Rabu, 11 Juni 2014

Security Dilemma dan JKT48 Operational Team

Bagi mahasiswa HI (Hubungan Internasional), sudah menjadi kebiasaan sehari-hari memakan teori dan konsep. Baik itu teori dan konsep yang mainstream ataupun yang di gunakan oleh mahasiswa HI. Baik konsep yang berbasis ekonomi, keamanan, politik, ataupun sosial budaya. Dan bagi anak HI, sudah menjadi kewajiban ketika menghafal banyak konsep yang ada di Hubungan Internasional.
Dan keberadaan HI sebagai salah stau disiplin ilmu sangat sulit di pahami oleh masyarakat awam yang tidak mengetahui apa sebanarnya ilmu HI itu. Teringat pesan dosen, beliau mengatakan bahwa kita harus membumikan ilmu HI yang berada di atas awan karena membahas sesuatu yang sangat besar. Tetapi memang bagi yang tidak mengetahu apa sebenarnya ilmu HI, tentu akan menganggap ilmu HI adalah disiplin ilmu yang sangat tinggi pembahasannya.
Salah satu konsep yang ada di HI adalah Security Dilemma. Konsep yang berada di bawah bayang-bayang Realisme. Konsep ini menjadi salah satu primadona bagi mahasiswa HI yang memfokuskan kajiannya ke sisi keamanan internasional. Tetapi jika menilik pernyataan dosen saya tadi, bahwa kita (mahasiswa HI) perlu membumikan konsep dan teori HI. Konsep ini salah satu yang berada di atas awan dan perlu di bumi kan agar menjadi lebih mudah di cerna.
Security Dilemma Concept
Security dilemma adalah salah satu konsep berada di dalam payung Realisme. Security dilemma dan konsep yang berada di dalam Realisme mengedepankan peran dari negara. State as main actor.
A security dilemma refers to a situation where in two or more states are drawn into conflict,  possibly  even  war,  over  security  concerns,  even  though  none  of  the  states actually desire conflict. Essentially, the security dilemma occurs when two or more states each  feel  insecure  in  relation  to  other  states[1].

Security Dilemma adalah sebuah kondisi dimana dua atau banyak negara terjadi konflik yang disebabkan oleh adanya rasa tidak aman oleh kondisi sekitar yang mengakibatkan setiap tindakan dari satu negara untuk meningkatkan keamanannya ataupun militernya di anggap sebagai sebuah ancaman bagi negara lain.
Yang menjadi kunci disini adalah bagaimana adanya rasa tidak aman dari sebuah negara karena adanya sikap dari negara lain untuk meningkatkan kapabilitas militernya. Perasaan tidak aman yang di sebabkan oleh sikap negara lain yang akhirnya menimbulkan sikap dari negara tersebut.
Jika di simpulkan, bahwa Security Dilemma adalah sebuah konsep yang menjelaskan tentang adanya sikap kebingungan sebuah negara tentang hal apa yang akan di lakukan ketika ada aksi dari negara lain. Kondisi ini di sebabkan adanya miss interpersepsi yang di rasakan negara terhadap aksi dari negara lain.
Kalau saya pribadi, lebih senang menggunakan konsep Security Dilemma yang di paparkan oleh Booth and Wheeler
The security dilemma is a two-level strategic predicament in relations between states and other actors, with each level consisting of two related lemmas (or propositions that can be assumed to be valid) which force decision-makers to choose between them.[2]

Security Dilemma adalah sebuah strategi prediksi dua (2) level di dalam hubungan antara negara dan non negara yang di setiap levelnya yang nantinya decision makers lah yang akan menentukan atau mengeluarkan kebijakan.
Level pertama disebut juga dengan dilemma of interpretation. Level pertama berisikan tentang motiv, kemampuan, dan kekuatan yang lain. Level pertama dalam security dilemma. Kondisi dilema yang dihadapi oleh decision makers ketika dalam kondisi dimana ada hal yang mengganggu keamanan negara. Decision makers biasanya dihadapkan pada dua kondisi yang tidak mengenakkan. Dilemma of interpretation adalah hasil dari ketidakpastian yang dirasakan oleh negara tentang motiv, kemampuan, dan kekuatan negara lain. Yang akhirnya membuat ada 2 pilihan bagi decision makers, yakni untuk self defending atau menyerang untuk merubah status quo.
Dan level yang kedua adalah dilemma of response. Level kedua tentang respons yang sifatnya rasional. Atau dengan kata lain, level kedua adalah hasil dari level pertama. Level kedua di dalam Security Dilemma. Kondisi yang sejatinya di rasakan setelah dilemma of interpretation sudah pasti. Artinya, sikap yang di pilih di dilemma of interpretation akan menentukan dilemma of response. Bukan berarti semua berakhir disini. Karena dilemma yang dirasakan oleh decision making masih akan terjadi. Ketika dilemma of response berbasis kecurigaan, maka hasilnya adalah akan terjadi permusuhan yang akan terjadi bersama-sama

Aksi Penusukan Member AKB48
JKT48 adalah salah satu sister group dari AKB48, sebuah idol group dari Jepang. Sebagai sebuah idol group yang berada di bawah “kendali” AKB48, kebijakan dari JKT48 tak akan pernah lepas dari kebijakan yang di keluarkan AKB48. Jika di lihat lagi, segala bentuk marketing dan event yang di adakan manajeman JKT48 itu sudah di lakukan oleh AKB48. Mulai dari event Handshake, Senbatsu Sousenkyou, dll. Itu berkiblat dari “kakak” nya yang dari Jepang.
Baru-baru ini bhumi peridolan Jepang gempar dengan adanya kabar penusukan ketika berlangsungnya Handsake Event yang di lakukan AKB48. Dan sialnya, terdapat 2 member AKB48 dan satu staff yang terkena tusukan. Yakni Iriyama Anna (Annin) dan Rina Kawaei (Ricchan) yang terkena pisau. Bahkan sampai saat ini kedua member tersebut belum bisa aktif lagi di segala kegiatan rutin AKB48.
Hal ini seakan menjadi pukulan telak yang mengarah ke ulu hati AKB48. Manajemen AKB48 yang selama ini di kenal sangat disiplin dalam menjaga keamanan dari member, ternyata bisa luput juga. Dan bukan main-main, yang menjadi korban adalah member yang popularitasnya sedang meningkat. Kedua member yang pernah menjadi anak dari Oba Mina di Team 4 terkena tusukan di tangan dan harus beristirahat.
Imbasnya, AKB48 sempat menutup sementara AKB48 Theater yang selama ini menjadi “blackhole” segala kegiatan peridolan di AKB48. Bagi Jama’ah Wotaniyah Al Idoliyah, AKB48 Theater adalah Masjid dan Gereja nya mereka. Keberadaan mereka di tempat itu seakan adalah impian bagi para wota seperti muslim dan Ka’bah nya. Lebay ? No. Karena begitulah kenyataannya.
Selain itu, AKB48 dan seluruh jajaran manajemennya menerapkan peraturan yang lebih ketat di banding sebelumnya. Bahkan untuk Event Handshake selanjutnya, berhembus kabar akan di rubah. Mereka (fans) masih bisa bertemu dan salaman dengan member idola mereka, tetapi batasan antara mereka tak lagi meja, tetapi ada kaca. Dan gambar itu sudah menyebar di twitland. Dan sempat terlihat pula di G+ Togasaki (salah satu staff AKB48), bahwa manajemen AKB48 akan melakukan perubahan yang radikal dan menyeluruh terhadap sisi keamanan bagi seluruh member ketika ada event.
Efek Bagi JKT48
Kejadian di Jepang tadi begitu cepat merembet ke Indonesia. Para wota yang di muliakan pun tak pernah berhenti membahas kejadian ini. Seakan jadi konsumsi wajib para wota. Spekulasi berkembang dengan sangat cepat. Dan tidak ada yang bisa membuktikan kebenaran dari spekulasi tersebut.
Di mulai dari penggunaan Metal detector sampai dilarang tas untuk di bawa masuk ke dalam Theater JKT48 di FX Sudirman. Banyak fans yang tidak suka dengan peraturan tersebut. Bahkan sepakat menolak adanya peraturan tersebut. Dan ada yang memasang banner yang berisi tentang dukungan untuk member AKB48 dan sebuah kalimat yang dapat di artikan bahwa fans JKT48 tidak akan melakukan perbuatan hina seperti itu.
Spekulasi tersebut coba saya buktikan. Ketika sayaberkesempatan datang ke Theater pasca terjadinya aksi memalukan tersebut sembari bertemu dengan para Skyleng. Keamanan di Theater JKT48 bagi saya tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Terutama di sekitaran theater atau di luar theater. Untuk yang masuk ke dalam theater, memang pemeriksaan sedikit lebih dibanding sebelumnya. Ada pemeriksaan yang lebih bagi fans yang membawa tas. Kalau dulu cuma di lihat isi dari tas, dan sekarang tas “di obok-obok”. Dan ada Body Check yang di lakukan oleh satpam ketika masuk ke dalam theater dan ketika keluar dari dalam theater untuk melakukan hi touch. Oh lupa, ketika menukar Verif, sekarang harus menunjukkan Kartu Identitas. Memang sejak awal sudah ada peraturan tertulis tentang itu, tetepi sering tidak dilakukan. Dan sekarang, sudah di lakukan. Mungkin untuk mengantisipasi teroris yang punya multi identitas (?)
Lalu issue tentang adanya Metal Detector tidak terbukti. Dan untuk pemeriksaan tas ketika masuk ke theater, itu bisa di siasati jika kita ingin tas kita tidak “di obok-obok”. Tinggal bilang, fans far dan isinya pakaian dan aman. Padahal, jika peraturan sudah di tetapkan, harus dilaksanakan. Rules is rules. Ya kan ?
Dan saya coba meng elaborasikan antara konsep yang saya gunakan, yakni Security Dilemma dengan adanya kecenderungan JKT48 Operational Team untuk meningkatkan kapabilitas militer (keamannya) pasca terjadinya aksi penusukan terhadap member AKB48.
Security Dilemma and JKT48 Operational Team
Seperti yang sudah saya singgun di atas, saya coba untuk melihat adanya keraguan dari JKT48 Operational Team untuk meningkatkan keamanan jika di lihat dari konsep Security Dilemma.
Pertama, perlu di ingat bahwa saya hanya mencoba untuk menganalisa kasus ini dengan konsep Sec Dilemma. Adanya kekurangan, saya minta maaf. Karena sesungguhnya jika dilihat dari payung Security Dilemma yakni Realisme, yang fokus dalam State as unitary actor. Dan security dilemma hanya dapat di implementasikan dalam level state dan di jalankan oleh decision maker. Saya hanya mencoba menggunakan ilmu yang saya dapatkan untuk melihat kasus yang sangat dekat dengan kehidupan saya.
Kedua, saya tidak berusaha murtad dengan membawa konsep ini ke level yang tidak sesuai dengan kodratnya, yaitu level state. Saya tetap berada di dalam rumah yang sama.
Perlu dilihat bahwa security dilemma adalah konsep yang intinya adalah adanya kebingungan decision making dalam mengeluarkan kebijakan setelah adanya aksi dari negara lain dan dalam kasus ini aktor lain.
Penyebab dari adanya kebingungan itu adalah dimulai dengan aksi penyerangan yang di lakukan oleh orang Jepang terhadap member AKB48. Yang ini menimbulkan reaksi dari Manajemen AKB48 untuk bertindak dengan meningkatkan keamanan. Dan di idol group Jepang sekarang keamanan di perketat dari sebelumnya. Dan itu merembet ke Indonesia.
Aksi penusukan itu jika dilihat dari sisi keamanan adalah dapat mengganggu keamanan dari aktor lain (48 Group). Yang mengakibatkan 48 Group meningkatkan kapabilitas keamanannya. JKT48 pun tak lepas dari itu. Manajemen atau yang lebih dikenal dengan JOT pun merasa perlu meningkatkan keamanannya.
Kita masukkan variabel dari konsep tadi, yakni dilemma of interpretation dan dilemma of response. Dilemma of interpretation adalah kondisi dilema yang dihadapi oleh decision makers ketika dalam kondisi dimana ada hal yang mengganggu keamanan negara. Yang akhirnya membuat ada 2 pilihan bagi decision makers, yakni untuk self defending atau menyerang untuk merubah status quo.
Sedangkan dilemma of response adalah Level kedua tentang respons yang sifatnya rasional. Atau dengan kata lain, level kedua adalah hasil dari level pertama. Level kedua di dalam Security Dilemma. Kondisi yang sejatinya di rasakan setelah dilemma of interpretation sudah pasti. Artinya, sikap yang di pilih di dilemma of interpretation akan menentukan dilemma of response.
Dilemma of interpretation dalam kasus ini adalah adanya dilema yang di gambarkan oleh JOT dalam menanggapi aksi penusukan terhadap member AKB48. Dilema nya adalah ternyata yang melakukan aksi tersebut bukanlah fans. Tetapi orang stress yang snegaja membuat aksi onar. Karena memang semenjak AKB48 berdiri, tidak pernah ada aksi kerusuhan yang di lakukan oleh fans. Beda cerita tentang kerusuhan antar fans di Theater HKT48 beberapa waktu yang lalu. Tetapi fans selama ini selalu menhaga keamanan member mereka.
Buntutnya adalah berada di level dilemma of response. Respons apa yang akan di keluarkan oleh manajemen akan bergantung dari interpretasi yang di munculkan. Mereka tidak akan menyerang fans. Mereka akan melakukan self defending. Dan ini yang di tunjukkan oleh manajemen JKT48. Self defending ini diwujudkan dalam peningkatan kapabilitas militer (keamanan) dan sesuai dengan bunyi dari konsep Security Dilemma. Bahwa hasil dari security dilemma adalah peningkatan kapabilitas militer atau self defending bukan untuk menyerang.



[1] O. Kanji, Security, Conflict Research Consortium University of Colorado, Colorado, 2003
[2] Booth and Wheeler 2008: 4-5

0 komentar:

Posting Komentar