Ultras Mania Gresik

Kita pernah juara. Gresik pernah juara. Dan sekarang "KAMI RINDU JUARA" Liga Indonesia

Roma Club Indonesia

Kami ada. Kami berpesta. Kami bersatu. Hanya untuk satu kebanggaan, AS ROMA

AS ROMA

LA ROMA NON SI DISCUTE SI AMA

Fan Fiction

Cerita fiksi untuk meluapkan ekspresi jiwa. Tentang hiburan, luapan perasaan, dan pengorbanan.

48 Family

The power of Idol. Idol can't make you horny, just can make you proud with them. Kita pecinta idol sebagaimana kita mencintai sepakbola.

Tampilkan postingan dengan label Idol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Idol. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Agustus 2015

Alasan-Alasan Kenapa JKT48 Harus Dibubarkan

JKT48 adalah jalan baru bagi para jomblo untuk melewati hari-hari nya. Hari-hari yang kelam bisa berubah sedikit lebih berwarna. Bagaimana banyak orang yang ngimpi bisa jadian sama salah satu dari member JKT48. Duit mu piro ndes !

Tapi dari lubuk hati saya yang paling dalam sedalam cinta ini padamu, terbersit keinginan untuk membubarkan JKT48. Saya tak mau ajak ormas-ormas islam atau yang sok nasionalis untuk membubarkan JKT48. Karena saya ndak punya duit untuk kasih mereka semua nasi bungkus apalagi ajak mereka naik haji. Lha wong saya sendiri masih nabung agar bisa naik ke pelaminan.

Selain itu saya yakin ormas-ormas yang tereak-tereak anti liberal kapitalis komunis itu ndak akan mau bantu saya. Kenapa ? Jelas karena JKT48 itu bukan produk China. Indonesia saat ini kan alergi dengan produk China. JKT48 kan produk dari Jepang. Mana ada demo anti Jepang. Jadi ya saya ndak mau ajak mereka.

Kalian mungkin anggap saya edan kucluk atau apalah itu namanya. Tapi saya serius mau bubarin JKT48. Ndak ada faedahnya. Saya akan beberkan alasan-alasan kenapa JKT48 harus segera dibubarkan.

Kondisi Negara Sedang Genting

Kondisi negara saat ini genting. Rupiah selalu turun. Tapi cintaku padamu tak akan turun. Anak muda nya lebih suka liat JKT48 daripada ikut demo turun ke jalan untuk nurunkan Jokowi, sumber dari masalah. Anak-anak muda jaman sekarang lebih suka nyanyi Heavy Rotation daripada teriak takbir dan bilang “Jokowi Anjing” ketika demo.

Belum lagi Ahok yang bebal yang tangannya berdarah-darah. Yang katanya rezim nya Ahok melebihi kondisi Orde Baru. Meskipun saya yakin tak ada petrus di jaman Ahok.

Saya yakin fans JKT48 ndak tahu kalau ada Parade Tauhid. Parade keagamaan yang isinya pemuka agama semua. Yang sempat jadi gubernur tandingan meskipun kalah sebelum bertanding. Saya yakin fans JKT48 lebih suka menurunkan jabatan GM JKT48 dibanding menurukan Jokowi dari jabatan Presiden. Makanya, kondisi saat ini genting. Jelas, Khilafah solusinya bukan JKT48.

Eksploitasi Anak Dibawah Umur

Coba cek laman jkt48.com untuk memastikan berapa rata-rata umur member JKT48. Mereka masih bau kencur. Paling ada yang baru merasakan menstruasi. Lah ada yang kelahiran 2000 an og. Jangan pikir Nabilah JKT48 yang badannya semlohek itu sudah Kuliah. Dia baru selesai di ospek di SMA. Iya, baru kelas 1 SMA. 17 tahun aja belum, udah disuruh memuaskan hasrat lelaki. Apalagi ada yang katanya di suruh push up ratusan kali. Saya aja ndak akan mau. Ya karena saya ndak bisa.

Hari minggu jam 8 pagi udah harus di tempat kerja. Joget-joget ndak jelas. Mbok ya biarkan lihat kartun dulu gitu lho. Lihat Shincan atau Doraemon. Eh, emang kartun-kartun itu masih ada ? Yang parah ya yang nonton. Tak bisikki ya, kalian dibujukki Nippon. Kita ini dijajah Jepang ! Lawan !

Member JKT48 Kebanyakan Selfie

Saya yakin yang baca tulisan ini pasti ada follow satu member JKT48. Entah itu Nabilah, Melody, atau Nabilah ataupun Melody. Sengaja saya sebut dua nama itu tok. Yang saya kenal Cuma dua itu tok kok.

Kalau sudah follow, silahkan hitung berapa kali mereka sebarkan foto selfie mereka. Iya foto selfie. Hitung.

Padahal jelas himbauan dari Mahaguru kita, Al Ustadz Felix Siauw bahwa Selfie itu haram. Itu perbuatan kafir. Masak kalian menikmati perbuatan kafir seperti itu. Itu ndak ada dalil nya. Baik dalil aqli ataupun naqli nya. Bid’ah itu namanya.

Membubarkan JKT48 artinya menghilangkan salah satu bid’ah di muka bumi. Taqqqbeeerr !!!

JKT48 Itu Candu

Ingat kenapa Komunis dilarang di Indonesia. Bukan karena tidak nasionalis. Saya percaya komunis atau PKI lebih nasionalis dibanding mereka-mereka yang teriak anti komunis dan yang ingin merubah Republik Indonesia se enak cocot e. Saya yakin. Kurang nasionalis apa seorang Bung Karno dibanding bedengek-bedengek ormas yang anti bendera merah putih.

Komunis dan PKI dilarang “katanya” karena mereka tidak bertuhan. Meskipun saya ndak yakin kalau Bung Karno tidak bertuhan.

Tapi Karl Marx sempat dawuh kalau agama adalah candu. Tapi saya ndak tau apa maksud semuanya. Saya takut diculik seperti Widji Thukul. Yang pasti kecanduan agama saat ini orang Indonesia rasakan. Mereka seenak udelnya menggunakan agama sebagai pancingan konflik dan kepentingan politik. Jingan tho.

Dan JKT48 itu salah satu candu. Setiap candu pasti ada efek buruknya. Percaya deh. JKT48 mampu bikin orang-orang yang suka pada mereka saling ribut. Dipancing isu dikit ribut. Lha kok uripmu ribut tok to ndes. Asal tidak bilang kafir aja sih.

Jelas tho kenapa JKT48 harus dibubarkan. Jangan sampai ada jatuh korban ada yang diculik efek JKT48 masih dibiarkan ada di khazanah permusikan di Indonesia. Indonesia sedang oleng kawan.

Untung saya sudah tidak kenal apa itu JKT48. Jadi yo aman. Ra percoyo a ndes ? Kudu percoyo. JKT48 tanpa Thalia itu rasanya bukan JKT48 ndes. Makane, aku dukung JKT48 dibubarkan atau nanti saya bikin JKT48 tandingan dengan Thalia sebagai kapten, center, dan GM. Yang pasti, siapapun yang masuk JKT48 tandingan harus tidak punya masa lalu sama cowok. Biar ndak ada yang iseng-iseng share foto masa lalu. Dan yang masuk JKT48 ndak boleh cipokan. Sebelum saya merasakan dicipok mereka.

Rabu, 29 Juli 2015

Agar JOT Tak Jadi Rezim Bebal

Saat itu saya sedang duduk di bangku butut di Kereta. Kereta yang akan membawa saya kembali ke tempat saya merantau setelah beberapa hari sebelumnya saya menghabiskan waktu di ibukota yang kejam. Saya memandangi isi timeline saya yang sedang kacau dengan cacian dan kritikan pedas level 10 untuk JOT.
Saat itu pula ada hestek #GugatanUntukJOT yang di inisiasi oleh Bang Rangga. Bukan Rangga Pranendra, tapi Rangga Widigda. Saya tahu beliau ini yang juga melakukan gugatan beda agama. Banyak gugat memang Bang Rangga ini. Untung Bang Rangga tak ada gugatan untuk Kinal. Jangan tanya kenapa Bang Rangga ga akan gugat Kinal. Kalau masih ngotot mau tanya, silahkan tanya pada jenggot yang bergoyang-goyang/
Langkah pertama yang dilakukan adalah Somasi sebelum masuk ke pengadilan. Sidang pertama dilalui tanpa ada perwakilan dari JOT. Dan sidang kedua perwakilan JOT datang dan hadir pula mediator untuk mediasi. Tentang materi gugatan dan langkah hukum yang sedang di jalankan, biarkan pihak yang berwenang yang membahas. Siapalah saya ini yang tak paham akan hukum. Yang saya paham hanya hati ini satu, hanya untukmu, cimit.
Dari sudut pandang saya, gugatan untuk JOT ini adalah sebuah puncak dari kekesalan yang dari pelayanan JOT. Pelayanan JOT yang selalu menyusahkan. Misalnya saja terkait dengan HS Event yang peraturannya baru di publish sehari sebelum Event HS. JOT ujug-ujug mengeluarkan peraturan yang sebelumnya tidak ada. Atau ketika dulu 2shoot yang amburadul. Kalau dosa JOT di ungkap, mungkin puasa kita semua tak berarti di mata tuhan.
Aliran kritikan mengalir deras untuk JOT. Dan meluap dalam tempo yang singkat. Coba cek tab mention JOT ketika ada keputusan ganjil.
Email yang dijadikan bagi fans untuk curhat pun seakan jadi rumah tak berpenghuni. Kosong dan tak ada hasil. Dimana lagi tempat kita mengadu ? Memang tuhan adalah tempat curhat terbaik. Tapi ya mosok kita curhat tentang JOT ke tuhan. Atau curhat tentang waro dan fans far ke tuhan. Dan gugatan untuk JOT ini adalah tempat bagi fans untuk “mengadu”. Tujuannya satu, adanya perbaikan pelayanan konsumen.
Jangan dikira gugatan ini adalah hal yang remeh. Gugatan ini mewakili kata hati fans yang satu nasib, kecewa atas pelayanan dari JOT. Jangan samakan gugatan ini dengan kasus Menpora dan PSSI. Ra nyambung, dab. Jangan samakan Bang Rangga sama Pak Imam Nahrowi. Bang Rangga ra nduwe jenggot, dab.
Jangan dikira gugatan ini hanya cara bagi Bang Rangga untuk membubarkan JKT48. Tak ada satupun dalam materi gugatan agar JKT48 dibubarkan. Bahkan sampai memikirkan bagaimana nasib masa depan member JKT48 kalau JKT48 bubar. Guys, hidup member tak sesusah itu. Yakinlah mereka masih bisa makan di Solaria walaupun tidak jadi member. Kalau toh JKT48 bubar, artinya kalian bisa bebas foto sama member. Atau yang ada niat mau jadikan member sebagai istri ketika JKT48 bubar, niat kalian ada angin segar. Tenang, Bang Rangga tak sekucluk itu. Kalau JKT48 bubar, Kinal akan sedih dan yang pasti Bang Rangga juga sedih lihat Kinal sedih. Guys, kalian butuh hiburan.
Selama ini, kita seperti kebo dicucuk hidungnya. Kita selalu mengikuti arahan apapun yang dilakukan oleh JOT. Meskipun hati kecil kita merasa tidak suka atau kurang ikhlas melakukannya. Tapi ya demi Oshi, apapun dilakukan. Kalau seperti ini terus, dosa-dosa yang tak ingin saya sebutkan itu akan terus terjadi dan akhirnya neraka penuh dengan JOT. Kalau neraka penuh JOT, di surga tak ada JKT48. Itu yang saya tak mau.

Sekali lagi, gugatan ini bertujuan untuk menyadarkan JOT kalau selama ini pelayanan mereka tak baik-baik amat. Nilai di rapor yang ditulis dengan pensil. Yang artinya nilai nya buruk. Kalau tidak segera diperbaiki, rapor itu akan menjadi saksi hidup perjalanan JOT. Percayalah, Gugatan ini ada agar JOT tak jadi rejim yang bebal.

Minggu, 19 Juli 2015

Tetaplah Berdiri tegak, ThaliAlliance

Pepohonan di sekitaran pantai saat itu terlihat manja. Mereka berlenggak lenggok menyapa para wisatawan. Mereka menggoda para wisatawan agar mau sekedar duduk beristirahat di bawah pepohonan tersebut. Mereka dengan cara mereka sendiri melakukan tugasnya untuk menjaga ekosistem manusia dengan sumbangan gas oksigen. Katanya, manusia dan pohon itu satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Dari kejauhan, ada satu pohon yang berdiri tegak menantang ombak dan angin. Dia seakan tak punya urat takut. Pohon itu berdiri tegak seakan berkata, “Kesinilah wahai ombak dan angin, aku tak takut.” Mungkin bagi dirinya yang menakutkan adalah dirinya sendiri. Saya jadi ingat petuah nenek, “Jangan berprilaku sombong. Karena nanti kamu akan mati dimakan kesombonganmu sendiri.”
Dan aku menganggap pohon tadi, yang berdiri menantang adalah pohon yang istimewa. Aku menemukan sejuknya udara ketika duduk di bawah pohon itu. Aku melihat indahnya pantai ketika aku duduk di bawah pohon itu. Dan aku merasa kecil tak sebanding dengan yang lainnya, juga ketika duduk dibawah pohon itu. Andai aku punya kehebatan dan mampu berbicara dengan pohon, mungkin aku akan mengatakan yang nenek sempat katakan padaku.
Tiga tahun yang lalu, sebuah bibit ditanam oleh segelintir orang. Bibit yang diharapkan mampu menjadi pelindung dan menjadi sumber dari segala kesejukan. Bibit yang nantinya akan menjadi sebuah pohon yang rimbun, indah, dan kokoh. Bibit yang sengaja disemaikan oleh para “petani” agar mampu memberikan manfaat untuk yang lain.
Bibit yang tiga tahun lalu tidak berguna dan tidak memberikan apapun bagi mereka yang datang di pantai, kini semakin besar. Semakin besar bukan berarti semakin bermakna dan bermanfaat dan membekas di dalam hati. Semakin besar bukan berarti menimbulkan efek kenyamanan bagi siapapun yang datang.
Pohon yang tiga tahun yang lalu hanya sebuah bibit yang hampir membusuk, kini telah menjadi sebuah pohon yang besar. Menjadi sebuah pohon yang rindang. Menjadi sebuah pohon yang mampu memberikan udara segar bagi siapapun wisatawan yang datang. Meksipun menjadi besar, rindang, dan mampu memberikan udara segar bagi wisatawan yang datang saja tak cukup untuk memberikan kenyamanan bagi mereka. Perlu satu elemen lagi. Yakni kokoh. Pohon haruslah kokoh agar tak gampang tertiup angin dan jatuh.
Pohon yang dari atas aku tulis adalah sebuah pohon yang tumbuh diantara puluhan pohon yang lain. Namanya ThaliAlliance. Sebuah pohon yang berumur tiga tahun. Sebuah pohon yang dulu hanya sebuah bibit yang hampir membusuk. Pohon yang saat ini sudah semakin membesar. Sebuah pohon yang saat ini sudah dikenal banyak orang.
Semakin tinggi sebuah pohon, maka semakin kencang pula angin berhembus. Katanya sih begitu. Tapi aku percaya akan itu. ThaliAlliance yang dulu hanya sebuah pohon kecil seakan nyaman tumbuh tanpa ada halangan. Baik itu dari ombak dan angin. Karena pohon di sekitar lebih besar dan kokoh.
Tapi sekarang, angin yang menabrak pohon sangatlah kencang. Seakan ditampar dengan angin yang berhembus terlalu kencang, pohon itu mulai adaptasi dengan lingkungan yang ada. Meskipun sampai saat ini, rasa nyaman yang selama ini di inginkan belumlah tercapai. Setidaknya, berusaha untuk menjadi lebih nyaman adalah hal yang paling baik.

Di umur yang menginjak ketiga tahun, pohon harus lebih berbenah. Jangan sampai terlena dan terguncang ketika ada angin kencang lain yang berhembus. Tapi aku percaya, bahwa pohon tersebut akan kuat melawan derasnya ombak dan kencangnya angin yang berhembus. Sambil harus menghilangkan rasa sombong. Tetaplah berdiri tegak, ThaliAlliance.

Jumat, 26 Juni 2015

Tetaplah Terbang Tinggi, Kupu-Kupu

Tidak ada sesuatu yang instan. Seekor kupu-kupu membutuhkan waktu sebulan lebih untuk menjadi seekor kupu-kupu yang cantik. Proses menjadi kupu-kupu di namakan proses metamorfosis. Dimulai dengan telur yang menempel di daun inangnya dengan waktu sekitar 7 hari. Telur menetas menjadi sebuah larva (bukan kartun larva) berumur sekitar 14-20 hari dan berganti kulit selama 4-5 hari. Dari larva, berubah menjadi sebuah kepompong yang sama sekali tidak makan selama 14-16 hari. Sebelum akhirnya kepompong tersebut mengeluarkan seekor kupu-kupu yang cantik.
Butuh waktu yang lama bukan. Bahkan, proses metamorfosisi mengharuskan makhluk hidup yang satu ini untuk berpuasa selama 14-16 hari full. Mungkin lebih berat dibandingkan puasa manusia yang hanya 12 jam setiap harinya. Berat ? Memang. Pepatah jawa mengatakan, Onok rego onok rupo (ada harga, maka ada bentuk). Maksudnya, semakin mahal harga, maka semakin bagus barang yang dijual.
Proses seorang “kupu-kupu” tidaklah mudah. Ia harus banting tulang dan mungkin keringat yang mengucur deras ketika latihan dan ketika show, kalau dikumpulkan bisa untuk memberikan rasa asin dalam semangkok kolak. Ya, usaha yang di keluarkan tidak lah mudah.
Berkat si kupu-kupu, saya dipertemukan dengan teman-teman yang selama ini tidak pernah sekalipun ada di dalam benak saya. Tak ada yang lebih bahagia dibanding bertemu dengan seorang teman baru. Artinya, ada tinta baru yang mengisi setiap lembaran hidup saya. Dan itu berkat si kupu-kupu. Untungnya, sampai saat ini tidak ada keinginan untuk menghapus segala kenangan dan tinta yang terlanjur mengisi lembaran hidup saya. Biarkan ini menjadi sebuah kenangan dan bisa menjadi sebuah catatan perjalanan.
Kalau ada yang bilang, si kupu-kupu meninggalkan sarangnya dalam keadaan tercabik-cabik, saya rasa malah sebaliknya. Ia meninggalkan zona nyamannya dengan kepala tegak. Tak mudah bagi setiap orang untuk bisa pergi meninggalkan zona nyaman. Begitupun saya yang masih belum bisa beranjak dari zona nyaman. Tak akan ada alasan bagi kami untuk merendahkan si kupu-kupu hanya karena ia punya satu kesalahan (mungkin bagi sebagian orang itu sebuah kesalahan). Ya, mungkin ini subjektif. Tapi memang sejuta kebaikan akan hilang dengan satu kesalahan. Benar kan.
Sang Kupu-kupu telah memutuskan untuk meninggalkan sarangnya. Sarang yang selama ini menempa dia menjadi sebuah kupu-kupu yang cantik, kuat, dan dicintai banyak orang. Sarang yang juga dihuni banyak orang yang lain. Sarang yang bisa membuat ia tampak bersinar dibandingkan yang lainnya. Setidaknya bagi saya dan teman-teman. Sarang yang mampu memberikan ia kesempatan untuk lebih dikenal banyak orang. Sarang yang mampu memberikan sejuta kenangan.
Sang kupu-kupu lah alasan bagi saya dan sebagian teman-teman saya harus merelakan waktunya. Sang kupu-kupu lah alasan bagi saya dan yang lain mengeluarkan keringat lebih banyak dibanding orang lain. Sang kupu-kupu lah alasan saya untuk berlarian mengejar kereta, berlarian mengejar bis, dan busway. Sang kupu-kupu lah alasan saya belajar untuk lebih menghargai usaha orang sebelum memberikan penilaian. Sang kupu-kupu lah yang memberikan saya pelajaran, bahwa tidak ada yang instan dalam sebuah kehidupan.
Sang kupu-kupu ini dulunya hanya sebuah kepompong yang belum bisa memberikan apapun untuk kami dan semua yang menunggu kehadirannya. Sang kupu-kupu ini dulunya hanya sebuah ulat yang belum tahu rasanya menjadi sebuah bintang. Sang kupu-kupu ini yang dulunya hanya sebiah larva yang belum bisa apapun. Dan kini, ia telah berubah menjadi kupu-kupu.
Menjadi kupu-kupu yang bebas. Sang kupu-kupu telah terbang jauh dan bahkan ia juga ingin melintasi batas wilayah. Hal yang selama ini susah untuk dilakukan ketika masih ada di dalam sangkar. Kini, sang kupu-kupu bisa merasakan indahnya malam dan mengamati munculnya bulan purnama. Hal yang hampir mustahil untuk ia lakukan. Kini, sang kupu-kupu bisa bebas mendekati pejantan yang mungkin ia idam-idamkan. Hal yang tabu ketika ia masih ada di dalam sangkar. Mungkin ia lupa rasanya jatuh cinta itu seperti apa.
Dan kini, kami yang selama ini ada di belakangmu, yang selama ini memberikan seluruh dukungan hanya untukmu, dan kami yang selama ini memberikan kritikan pedas dan saran hanya untukmu harus bersiap memberikan karpet merah tanda penghormatan untukmu. Untukmu yang selama ini menjadi bagian hidup kami. Untukmu yang telah mempertemukan kami menjadi sebuah keluarga dengan berbagai entitas. Untukmu yang telah menggoreskan tinta perjuangan dalam buku perjalanan kami.
Maafkan kami yang tidak bisa memberikanmu hadiah yang indah di akhir perjalananmu. Maafkan kami yang memberikanmu sebuah luka yang mungkin sampai saat ini kita semua belum bisa menghapusnya. Maafkan kami yang tidak bisa memberikan sebuah puncak tertinggi yang selama ini kita semua impikan. Maafkan kami kalau kami selama ini terlalu keras. Maafkan kami tidak bisa membuatmu tersenyum di atas panggung yang selama ini kita semua inginkan. Maafkan kami, karena kami tidak bisa memberikan kenangan yang ondah di akhir perjalananmu.
Ini baru awal dari perjalanan mu, kupu-kupu.
Tetaplah menjadi kupu-kupu yang selama ini kami impikan. Tetaplah menjadi kupu-kupu yang cantik, menarik, dan bawel. Tetaplah menjadi kupu-kupu yang memiliki keinginan untuk menjadi yang terbaik. Dan Tetaplah Terbang Tinggi, Kupu-Kupu ku.



Sebuah tulisan perpisahan untuk Tata. Semoga kau menjadi lebih dewasa dibanding sebelumnya, my butterfly.

Rabu, 24 Juni 2015

Apakah Kalian Benar-Benar Melihat ke Tim K3

Tim K3 adalah bukti bahwa yang tak terlihat belum tentu tak bisa dilihat. Yang tidak tampak bukan berarti ia tak bisa menampakkan dirinya. Sekali-sekali, yang tak terlihat ini menampilkan sesuatu sehingga ia menjadi terlihat. Meskipun, sampai saat ini pertanyaan besar masuk ke dalam diri daya, “Apakah kalian benar-benar melihat ke Tim K3 ?”
Tim K3 melihatkan kepada kita bahwa kehidupan ini tak selamanya adil. Setidaknya itu yang keluar dari mulut banyak pihak yang mengikuti dan melihat Tim K3. Anggapan bahwa adanya ketidakadilan adalah bukti bahwa kita masih merasa inferior. Sejatinya, tak ada yang berbeda. Setidaknya Tim K3 mengajarkan kita bahwa ketidakadilan bisa dilawan dengan semangat yang tak kunjung padam. Habis Gelap Terbitlah Terang.
Ya, karena hidup tak selamanya lurus bukan.
Tapi apakah usaha dan semangat yang tak kunjung padam tersebut bisa membuat kita untuk sejenak mengarahkan muka kita dan melihat ke mereka ? Tak perlu memberikan penilaian baik atau buruk. Cukup melihat mereka. Ibarat permata, mereka belum dipoles secara sempurna. Semuanya adalah permata yang masih kotor. Sangat kotor. Karena tak ada kesempatan bagi mereka untuk memoles dirinya sendiri. Banyak atau tidaknya yang melihat mereka adalah acuan bagi mereka untuk dipoles atau bahkan di biarkan menjamur. Membusuk.
Pertanyaan lainnya adalah, apakah kalian yang tidak pernah melihat mereka atau kalian tak diberi kesempatan untuk melihat mereka ? Karena itu menghasilkan jawaban berbeda. Ya karena konteksnya berbeda. Tapi hasilnya sama, tidak ada yang melihat mereka.
Tim K3 memberikan kita pelajaran bahwa usaha dan semangat saja tidak cukup. Karena ada variabel lain yang harus dipenuhi untuk mampu menjadi bintang yang bersinar. Minimal, bintang yang dikenali oleh yang lain. Dan satu-satunya jalan untuk bisa dikenali adalah dilihat.
Adalah berjuang bersama. Tim K3 memberikan opsi lain agar mereka bisa dilihat. Mereka membutuhkan orang lain untuk menyadarkan mereka-mereka yang enggan untuk melihat ke padanya. Tim K3 membutuhkan dukungan agar banyak yang melihat mereka. Tim K3 membutuhkan cahaya lain dari bawah untuk menyorot ke mereka seraya berkata, “Lihatlah aku.”
K3luarga K3
Lalu apakah selama ini lampu yang ada di theater tak cukup terang menerani mereka ? Bukan. Cahaya yang dikeluarkan selama ini adalah ilusi. Cahaya yang selama ini menerangi mereka ternyata tak mampu membuat mereka tampak bersinar.
Lewat lagu Lucky Seven, mereka memberikan pesan. Bahwa mereka tidak pernah lari dari kesulitan apapun. Mereka membutkikan bahwa segala tantangan ada untuk dihadapi bukan untuk ditakuti. Keyakinan mereka bahwa cobaan seperti apapun pasti bisa mereka hadapi. Dan tantangan 13 Juni kemarin adalah bukti bahwa Lucky Seven telah memberikan artipada setiap diri mereka.
Dengan segala usaha yang mereka kerjakan selama ini, dengan segala cucuran keringat yang keluar dari segala penjuru pori-pori di badan, dengan segala tetesan air mata yang mengucur deras, dengan segala darah yang keluar, pertanyaan kembali muncul, “Apa kalian masih enggan melihat perjuangan mereka ?”


















Tulisan ini dibuat untuk merayakan Ulang Tahun Tim K3 yang kedua pada 25 Juni 2015. 2 Tahun yang lalu, Tim K3 berdiri dengan beban untuk bisa menyaingi kakak nya yang sudah jauh berada di depan. Dan sekarang, mari bantu K3 untuk setidaknya menyamakan posisi dengan sang kakak.



Senin, 22 Juni 2015

Shinta Naomi dan Pentingnya Show Must Go On

Konser buah-buah sudah selesai sekitar seminggu yang lalu. Selain rasa puas dan bangga yang dihasilkan, ada juga rasa yang lain. Sebagian besar orang punya rasa kecewa. Saya pribadi, rasa yang dominan saat itu sesaat setelah konser rasa-rasa selesai adalah rasa puas. Bagaimana tidak puas, impian mengibarkan giant seifuku di luar jawa timur akhirnya tercapai. Dan itu juga berkat bantuan yang lain. Meskipun tahun lalu, giant seifuku sempat “nyangsang” juga di Jakarta.
Sepulang dari FX, saya dan yang lain bercerita di mobil. Masing-masing dari mereka mengutarakan kekecewaannya terhadap keputusan manajemen yang merubah anggota member masing-masing tim. Twitter land gempar. Bahkan akun sepakbola menyadari hal ini dan menyatakan bahwa transfer member JKT48 lebih heboh dibanding transfer pemain sepakbola musim ini. Selain karena transfer window musim panas ini memang belum resmi dibuka (biasanya 1 atau 2 juli), perpindahan member ternyata menimbulkan efek kejut berkekuatan tinggi.
Dijadikannya 3 member Team J menjadi kapten disemua tim, adalah satu diantara kejutan yang menyesakkan bagi sebagian orang. Kalau biasanya kejutan berakhir dengan kegembiraan, maka kali ini kejutan berakhir dengan cacian dan makian. Bisa di bandingkan berapa kalimat jelek yang masuk ke tab mention JOT dengan kalimat yang baik sesaat setelah keputusan itu keluar.
Tak terkecuali bagi teman-teman baru saya yang berada di dalam mobil. Mereka sama dengan yang lain yang tidak suka dengan keputusan itu. Alasannya beragam. Mulai dari “Kenapa harus Kinal yang jadi kapten.”, “Kenapa Naomi yang harus dipindah ke tim J”, dan yang ekstrim, “Kok Tim J enak banget ya. Dream Team.” Yang terakhir setidaknya saya setuju. Tim J “dapat” Elaine dan Naomi dalam satu waktu. Itu ibarat Barcelona dapat Marco Veratti dan Sergio Ramos di transfer window nanti. Veratti yang disebut sebagai wonderkid di ibaratkan seperti Elaine, dan Ramos seperti Naomi. Berlebihan ? Tidak.
Saya pribadi kecewa karena Naomi, kapten K3 yang harus dipindah ke tim lain. Opini yang muncul adalah kalau ada pergantian kapten, artinya kapten itu gagal atau kapten itu sukses. Tapi opini lebih mengarah kalau kapten Naomi gagal dengan dijadikannya Kinal yang notabene adalah kapten “lawas” Tim J sebagai pengganti Naomi sebagai Kapten K3. Naomi gagal ? Tanya ke yang mengikuti K3 secara penuh.
Terhitung mulai 1 Agustus, masing-masing Tim akan punya kapten baru dengan susunan tim yang baru juga. Jadi masih ada sekitar satu bulan lebih dikit untuk membuktikan ke publik kalau dia (Naomi) bukan lah kapten gagal. Mungkin, setelah lebaran, ada 1-2 show sebelum masuk ke bulan agustus. Yang artinya, masa bakti Naomi di K3 sudah habis.
Pertanyaannya, mau sampai kapan terus-terusan meratapi Naomi yang sebentar lagi akan jadi anggota tim lain ? Show Must Go On. Walau anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Mungkin itu istilah yang tepat bagi Naomi, K3, dan para fans K3. Mau diratapi kepergian Naomi terus menerus ? Apa dikira kalau masih tak rela Naomi di Tim J bisa merubah situasi dan kondisi di dunia sana ? Enggak.
Yang terpenting adalah bagaimana caranya masing-masing pihak (fans dan member khususnya Naomi) bisa memberikan kesan terbaik sebelum agustus datang. Bagaimana Naomi memberikan yang terbaik di sisa masa bakti nya di K3. Bagaimana member K3 nurut sama Naomi di akhir masa baktinya dan mungkin ada “pesta” untuk Naomi.

Siapapun kaptennya, Show Must Go On.

Sabtu, 20 Juni 2015

Asam Manis Lemon

Sebuah Catatan Perjalanan Konser Lemon dan Project Giant Seifuku

Yg paling jauh dari kita adalah masa lalu. Ya, masa lalu menjadi hal yg susah untuk kita raih. Dan catatan ini adalah cara bagi saya, bukan untuk mengembalikan masa lalu. Setidaknya masa lalu bisa memberikan jalan yg indah bagi saya ke depannya lagi khususnya dan teman-teman sekalian.
Cerita ini adalah sebuah catatan perjalanan saya pribadi ketika yg awalnya "dipaksa" datang dan akhirnya menerima itu dan menjadi enjoy. Maha dahsyat tuhan yg bisa dg mudah merubah hati dan perasaan seseorang.
Perjalanan kali ini terasa spesial. Karena ada orang-orang hebat yg membantu saya untuk berangkat. Mungkin tanpa mereka, saya tak akan berangkat. Asli. Terimakasih atas bantuannya.
Perjalanan ini dimulai bahkan sebelum berangkat. Jadi dimulai ketika harus susah payah menjemput sebuah seifuku raksasa K3banggan teman2 Jatim (Malang, Kediri, Blitar, dan Gresik) hari selasa di rumah salah satu teman. Susah payah nya lagi adalah ternyata kita harus atur skenario packing yg ternyata susah. Tujuannya adalah biar ketika di Jakarta tinggal langsung pakai. Tapi susah. Jadi asal aja gitu packing nya.
Di hari rabu, badan tiba-tiba tepar. Kepala pusing dan meriang. Ada aja halangan. Demi K3 sih berangkat aja wes. Ya kan Tata ? :)
Apes nya adalah kamis pagi telat bangun dan harus cepet2an berangkat ke Stasiun. Kebetulan berangkat dari Surabaya jam 12 siang. Mandi jam 7 dalam posisi setengah sadar dan badan gemetaran sendiri. Ngalam adem sam.
Sampai Stasiun Gubeng 10 menit sebelum kereta berangkat. Edan. Mepet banget. Ah iya. Saya cuma bawa bendera yg kecil 4 meter. Yg 12X9 meter dibawa salah satu pasukan Nadilavatic asal Malang, Mas Galih. Tanpa Mas Galih, hancur sudah rencana.
Single Fighter di kereta dan seakan jadi obat nyamuk. Duduk 2-2 dan di depan ada orang pacaran. Harusnya FPI bikin petisi agar dilarang pacaran di dalam kereta. Kasihan kaum jomblo seperti saya. Jangan di bayangkan rasanya seperti apa. Sakitnya seperti ketemu mantan calon gebetan udah jadian sama yg lain.
Sampai di Pasar Senen jam 02.00 WIB di hari jumat. Bray, jam 2 pagi dan saya sendirian di sana. Takutnya ada yg nyulik. Nanti Tata kangen lalu sedih lalu nangis lalu. Ah, hanya angin lalu.
Karena banyak yg tidur di depan mushola, saya pun memutuskan untuk join tidur. Bedanya, yg lain tidur beralaskan koran bekas, saya tidur beralaskan koran yg atasnya bendera K3 yg saya bawa dari Malang ukuran 4 meter. Biar dah dikira wota. Ngantuk bray.
Agak siang an harus nunggu Galih, sang Nadila Defender yg bertugas bawa seifuku besar. Bayangkan, saya di stasiun mulai jam 2 pagi sampai jam 10 siang. 8 jam. Udah kayak setengah perjalanan Jakarta-Malang njir. Jemputan datang jam 11 siang. Dijemput Nadilavatic. Ada presiden berjenggot nya Nadilavatic, Towi, ada Anggi dari K3 United, ada Adit dari Nadilavatic dan satu lagi gak tahu nama. But, thank you sudah dijemput. Dari stasiun langsung cus ke venue di Kelapa Gading. Dan baru kali ini saya naik mobil di jalanan ibukota. Biasanya busway, angkot, dan taxi. Hahaha. Dan baru itu juga tahu bentuknya MOI, Mall of Indonesia. Itu Mall atau museum. Bagus gede banget lagi. Dan baru tahu juga kalau tempat nya konser di kandang nya Satria Muda Britama alias di Mahaka Sport alias Britama Arena alias bagus njir.
Disana yg dilakukan adalah cepak-cepak bendera. Berdasarkan instruksi dari salah satu teman. Karena ternyata diluar venue rame orang, makanya kita memutuskan hanya membuka bendera yg ukurannya Cuma 4 meter. Kalau yang 12 meter, bisa jalanan ketutup.
Pulang dari venue, ke FX duls gan. Biasa, naque FX. Di FX ternyata ada yang cepak-cepak. Di situlah saya ketemu Ordo Ndlvtc cem Tama, Ido, Luthfi, sama ada beberapa yang lain yang saya tak tahu siapa dia alias asing banget. Untung ada tempat yang namanya sofa dan bisa sekedar melepas penat alias ngantuk pak.
Balik dari Mall 2 huruf sekitar jam 11 malam dan kita berdua sama Thowi (jangan dibayangkan mesra nya di libom) jalan ke rumah si Haical. Clan Sinkadorable. Jauh banget. Jam 1 baru sampai di rumah Haical. Harus cepat tidur, karena besok perjalanan jauh alias jam 6 janji kita berangkat. Dan jam 8 ketemu sama yang lain di mall 2 huruf (lagi). Dan bingo. Kita bangun jam 7. Berangkat jam 8 dan sampai di mall 2 huruf jam 10 an. Hahaha. Buru-buru bernagkat ke venue karena eh karena ada tugas negara yang belum kita selesaikan.
Di venue yang panas banget gila, clan matahari sudah bersiap semua. Atas perintah yang lain, bendera 12 meter digeber di atas lapangan basket. Ga usah kaget kalau besarnya bendera hampir menutupi semua sisi lapangan basket.
Singkat cerita, masuk ke venue. Sebelum masuk venue, ada sesi doa bersama demi kesuksesan semua project konser dari Aliansi Matahari. Dari sinilah saya yakin kalau “militansi” teman-teman di daerah jauh lebih edan dibanding yang di pusat. Dengan jumlah aliansi matahari yang tak terlalu banyak, rasa optimisme saya untuk gagal kembali muncul. Masa iya, ini bendera bisa digeber dengan jumlah pasukan yang dikit banget. Asli ya, di tribun atas Cuma ada sekitar 7.8 orang. Itupun kita tanpa simulasi di dalam venue. Dikira member doang yang bisa gladi resik. Kita juga dong. Di tribun bawah dan VIP pun ga sebanyak ketika konser di Malang. Nyali mulai menciut. Jelas, karena ini bukan daerah yang “ramah” bagi mereka yang ingin membuat sebuah project. Gagal, itu yang ada di benak saya.
Dan kali ini, saya ucapkan ribuan terimakasih untuk teman-teman di tribun atas yang kalau gak salah itu dari fanbase Shafa. Terimakasih. Mungkin tanpa kalian, project ini tidak akan pernah berhasil.
Masalah muncul ketika kita harus bawa stik pancing ke venue. Dengan sedikit diplomasi negosiasi alias bersilat lidah, mengelabui petugas keamanan dengan sedikit omongan, itu bisa masuk. Sialnya, di venue tak bisa dipakai. Apa sialnya Cuma sampai disitu ? Tidak.
Di dalam venue, ternyata jauh diluar dugaan kita. Di setiap sisi pagar, ada lampu sorot. Beda dengan kondisi di Malang dulu. Anehnya, kondisi di dalam venue, gelap banget. Dan saya yakin bendera yang di kibarkan, tidak terlihat. Masalah seifuku, skenario awal kita adalah mengibarkan seifuku persis yang dilakukan ketika konser di Malang. Tapi dengan kondisi pagar yang penuh lampu dan resiku lampu akan jatuh plus yang kita takutkan adalah kondisi kain yang rentan sobek. Ya, mau gak mau, kita rubah skenario saat itu juga.
Plan B kita adalah mengibarkan bendera seperti bendera di stadion. Jadi, seifuku dikibarkan di tribun. Kecewa sih. Tapi itu jalan terakhir daripada tidak sama sekali.
Mau gak mau 7-8 orang yang di tribun atas harus capek-capek sendiri mengibarkan seifuku besar. Bahkan 2 diantaranya adalah cewek. Agak gimana gitu rasanya. Bukan apa-apa, ga enak hati kalau harus meminta tolong ke mereka berdua. Untungnya mereka membantu tanpa saya minta tolong. Salut.
Skenario lain yang kita rencanakan adalah mengibarkan seifuku ketika encore sampai MC Encore. Tapi dirubah sedemikian cepatnya dan baru di kibarkan ketika lagu Korogaru. Lagu kebangsaan K3.
Segala perubahan skenario terpaksa dilakukan karena kondisi di dalam venue yang tidak bisa ditebak dan kita sama sekali tidak tahu rencana apa yang di jalankan oleh manajemen. Beda cerita ketika di Malang, kita sudah tahu rencana mereka sejak sehari sebelum konser. Tata letak panggung, kondisi tribun, dll. Untungnya, teman-teman semua sigap meskipun agak panik. Wajar. Mungkin bagi mereka, project ketika konser baru kali ini dan perubahan skenario juga baru kali ini terjadi dan harus dirubah secepat mungkin.
Terakhir dari saya, saya meminta maaf kepada semua pihak yang ,merasa dirugikan dengan adanya project giant seifuku. Maaf apabila kami mengganggu kenyamanan kalian semua. Semata-mata kami lakukan demi idola kami. Tanpa ada rasa ingin menjadikan kami lebih dikenal.
Kedua, saya meminta maaf kepada teman-teman saya, Clan Skyleng asuhan Ustadz Bhir dan murid-muridnya apabila saya merusak rencana dan merubah agenda teman-teman semua. Kemarin terjadi begitu cepat dan saya tidak bisa melakukan apapun.
Saya juga mengucapkan terimakasih atas izin teman-teman di Jatim, sang pemilik Giant Seifuku (Kediri, Malang, Blitar, dan Gresik) agar saya bisa bawa Giant Seifuku ke Jakarta (lagi). Kedua, untuk yang sudah saya repotkan dalam project ini. Khususnya Pandu dan Galih (Clan Ndlvtc).
Terimakasih juga untuk tumpangan mobil dan jemputannya, Tantowi Jauhari, Ksatria Berjenggot, btw jenggot kita sama. Dan tumpangan tidurnya, Mas Haical. Tanpa kalian, sudah jadi bubur kali saya disana.
Terimakasih juga untuk seluruh punggawa Aliansi Matahari dan K3 United yang meyakinkan saya untuk berani mengibarkan Giant Seifuku di Jakarta. Kalian hebat. Meskipun banyak yang tidak suka dengan kalian, tapi kalian tetap berjuang demi idola kalian. Khusus untuk teman-teman Shafa Oshi. Kalian luar biasa.
Dan saya masih menyayangkan masih adanya “penumpang gelap” disana. Semoga lain kali tidak ada lagi penumpang gelap dan semua menjadi penumpang yang baik.

Maaf apabila tulisan ini menyakiti hati siapapun yang membaca. Terima Kasih.


Berikut dokumentasi foto 



Jumat, 22 Mei 2015

Tetaplah Tersenyum, Bulan

Bulan tampak semakin indah ketika ditemani ribuan bintang. Keberadaan bintang sekilas memang seperti pengiring dari bulan. Tapi kembali, bulan tanpa bintang hanya satu titik yang memancarkan cahanya sendiri. Cahaya nya menandakan ke egoisan. Tapi ketika ada bintang, langit seakan lebih indah. Bagaikan bintik-bintik putih di kertas hitam.

Mungkin bagi sebagian orang, bintik-bintik putih di kertas hitam bagaikan noda abstrak yang tak berguna. Tapi bagiku, itulah keindahan. Melihat bintang dan bulan menghiasi langit malam hari itu sebuah harta yang berharga.

Bayangkan kalau nanti sang bulan sedih dan urung muncul di malam hari. Gelap, tak indah rasanya. Bisa jadi ia sedih karena di langit, ia sedang bertengkar dengan matahari yang masih ingin menampakkan kekuatannya dan tak mau mengalah dan memberikan langit sebagai catwalk bagi seluruh penghuni langit. Bisa apa sang bulan. Ia hanya makhluk langit yang tak berdaya. Ia nampak besar dan kekar. Tapi kekuatannya tak sebesar matahari, dan bahkan ada atau tidaknya bulan tergantung dari matahari. Ia lemah, tapi punya tekad.

Hari itu, sekolah terlihat seperti apa adanya. Tak ada yang berbeda. Pelajaran membosankan seperti biasa. Kadang saya berfikir, apa semua pelajaran membosankan kayak gini ya. Atau itu cuma saya yang rasakan. Kita hanya di jejali puluhan rumus dan teori tanpa bisa melakukan pembenaran atau sekedar menyalahkan status quo yang ada.

Saya ingat, saat itu adalah 21 Mei. 17 tahun yang lalu ada Reformasi besar-besaran. Reformasi untuk mengganti status quo yang bertahan selama 32 tahun. Status quo yang dibangun dengan pondasi yang kokoh. Bagaimana tidak kokoh, pondasi nya di isi dengan aparat negara dan ancaman.

Saat itu, yang saya ingat adalah guru sejarah saya menjelaskan bahwa rezim orde baru di turunkan mahasiswa dan rakyat karena sudah tidak pro rakyat. Kata buku seperti itu. Cuma, saya tertarik dengan kejadian sebelumnya. Estafet perubahan dari orde lama ke orde baru. Ya, supersemar. Apa benar supersemar yang kita kenal dan kita pahami itu sesuai dengan kenyataan. Apa tidak ada unsur kesengajaan untuk mengganti supersemar.

Saya ingat, sejarah ditulis oleh pemenang perang. Entah itu quote siapa. Tapi, saya semakin yakin kalau sejarah Indonesia saat supersemar ditulis oleh pemenang perang. Perang ini bukan angkat senjata semata.

Ah, mata mulai ngantuk. Membosankan. Yang dijelaskan, semua ada di buku. Tidak ada satupun guru sejarah yang berani mengatakan yang sebenarnya terjadi. Bagaimana kekejaman rezim sebelumnya dan bagaimana suksesi dari Orde lama ke orde baru.

Posisi duduk ku di sisi meja guru tapi d belakang sendiri. Entah kenapa cowok selalu punya kebanggaan pas mampu mengamankan posisi duduk paling belakang. Kayak bisa dapatkan cewek idola di sekolah.

Kucoba memalingkan muka ke satu sudut ruangan kelas. Sampai akhirnya mata ini berhenti melakukan petualangan dan berhenti di satu orang. Namanya Bulan. Bukan cewek populer di sekolah. Cuma cewek ceria yang kebetulan menghiasi hari-hariku.

Bulan mungkin beda dengan kebanyakan. Dia tak cuma mengandalkan parasnya yang elok untuk sekedar menjalin hubungan pertemanan. Dia bukan minyak dalam pusaran air yang dengan sombongnya menolak untuk bergabung dengan air menyatukan kekuatan. Ia adalah madu. Yang rela menyatu dengan air dan menghilangkan warna aslinya, hanya untuk memberikan rasa manis. Dia itu bagaikan mutiara di dasar laut. Kalau belum diasah, tampak biasa saja. Kalau sudah diasah, tak ternilai lagi harganya.

Ya, itulah Bulan. Gadis ceria yang mencairkan suasana dengan celotehan lucu nan menggemaskannya. Bulan bukanlah cewek yang pintar di kelas. Cuma, ia rajin dan tak punya rasa takut untuk menjadi maju. Jangan heran kalau ia mampu masuk 10 besar di kelas. 

Beberapa minggu berselang, ada yang aneh dari Bulan. Ia yang ceria mendadak murung. Senyumnya yang murah bahkan di diskon itu pun seakan menjadi mahal dan enggan untuk di lepaskan. Aneh pikirku.

Saya, meskipun mengidolakan Bulan, tak ada keberanian untuk sekedar mendekat. Rasa malu ku mengalahkan keinginan ku. Lemah memang. Tapi inilah aku dengan segala kekurangannya.

“Bin, ngerasa ada yang aneh gak sih dari si Bulan ?”, tanyaku ke teman sekelasku yang dekat sama Bulan. Bintang namanya. “Iya nih, aku juga bingung dia kenapa. Murung mulu kerjaannya.”, jawab Bintang. “Padahal kemarin-kemarin itu dia ketawa ketiwi gitu sama anak-anak. Eh, sekarang murung gak jelas gini.”, lanjut Bintang. Fyi, Bintang ini teman masa kecil Bulan. Banyak yang bilang kalau ada Bintang pasti ada Bulan. Jadi, minimal Bulan cerita masalahnya ke Bintang. Tapi Bintang sendiri kaget. Aneh.

Hari itu anomali bagiku. Tak sesuai kebiasaan yang sudah digariskan tuhan. Bulan sedih itu menyalahi aturan yang sudah di buat tuhan. Kadang saya mikir, apa tuhan sengaja menurunkan Bulan dari surga untuk menceriakan kesedihan. Kalau itu benar, hari ini adalah hari dimana Bulan manyalahi aturan.

Di rumah, rasa penasaranku semakin membuncah. Otak ku berasa di isi oleh larva yang kapanpun bisa meledak. Yang kandungan larva nya adalah semua tentangmu, Bulan. Sampai ku putuskan besok harus berani. Sekedar say hello dan kalau bisa tanya kabar dan kenapa dia berani menyalahi aturan tuhan untuk bersedih.

Esoknya, terjadi seperti biasa. Daun berguguran. Bukan, ini bukan Bunga Sakura yang gugur. Tapi daun pohon mangga di depan sekolah yang hampir tiap hari memberikan pekerjaan buat penjaga sekolah.

Ah, itu Bulan, kata ku dalam hati. Kaki ku otomatis berhenti seketika Bulan lewat depan. “Hai Angga.”, sapa Bulan padaku. “Hai juga lan. Sehat ?”, jawabku. Duh, pertanyaan bodoh macam apa itu. “Baik kok ngga. Duluan yo. Ditunggu Bintang soalnya. Bye.”, jawab Bulan.

Tak terasa air asin meluncur deras dari atas kepala menelusuri seluruh badan. Dari hulu ke hilir. Mungkin keringat sudah tahu waktu kapan dia harus keluar. Semacam BOT twitter yang sudah tahu kapan harus muncul.

Pelajaran dimulai dan aura negatif sudah mengelilingi guru ku yang berdiri di depan. Entah, selalu bosan kalau pelajaran matematika. Mungkin ini alasanku milih IPS daripada IPA. Tak ada penyesalan sama sekali pas pilih IPS daripada IPA.

Bel istirahat berbunyi. Bulan masih sama seperti kemarin. Ia tak banyak omong. Sekedar melayani sapaan orang. Padahal biasanya ia punya segudang topik yang ingin dibagi ke orang banyak. Atau bisa bikin perut teman-temannya kesakitan karena ketawa. Ya, itulah Bulan yang dulu.
Entah setan apa yang merasuki otak ku. Aku ajak Bulan keluar kelas dan ngobrol di luar kelas. Rasa malu dan keringat yang biasanya keluar sesuai jadwal, terasa hilang dan mengerti kondisi yang punya badan.

“Bulaaaannn, mau ngobrol nih. Sharing gitu. Boleh kan ?”, tanyaku ke Bulan. “Eh iya silahkan Ngga. Ada apa toh. Kok kayaknya penting gitu. Baru putus sama ceweknya ya.”, tanyanya nyerocos sambil makan permen. Ah, ini Bulan yang dulu. Banyak ngomong. Kadang ngeselin tapi ngangenin. Itulah Bulan.

“Eh cewek apaan sih. Orang gak punya cewek alias single, bukan jombl.”, kataku. Dia ketawa sambil jitak kepala ku. “Dasar Angga si raja gombal. Ga mau di bilang jomblo tapi single. Sama aja geblek. Hahaha.”, jawab nya. Entah, hati ku mulai senang. Dia tak lagi cemberut.

“Gini gini lan, kamu kenapa sih ? Kok kemarin-kemarin cemberut terus. Ada masalah apa ?”, tanyaku. Bulan sontak kaget mendengar pertanyaanku yang mungkin menohok. “Lah aku kenapa ngaa ? Aku biasa aja kok.”, jawabnya ngeles. “Bohong banget kalau kamu biasa aja. Jangan bohong lah. Aku tahu kamu ada masalah. Kamu jadi aneh ih. Suka diem sendiri, murung sendiri. Ga suka ah aku.”, kataku.

Bulan diam sebentar. “Hahah, kamu lebay ngga. Suer aku ga ada masalah kok. Cuma malas aja buat ketawa-ketawa. Hahaha. Aku aneh ya ngga.”, jawabnya sambil ketawa. “Iya kamu aneh kalau sedih murung gitu. Kamu ya yang suka ketawa dan bikin ceria. Aneh tau gak.”, ketusku. “Ih, Angga kok marah-marah sih. Takut ah. Hahaha.”, jawabnya sambil muka nya sok ketakutan.

“Bukan apa-apa lan, ada banyak orang yang rindu celotehan dan sikap mu yang lucu itu. Kamu gak sadar kan kalau banyak yang bisa ketawa karena tingkah mu.”, kataku. “Kalau boleh jujur, aku salah satu orang yang rindu sama tingkah lucu menggelikan mu. Meskipun kadang menjijikan. Hahah.”, kataku sambil ketawa. “Heh, jahat. Menjijikkan katanya. Marah nih. Hahaha.”, katanya sambil pukul tanganku.

“Eh serius. Ada yang aneh pas suasana kelas jadi sunyi senyap dan garing. Yang selama ini bisa menghidupkan suasana kan Cuma kamu. Aku yakin, banyak yang ngerasa aneh.” “Aku gak pengen tahu alasanmu. It’s your privacy. Cuma, aku pengen kamu tahu aja kalau ada banyak orang yang terbiasa hidup dengan celotehanmu dan merindukan tingkah lucumu.”, kataku.

Ia diam sejenak. “Iya sih ngga. Aku akhir-akhir ini merasa kalau aku agak murung. Tapi santai ya. Aku sudah baikan kok. I will make you and my friend cries caused me. Ahaha.”, jawabnya sambil ketawa lepas.

Bel masuk sudah berbunyi. Entah gonjalan yang sempat ada di hati seakan menghilang. Lega rasanya. Seluruh kegelisahan sudah tersampaikan. Meskipun saya tak tahu alasan dia murung. Asalkan dia kembali tersenyum, itu luar biasa.

Di mataku, Bulan itu sebagai pelengkap sekaligus pemeran utama dalam cerita kehidupanku. Tanpa Bulan, hidupku sepi. Mungkin ini yang dirasakan teman-teman yang lain. Bulan sukses menorekan bintik putih di kertas hitam perjalanan hidupku. Tetaplah menjadi Bulan yang menyinari semua orang di kegelapan malam. Tetaplah tersenyum, Bulan.

Minggu, 15 Februari 2015

Kaze wa Fuiteru dan Kekuatan Hembusan Angin

Angin yang berhembus, mampu menerbangkan benda yang berat sekalipun. Amerika bukanlah sebuah negara yang terancam dengan adanya Tsunami. Tapi Amerika sangat terancam dengan berbagai badai topan. Tenang, Badai Veranda tak akan mengguncang dan menerbangkan rumah di Amerika.
Angin tidak pilih-pilih. Dia bergerak sesuai keinginan hati. Entah efeknya parah atau tidak, dia tak perduli. Asal tugasnya (Untuk berhembus) berjalan dengan sempurna. Kalau ada yang terkena efek buruk, artinya itu suratan tangan. Di Amerika sendiri sudah banyak rumah anti badai (badai sungguhan, bukan Veranda). Artinya, mereka sudah antisipasi kalau ada kejadian serupa terulang. Pun, di Jepang. Jepang adalah negara yang paling rawan akan gempa, sudah mempersiapkan kalau tiba-tiba ada gempa dan berbuntut Tsunami.
Menjadi public figure pun begitu. Dia akan bergantung pada angin dan kekuatannya bersahabat dengan angin. Kadang, dia bisa naik karena angin dan ketika lengah, angin tak segan untuk turun. Ingat, angin tak pilih kasih. Tapi kita bisa bersahabat dengan angin. Bukan menjadi salah satu bagian dai Avatar, melainkan mengenal angin dengan baik. Kapan angin datang dan mempersiapkan “tameng” agar angin tidak membawanya turun.
Saya adalah salah satu orang yang pada awalnya kurang yakin kalau Tata (Thalia) mampu bertahan dalam deretan 16 besar (senbatsu single)  keramat member JKT48. Bukan tanpa alasan. Karena ia sejak awal masuk Gen 2, sudah kalah pamor dibanding Viny, Yupi, dan sang kapten, Naomi. Bahkan, dia mampu lolos senbatsu single ketika ada senbatsu sousenkyou. Atau pemilu nya 48 group. Sebelumnya, ia hanya mampu jadi bench warmer. Ia hanya jadi cadangan.
Tata dan Bantuan Angin
Dalam dunia musik, keberadaan fans itu sangat penting. Jika di ibaratkan kehidupan, fans itu angin dan aktor musik itu dedaunan. Daun sangat bergantung dengan angin. Dedaunan bisa terbang ke angkasa dengan bantuan angin. Dan angin bisa dengan mudah menurunkan daun ke tanah. Sangat mudah.
Dalam JKT48 itu unik. Ada yang namanya kompetisi antar member. Di Indonesia mungkin baru ini (JKT48). Kalau band atau aktor musik lain butuh fans untuk menaikkan pamor band nya, maka JKT48 ini tidak sepenuhnya benar. Ya, JKT48 butuh fans untuk menaikkan pamor JKT48. Tapi member yang jumlahnya banyak itu berusaha menaikkan pamornya juga. Baik di hadapan publik (yang tak tahu JKT48) ataupun di depan para fans. Dan disinilah peran angin (fans) dimulai.
Tata, masuk ke senbatsu karena adanya bantuan angin. Naif kalau kita menafikkan usaha dia selama ini. Tapi hasilnya nihil. Senbatsu single belum pernah. Tapi angin datang dan membawa dia naik ke langit. Kalau langit di ibaratkan punya 7 tingkatan, maka dia masih ada di tingkatan pertama.
Ia berhasil naik ke langit karena ia sukses “bersahabat” dengan angin. Ia mengumpulkan angin agar bisa membantu ia naik ke langit. Hasilnya bisa dilihat sendiri. Saat ini, ia sudah 3X jadi senbatsu single. Gingham Check (Senbatsu pertama), Kokoro no Placard, dan yang terbaru Kaze wa Fuiteru. Pertanyaannya, sampai kapan angin yang berhembus mampu menahan Tata di langit ?
Pertanyaan ini bisa dijawab oleh sang daun atau Tata sendiri. Tergantung dari sampai kapan ia mampu bertahan meyakinkan sang angin agar terus menopang dia. Tentu ia harus lakukan itu sembari meng-upgrade kemampuannya bertahan hidup. Ia harus bisa membuat angin tidak bosan untuk menopang dia bahkan kalau bisa menaikkan dia sampai langit kedua.

Dunia wota keras, bung. Dunia wota penuh kecemburuan sosial. Si daun pilih kasih, maka kapan saja angin bisa pergi. Mudah. Kalau angin pergi, hancur sudah. Nah, ini tergantung dari si daun, apakah dia mau dan mampu untuk maintain status quo atau malah merubah kondisi.

Kamis, 22 Januari 2015

Akhirnya Mendukung ITJ

Di tulisan sebelumnya, sempat saya tuliskan tentang apa itu JIL dan ITJ yang berkembang dalam dunia nya WOTA. Silahkan baca disini.
Lalu sikap saya seperti apa ? Pertanyaan sama juga ditanyakan sama Om B dkk. Haruskah saya mendukung ITJ ? Saya bilang, HARUS.
ITJ harus di dukung. Selain karena saya memang membenci mencintai aktivis, sales MLM dengan barang dagangan Khilafah, yakni Ustadz Felix Siauw, saya juga merasakan bahwa Idol harus di kembalikan lagi ke khittah nya. Setelah selama ini terkontaminasi dengan keburukan dari JIL.
Ustadz yang saya hormati, saya sesungguhnya ingin kenal lebih jauh dengan anda. Meskipun hubungan kau dan aku seperti lagu JKT48 yang khusus buat Melody dan Nabilah, cinta saya ke anda itu seperti lagu Element, Cinta Tak Bersyarat. Saya mencintai anda tanpa syarat, meskipun twitter saya sudah anda block tanpa ada konferensi pers. Ah, iya lupa, kan anda sangat membenci acara TV dan katanya anda tak punya TV di rumah. Meskipun yang saya tahu, anda sering muncul di TV. Mungkin itu cara anda melebarkan sayap untuk barang dagangan anda, Khilafah yang begitu menjengkelkan saya idamkan.
Dunia idol saat ini terkontaminasi dengan dunia lokal yang sangat tidak sesuai dengan Idol di dunia aslinya, Jepang. Banyak member JKT48 yang terpengaruh hal-hal yang menurut Ustadz yang sangat saya cintai sebagai hal yang UJUB, RIYA’, dan TAKABUR. Selfie. Beberapa saat yang lalu anda dengan gegabah gagahnya mengeluarkan pandangan anda tentang selfie.
Karena selfie bertentangan dengan islam. Jaman Nabi Muhammad dulu, tak ada yang namanya Selfie. Bahkan smartphone pun tak ada. Bid’ah namanya. Dan member JKT48 hampr semuanya pernah bahkan setiap hari melakukan itu. Dan itu bertentangan dengan kemurnian Idol di Jepang sendiri. Karena di Jepang tak ada yang namanya Selfie. Mungkin yang benar adalah, tak ada suatu nama khusus bagi sebuah foto. Bahkan di Idol lokal lebay menggunakan Tongkat Narsis (Tongsis) yang pasti itu bentuk Riya’, Ujub, dan Takabur. Meskipun yang saya tahu, member AKB48 pun banyak melakukan (ritual) selfie. Ah, biarkan saya menggunakan standar ganda. Toh mereka (ITJ) juga sering menggunakan standar ganda dalam memandang sebuah perkara.
Ah iya ustadz, saya baru lihat screenshoot twit jenengan tentang perempuan yang bekerja. Meskipun banyak teman di twitter yang langsung merespons itu. Mereka sangat baik keterlaluan berani mengkritik pandangan anda. Mereka belum tahu siapa The Real Ustadz Felix Siauw mungkin ya.
Tapi kalau pandangan anda itu benar, anda harus melihat JKT48 yang saat ini menjadi trend dan ribuan orang mabuk kepayang karenanya. Ya, tentu saja karena mereka seorang wanita dan bekerja. Apalagi mereka masih kecil, masih bau kencur. Pacaran aja belum. Ah lupa, kan ga ada yang namanya pacaran kan ya ustadz. Ta’aruf. Tapi, kan banyak teman ustadz yang juga bekerja. Main film lagi. Jadi presenter juga. Ah, saya lupa, anda dan team kan ada istilah ((STANDAR GANDA)).
Apalagi kalau ustadz pernah lihat mereka, cara berpakainan mereka, subhanallah astaghfirullah. Mereka membuka aurat mereka tanpa rasa ragu. Apalagi ada teman saya yang sering bikin anda kesal, Gus Stakof yang juga fans JKT48, malah AKB48. Santri macam apa itu ya ustadz. Makanya saya lebih percaya anda daripada Gus Stakof. Makanya saya dan teman-teman ingin poligami. Boleh kan ? Karena saya ga tega kalau istri saya harus hamil sampai 5-6 kali. Kan banyak anak akan membuka kran rezeki. Makanya, saya ingin poligami nantinya. 4 istri saja, masing-masing saya ada 2 anak, lumayan jumlahnya 8. Satu tim futsal 5 orang, 3 sisanya buat cadangan. Lumayan, bikin Banyak Anak FC. Kan saya juga ingin meniru salah satu pimpinan partai yang punya istri lebih dari satu. Yang istri muda lebih cantik lagi. Kan enak. Apalagi kalau saya bisa punya anak dari salah satu member JKT48. Ah lupa, mereka kan istri yang tak baik ya ustadz. Kan mereka bekerja mencari rezeki. Padahal Siti Khadijah setahu saya adalah pedagang. Anggota ITJ juga bekerja. Ah, lupa, ada ((STANDAR GANDA)).
Tapi setelah saya membaca twit anda dan melihat video anda yang ceramah sana sini sambil membawa barang dagangan yang namanya Khilafah, saya makin yakin kalau anda salah ustadz yang terbaik di duni. Bahkan, Quraish Shihab jauh lebih bagus kalah dari anda.
Maka dari itu, saya yang kata anak-anak sebagai Alip Ciauw mulai saat ini akan ikut menggagalkan mendukung ITJ. Karena saya yakin, Idol itu ya harus sesuai yang ada di jepang, Bukan Jaringan Idol Lokal yang tak punya etika.
Semangat terus, ustadz.

Rabu, 21 Januari 2015

Jaringan Idol Lokal (JIL) VS Indonesia Tanpa JIL (ITJ)

Gonjang-ganjing antara Jaringan Islam Liberal (JIL) dan kubu penolaknya, Indonesia Tanpa JIL (ITJ) semakin panjang saja. Kabarnya, kedua kubu sempat berukar pikiran. Bahkan, Kang Ulil sang dedengkot JIL sempat sowan ke teman-teman ITJ tanpa satu pun teman alias dewean alias alone alias sendirian. Patut di apresiasi kalau kabar itu benar adanya.
Gonjang-ganjing ini pun merembet ke dalam dunia peridolan. Idol yang saat ini mulai marak di Indonesia di wakili oleh JKT48 sebagai anak cabang dari AKB48. Keributan ini dipicu ketidak sukaan purist lokal terhadap perilaku Fans JKT48 yang menurut mereka berbeda dari perilaku fans bapak cabang mereka di Jepang.
Tingkah laku fans JKT48 harus sesuai dengan yang di Jepang. Karena menurut mereka, Jepang itu contoh bagi dunia idol di Indonesia. Lalu apa hubungannya dengan JIL dan ITJ ?
Jaringan Idol Lokal (JIL) VS Idol Tanpa JIL (ITJ)
Idol lokal yang identik dengan JKT48 dengan garis fans yang militannya tumbuh dengan cara mereka sendiri. Semua serba fanmade. Hampir seluruh atribut peridolan fanmade. Mulai dari kaos, lightstick, kipas, pin, bahkan chant pun mereka desain sendiri. Mereka berjalan dengan jalan mereka sendiri. Hal yang susah ditemui di Jepang.
Adalah Senpai kita semua, pedoman bagi kita semua, Pakde yang bagi anak-anak Kediri, Malang, dan Gresik sudah familiar dengan orang ini mencoba mengembalikan esensi idol kemabli ke jalannya.
Bagi mereka, hal-hal yang tidak sesuai dengan yang di Jepang dan tak sesuai menurut tuntunan Senpai adalah dilarang atau Bid’ah. Iya, Bid’ah. Menambah-nambahkan ritual dalam (ibadah) idol itu bid’ah.
Tentu Jaringan Idol Lokal tak tinggal diam. Berbagai aksi kritis menjurus nynyiran dari sang ketua, tertua, dan senpai kita semua di tanggapi panas juga sama teman-teman.
JIL yang identik dengan melakukan ritus-ritus lokal yang di akulturasikan dengan budaya Jepang, serta ITJ yang sangat keukeuh mempertahankan keaslian dan kemurnian Idol sesuai dengan tuntunan yang di Jepang. Lucu sih.
Apalagi sempat ada yang mencibir idol lokal karena menggunakan lagu idol jepang. Seakan-akan yang lokal tak meminta izin dan nyolong lagu. Padahal mereka masih satu cabang. Eh, yang di Jepang malah santai-santai aja sambil pakai bikini minum orange juice, yang disini kebakaran jenggot.

Pusing pala barbie mikir gonjang-ganjing tak jelas ini. Mending nulis skripsi ben cepet beres lalu melamar kerjaan dan melamar kamu. Iya kamu.

Selasa, 09 Desember 2014

Kebutaan, Kesadaran, dan Perjuangan yang Tiada Henti

Di panggung itu berdiri sebuah gadis. Bertubuh tinggi langsing dengan kulit putih sekali. Kutaksir umurnya sekitar 18 tahun. Wanita ini memiliki rambut hitam lurus dengan mata sipit, ciri khas keturunan Chinese.

Kulihat dia memegang sebuah mic. Mic itu hanya ia gerak-gerakkan tanpa ia gunakan. Terlihat dengan jelas peluh mulai membasahi wajah cantiknya. Di sekelilingnya juga sama. Teman-temannya juga sama. Penuh peluh di wajah.

Tapi ku lihat ia nampak berbeda. Ia nampak berdiri terpisah dari yang lain. Sesekali ia memegangi perut langsingnya. Entah kenapa. Tak jarang dia mengusap peluh dengan handuk Hello Kitty yang sepertinya menjadi teman setia dia untuk menghabisi seluruh peluh. Kadang dia juga batuk dan mengambil tissue untuk membersihkan noda yang ada di sekitar bibir mungilnya.

Ku menebak kalau dia sedang sakit. Gelagat yang dia tunjukkan mengarah ke situ. Benar, dia sedang sakit. Tapi apaboleh buat, dia sedang ada kewajiban. Kulihat seisi ruangan dan aku membayangkan apa yang akan terjadi besok. Bukan tentang konser yang akan menjadi penentuan masa depan. Melainkan tentang kondisi gadis itu. Apa jadinya ketika di tengah panggung dia terjatuh.

Penglihatanku terganggu ketika ku lihat gadis itu mulai bergabung dengan yang lainnya. Dia menaruh handuk dan air minum yang menemani dia sedari tadi. Terlihat mimik wajah serius tergambar jelas. Latihan di mulai dan ternyata yang ku pikir selama ini salah. Dia mampu menunjukkan yang terbaik bahkan ketika latihan sekalipun. Gambaran rasa kesakitan yang sedari tadi ada seakan menghilang. Bayangan kegagalan konser besok seakan sirna. Ku pun mulai tersenyum dan berharap gadis itu bisa menjaga kondisi untuk penentuan sebenarnya besok.

Ku alihkan pandanganku ke gadis lain. Gadis yang sedang duduk di atas panggung. Dia memegang secarik kertas. Sepertinya ia sedang menghafalkan lagu atau dialog yang harus ia bawakan untuk besok.

Gadis ini berbeda dengan gadis yang tadi. Gadis ini secara fisik lebih Endonesa dibandingkan yang tadi. Dengan perawakan tinggi besar bahkan bisa di bilang semok. Mungkin orang pertama kali melihat dia akan berfikir bahwa anak ini tidak akan kuat berada di sini. Dengan latihan fisik yang sangat menguras tenaga dan dengan kondisi badan yang ia miliki.

Salah. Orang-orang akan malu mengatakan itu ketika tahu kondisi sebenarnya. Dalam tim ini memang butuh keluwesan dan kemerduan suara. Dan gadis ini memiliki itu. Setidaknya ada sisi yang paling menonjol dari dirinya.

Gadis ini seperti tersingkirkan. Mungkin ini dari penglihatan sekilas. Dia hanya bercengkrama dengan beberapa orang saja. Bukan karena ia atau yang lain tidak mau bergabung. Melainkan di dalam tim ini, gadis ini tidak begitu di lihat. Bukan oleh rekan setim, melainkan oleh pengurus tim. Entah mengapa hal ini terjadi. Bahasa kerennya, tersingkirkan.

Gadis ini beranjak dari panggung dan menuju ke dalam backstage. Kaena penasaran, ku ikuti dari belakang. Tebakanku benar. Ku lihat ia sedang menghafalkan sebuah dialog. Oh iya, dia juga menghafalkan lagu. Mungkin akan ada kejutan yang ia kasih untuk semua yang datang. Raut muka serius terlihat jelas. Sesekali ia melihat ke arahku sambil tersenyum. Mungkin ia risih atau malu ketika ada orang lain melihat private training yang ia lakukan pribadi. Iya, pribadi. Tanpa mentor. Dan harus ku akui, ia salah satu anggota yang paling rajin.

Dua gadis di atas adalah anggota dari sebuah tim. Dengan kesamaan dan perbedaan. Gadis pertama sedikit beruntung dari kedua. Ia mampu menembus deretan atas setelah setahun lebih ia berusaha sekuat tenaga dan tak jarang menahan rasa teramat sakit di dalam tubuhnya tetapi hasilnya hampa. Tak ada satupun pengurus yang memanggil dia ke tim utama. Jangankan di panggil, sekedar di lirik pun tak pernah. Dulu memang pernah hanya sekedar di ajak bicara lalu di campakkan. Persis anak muda jaman sekarang.

Bagaikan bola, kehidupannya saat ini berubah. Pengurus selalu melihat dia. Terutama setelah dia dan teman-temannya di luar tim membantu dia untuk menjadi lebih baik. Bahkan dia saat ini dekat dengan tim lain dengan tujuan tim yang berbeda. Semua karena usaha yang ia lakukan sangat keras. Menahan rasa sakit saat itu hanyalah sebagian kecil dari usaha keras yang ia lakukan. Jangan lupakan teman-temannya yang di luar tim. Mereka bahkan memberikan dukungan moril dan dukungan lainnya demi satu hal, melihat gadis ini tersenyum. Dengan senyum itu, saat ini dia satu strip di bawah tim unggulan. Padahal dulu ia tak ubahnya anak bawang.

Gadis kedua nasibnya juga kasihan (kalau tak mau di bilang tragis). Dengan segala kemampuan yang ada, dia muncul ke permukaan dan memberikan yang terbaik. Tapi naas, tak satupun pengurus yang mau melihat dia. Saya ulangi, tak ada satupun. Perkembangan yang dia munculkan selama ini tak ada artinya jika tidak ada niat dari pengurus. Tetapi apa dia menyerah ? Tidak. Dia terus berusaha membuka mata orang-orang seakan mengatakan, “Hey, aku ini hebat loh.” Sampai sejauh itu usaha yang ia lakukan.

Teman-temannya pun tak sedikit yang mulai berguguran dan menyerah. Tapi menyerah bukan solusi, baginya. Hanya terus maju dan lihat hasil dari usahanya. Dan itu terjadi. Pengurus akhirnya melihat dia dan memasukkan dia ke dalam tim. Meskipun untuk menembus skuad inti rasanya susah seperti menembus hati seorang gebetan. Sabar. Itu kunci lain yang ia ajarkan kepada kita.

Pengurus seakan buta dengan usaha yang ia lakukan. Bahkan pengurus dari tim lain lah yang melihat bakat dia. Bahasa adalah kendala yang membuyarkan keinginan kecil dia. Ah tak apa, yang penting pengurus di sana mengetahui kalau ada Mutiara Terpendam di tim ini.

Mereka berbeda. Dari sosok fisik saja pun berbeda. Nasib mereka pun (sampai saat ini) berbeda. Tapi mereka punya kesamaan. Semangat Juang Pantang Menyerah.

Teruslah maju, Jadilah Legenda yang akan selalu kami rindukan