Senin, 23 September 2013

Dia Merubah Segalanya

Nama saya Christian Benyamin. Teman-teman saya biasa panggil saya Kris, yang lebih ekstrim biasa panggil saya Ahong. Entah kenapa, mungkin karena saya keturunan China. Peranakan China kalau kata anak-anak sih.
Hidup saya serba bahagia. Saya memiliki keluarga yang sangat harmonis. Meskipun harus hidup dalam gubuk, asal hidup bersama keluarga hebat saya, itu menjadi sebuah anugerah terindah buat saya. Saya punya teman-teman terbaik yang setia menemani saya kapanpun itu. Kuanggap mereka sudah seperti saudara sendiri.
Saya sekolah di sebuah SMA kristen di sebuah kota di Jawa Timur. Teman saya 99% beragama kristen. Hanya ada satu murid di sekolah saya yang beragama non kristen, yaitu islam. Namanya Khadijah. Kata orang-orang, nama Khadijah itu sangat terkenal di Islam. Saya juga tak tahu, sama sekali tidak tertarik untuk tahu dan belajar tentang itu. Saya termasuk yang cuek dengan hal-hal yang bagi saya tidak penting. Dan belajar agama lain bagi saya tak penting.
Saya termasuk murid yang rajin meskipun bandel. Bukan bandel sih, lebih tepatnya iseng. Beda tipis lah. Setiap hari saya selalu usil ke hampir semua murid sekolah yang saya kenal. Sampai kata anak-anak, kalau sehari tidak ada tukang usil, kalau gak saya gak masuk ya saya sedang tidur. Karena saya tiap hari selalu mengusili orang. Dan Khadijah, satu-satunya murid non kristen di sekolah saya juga tak luput dari objek keusilan saya. Saya suka sekali menarik kain yang ada di atas kepalanya. Katanya sih itu namanya Kerudung atau jilbab. Tapi dia tak pernah sekalipun marah ketika jilbabnya saya tarik. Dia hanya tersenyum kecil sambil membenarkan jilbabnya yang saya tarik.
Suatu saat saya penasaran dengan dia, karena bagi saya anomali ketika objek keusilan saya hampir tiap hari tak pernah sekalipun marah. Apa dia menahan amarah itu atau memang dia pasrah ketika aku jaili. Ketika itu hari Senin, upacara hari senin telah usai dan saatnya masuk ke kelas. Dan saya jalan di belakang Khadijah. Dia jalan sambil bercengkrama dengan murid yang lain. Kaki saya sengaja saya kaitkan dengan kakinya dan braakkkkkk dia jatuh. Teman-teman cowok saya tertawa. Di dalam hati saya berharap dia marah. Tapi dia lantas berdiri dan menoleh ke arah saya sambil senyum. Aneh kan. Aneh banget. Apa sih yang buat dia bisa sesabar itu. Padahal saya sudah buat malu dia. Kelihatan banget kalau dia malu, tapi dia tetap menahan marah.
Ketika pulang sekolah, saya beranikan untuk bertanya ke Khadijah, kenapa dia masih bisa menahan sabar dan tak marah ketika saya berkali-kali mengusili dia. Dia hanya menjawab,“Innallaha ma’ashobirin.” Saya jelas tak tahu artinya itu apa. Ketika saya tanya lagi, apa itu artinya, dia bilang kalau tidak bisa dijelaskan hari ini. dia berjanji menjelaskan itu besok karena katanya dia mau ada acara. Saya mulai penasaran dengan sesuatu yang bagi saya tak penting, awalnya. Tapi sekarang saya mulai merasakan bahwa itu sedikit penting. Karena saya ingin tahu resep sabar milik dia.
Esoknya, saya mengaih janji ke Khadijah. Dia menjelaskan, bahwa arti dari kalimat kemarin adalah, “Sesungguhnya Allah Bersama Orang-Orang Yang Sabar.” Dia menjelaskan lagi bahwa itu anjuran bagi orang islam untuk selalu sabar. Dan katanya, dia ingin dekat dengan Allah dengan jalan selalu sabar. Saya semakin penasaran, untuk apa dia ingin dekat dengan Allah, dengan tuhannya. Kata dia, ketika dekat dengan Allah segala permintaannya akan dikabulkan. Saya mulai paham tapi masih memiliki pertanyaan besar, seperti apa sih tuhannya si Khadijah kok dia ingin dekat dengan tuhannya. Perbicaraan kita selesai ketika ada Bu Kristin masuk kelas.
Kita semakin sering untuk ngobrol berdua dan membahas mengenai agama. Saya ingat kalimat yang dia ucapkan, “Untukmu agamamu, untukku agamaku.” Kata dia, itu menjelaskan dengan sangat jelas bahwa setiap manusia wajib menghormati pilihan religi manusia yang lain. Makanya, dia disekolahkan oleh orang tuanya di SMA Kristen. Agar dia tahu rasanya hidup di lingkungan yang 180’ berbeda dengan kehidupannya yang dulu. Dia bercerita, bahwa dulu dia juga premanita (preman wanita). Dia dulu nakal dan suka jail. Dia suka mengejek teman-temannya yang beragama lain dengan kata “KAFIR”. Dia, katanya memiliki ilmu agama islam yang baik. Tapi itu disalahgunakan oleh dia untuk mengejek dan menganggap rendah agama lain. Sampai suatu ketika, dia disadarkan oleh suatu peristiwa, orang tuanya mengalami kecelakaan dan ditolong oleh seorang yang beragama kristen. Agama yang selama ini dia rendahkan. Dan kalau orang tuanya telat dibawa ke rumah sakit, mungkin nyawa orang tuanya melayang. Dan setelah kejadian itu, dia akhirnya sadar bahwa semua agama itu mengajarkan sisi positif. Tidak ada agama yang menganjurkan untuk saling membunuh.
Di akhir ceritanya, dia bilang bahwa dia ingin merubah pandangan buruk tentang islam ke seluruh elemen masyarakat di Indonesia. Caranya, dengan masuk ke sekolah kristen dan mempelajari sisi positif agama kristen. Karena dia yakin, semua agam mengajarkan sisi positif meskipun agama terbaik tetap islam.
Tanpa terasa saya pun menangis dan kagum. Dan saya mulai mencoba menghentikan sikap jail saya ke sesama.
Dia merubah hidup saya. Thanks Khadijah

0 komentar:

Posting Komentar