Di panggung itu berdiri sebuah gadis. Bertubuh tinggi langsing dengan kulit putih sekali. Kutaksir umurnya sekitar 18 tahun. Wanita ini memiliki rambut hitam lurus dengan mata sipit, ciri khas keturunan Chinese.
Kulihat dia memegang sebuah mic. Mic itu hanya ia gerak-gerakkan tanpa ia gunakan. Terlihat dengan jelas peluh mulai membasahi wajah cantiknya. Di sekelilingnya juga sama. Teman-temannya juga sama. Penuh peluh di wajah.
Tapi ku lihat ia nampak berbeda. Ia nampak berdiri terpisah dari yang lain. Sesekali ia memegangi perut langsingnya. Entah kenapa. Tak jarang dia mengusap peluh dengan handuk Hello Kitty yang sepertinya menjadi teman setia dia untuk menghabisi seluruh peluh. Kadang dia juga batuk dan mengambil tissue untuk membersihkan noda yang ada di sekitar bibir mungilnya.
Ku menebak kalau dia sedang sakit. Gelagat yang dia tunjukkan mengarah ke situ. Benar, dia sedang sakit. Tapi apaboleh buat, dia sedang ada kewajiban. Kulihat seisi ruangan dan aku membayangkan apa yang akan terjadi besok. Bukan tentang konser yang akan menjadi penentuan masa depan. Melainkan tentang kondisi gadis itu. Apa jadinya ketika di tengah panggung dia terjatuh.
Penglihatanku terganggu ketika ku lihat gadis itu mulai bergabung dengan yang lainnya. Dia menaruh handuk dan air minum yang menemani dia sedari tadi. Terlihat mimik wajah serius tergambar jelas. Latihan di mulai dan ternyata yang ku pikir selama ini salah. Dia mampu menunjukkan yang terbaik bahkan ketika latihan sekalipun. Gambaran rasa kesakitan yang sedari tadi ada seakan menghilang. Bayangan kegagalan konser besok seakan sirna. Ku pun mulai tersenyum dan berharap gadis itu bisa menjaga kondisi untuk penentuan sebenarnya besok.
Ku alihkan pandanganku ke gadis lain. Gadis yang sedang duduk di atas panggung. Dia memegang secarik kertas. Sepertinya ia sedang menghafalkan lagu atau dialog yang harus ia bawakan untuk besok.
Gadis ini berbeda dengan gadis yang tadi. Gadis ini secara fisik lebih Endonesa dibandingkan yang tadi. Dengan perawakan tinggi besar bahkan bisa di bilang semok. Mungkin orang pertama kali melihat dia akan berfikir bahwa anak ini tidak akan kuat berada di sini. Dengan latihan fisik yang sangat menguras tenaga dan dengan kondisi badan yang ia miliki.
Salah. Orang-orang akan malu mengatakan itu ketika tahu kondisi sebenarnya. Dalam tim ini memang butuh keluwesan dan kemerduan suara. Dan gadis ini memiliki itu. Setidaknya ada sisi yang paling menonjol dari dirinya.
Gadis ini seperti tersingkirkan. Mungkin ini dari penglihatan sekilas. Dia hanya bercengkrama dengan beberapa orang saja. Bukan karena ia atau yang lain tidak mau bergabung. Melainkan di dalam tim ini, gadis ini tidak begitu di lihat. Bukan oleh rekan setim, melainkan oleh pengurus tim. Entah mengapa hal ini terjadi. Bahasa kerennya, tersingkirkan.
Gadis ini beranjak dari panggung dan menuju ke dalam backstage. Kaena penasaran, ku ikuti dari belakang. Tebakanku benar. Ku lihat ia sedang menghafalkan sebuah dialog. Oh iya, dia juga menghafalkan lagu. Mungkin akan ada kejutan yang ia kasih untuk semua yang datang. Raut muka serius terlihat jelas. Sesekali ia melihat ke arahku sambil tersenyum. Mungkin ia risih atau malu ketika ada orang lain melihat private training yang ia lakukan pribadi. Iya, pribadi. Tanpa mentor. Dan harus ku akui, ia salah satu anggota yang paling rajin.
Dua gadis di atas adalah anggota dari sebuah tim. Dengan kesamaan dan perbedaan. Gadis pertama sedikit beruntung dari kedua. Ia mampu menembus deretan atas setelah setahun lebih ia berusaha sekuat tenaga dan tak jarang menahan rasa teramat sakit di dalam tubuhnya tetapi hasilnya hampa. Tak ada satupun pengurus yang memanggil dia ke tim utama. Jangankan di panggil, sekedar di lirik pun tak pernah. Dulu memang pernah hanya sekedar di ajak bicara lalu di campakkan. Persis anak muda jaman sekarang.
Bagaikan bola, kehidupannya saat ini berubah. Pengurus selalu melihat dia. Terutama setelah dia dan teman-temannya di luar tim membantu dia untuk menjadi lebih baik. Bahkan dia saat ini dekat dengan tim lain dengan tujuan tim yang berbeda. Semua karena usaha yang ia lakukan sangat keras. Menahan rasa sakit saat itu hanyalah sebagian kecil dari usaha keras yang ia lakukan. Jangan lupakan teman-temannya yang di luar tim. Mereka bahkan memberikan dukungan moril dan dukungan lainnya demi satu hal, melihat gadis ini tersenyum. Dengan senyum itu, saat ini dia satu strip di bawah tim unggulan. Padahal dulu ia tak ubahnya anak bawang.
Gadis kedua nasibnya juga kasihan (kalau tak mau di bilang tragis). Dengan segala kemampuan yang ada, dia muncul ke permukaan dan memberikan yang terbaik. Tapi naas, tak satupun pengurus yang mau melihat dia. Saya ulangi, tak ada satupun. Perkembangan yang dia munculkan selama ini tak ada artinya jika tidak ada niat dari pengurus. Tetapi apa dia menyerah ? Tidak. Dia terus berusaha membuka mata orang-orang seakan mengatakan, “Hey, aku ini hebat loh.” Sampai sejauh itu usaha yang ia lakukan.
Teman-temannya pun tak sedikit yang mulai berguguran dan menyerah. Tapi menyerah bukan solusi, baginya. Hanya terus maju dan lihat hasil dari usahanya. Dan itu terjadi. Pengurus akhirnya melihat dia dan memasukkan dia ke dalam tim. Meskipun untuk menembus skuad inti rasanya susah seperti menembus hati seorang gebetan. Sabar. Itu kunci lain yang ia ajarkan kepada kita.
Pengurus seakan buta dengan usaha yang ia lakukan. Bahkan pengurus dari tim lain lah yang melihat bakat dia. Bahasa adalah kendala yang membuyarkan keinginan kecil dia. Ah tak apa, yang penting pengurus di sana mengetahui kalau ada Mutiara Terpendam di tim ini.
Mereka berbeda. Dari sosok fisik saja pun berbeda. Nasib mereka pun (sampai saat ini) berbeda. Tapi mereka punya kesamaan. Semangat Juang Pantang Menyerah.
Teruslah maju, Jadilah Legenda yang akan selalu kami rindukan






Tata dan Nobi.... Kasian Grace ga dianggep.... Polioshi laknat
BalasHapusLoh, Grace belum ke tahap itu om. Lihat perform aja baru sekali.
BalasHapus