Jumat, 24 Januari 2014

Berakhir di Medan Perang

“Aku cinta kamu sayang.” “I love You To my Lovely.”
            Kalimat itu memang singkat. Sangat singkat. Tapi kalimat itu begitu berarti banget bagi gue. Gue yang sejak lama tidak merasakan cinta. Sampai akhirnya gue di pertemukan dengan dia. Dia yang awalnya gue hanya sebatas menjadi pengagum rahasia sampai akhirnya gue yakin kalau ini cinta, bukan sebatas mengagumi.
Nama gue Alan. Bisa di bilang gue wirausahawan. Gue punya bisnis kecil-kecilan yang alhamdulillah itu bisa membantu puluhan pengangguran di daerah gue kerja. Hanya bisnis makanan ringan. Hanya selingan sih. Tapi tetep gue konsen sama pekerjaan gue di bidang broadcasting di salah satu stasiun televisi swasta. Di stasiun tv itu pula, gue ketemu sama wanita yang mampu merubah hidup gue. Yang awalnya gue tampangnya nyeremin jadi alim. Pokoknya dia spesial buat gue. Eits, tapi jangan samakan dia sama nyokap loh. Konteksnya jelas berbeda. Dan rasa sayangnya pun pasti berbeda.
Namanya Anindita, dan biasa gue panggil Anin. Umurnya 2 tahun di bawah gue. Umur gue saat kenal dia itu 25 tahun. Jadi, umur dia saat itu 24 tahun. Loh ? 23 tahun lah, bercanda. Gue masih inget saat pertama ketemu dia itu, gue hanya bilang, “Buseeet, cewek ini cantik banget. Nyokapnya dulu ngidam luna maya kayaknya.” Yang terlintas dalam pikiran gue itu cuma satu, “Gue harus bisa dapetin dia”. Okeh gue cari informasi tentang dia. Namanya, nomer hp nya, alamat rumahnya sama makanan atau minuman favoritnya. Gilee, parah kan gue. Itulah gue, kalo udah ngerasa ada feel ke cewek, gue akan melakukan apapun agar setidaknya kenal aja lah sama dia. Catet, itu sifat gue.
Dia cantik, berkacamata dan berkerudung. Sangat masuk di kriteria gue. Gue emang suka cewek yang berkerudung dan berkacamata. Entah kenapa. Tapi setiap liat cewek berkerudung dan berkacamata, rasanya beda dan berbahaya. Berbahaya karena bisa buat hati gue cenat-cenut. Haahah. Dia anaknya kalem banget. Orang yang baru kenal mungkin anggap dia itu anaknya sombong, angkuh, dan jutek. Tapi kalau udah kenal lama sama dia, barulah tau kalau dia anaknya nyablak. Ga seperti yang di bayangin orang di awal. Gue juga awalnya mikir klo dia anaknya pendiem jutek gitu. Tapi pas udah kenal lama, aslinya kelihatan. Anaknya asik buat di ajak ngobrol.
 Anin kerjanya di lapangan. Dia bertugas untuk mencari berita. Gue juga bertugas utuk mencari berita. Tapi karena tampang gue yg ga jelak dan ga ganteng, gue ga di ijinin bos buat sekalian jadi reporter. Gue biasanya dampingin reporter dan kameraman. Kalau si Anin beda. karena dia cantik, jadi kadang dia merangkap jadi reporter.
Di awal dia kerja, dia masih gugup. Dia masih harus di training sama yang lebih pengalaman. Itu biasa di dalam perusahaan ini. gue dulu pas awal masuk juga gitu. Gue harus di training sama senior. Buat adaptasi lah. Dan gue dapat mandat dari bos gue untuk jadi bantu dia beradaptasi. Seneng lah, jelas. Secara gue sejak awal dia masuk udah kesengsem sama dia. tapi gue di tuntut harus profesional. Kalau dia salah harus di bilang salah. Dan itu gunanya gue, untuk mengajari dia biar gak ada yg salah lagi.
Bagi gue, anaknya ulet. Dia ga malu bertanya kalau emang dia ga tahu. Dan dia ga sebel pas gue bilang kerjaan dia salah. Pernah gitu gue tanya ke dia, ” Eh nin, maaf ya klo gue revisi kerjaanmu. Dan gue pernah marah ye ke kamu. Sorry, demi kerjaan. Dan jawaban dia sempet bikin gue kaget, “ Gak kok bang, Anin ga sebel apalagi marah. Karena Anin tau, itu tuntutan pekerjaan. Kalau jelek, nanti kita juga yang rugi. Jangan segan buat negur Anin kalau kerjaan Anin ada yg salah.” Oh, berarti dia tau mana ranahnya profesionalitas. Bagus ini anak, pikirku.
Di stasiun TV tempat gw kerja, training itu minimal 2 bulan. Dan maksimal 4 bulan. Ketika dalam jangka waktu 2 bulan, kalau dirasa mereka sudah siap kerja, mereka bisa di lepas. Dan Anin salah satu new comer yang bisa dilepas ketika waktu training pas 2 bulan. Kinerjanya ketika training memang bagus. Gue berusaha untuk profesional. Kalau gue mau lebih lama lagi, sebenarnya gue bisa. Tapi karena gue ga mau mencampurkan urusan personal dengan urusan kerjaan.
Selama 2 bulan, gue akhirnya tau seperti apa itu si Anin ini. Mulai dari determinasi kerjanya yang tinggi. Sampai kehidupan pribadinya. Gue mencoba menempatkan diri gue bukan sebagai trainer. Tapi sebagai kakak dia. Gue berusaha membuat dia nyaman. Makanya dia manggil gue, abang. Bukan abang tukang bakso.
Sampai akhirnya, gue tahu kalau dia lagi udah ada pacar. Dia pacaran sama pacarnya udah lama. Sekitar 4 tahun. Awalnya, dalam hati gue nggrundel “Anjing, akan gue bunuh cowok lu.” Haha bercanda. Gue mikir, ya jelas dia udah punya cowok. Kagak mungkin cewek secantik dia masih single. Akan terjadi pertumpahan darah dong nanti. Yang ngantri pasti rame, kayak orang yang antri sembako.
Prinsip cinta gue, dia boleh punya cowok, atau pacar. Tapi dia nikahnya harus sama gue. Sadis kan gue. Lelaki pantang menyerah men gue. Kata bokap, raihlah impianmu hingga darah terakhirmu menetes. Dan bagi gue, dia merupakan impian gue.
Selang 2 bulan kemudian, dia cerita ke gue kalau hubungan dia sama cowoknya sedang mengalami fase tsunami. Sedang amburadul katanya. Insting serigala gue muncul. Saat seperti ini emang cara tepat buat gue deketin dia. Menjadi rubah dalam selimut dan kadang-kadang buas seperti serigala. Gue bantu dia agar lepas dari masalahnya. Mungkin itu bisa membuat dia baikan, tapi di situlah pinternya gue. Gue buat keadaan yang bisa membuat dia nyaman sama gue. Awal munculnya benih benih padi eh cinta itu adanya rasa nyaman dalam diri masing-masing pasangan.
            Akhirnya dia putus. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Dia cerita ke gue kalau sudah putus sama cowoknya. Di satu sisi gue sedih, karena orang yg gue suks sedih. Selain itu, kinerjanya di kantor langsung drop, turun jauh banget. Dia selama hampir seminggu ga fokus kerja dan sering melamun. Dan itu sangat mengganggu. Atas inisiatif gue, gue ajak dia ngobrol empat mata sama dia. gue mencoba menenangkan hatinya. Dia menceritakan penyebab retaknya hubungan asamaranya. Dia bilang kalau mantannya belum bisa menerima dia ketika dia udah kerja. Karena kerjaannya membuat mereka jarang ketemuan. Resiko lah ibaratnya.
            Gue bisa bilang kalau cinta itu harusnya bisa menrima keadaan pasangannya. Karena cinta bukan hanya mengagumi kelebihan pasangannya tapi menerima dan menambal kekurangan pasangannya. Dan sontak, dia tidur di pundak gue. Gue biarin, karena gue tahu hatinya sedang rusak. Dan disisi lain, gue seneng. Karena akhirnya dia kosong. Yang artinya siapapun bisa masuk, termasuk gue.
            Intensitas pertemuan gue makin sering. Hampir tiap hari gue antar dia pulang. Gue mulai merasakan nyaman ketika ada sama dia. Yang awalnya gue sebatas mengagumi dia doang, sampek akhirnya gue jatuh cinta sama dia. Iyaa, gue akhirnya jatuh cinta, sob. Setelah lama gue ga merasakan ini. Saking seringnya di sakitin kayaknya deh.
Tak lama berselang gue jadian sama dia. Hal yang amat sangat gue pengen. Gadis cantik yang selama ini gue idam-idamkan. Gadis yang setiap malam selalu jadi tamu di pintu rumah gue di alam mimpi. Gadis yang mampu jadi oase di padang pasir. Lebay sih. Tapi biarin, ga peduli. Kalau boleh teriak dalam kantor, gue akan teriak sekeras mungkin. Joget-joget juga boleh. Senengnya itu ibarat anak bayi yg barusan bisa makan spagetti. Bayangin aja, usaha yg gue lakuin. Beeeh, ibarat makan jengkol yg gue ga suka pun, gue lakuin demi dia. Bisa bayangin gak tuh ? Kagak kan. Gue juga ga bisa bayangin soalnya. Yang penting gue bahagia lah saat itu.
Kata Andre kita ini pasangan yang saling melengkapi. Yang cewek cantik banget bisa melengkapi cowoknya yang ancur banget. Anjing kan tuh si Andre. Tapi apalah kata mereka, yang penting gue jadian sama dia. Gue janji kalau gue kali ini kagak akan menyia-nyiakan mutiara hati gue. Gue baik-baikin dia. Bukan berarti gue nyembah ke dia. Bukan berarti gue jadi takut sama dia. Takut sama menghargai beda. Kalau takut, yg gue lakuin bukan karena cinta, tapi cuma karena rasa takut gue. Kalo menghargai, yg gue lakuin itu bukan takut yang kayak ketemu preman. Tapi karena gue menghargai dia sebagai pacar gue, dan layaknya sebagai seorang pacar, gue harus memperlakukan dia seperti itu. Untungnya dia bisa mengerti dan melakukan itu ke gue.
            Setahun kita jadian, gue merasa hubungan kita harus lebih serius. Gue bilang ke dia, gimana kalau kita tunangan. Dia pun setuju dan mau tunangan sama gue. Yang namanya tunangan pasti butuh yang namanya cincin. Sehari berselang, gue sama si Andre muter-muter toko perhiasan buat nyari cincin nikah buat dia. Setelah mendaki gunung lewati lembah ( Ninja Hattori ) akhirnya gue nemu juga cincin nikah yang gue pinginin. Gue beli deh tuh cincin kawin itu. Harganya sih standart lah, yang penting usahanya. Ceileee.
            Dia kerja sebagat reporter. Karena tuntutan pekerjaan dia harus mencari berita ke daerah-daerah yang bisa gue bilang terpencil. Hal itu juga yang buat gue bingung nentuin tanggal gue kesana, ke rumah orang tua dia. Saat itu tanggal 17 Juli 2013 hari senin. Dia dapat tugas meliput kerusuhan di daerah yang sedang terjadi konflik, papua. Oh my god ! Papua guys. I’m so scared. Saat itu papua memanas karena kerusuhan Freeport. Dia bilang akan balik ke Jakarta tanggal 21 Juli. So, dia bilang tanggal 22 Juli saja keluarga kita ketemu. Dengan dongkol, gue setuju aja deh. Yang penting gue tunangan.
            Saat dia berangkat, gue merasa ada hal yang ganjil sama dandanan dia. Dia bilang kalau benci baju warna putih. Tapi saat itu dia berangkat dengan baju warna putih putih. Gue coba hapus pikiran-pikiran buruk dalam otak gue. Coba gue masukkan aura positif dalam otak gue.
Berangkatlah dia ke Papua. Sesampainya di sana, dia telpon gue. Dan itu telpon terakhir dari dia. Saat itu kondisi fisik gue sedang drop. Badan gue kagak enak banget. 3 hari gue ijin sakit ke atasan gue. Pas liat kalender, gue sumringah banget. 21 juli. Yess, dia pulang hari ini. Dengan semangat gue berangkat kerja ke kantor. Gue kaget saat di depan kantor gue, banyak banget orang pake baju item-item. Masuklah gue ke dalam kantor. Saat itu gue langsung nyari si Andre sohib gue. Gue tanya ke dia, sebenarnya apa yang terjadi, siapa yang meninggal. Saat itu andre hanya nangis dan nyuruh gue sabar dan tenang. Gue dimasukkan ke dalam ruangan bos gue. Di sana ada petinggi kantor sama Andre. Bos nyuruh gue tenang dan sabar. Saat itulah gue mulai merasa aneh sama mereka. Bos cerita kalau Anin, cewek gue calon tunangan gue meninggal saat meliput konflik papua. Saat itu gue hanya diem bingung mau ngapain lagi. Gue merasa sangat bersalah sama dia karena ngijinin dia berangkat ke sana.
Hancur, remuk, patah hati gue. Gue hanya bisa nangis saat itu. Gue di pegangi Andre karena saat itu badan gue lemes, lemes banget. Hampir pingsan. Gue tanyak ke mereka, kapan jenazahnya di bawa pilang ke Jakarta. Dia bilang besok pagi baru bisa dibawa pulang. Gue di anter pulang sama Andre. Dia nemenin gue seharian di rumah. Bokap nyokap bingung harus ngapain. Andre, orang yang hari itu nemenin gue jadi tambah bingung saat tiba-tiba gue pingin nyusul dia ke Papua. Andre ngamncem gue, kalau gue masioh pingin kesana, dia tidak segan untuk bunuh gue.
Esoknya, gue berangkat ke rumah Anin dalam keadaan yang sangat amburadul. Gue nunggu kedatangan jenazah. Jenazah datang dan gue bopong jenazah itu sama keluarga dia. Gue bawa masuk ke rumahnya. Saat di dalam, gue nangis sekencang-kencangnya. Gue bertbisik ke kuping dia, “Sayang, aku udah beli cincin tunangan buat kita sayang. Kamu ingat kan hari ini tanggal 22 juli. Kamu janji kita akan bertunangan hari ini kan ? Ayo bangun sayang, aku butuh kamu. Aku butuh hadirmu sayang. Aku tau kamu belum mati sayang. Aku tau kamu masih hidup, cuma kamu sembunyi. Sayang, banguuuuunnn.” Sekejap itu, aku pingsan di atas jenazah dengan tangan gue memegang tangan dia. Rasanya gue gag pingin melepas tangan ini. Gue masih pingin sama dia. Keluarganya coba nenangin gue. Gue di panggil oleh kakaknya, Mbak Dewi. Gue dibawa masuk ke kamar Anin. Beliau menunjukkan sesuatu. Kata mbak dewi ini dari Anin. Anin beli itu khusus buat gue katanya. Gue buka, ternyata baju sepakbola AS Roma. Tim kesayangan gue. Mbak Dewi bilang kalau Anin pernah janji ke gue kalau mau belikan baju bola As roma buat gue. Tangisan gue yang sempat reda, pecah lagi. Rasanya hidup gue udah tak berarti.
Sampai sekarang, gue masih percaya bahwa Anin belum meninggal. Dia Cuma tidur panjang yang suatu saat nanti dia akan terbangun lagi nemenin gue. Gue jadi inget pesan terakhir dia ke gue sesaat sebelum dia terbang ke Papua.


Kamu harus yakin kalau kita akan selamanya hidup bersama. Di dunia maupun di akhirat. Kamu mau kan menunggu aku ? Kalau aku akan selalu menunggu kamu sampai kapanpun itu sayang.

0 komentar:

Posting Komentar