak bisnis, jadi dia menyerahkan pulau ini pada kita.

“Ingat, selalu senyum ramah ke pengunjung. Jangan sampai mereka kecewa sama kalian.” “Ayo Indah, mana senyumnya.” “Kamu juga Maria, matanya ikut berbicara juga dong.”

Hampir setiap haru saya dengar kalimat itu. seakan menjadi makanan sehari-hari kita semua. Jenuh itu pasti. Kadang kita bebas dan bisa sejenak mengunjungi pulau yang lain. Sejenak untuk melepas kerinduan dengan keluarga atau bisa jalan-jalan dengan teman kita diluar pulau ini.

Jangan pernah tanya apa kita punya pacar atau tidak. Beberapa punya pacar dan beberapa yang lain tidak. Boleh pacaran ? Pemilik pulau ini memberika peraturan cinta yang tadi, salah satu isinya adalah dilarang pacaran. Katanya sih biar fokus. Pacaran atau tidak, kalau pintar atur waktu, it’s not problem. Really. Indah, Maria, Hany, Giselle, dan Oca. 5 orang itu yang punya pacar. Inilah enaknya jadi wanita. Sensitif dan bisa merasakan aroma percintaan. Yang lainnya apa bersih dari percintaan ? Tidak. Helen salah satu gadis yang diam-diam menaruh hati pada salah satu pengunjung. Pengunjung tetap malah. Karena hampir tiap hari dia mampir ke pulau ini.

“Kalau aku sih, karena masih kecil jadi ga tau apa-apa sama begituan.” Kata si Yunda. Preettttt. Pacar sih ga ada, tapi gebetan itu ada. “Lebih baik mencinta dibanding dicinta.”, kata Nadia. Kalau bagi Anna, “Setiap wanita itu semua. Kita semua itu punya cinta. Semua orang juga begitu. Kita juga seorang perempuan biasa. Kuat atau tidaknya kita membendung perasaan ini aja. Kalau pertahanan hati kita kuat, aman deh. Kalau lembek, ya cupu namanya” Kata sensei kita dan sambil diiringi senyuman kecut dari lima orang yang saya sebut di atas yang sudah memiliki hubungan cinta.

Adilkah peraturan cinta yang tidak melihat perasaan cinta kita ? Demi impian kita? Preeettt.

Tak sedikit teman-teman Helen yang menyerah. Sebagian juga telah memutuskan untuk pergi dari pulau ini. Mengejar mimpi yang lain, katanya. Ada yang pergi karena dia merasa kurang bebas untuk berekspresi. Ini bukan hidup saya, katanya. Atau yang pergi karena muak dengan peraturan cinta. Sampai akhirnya kita tersisa 17 orang saja.

Sedih kehilangan teman ? Pasti. Apa tidak ingin ikut jejak mereka ? Ingin sekali, tapi berat rasanya pergi dari pulau ini, sangat berat. Pulau sederhana nan indah ini seakan memiliki magnet yang daya lekatnya sangat kuat. Sebanding dengan daya gedor Messi dan Cristiano Ronaldo kalau di sepakbola. Atau sebanding dengan daya rindu seorang Romeo terhadap Juliet.

Mereka telah pergi dari pulau ini. Pulau yang Helen pun tak berfikir sedikitpun untuk menetap. Bahkan untuk sekedar berkunjung pun, daia tak ada fikiran sama sekali. Lalu kenapa dia menjadi penunggu pulau ini. Wait, ga enak banget bahasanya penunggu. Karena dia ingin mewujudkan mimpinya. Preeettt, mimpi lagi.

Hari itu, tanggal 20 Februari yang bertepatan dengan hari Jum’at. Setelah kita menghibur para pengunjung atau sekitar jam 10 malam. “Ayo semuanya kumpul disini. Ada yang mau saya bicarakan dengan kalian semua.” Kata pemimpin Pulau Matahari yang biasa kita panggil Bang Angga sambil melambaikan tangan ke arah kita yang sedang kecapekan pasca perform. “Ada apaan sih, Len ? Aku penasaran nih. Kok kayaknya penting banget gitu ya.” Kata maria ke Helen. “Aku juga ga tau nih, Mar. Bingung juga aku. Tapi kayaknya penting banget gitu.” “Iya juga sih. Yaudah, dengerin aja dulu, Len.”
“Jadi gini, kita sudah lama sekali menghuni Pulau Matahari. Suka duka selama hampir setahun sudah kita lewati bersama. Dari yang kita ber 20 orang sampai yang sekarang tinggal 17 an orang. Pulau ini hampir jadi rumah kedua kita kan ?” Katanya sambil menatap mata kita satu per satu. Kita kompak menganggukkan kepala tanda menyetujui. Tapi Helen dan teman-temannya masih belum juga mengerti maksud dari perkataan Bang Angga itu apa. Karena masih misterius kan.

Apa Bang Angga mau keluar dari Pulau ini ? Atau Pulau ini akan di gusur ? Atau jangan-jangan. Terlalu banyak spekulasi yang muncul di pikiran. Dan belum tentu spekulasi itu benar.

“Saya yakin, Pulau ini memberikan sejuta kenangan di diri kalian. Saya bisa melihat itu dari mata kalian. Kita harus meninggalkan Pulau Matahari ini. Cepat atau lambat. Paling cepat bulan depan atau dua bulan ke depan. Kalian harus siap dan harus mulai di persiapkan. Bukan untuk membereskan perlengkapan kalian. Tapi kesiapan kalian dari dalam diri kalian.” Satu persatu teman-teman Helen mulai merubah mukanya. Dari yang awalnya penasaran sampai akhirnya sekarang berubah jadi sedih. Raut-raut kesedihan jelas tampak dari mimik muka mereka.

“Pulau ini telah menjadi kenangan indah yang akan selalu ada di hati dan aliran darah kalian. Tidak akan pernah bisa hilang. Pulau inilah yang selama hampir setahun menjadi teman hidup kalian. Menjadi pendamping kalian. Dan yang mengantar kalian hingga kalian memiliki banyak pengunjung di banding pentas yang lain. Saya akui itu.” Bang Angga melanjutkan pembicaraannya. Kita semua diam. Tanpa ada yang bisa berkata-kata sedikitpun.

Pimpinan kita, Sandra yang seharusnya menjadi orang pertama yang menanggapi ini juga diam. “Bang, kenapa kita harus pergi dari sini ? Kita di usir ? Belum bayar pajak ?” celetuk, Manda. Manda memang salah satu orang yang polos. Entah polos atau geblek. Hampir mirip soalnya. Setelah celetukan Manda tadi, suasana mulai mencair. Apalagi setelah kita ketawa semua mendengar celetukan itu.

“Hahaha, bukan Manda. Tapi karena kita sudah harus pergi. Waktu kalian di Pulau ini sudah selesai. Kalian sudah hebat dan bukan di tempat ini lagi. Level kalian sudah bukan di Pulau ini lagi. Terlalu mudah pulau ini bagi kalian. Ada pulau-pulau yang lain yang harus kalian taklukan. Kalian siap menaklukan pulau yang lain ? kata Bang Angga. Kita masih diam. “Kalian siap?” tanya nya lagi. Semua masih diam membisu. “Kalian siap atau tidak menaklukan pulau yang lain ?” Kali ini nada nya mulai meninggi. “Saya siap, bang.” Ucap Sandra sambil di ikuti teman-teman yang lain. “Kalian siap ? Jawab yang kencang.” “Siaaaappp.” “Ini yang saya suka dari kalian. Semangat kaliam yang membuat kalian menjadi seperti ini. Hebat kalian. Salut buat kalian. Tepuk tangan buat kalian semua.” Kata Bang Angga sambil mengajak kita tepuk tangan bersama.

 “Kita harus memberikan 100% dari yang kita punya untuk membahagiakan pengunjung.”
Sampai akhirnya besok adalah hari terakhir kita menjadi penghuni Pulau Matahari. Artinya hari ini kita harus beres-beres. Pasti bisa, pasti. Kita harus mempersiapkan hati kita. Untuk sekedar sehari melupakan Pulau ini saja sangat sulit. Apalagi besok, kita harus pergi meninggalkan pulau ini. “Ah, ini tidak mungkin.” Gumam Helen dalam hati.

Hari perpisahan pun tiba. Saatnya kita pergi dan bersiap menghuni Pulau yang baru. Pulau yang sama sekali kita tidak mengerti. Apa ada hewan buas ? Apa ada penghuni lain ? Atau ada rintangan yang jauh lebih sulit ? Karena kata Bang Angga, level Pulau ini jauh lebih besar dibanding Pulau Matahari. Tapi kita pasti bisa.

Para pengunjung berdatangan. Mereka membawa karangan bunga, ucapan perpisahan untuk Pulau Matahari yang kita yakin, mereka sangat merindukan Pulau Matahari. “Mereka yang sekedar berkunjung pun merindukan pulau ini, apalagi kita. Kita yang menjadi penghuni pulau ini. Ah, sulit sekali” gumam Helen lagi.

Mau tidak mau, Pulau ini harus kita tinggalkan. Akhir pertunjukkan, ada spanduk besar yang di bentangkan pengunjung yang bunyinya, “Terima Kasih Pulau Matahari. From turis pulau matahari.” Spanduk yang tentu bikin bulu kuduk merinding. Bukan karena ada hantu, tapi kita merasaan betapa besar rasa cinta mereka pada kami dan pulau ini.

Tanpa sadar tangisan kita mendampingi perpisahan ini. Kita semua yang ada di pulau ini menangis. Entah menangis sedih ataupun  menangis gembira. Tak satupun yang tahu tangisan seperti apa ini.
“Jangan menangis Helen. Jangan menangis Sandra.” Sayup sayup terdengar teriakan dari para pengunjung. Yaaaa, makin membuat tangisan kita menjadi semakin kuat.

Terima kasih Pulau Matahari. Terima kasih atas segala kenaangan indahnya. Suka duka yang bercampur menjadi satu akan selalu kita kenang. Selamat datang pulau baru. Semoga menjadi pulau yang menjadi teman terbaik bagi kami.


Terima kasih seluruh penghuni Pulau Matahari

                            


Jumat, 24 Januari 2014

Berakhir di Medan Perang

“Aku cinta kamu sayang.” “I love You To my Lovely.”
            Kalimat itu memang singkat. Sangat singkat. Tapi kalimat itu begitu berarti banget bagi gue. Gue yang sejak lama tidak merasakan cinta. Sampai akhirnya gue di pertemukan dengan dia. Dia yang awalnya gue hanya sebatas menjadi pengagum rahasia sampai akhirnya gue yakin kalau ini cinta, bukan sebatas mengagumi.
Nama gue Alan. Bisa di bilang gue wirausahawan. Gue punya bisnis kecil-kecilan yang alhamdulillah itu bisa membantu puluhan pengangguran di daerah gue kerja. Hanya bisnis makanan ringan. Hanya selingan sih. Tapi tetep gue konsen sama pekerjaan gue di bidang broadcasting di salah satu stasiun televisi swasta. Di stasiun tv itu pula, gue ketemu sama wanita yang mampu merubah hidup gue. Yang awalnya gue tampangnya nyeremin jadi alim. Pokoknya dia spesial buat gue. Eits, tapi jangan samakan dia sama nyokap loh. Konteksnya jelas berbeda. Dan rasa sayangnya pun pasti berbeda.
Namanya Anindita, dan biasa gue panggil Anin. Umurnya 2 tahun di bawah gue. Umur gue saat kenal dia itu 25 tahun. Jadi, umur dia saat itu 24 tahun. Loh ? 23 tahun lah, bercanda. Gue masih inget saat pertama ketemu dia itu, gue hanya bilang, “Buseeet, cewek ini cantik banget. Nyokapnya dulu ngidam luna maya kayaknya.” Yang terlintas dalam pikiran gue itu cuma satu, “Gue harus bisa dapetin dia”. Okeh gue cari informasi tentang dia. Namanya, nomer hp nya, alamat rumahnya sama makanan atau minuman favoritnya. Gilee, parah kan gue. Itulah gue, kalo udah ngerasa ada feel ke cewek, gue akan melakukan apapun agar setidaknya kenal aja lah sama dia. Catet, itu sifat gue.
Dia cantik, berkacamata dan berkerudung. Sangat masuk di kriteria gue. Gue emang suka cewek yang berkerudung dan berkacamata. Entah kenapa. Tapi setiap liat cewek berkerudung dan berkacamata, rasanya beda dan berbahaya. Berbahaya karena bisa buat hati gue cenat-cenut. Haahah. Dia anaknya kalem banget. Orang yang baru kenal mungkin anggap dia itu anaknya sombong, angkuh, dan jutek. Tapi kalau udah kenal lama sama dia, barulah tau kalau dia anaknya nyablak. Ga seperti yang di bayangin orang di awal. Gue juga awalnya mikir klo dia anaknya pendiem jutek gitu. Tapi pas udah kenal lama, aslinya kelihatan. Anaknya asik buat di ajak ngobrol.
 Anin kerjanya di lapangan. Dia bertugas untuk mencari berita. Gue juga bertugas utuk mencari berita. Tapi karena tampang gue yg ga jelak dan ga ganteng, gue ga di ijinin bos buat sekalian jadi reporter. Gue biasanya dampingin reporter dan kameraman. Kalau si Anin beda. karena dia cantik, jadi kadang dia merangkap jadi reporter.
Di awal dia kerja, dia masih gugup. Dia masih harus di training sama yang lebih pengalaman. Itu biasa di dalam perusahaan ini. gue dulu pas awal masuk juga gitu. Gue harus di training sama senior. Buat adaptasi lah. Dan gue dapat mandat dari bos gue untuk jadi bantu dia beradaptasi. Seneng lah, jelas. Secara gue sejak awal dia masuk udah kesengsem sama dia. tapi gue di tuntut harus profesional. Kalau dia salah harus di bilang salah. Dan itu gunanya gue, untuk mengajari dia biar gak ada yg salah lagi.
Bagi gue, anaknya ulet. Dia ga malu bertanya kalau emang dia ga tahu. Dan dia ga sebel pas gue bilang kerjaan dia salah. Pernah gitu gue tanya ke dia, ” Eh nin, maaf ya klo gue revisi kerjaanmu. Dan gue pernah marah ye ke kamu. Sorry, demi kerjaan. Dan jawaban dia sempet bikin gue kaget, “ Gak kok bang, Anin ga sebel apalagi marah. Karena Anin tau, itu tuntutan pekerjaan. Kalau jelek, nanti kita juga yang rugi. Jangan segan buat negur Anin kalau kerjaan Anin ada yg salah.” Oh, berarti dia tau mana ranahnya profesionalitas. Bagus ini anak, pikirku.
Di stasiun TV tempat gw kerja, training itu minimal 2 bulan. Dan maksimal 4 bulan. Ketika dalam jangka waktu 2 bulan, kalau dirasa mereka sudah siap kerja, mereka bisa di lepas. Dan Anin salah satu new comer yang bisa dilepas ketika waktu training pas 2 bulan. Kinerjanya ketika training memang bagus. Gue berusaha untuk profesional. Kalau gue mau lebih lama lagi, sebenarnya gue bisa. Tapi karena gue ga mau mencampurkan urusan personal dengan urusan kerjaan.
Selama 2 bulan, gue akhirnya tau seperti apa itu si Anin ini. Mulai dari determinasi kerjanya yang tinggi. Sampai kehidupan pribadinya. Gue mencoba menempatkan diri gue bukan sebagai trainer. Tapi sebagai kakak dia. Gue berusaha membuat dia nyaman. Makanya dia manggil gue, abang. Bukan abang tukang bakso.
Sampai akhirnya, gue tahu kalau dia lagi udah ada pacar. Dia pacaran sama pacarnya udah lama. Sekitar 4 tahun. Awalnya, dalam hati gue nggrundel “Anjing, akan gue bunuh cowok lu.” Haha bercanda. Gue mikir, ya jelas dia udah punya cowok. Kagak mungkin cewek secantik dia masih single. Akan terjadi pertumpahan darah dong nanti. Yang ngantri pasti rame, kayak orang yang antri sembako.
Prinsip cinta gue, dia boleh punya cowok, atau pacar. Tapi dia nikahnya harus sama gue. Sadis kan gue. Lelaki pantang menyerah men gue. Kata bokap, raihlah impianmu hingga darah terakhirmu menetes. Dan bagi gue, dia merupakan impian gue.
Selang 2 bulan kemudian, dia cerita ke gue kalau hubungan dia sama cowoknya sedang mengalami fase tsunami. Sedang amburadul katanya. Insting serigala gue muncul. Saat seperti ini emang cara tepat buat gue deketin dia. Menjadi rubah dalam selimut dan kadang-kadang buas seperti serigala. Gue bantu dia agar lepas dari masalahnya. Mungkin itu bisa membuat dia baikan, tapi di situlah pinternya gue. Gue buat keadaan yang bisa membuat dia nyaman sama gue. Awal munculnya benih benih padi eh cinta itu adanya rasa nyaman dalam diri masing-masing pasangan.
            Akhirnya dia putus. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Dia cerita ke gue kalau sudah putus sama cowoknya. Di satu sisi gue sedih, karena orang yg gue suks sedih. Selain itu, kinerjanya di kantor langsung drop, turun jauh banget. Dia selama hampir seminggu ga fokus kerja dan sering melamun. Dan itu sangat mengganggu. Atas inisiatif gue, gue ajak dia ngobrol empat mata sama dia. gue mencoba menenangkan hatinya. Dia menceritakan penyebab retaknya hubungan asamaranya. Dia bilang kalau mantannya belum bisa menerima dia ketika dia udah kerja. Karena kerjaannya membuat mereka jarang ketemuan. Resiko lah ibaratnya.
            Gue bisa bilang kalau cinta itu harusnya bisa menrima keadaan pasangannya. Karena cinta bukan hanya mengagumi kelebihan pasangannya tapi menerima dan menambal kekurangan pasangannya. Dan sontak, dia tidur di pundak gue. Gue biarin, karena gue tahu hatinya sedang rusak. Dan disisi lain, gue seneng. Karena akhirnya dia kosong. Yang artinya siapapun bisa masuk, termasuk gue.
            Intensitas pertemuan gue makin sering. Hampir tiap hari gue antar dia pulang. Gue mulai merasakan nyaman ketika ada sama dia. Yang awalnya gue sebatas mengagumi dia doang, sampek akhirnya gue jatuh cinta sama dia. Iyaa, gue akhirnya jatuh cinta, sob. Setelah lama gue ga merasakan ini. Saking seringnya di sakitin kayaknya deh.
Tak lama berselang gue jadian sama dia. Hal yang amat sangat gue pengen. Gadis cantik yang selama ini gue idam-idamkan. Gadis yang setiap malam selalu jadi tamu di pintu rumah gue di alam mimpi. Gadis yang mampu jadi oase di padang pasir. Lebay sih. Tapi biarin, ga peduli. Kalau boleh teriak dalam kantor, gue akan teriak sekeras mungkin. Joget-joget juga boleh. Senengnya itu ibarat anak bayi yg barusan bisa makan spagetti. Bayangin aja, usaha yg gue lakuin. Beeeh, ibarat makan jengkol yg gue ga suka pun, gue lakuin demi dia. Bisa bayangin gak tuh ? Kagak kan. Gue juga ga bisa bayangin soalnya. Yang penting gue bahagia lah saat itu.
Kata Andre kita ini pasangan yang saling melengkapi. Yang cewek cantik banget bisa melengkapi cowoknya yang ancur banget. Anjing kan tuh si Andre. Tapi apalah kata mereka, yang penting gue jadian sama dia. Gue janji kalau gue kali ini kagak akan menyia-nyiakan mutiara hati gue. Gue baik-baikin dia. Bukan berarti gue nyembah ke dia. Bukan berarti gue jadi takut sama dia. Takut sama menghargai beda. Kalau takut, yg gue lakuin bukan karena cinta, tapi cuma karena rasa takut gue. Kalo menghargai, yg gue lakuin itu bukan takut yang kayak ketemu preman. Tapi karena gue menghargai dia sebagai pacar gue, dan layaknya sebagai seorang pacar, gue harus memperlakukan dia seperti itu. Untungnya dia bisa mengerti dan melakukan itu ke gue.
            Setahun kita jadian, gue merasa hubungan kita harus lebih serius. Gue bilang ke dia, gimana kalau kita tunangan. Dia pun setuju dan mau tunangan sama gue. Yang namanya tunangan pasti butuh yang namanya cincin. Sehari berselang, gue sama si Andre muter-muter toko perhiasan buat nyari cincin nikah buat dia. Setelah mendaki gunung lewati lembah ( Ninja Hattori ) akhirnya gue nemu juga cincin nikah yang gue pinginin. Gue beli deh tuh cincin kawin itu. Harganya sih standart lah, yang penting usahanya. Ceileee.
            Dia kerja sebagat reporter. Karena tuntutan pekerjaan dia harus mencari berita ke daerah-daerah yang bisa gue bilang terpencil. Hal itu juga yang buat gue bingung nentuin tanggal gue kesana, ke rumah orang tua dia. Saat itu tanggal 17 Juli 2013 hari senin. Dia dapat tugas meliput kerusuhan di daerah yang sedang terjadi konflik, papua. Oh my god ! Papua guys. I’m so scared. Saat itu papua memanas karena kerusuhan Freeport. Dia bilang akan balik ke Jakarta tanggal 21 Juli. So, dia bilang tanggal 22 Juli saja keluarga kita ketemu. Dengan dongkol, gue setuju aja deh. Yang penting gue tunangan.
            Saat dia berangkat, gue merasa ada hal yang ganjil sama dandanan dia. Dia bilang kalau benci baju warna putih. Tapi saat itu dia berangkat dengan baju warna putih putih. Gue coba hapus pikiran-pikiran buruk dalam otak gue. Coba gue masukkan aura positif dalam otak gue.
Berangkatlah dia ke Papua. Sesampainya di sana, dia telpon gue. Dan itu telpon terakhir dari dia. Saat itu kondisi fisik gue sedang drop. Badan gue kagak enak banget. 3 hari gue ijin sakit ke atasan gue. Pas liat kalender, gue sumringah banget. 21 juli. Yess, dia pulang hari ini. Dengan semangat gue berangkat kerja ke kantor. Gue kaget saat di depan kantor gue, banyak banget orang pake baju item-item. Masuklah gue ke dalam kantor. Saat itu gue langsung nyari si Andre sohib gue. Gue tanya ke dia, sebenarnya apa yang terjadi, siapa yang meninggal. Saat itu andre hanya nangis dan nyuruh gue sabar dan tenang. Gue dimasukkan ke dalam ruangan bos gue. Di sana ada petinggi kantor sama Andre. Bos nyuruh gue tenang dan sabar. Saat itulah gue mulai merasa aneh sama mereka. Bos cerita kalau Anin, cewek gue calon tunangan gue meninggal saat meliput konflik papua. Saat itu gue hanya diem bingung mau ngapain lagi. Gue merasa sangat bersalah sama dia karena ngijinin dia berangkat ke sana.
Hancur, remuk, patah hati gue. Gue hanya bisa nangis saat itu. Gue di pegangi Andre karena saat itu badan gue lemes, lemes banget. Hampir pingsan. Gue tanyak ke mereka, kapan jenazahnya di bawa pilang ke Jakarta. Dia bilang besok pagi baru bisa dibawa pulang. Gue di anter pulang sama Andre. Dia nemenin gue seharian di rumah. Bokap nyokap bingung harus ngapain. Andre, orang yang hari itu nemenin gue jadi tambah bingung saat tiba-tiba gue pingin nyusul dia ke Papua. Andre ngamncem gue, kalau gue masioh pingin kesana, dia tidak segan untuk bunuh gue.
Esoknya, gue berangkat ke rumah Anin dalam keadaan yang sangat amburadul. Gue nunggu kedatangan jenazah. Jenazah datang dan gue bopong jenazah itu sama keluarga dia. Gue bawa masuk ke rumahnya. Saat di dalam, gue nangis sekencang-kencangnya. Gue bertbisik ke kuping dia, “Sayang, aku udah beli cincin tunangan buat kita sayang. Kamu ingat kan hari ini tanggal 22 juli. Kamu janji kita akan bertunangan hari ini kan ? Ayo bangun sayang, aku butuh kamu. Aku butuh hadirmu sayang. Aku tau kamu belum mati sayang. Aku tau kamu masih hidup, cuma kamu sembunyi. Sayang, banguuuuunnn.” Sekejap itu, aku pingsan di atas jenazah dengan tangan gue memegang tangan dia. Rasanya gue gag pingin melepas tangan ini. Gue masih pingin sama dia. Keluarganya coba nenangin gue. Gue di panggil oleh kakaknya, Mbak Dewi. Gue dibawa masuk ke kamar Anin. Beliau menunjukkan sesuatu. Kata mbak dewi ini dari Anin. Anin beli itu khusus buat gue katanya. Gue buka, ternyata baju sepakbola AS Roma. Tim kesayangan gue. Mbak Dewi bilang kalau Anin pernah janji ke gue kalau mau belikan baju bola As roma buat gue. Tangisan gue yang sempat reda, pecah lagi. Rasanya hidup gue udah tak berarti.
Sampai sekarang, gue masih percaya bahwa Anin belum meninggal. Dia Cuma tidur panjang yang suatu saat nanti dia akan terbangun lagi nemenin gue. Gue jadi inget pesan terakhir dia ke gue sesaat sebelum dia terbang ke Papua.


Kamu harus yakin kalau kita akan selamanya hidup bersama. Di dunia maupun di akhirat. Kamu mau kan menunggu aku ? Kalau aku akan selalu menunggu kamu sampai kapanpun itu sayang.

Senin, 23 September 2013

Dia Merubah Segalanya

Nama saya Christian Benyamin. Teman-teman saya biasa panggil saya Kris, yang lebih ekstrim biasa panggil saya Ahong. Entah kenapa, mungkin karena saya keturunan China. Peranakan China kalau kata anak-anak sih.
Hidup saya serba bahagia. Saya memiliki keluarga yang sangat harmonis. Meskipun harus hidup dalam gubuk, asal hidup bersama keluarga hebat saya, itu menjadi sebuah anugerah terindah buat saya. Saya punya teman-teman terbaik yang setia menemani saya kapanpun itu. Kuanggap mereka sudah seperti saudara sendiri.
Saya sekolah di sebuah SMA kristen di sebuah kota di Jawa Timur. Teman saya 99% beragama kristen. Hanya ada satu murid di sekolah saya yang beragama non kristen, yaitu islam. Namanya Khadijah. Kata orang-orang, nama Khadijah itu sangat terkenal di Islam. Saya juga tak tahu, sama sekali tidak tertarik untuk tahu dan belajar tentang itu. Saya termasuk yang cuek dengan hal-hal yang bagi saya tidak penting. Dan belajar agama lain bagi saya tak penting.
Saya termasuk murid yang rajin meskipun bandel. Bukan bandel sih, lebih tepatnya iseng. Beda tipis lah. Setiap hari saya selalu usil ke hampir semua murid sekolah yang saya kenal. Sampai kata anak-anak, kalau sehari tidak ada tukang usil, kalau gak saya gak masuk ya saya sedang tidur. Karena saya tiap hari selalu mengusili orang. Dan Khadijah, satu-satunya murid non kristen di sekolah saya juga tak luput dari objek keusilan saya. Saya suka sekali menarik kain yang ada di atas kepalanya. Katanya sih itu namanya Kerudung atau jilbab. Tapi dia tak pernah sekalipun marah ketika jilbabnya saya tarik. Dia hanya tersenyum kecil sambil membenarkan jilbabnya yang saya tarik.
Suatu saat saya penasaran dengan dia, karena bagi saya anomali ketika objek keusilan saya hampir tiap hari tak pernah sekalipun marah. Apa dia menahan amarah itu atau memang dia pasrah ketika aku jaili. Ketika itu hari Senin, upacara hari senin telah usai dan saatnya masuk ke kelas. Dan saya jalan di belakang Khadijah. Dia jalan sambil bercengkrama dengan murid yang lain. Kaki saya sengaja saya kaitkan dengan kakinya dan braakkkkkk dia jatuh. Teman-teman cowok saya tertawa. Di dalam hati saya berharap dia marah. Tapi dia lantas berdiri dan menoleh ke arah saya sambil senyum. Aneh kan. Aneh banget. Apa sih yang buat dia bisa sesabar itu. Padahal saya sudah buat malu dia. Kelihatan banget kalau dia malu, tapi dia tetap menahan marah.
Ketika pulang sekolah, saya beranikan untuk bertanya ke Khadijah, kenapa dia masih bisa menahan sabar dan tak marah ketika saya berkali-kali mengusili dia. Dia hanya menjawab,“Innallaha ma’ashobirin.” Saya jelas tak tahu artinya itu apa. Ketika saya tanya lagi, apa itu artinya, dia bilang kalau tidak bisa dijelaskan hari ini. dia berjanji menjelaskan itu besok karena katanya dia mau ada acara. Saya mulai penasaran dengan sesuatu yang bagi saya tak penting, awalnya. Tapi sekarang saya mulai merasakan bahwa itu sedikit penting. Karena saya ingin tahu resep sabar milik dia.
Esoknya, saya mengaih janji ke Khadijah. Dia menjelaskan, bahwa arti dari kalimat kemarin adalah, “Sesungguhnya Allah Bersama Orang-Orang Yang Sabar.” Dia menjelaskan lagi bahwa itu anjuran bagi orang islam untuk selalu sabar. Dan katanya, dia ingin dekat dengan Allah dengan jalan selalu sabar. Saya semakin penasaran, untuk apa dia ingin dekat dengan Allah, dengan tuhannya. Kata dia, ketika dekat dengan Allah segala permintaannya akan dikabulkan. Saya mulai paham tapi masih memiliki pertanyaan besar, seperti apa sih tuhannya si Khadijah kok dia ingin dekat dengan tuhannya. Perbicaraan kita selesai ketika ada Bu Kristin masuk kelas.
Kita semakin sering untuk ngobrol berdua dan membahas mengenai agama. Saya ingat kalimat yang dia ucapkan, “Untukmu agamamu, untukku agamaku.” Kata dia, itu menjelaskan dengan sangat jelas bahwa setiap manusia wajib menghormati pilihan religi manusia yang lain. Makanya, dia disekolahkan oleh orang tuanya di SMA Kristen. Agar dia tahu rasanya hidup di lingkungan yang 180’ berbeda dengan kehidupannya yang dulu. Dia bercerita, bahwa dulu dia juga premanita (preman wanita). Dia dulu nakal dan suka jail. Dia suka mengejek teman-temannya yang beragama lain dengan kata “KAFIR”. Dia, katanya memiliki ilmu agama islam yang baik. Tapi itu disalahgunakan oleh dia untuk mengejek dan menganggap rendah agama lain. Sampai suatu ketika, dia disadarkan oleh suatu peristiwa, orang tuanya mengalami kecelakaan dan ditolong oleh seorang yang beragama kristen. Agama yang selama ini dia rendahkan. Dan kalau orang tuanya telat dibawa ke rumah sakit, mungkin nyawa orang tuanya melayang. Dan setelah kejadian itu, dia akhirnya sadar bahwa semua agama itu mengajarkan sisi positif. Tidak ada agama yang menganjurkan untuk saling membunuh.
Di akhir ceritanya, dia bilang bahwa dia ingin merubah pandangan buruk tentang islam ke seluruh elemen masyarakat di Indonesia. Caranya, dengan masuk ke sekolah kristen dan mempelajari sisi positif agama kristen. Karena dia yakin, semua agam mengajarkan sisi positif meskipun agama terbaik tetap islam.
Tanpa terasa saya pun menangis dan kagum. Dan saya mulai mencoba menghentikan sikap jail saya ke sesama.
Dia merubah hidup saya. Thanks Khadijah

Senin, 26 Agustus 2013

Naga Untuk Shania

Cerita ini di adopsi dari kegilaan dan keseruan Panitia @Pudak48 setelah berakhirnya event Pudak48 “Perkenalkan Kami Fans JKT48” di Delodji Cafe. Cerita ini hanya fiktif belaka, kesamaan nama dan karakter memang kita sengaja untuk menunjang kemajuan persatuan dan kesatuan Republik Naga. Salam Naga !

Suatu hari, hidup sesosok anak manusia cantik rupawan bak miss universe tahun 1974. Kita biasa memanggil di Shania. Shania yang ini manusia bukan merk minyak ataupun merk alat elektronik. Tapi manusia cantik yang hanya bisa di ciptakan oleh tuhan, bukan di ciptakan oleh Mario Teguh.

Shania ini bertekad ingin menjadi seorang idol layaknya oshimen dia yaitu Maria Ozawa. Eh bukan, kalao itu Bintang Bokep. Seperti oshi dia di AKB48 yaitu, Takahashi Minami (Takamina). Setiap hari dia latihan terus tak mengenal waktu dan tempat. Iya, karena dia pernah latihan vocal di kuburan pada jam 00.00 WIB. Tidak salah dong kalau saya bilang dia latihan tidak mengenal waktu dan tempat.

Di lain tempat, hidup pula segempal daging busuk yang berbentuk seperti manusia. Kita panggil saja nama samarannya, yaitu Wiponk. Katanya dia anak dari manusia yang berbentuk seperti manusia. Ingat, itu katanya bukan yang sebenarnya. Ampun ponk :v . Dia sama seprti Shania, penyuka Idol Group. Dia suka semua idol group di Jepang. Baik idol group bergenre pop hingga yang bergenre marawis. Dan oshi dia JKT48 itu Shania Juniantha atau Shanju. Entah kebetulan atau tidak, terjadi kemiripan orang di antara Shania yang disni dan yang di atas. Ya kan ? Penasaran kan ? Baca sampai selesai dan kalian akan menemukan jawabannya.

Wiponk bisa dikatakan sangat ahli dalam hal berdelusi. Hampir tiap hari dia delusi. Mau makan delusi, mau tidur delusi, bahkan mau mandi pun delusi. Agar mandinya puas kata wiponk. Dia memiliki banyak sekali Photopack member JKT48 dan AKB48 yang tersimpan rapi di album khusus. Dan ada kebiasaan lain yang bisa dibilang keahlian lain Wiponk. Yaitu edit foto. Dia sering edit foto laknat dan di tweet.

Tapi dari sekian banyak lagu AKB48 dan JKT48, ada satu lagu yang bisa dikatakan lagu favorite dia, yatu Beginner. Bahkan dulu dia menggunakan lagu itu sebagai alarm HP dia. Dia tidak bisa bangun kalau tidak mendengarkan lagu itu. Biasa lah, vvota vroh. Bahkan dia ingin membuat seifuku beginner khusus dia dan kucingnya yang diberi nama Bimbim. Yes, bimbin itu kucing peliharaan wiponk. Katanya, bimbim juga vvota. Ketika ada lagu AKB48 atau sister grupnya yang lain, Bimbim selalu ngechant. Hebat sekali kucingmu, ponk.

Saking gilanya Wiponk dengan lagu Beginner, dia sampai marah-marah dan banting HP kalau dia dengar lagu Beginner. Saya pun tidak bisa membedakan antara suka ataupun psikopat. Sorry x_x. Hingga akhirnya, JKT48 punya single terbaru mereka, yaitu Beginner. “Aku harus beli 10 CD Single Beginner JKT48, HARUS !”, gumamnya dalam hati. Dan dia aktif ngetweet ke @OfficialJKT48 dengan HT #JKT48BeginnerKeSby agar dia bisa ikut Direct Selling di Surabaya. Dan kebetulan, center Beginner itu Shanju, oshi nya.

Akhirnya impian dia menjadi kenyataan. JKT48 akan direct selling di Surabaya dan akan diwakili oleh Shanju, Ve, dan Cigull. Member yang selama ini fotonya sering di edit oleh Wiponk.
Hari yang ditunggu-tunggu datang. Wiponk pun telah bersolek agar terlihat beda oleh fans yang lain. DS ini di adakan di salah satu radio di Surabaya. Wiponk, bak vvota lainnya memakai kaos yang melambangkan kecintaannya kepada JKT48. Tulisan di depan, AKU CINTA OSHI dengan ada tulisan kecil di bawahnya #avalaknat .

Wiponk pun masuk ke dalam venue DS dan di dalamnya sudah ada 3 member idolanya. Mereka bertiga kaget dengan tulisan #avalaknat di baju Wiponk. Mereka sadar, di depan mereka ada orang yang sering edit foto mereka. Dan saat Wiponk mau ambil CD single yang dia beli, terdengar lagu Beginner yang sengaja dinyalakan sama staff yang di dalam ruangan. Daaan, wiponk pun membanting barang-barang yang ada di dekatnya dan memaki-maki semua yang ada di dekatnya tak terkecuali member. Semua member pun menangis dan keluar dari ruangan. Wiponk pun dipaksa keluar oleh staff dan seluruh fans JKT48.

Besoknya, ada pernyataan resmi dari JOT yang isinya memblacklist Surabaya dari list wilayah Direct Selling. Dan itu karena salah satu ulah orang, Wiponk. Wiponk layaknya public figure. Dia sempat di undang oleh Hitam Putih karena di anggap sebagai fans unik oleh orang dalam Hitam Putih. Wiponk pun menjadi salah satu public figure baru di Indonesia karena  ulah usilnya.

Singkat cerita, Wiponk pun terkenal dan mampu membeli kendaraan pribadi, yaitu Naga. Naga bisa dikatakan menjadi kendaraan mahal yang belum banyak dimiliki oleh banyak orang. Dia semakin sering ke theater JKT48 karena waktu tempuh dari Sby ke Jkt jadi singkat karena pakai Naga.

Mungkin yang jadi masalah adalah ketika dia harus memarkir Naga nya di FX. Karena lahan parkir di FX tidak ada kendaraan khusus yang tidak beroda. Yang ada untuk roda empat dan roda dua. Dan ketika sang naga lagi BAB pun, pihak FX akan kebingungan untuk mencarikan WC. Mungkin kita harus mengajari Naga kita untuk BAB di tempat yang disediakan. Hingga akhirnya, ada parkir khususn untuk Naga dan WC khusus untuk Naga. Semua itu berkat Wiponk. Tapi saya bingung, klo di mall kan tulisan buat WC cowok klo gak Male ya ada lambang tertentu. Nah kalau naga, apa ya ? Oke skip.

Singkat cerita, si Wiponk akhirnya kenal dengan Shanju sang idola. Awal perkenalan Wiponk dengan Shanju dimulai ketika dia sedang di FX. Tak sengaja dia menawari rokoknya untuk salag satu bapak-bapak yang ternyata itu Papa dari Shanju. Dia sering mengantarkan Shanju pulang. Mungkin itu enaknya menaiki Naga. Karena tidak banyak orang yang bisa tahu siapa yang lagi menaiki naga. Tapi kasihan juga yang ada di darat ketika ada riwa riwi di atas. Apalagi pas si naga BAB di udara, brrr bisa jadi kecipratan tahi nya naga.

Impian Wiponk untuk kenal dengan Oshi nya tercapai. Dia pun menghadiahkan Naga yang dia miliki untuk Shania. Dan akhirnya mereka berdua hidup bahagia. Si Shanju jadi idola dan si Wiponk jadi asisten pribadi Shanju. Mereka bahagia hidup selayaknya artis dan asistennya.

Lalu, siapakah si Shania yang ada di bagian atas cerita saya ? Saya pun tak tahu siapa dia. Saya hanya iseng saja menulis itu di atas.


Demikian cerita #NagaUntukShania yang bisa saya berikan. Mohon maaf bagi pihak-pihak yang ada di cerita ini. Kesamaan nama atau karakter memang disengaja agar emnimbulkan gelak tawa. Selamat menikmati ^.^

Ini penampakan Naga si Wiponk untu Shania