Ultras Mania Gresik

Kita pernah juara. Gresik pernah juara. Dan sekarang "KAMI RINDU JUARA" Liga Indonesia

Roma Club Indonesia

Kami ada. Kami berpesta. Kami bersatu. Hanya untuk satu kebanggaan, AS ROMA

AS ROMA

LA ROMA NON SI DISCUTE SI AMA

Fan Fiction

Cerita fiksi untuk meluapkan ekspresi jiwa. Tentang hiburan, luapan perasaan, dan pengorbanan.

48 Family

The power of Idol. Idol can't make you horny, just can make you proud with them. Kita pecinta idol sebagaimana kita mencintai sepakbola.

Jumat, 27 Juni 2014

Benfica dan Kutukan

Mungkin sebagian orang tidak percaya akan adanya kutukan. Tapi kadang, kutukan ini terjadi dan terbukti. Bahkan telah bertahan selama 52 tahun. Butuh 48 tahun lagi untuk menuntaskan kutukan itu. Mungkin sebagian orag tidak tahu, apa kutukan yang berlangsung selama itu. Karena beberapa tahun yang lalu, tepatnya tahun 2008 dan 2012, ketika gelaran Piala Eropa, kutukan Juara Bertahan akhirnya berakhir dengan di tandai Spanyol menjadi juara Eropa 2X berturut-turut.
Kutukan Bela Guttman
Kutukan ini apes menimpa Benfica. Klub asal Portugal yang memiliki rentetan sejarah yang panjang nan bagus di Eropa dan juga merajai liga lokal. Lalu kapan kutukan ini di mulai ? dan seperti apa efeknya ?
Kutukan ini di mulai ketika Benfica merajai Eropa dengan memenangkan Piala Champions tahun 1961 dan 1962. Ketika itu, pelatih yang menahkodai Benfica adalah si Bela Guttman ini. Dia meminta kenaikan gaji. Wajar, karena 2X berturut-turut dia sukses membawa Benfica menjadi juara Piala Champions. Pria asal Yahudi meminta kenaikan gaji dan di tolak oleh manajemen Benfica.
Akhirnya, Guttman memutuskan untuk pindah dan keluar dari Benfica. Dia keluar dengan membawa kenangan manis dengan 2 gelar Piala Champions di tangan, serta memberikan kado perpisakan, yakni sebuah kutukan. Kutukan yang memiliki daya magis yang dahsyat. Seperti apa kutukan maha dahsyat itu ?
Guttman mengutuk Benfica tidak akan bisa juara Eropa selama 100 tahun. Dan kutukan itu bertahan 52 tahun sampai tahun ini. Benfica gagal meraih juara di Europa League setelah di kandaskan Sevilla di final dan tahun kemarin, di 2013 di gelaran yang sama, mereka di kandaskan oleh Chelsea.
100 tahun bukan waktu yang singkat. Jika kutukan itu benar, artinya Benfica bisa juara lagi ketika tahun 2062, atau 48 tahun lagi. Waaow, waktu yang sangat lama.
Efeknya, bisa-bisa pemain Benfica banyak yang kabur karena tidak bisa meraih gelar juara di Eropa. Sungguh tragis nasib Benfica jika mereka gagal hanya karena kutukan.

Dan bayangkan jika pelatih-pelatih di dunia mengeluarkan kutukan yang sama karena di pecat atau permintaan kenaikan gajitidak di gubris manajeman. Mungkin Moyes bisa menjadi aktor kutukan lain karena di putus oleh MU secara sepihak. Atau mungkin Mou yang memberikan gelar juara untuk Madrid tetapi di pisahkan oleh manajemen.

Usaha Keras Sang Idol

Beberapa minggu yang lalu, tepatnya tanggal 6 Juni, saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi kuil cinta bagi para fan idoling di Indonesia. Tempat bagi para wota berkumpul, menghabiskan uang dalam waktu singkat, menemui idola nya yang tak terlihat, dan tempat untuk menunjukkan dukungannya untuk sang idola.
Di 6 Juli pula lah, saya pertama kali menlihat aksi lincah nanenerjik khas anak kecil dari para generasi ketiga yang sedang menampilkan setlist kenangan, setlist perjuangan, Pajama Drive. Berkesempatan melihat mereka bukan ketika mereka sudah berada di atas angin. Tetapi ketika mereka masih berusaha membentuk jalan hidupnya, itu sensasinya berbeda. Benar kata Om-om genit yang sempat saya temui di hari berikutnya.
Saya berkesempatan melihat aksi tim merah yang berisikan member-member yang semuanya saya tidak tahu. Bahkan ketika semua fans melakukan ibadah member call, saya cuma diam tidak ikutan. Takut salah manggil nama. Kan malu salah manggil nama.
Mata saya saat itu tertuju ke beberapa member yang (menurut saya) menonjol secara perform. Setelah saya tanya ke orang di sebelah saya, akhirnya saya ketahui namanya adalah Milenia, Cesen, Tya, Anin dan Grace.
Kekuatan Mereka
Saya coba membredel kekuatan masing-masing member itu. Mereka semua adalah perwakilan dari semua unit song di Pajama Drive. Milen di Unit Song Temodemo, Cesen di Kagami, Tya di Jonjou, Anin di Pajama Drive, dan Grace di Tenshi no Sippo. Dan menurut saya, ke empat Unit Song itu memiliki ciri khas sendiri. Temodemo yang mewajibkan member untuk bisa memainkan ekspresi sedih. Kagami dengan image garang dan sangar. Jonjou dengan kekuatan di dance dan menurut saya jadi dance tersulit dari semua unit song di setlist ini. Serta Tenshi no Sippo yang memiliki ciri khas anak kecil yang lucu menggemaskan.
a.      Milenia
Milenia yang akrab di panggil Milen ini adalah salah satu idola fans, bahkan sebelum dia masuk di JKT48 alias ketika masih audisi. Wajah cantik nan rupawan khas seorang model memang mendukung alias oshi-able. Milen agak cadel ya ? Kayaknya sih begitu. Lupakan tentang cadel. Lalu kenapa dia aku jadikan member yang penampilannya menonjol ? Dia memiliki kekuatan di ekspresi sedih. Dia mampu memainkan mimik mukanya sedemikian rupa dengan sangat indah. Bahkan, untuk sekelas member yang baru beberapa kali memainkan setlist ini, Milen sudah berada di batas rata-rata. Butuh perjuangan sedikit lagi untuk mencapai titik yang disebut “Bagus”.
Selain itu, tatapan mata Milen bahaya, coy. Kalau di Team K3 ada Hanna yang dikenal dengan tatapan lasernya, dan itu terbukti ketika dua teman saya harus lemah ketika kena tatapan lasernya Hanna, maka di Pajama Tim Merah ini, Milen punya tatapan mematikan. Seperti peluru yang berisikan bubuk mesiu.
b.      Cesen
Yansen atau Cesen ini salah satu member yang saya sudah tahu bahkan sebelum ada pengumuman hasil audisi. Sudah pernah ketemu ketika HS Manatsu no sounds good Februari lalu. Karena para finalis sempat di perkenalkan ke publik. Ketika perkenalan, Cesen bagi saya adalah member yang lucu dengan pipi chubby nan menggemaskan. Image yang tergambar di mata saya saat itu adalah, Cesen kalau di BnT, harus ambil unit song Idol Nante, atau di Pajama ambil di tenshi no Sippo. Dan image itu terbawa bahkan ketika di dalam kuil.
Di dalam kuil saya terperangah kaget ternyata pembawaan Cesen garang. Jauh berbeda ketika masih audisi. Dan menjadi Jendral Kagami bagi saya adalah hal yang mengagetkan. Saat itu pula saya membandingkan dengan Kinal. Jendral Kagami sesungguhnya, ha ha ha. Dan bagi ukuran member baru, not bad lah. Image keras, sangar, dan garang yang terpampang di unit song ini mulai terlihat di diri Cesen dan menghapus image lucu menggemaskan yang selama ini ada di pikiran saya.
c.       Tya
Member ketiga yang menurut saya penampilannya menonjol adalah Triarona atau kerap di panggil Tya. Mungkin sebagian orang menganggap alasan saya memilih dia karena di Jiko nya. Bukan, bro. Memang sih Jiko nya ini anak lain dibanding yang lain. Bahkan Cuma Tya dan Manda yang Jiko nya (menurut saya) beda dan mampu membius mata para lelaki. Lalu kenapa saya memilih Tya ?
Saya melihat penampilan Tya paling menonjol secara dance di banding yang lain. Terbaik lah si Tya ini kalau secara dance. Yang saya baru tahu, ternyata si Tya ada basic dance, jadi kualitasnya tidak perlu di ragukan. Dapat info dari om-om genit yang suka jitak anak gajah.
Kualitas itu jelas di perlihatkan Tya ketika di US Jonjou. Meskipun member di unit ini ada 3 orang, tapi mata saya Cuma tertuju di Tya. Yes, penampilannya di atas panggung saat itu istimewa. Tetapi yang perlu di lihat adalah, kadang Tya kelewatan atau over dibanding teman-teman yang lain. Harus saling pengertian satu sama lain.
d.      Anin
Anin atau Anindhita ini adalah idola dari om-om genit yang sempat saya buatkan tulisan khusus. Apa istimewa nya Anin ? Penampilannya sesuai porsi. Tidak melebihi teman-teman yang lain dan kurang dari teman-teman yang lain di satu unit. Kalau mau tau kelebihan Anin yang lain, silahkan tanya ke @TeamNetral aja yaa.
e.       Grace
Masuk ke member terakhir, yakni si Grace atau Martha Graciela. Hmm, bingung mau nulis apaan tentang si cimit-cimit ini. Dengan rambut pendek yang di ikat seperti itu, image anak kecil lucu menggemaskan seakan menempel dengan lekat di tubuh anak ini. Dan benar saja, anak ini sangat lucu saudara. Asli. Mukanya nggemesin bikin pengen nyubit.
Dan di Unit Song Tenshi no Sippo, sangat cocok dengan Grace. Unit song yang sempat saya gambarka di kepala dengan Cesen yang mengisi, ternyata di isi oleh Grace. Ya, Grace adalah center tenshi. Lucu sekali dia. Enerjik banget gerakannya. Dan satu lagi, member yang punya tatapan mematikan bukan hanya si Milen, tetapi si Grace juga punya tatapan yang mematikan.
Selain lima member ini, terdapat member yang menonjol di MC. Yakni si Desy. Dengan logat medok khas orang jawa alias saya suka, Desy mampu menyihir penonton sekalian. Jokes jokes renyah khas anak kecil mampu di bawakan Desy dengan bagus. Bahkan, ada yang bilang, MC tanoa Desy akan mati.
Usaha Keras Sang Idola
Setelah pulang dari kuil, saya mulai mencari info lebih lanjut terhadap member-member ini. Milen yang katanya anak dari model, Tya yang punya basic dance, dan Grace yang memiliki kondisi badanyang tidak sehat.
Pernah dengan kalau ada member yang di larikan ke rumah sakit ketika theater ? Ya, itu Grace, Martha Graciela anak yang tahun depan akan berumur 16 tahun. Berdasarkan info yang saya dapat, Grace punya kondisi tubuh yang tidak sehat. Ah, pantas saat itu saya tidak sempat hi touch dengan dia. Tapi, apalah arti hi touch ketika ada member yang sakit. Biarkan dia istirahat agar kondisi tubuhnya kembali fit.
Sejenak saya berfikir, lalu ketika perform yang saya lihat dulu, dia lagi sakit ? What ? Saat itu, tidak terlihat sama sekali kalau Grace sedang menahan rasa sakit di perutnya. Waow, ini anak hebat, pikirku. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk bergabung dengan salah satu grup yang sepakat mendukung Grace agar bisa meraih impiannya.

Yaa, Grace semoga tuha mengambil penyakit yang ada di tubuhmu dan diberikan kesehatan. Tunjukkan yang terbaik untuk fansmu yang selalu setia mendukungmu. ^^

Senin, 23 Juni 2014

PSSI dan Pilpres 2014

Saya sarankan di awal, bagi kalian yang tidak paham tentang sepakbola dan tidak peduli dengan sepakbola Indonesia, sebaiknya tutup post ini dan baca post lainnya yang bisa buat kalian tertawa atau apalah itu namanya. Atau kalian yang paham sepakbola, tetapi tidak peduli dengan sepakbola Indonesia, kalian juga di persilahkan menutup post ini.
Tapi bagi kalian yang tidak paham tentang sepakbola, tetapi kalian peduli dengan sepakbola Indonesia, silahkan lanjutkan baca post ini. Lebih khusus lagi, bagi kalian yang sangat paham tentang sepakbola dan amat sangat peduli dengan sepakbola Indonesia, saya harap kalian baca post ini. Sekedar memberi tahu kan kebenaran yang selama ini ada.
Saya awalnya tidak curiga sama sekali dengan ketidak netralan PSSI dalam Pilpres kali ini. Sampai akhirnya saya tersentar dengan adanya twit yang di tulis oleh Pelatih Timnas U-19, Indra Sjafri dan di ritwit oleh Akun @pssiofficial. Dan sebelum ada twit itu, PSSI juga memberikan postingan yang isinya sebuah gambar.



Gambar ini saya dapatkan dari akun twitter kesukaan saya, @panditfootbal. Meskipun sebelumnya, La Nyalla sudah sempat berbicara bahwa akun twitter PSSI bukan itu. Anehnya, jika kita masuk ke website PSSI, akan terhubung dengan akun twitter itu. Untuk lebih jelasnya, silahkan cek artikel yang di tulis oleh Pandit Football http://www.panditfootball.com/pssi-jadi-alat-kampanye/ .
Curiga ? Harus. Pantang bagi kita untuk membiarkan dan seakan menganggap ini hal yang wajar. Apalagi, jika lihat Track Record PSSI yang selama ini “maaf” rusak.
Lalu apa bukti ini cukup kuat untuk membutkikan kalau PSSI tidak netral ? Tidak. Akan saya berikan yang lainnya.
Masih ingat kasus Majalah atau produk propaganda”Obor Rakyat” ? Itu loh yang sempat membeberkan fitnah yang begitu kejam terhadap salah satu pasang calon. Ingat kan ? Apa hubungannya ? Ada !
Pemred Obor Rakyat Setiardi Budiono telah di laporkan oleh kubu salah satu calon terkait majalah fitnah ini. Dan siapa pengacara Setiardi Budiono ? Hinca Panjaitan. Mungkin, bagi para pecinta sepakbola tanah air tidak asing dengan nama Hinca Panjaitan. Ya, dia adalah Komdis PSSI. Bahkan sudah menjabat di PSSI sejak era Nurdin Halid. Dan saat ini menjadi Ketua Komdis PSSI. Bukti ? Ada.

Bahkan, salah satu caleg dari Partai Demokrat dari Dapil Sumatera Utara ini sempat membuka Turnamen di Sinabung, Maret lalu.
Sudah sedikit jelas kan seperti apa PSSI dan Pilpres ? Masih ada satu bukti lagi yang akan saya buktikan. Dan ini lebih menohok, saudara sekalian.
Tau La Nyalla Mattaliti ? Kebangetan kalau kalian yang ngaku gibol tapi tidak tahu siapa itu La Nyalla Mattaliti. Silahkan cek di Google atau tanya ke teman kalian yang ngaku gibol juga. But, gibol yang paham masalah sepakbola di Indonesia lho.
La Nyalla Mattaliti adalah salah satu petinggi di PSSI dan salah satu tokoh yang merumuskan KPSI dan ISL yang sempat membuat sepakbola kita rusak beberapa tahun kemarin. Dan La Nyalla Mattaliti memiliki akademi yang di namakan La Nyalla Academia. Dan di akademi tersebut, La Nyalla Academia mengatakan bahwa mereka mendukung salah satu calon tertentu.




Meskipun La Nyalla sempat mengatakan kalau ia mengambil cuti untuk sementara waktu, bahkan di suatu kesempatan, dia mengatakan bahwa dia harus memproteksi Timnas U-19 dari segala gangguan politik praktis, tetapi dari fakta-fakta tersebut, seakan PSSI menunjukkan luka yang di buatnya sendiri.
Saya tidak ingin memojokkan salah satu calon pasangan tertentu. Tapi, saya hanya ingin mencoba mengajak kalian semua untuk membuka mata dan aware tentang masalah ini. Percaya tidak percaya kembali ke teman-teman semua. Saya hanya ingin memberikan fakta

Salam Sepakbola Indonesia

Jumat, 20 Juni 2014

Struggle For Recognition and Football

Mungkin sekilas tidak ada korelasi antara sepakbola dan politik pengakuan. Karena memang kedua hal ini berada di ranah yang berbeda. Politik yang selama ini identik dengan kondisi yang berada di dalam pemerintahan dan negara. Apalagi jika di gabungkan dengan politik pengakuan. Politik pengakuan sendiri secara teoritis berada di tataran sosial. Dari berbagai sumber yang saya baca, saya simpulkan bahwa politik pengakuan adalah bentuk cara yang dilakukan oleh negara ataupun social movement mendapatkan pengakuan dari negara ataupun aktor lain. Yang akhirnya mereka melakukan berbagai cara yang dinamakan “struggle for recognition”.
Lalu apa hubungannya dengan Sepakbola ? Jarak kedua hal ini jauh sekali. Tapi ada ternyata.
Saya akan ajak anda semua untuk mengembalikan memori kita 3 tahun yang lalu dan setahun yang lalu. 3 tahun yang lalu, yakni ketika ada Pertandingan Uji Coba antara Indonesia dan Palestina yang terjadi 22 Agustus 2011 akhirnya di menangkan Indonesia dengan sor 4-1. Setahun yang lalu, masih dengan Indonesia dan Palestina. Tetapi kali ini yang bertanding adalah Timnas U-23 di turnamen International Solidarity Games yang berlangsung di Palembang. Lalu, apa yang aneh dengan semua itu ? wait, jangan justifikasi itu semua sebelum melihat ini.
Pertama, saat 2011 kondisi Palestina masih tidak stabil. Maksudnya, saat itu Palestina keberadaannya masih belum di akui dunia sebagai nation-state atau negara bangsa, bahkan sampai sekarang. Dan nama Palestina di mata internasional adalah West Bank atau Tepi Barat bukan Palestina. Artinya, keberadaan Palestina belum di akui oleh dunia, baik secara de jure dan de facto.
Untuk mendapatkan pengakuan secara de facto dan de jure, Palestina harus mendapatkan itu semua dengan mendekati negara-negara yang selama ini simpati dengan mereka. Seperti yang kita ketahui, pengakuan secara de jure artinya pengakuan secara hukum di dunia internasional. Dan pengakuan secara de facto, artinya pengakuan oleh NEGARA LAIN. Jika di masukkan ke dalam politik pengakuan di paragraf atas, secara tidak langsung Palestina sedang melakukan Struggle for Recognition. Why ?
Karena, ketika sebuah negara melakukan kerjasama ataupun menjalin hubungan dengan negara lain, artinya mereka telah mengakui keberadaan negara itu. Untuk itulah, Gus Dur di kritik karena ingin melakukan hubungan dagang dengan Israel, karena Indonesia tidak mengakui Israel sebagai negara bangsa.
Lebih jelas lagi terlihat di tahun kemarin, dalam turnamen International Solidarity Games 2013 di Palembang. Dari labil jelas terpampang, International Solidarity Games 2013. Pesertanya adalah seluruh negara yang mayoritas islam. Indonesia, Maroko, Palestina, dan Turki adalah beberapa negara yang ikut serta di turnamen ini. Struggle for recognition jelas terlihat dari Palestina. Secara tidak langsung, Palestina “memanfaatkan” Indonesia dan negara-negara islam untuk mendukung pengakuan terhadap entitas baru, Palestina.
Disini, saya tidak ingin ikut campur dalam urusan Israel dan Palestina. Tetapi saya hanya mencoba mengaitkan antara sepakbola dengan politik. Jika selama ini selalu identik dengan hal-hal yang sifatnya destructif, maka disini “football influence politics”.


Alief Maulana

@alipjanic

Rabu, 18 Juni 2014

Spanyol dan Kutukan Juara Bertahan di Era 2000 an

Piala Dunia masih memasuki babak penyisihan grup. Bahkan, beberapa tim baru memainkan 1 game. Tetapi berbagai bursa judi dunia mulai menggeserkan prediksi nya. Setelah Brazil di tahan imbang Mexico di laga kedua, Portugal yang di hancurkan Jerman dengan skor 4-0, dan yang paling hot adalah kandasnya langkah Spanyol di babak penyisihan grup ketika baru bertanding 2X dengan hasil 2X kalah, yakni dari Belanda 5-1 dan Chile 2-0.
Khusus yang terakhir, ternyata terdapat fakta menarik. Tidak ada satu pun negara yang mampu mempertahankan gelar Piala Dunia alias 2X juara berturut-turut di era sepakbola modern. Dulu, ada Italy dan Brazil yang sempat mempertahankan gelar. Yakni ketika tahun 1934 dan 1958 Bahkan Spanyol mengikuti jejak Italy dan Perancis, yakni gagal total di penyisihan grup. Padahal di Piala Dunia edisi sebelumnya, mereka merebut gelar juara dunia.
Kita kembali ke era 1998 ketika Perancis begitu digdaya dan menghancurkan Brazil di Final 1998. Era ke emas an Perancis kata orang. Permainan aktraktif Perancis terlihat di situ. Dan berlanjut ketika tahun 2000 di gelaran EURO 2000. Perancis pun berhasil meraih gelar juara Eropa. Ketika Piala Dunia 2002 di mulai, mata tertuju ke Perancis. Mampukah mereka mempertahankan gelar ? Hasilnya gagal total di babak penyisihan grup.
Brazil masih jauh lebih beruntung di Piala Dunia 2006. Brazil masih mampu lolos dari penyisihan grup dan kandas di Perempat Final dari Perancis yang saat itu menjadi underdog dan lolos ke final meskipun kalah menyakitkan dari Italy.
Italy di 2010 tak jauh beda dengan Perancis di 2002. Menjadi unggulan karena di gelaran Piala Dunia 2006, Italy adalah Tim yang memiliki permainan terbaik ala Marcelo Lippi. Apa mau di kata, Italy gagal total di babak penyisihan, laga terakhir versus Slovakia pun tak dapat di manfaatkan dengan baik oleh Italy. Hasilnya, hancur.
Di tahun ini, Spanyol berulah. Mereka mengikuti jejak Italy dan Perancis. Tapi bagi saya Spanyol mampu menampar muka LFP (PSSI nyaSpanyol). Spanyol yang selama ini di nilai memiliki liga terbaik di dunia dengan menempatkan Real Madrid dan Barcelona sebagai tim terbaik di dunia, akhirnya harus pulang dengan sangat memalukan. 2X kalah di partai pembuka dengan agregat 7-1. Ditambah dengan ekspektasi tinggi publik terhadap Spanyol yang mampu meraih Piala Eropa di 2008 dan 2012 serta Piala Dunia 2010, menjadikan Spanyol unggulan teratas.

Kutukan ini terus berlanjut. Salahkan Perancis yang memulai kutukan ini. Bye bye Spanyol ~

Senin, 16 Juni 2014

Piala Dunia 2014: Kuburan Para Veteran

Piala Dunia adalah turnamen terbesar yang menjadi keinginan dari para pemain sepakbola di dunia. Bak prajurit, mereka mempersiapkan segalanya untuk bisa menembus daftar pemain yang akan membela negaranya tampil di gelaran 4 tahunan tersebut. Meskipun ada beberapa dari mereka yang tidak dapat menampilkan yang terbaik tetapi masih tetap di panggil timnas. Dan ada yang sudah menjadi salah satu prajurit yang memberikan segalanya ketika bertanding, tetapi juga tetap gagal masuk ke dalam skuad timnas. Who ? See Spain.
Gelaran Piala Dunia 2014 tetap sama dengan gelaran Piala Dunia tahun sebelum-sebelumnya. Yakni berakhirnya era para veteran. Jika pada Piala Dunia 2002, Ronaldo, Oliver Kahn pensiun, Piala Dunia 2006 Totti dan Zidane pensiun, dan 2010 adalah kesempatan terakhir bagi Simao Sabrosa dan Paulo Fereira. Pensiun disini bukan pensiun dari dunia sepakbol, tetapi pensiun dari Timnas. Karena dari nama-nama di atas, sampai saat ini masih bermain di klub nya.
Dan tahun ini, di Piala Dunia 2014, beberapa nama sudah mengisyaratkan untuk pensiun. Salah satunya adalah Andrea Pirlo. Sang Maestro Italy. Penguasa lini tengah Italy. Pirlo bahkan sudah mengisyaratkan akan pensiun dari timnas. Karena memang secara umur, Pirlo sudah memasuki usia senja, 35 tahun.
Selain Pirlo, sejatinya ada banyak nama yang di ramalkan akan pensiun dan tahun ini adalah Piala Dunia terakhir bagi mereka jika di lihat dari umur. Ada Gigi Buffon di skuat Italy yang kemungkinan tahun ini akan jadi Piala Dunia terakhir.
Di Italy yang memang dihuni pemain-pemain veteran, hal itu sangat mudah di cari. Selain Gigi Buffon dan Pirlo yang sudah mengisyaratkan akan pensiun setelah Piala Dunia. Ada De Rossi yang pada 2018 nanti akan berumur 35 tahun. Untuk De Rossi, jika Italy sudah menemukan sosok seperti De Rossi, akan dengan mudah pelatih tidak akan memakai jasanya lagi karena secara umur sudah tidak memadai. Apalagi posisi De Rossi yang sebagai Anchor Man, membutuhkan stamina dan fisik yang harus kuat.
Di Spanyol, Casillas yang se angkatan dengan Buffon pun akan sangat sulit menembus skuad Spanyol di Piala Dunia 2018. Apalagi Spanyol saat ini sudah menemukan pengganti Casillas yang sepadan yakni David De Gea. Selain itu, 2018 nanti kemungkinan kita tidak akan menemukan lagi nama David Villa, Xavi Hernandez serta Iniesta yang sudah memasuki masa uzur.

Piala Dunia 2014 menjadi kuburan bagi para veteran. Apakah ini akan terjadi ? Saya sendiri meragukan itu. Karena jujur saya masih ingin melihat aksi penyelamatan gemilang ala Casillas dan Buffon, aksi tackle terbaik ala De Rossi, aksi striker haus gol ada David Villa, serta aksi brilian maestro lapangan tengah terbaik ala Xavi, Iniesta, serta Pirlo. Kalau toh mereka memutuskan pensiun, mereka telah menorehkan tinta emas di lembar perjalanan hidupnya di tahun 2006 dan 2010.

Jumat, 13 Juni 2014

Loyalitas Bodong Bernama Piala Dunia

Tahun 2014 bukan hanya tahun nya pesta demokrasi, tetapi juga tahunnya sepakbola dunia beraksi. Gelaran akbar pesta sepakbola yang berlangsung selama sebulan penuh akan mengiringi keseharian kita. Dan Brazil berkesempatan menjadi tuan rumah pesta akbar sepakbola dunia.
Meskipun Piala Dunia hanya di ikuti oleh 32 negara yang notabene adalah negara dengan kekuatan sepakbola yang cukup bagus, tetapi euforia nya bisa mencakup ke seluruh lapisan dunia. Baik itu dunia nyata ataupun dunia ghaib. Karena siapa tahu ada Pocong yang juga rela begadang demi lihat sepakbola di banding melakukan kewajiban menggoda manusia.
Tetapi benar, euforia Piala Dunia dapat di rasakan di seluruh pelosok dunia. Meskipun negara tersebut tidak menjadi salah satu peserta Piala Dunia. Dan itu juga merembet ke negara kita tercinta, Indonesia. Euforia Piala Dunia sangat besar terasa di negara terbesar di Asia tenggara ini. Meskipun kedigdayaan Piala Dunia sempat di senggol oleh adanya kampanye dan Pemilu 2014, tetapi keberadaan Piala Dunia tidak akan mampu di tandingi oleh apapun, pengumuman kelulusan UNAS sekalipun.
Dan yang menarik adalah adanya suporter dadakan yang muncul di setiap gelaran piala dunia. Bahkan mereka berani memproklamirkan kalau mereka pendukung setia salah satu negara. Misalnya saja ada yang mengaku dirinya adalah seorang suporter Spanyol sejati yang barusan di bantai Belanda 5-1. Atau suporter garis keras dari Selecao yang barusan menang 3-1 berkat aksi akting yang indah dan aksi impresif dari Oscar. Atau Tifosi Azzurri yang besok pagi akan mencoba mengembalikan Inggris ke tempat asalnya (neraka). Atau Fans garis miring Der Panser Jerman yang akan mencoba mematikan CR7.
Mereka sampai lupa kalau Timnas U-18 kita sedang berjuang mati-mati an di Solo melawan Korea Selatan di babak Semifinal Asian School Football U-18. Dan hasilnya, Timnas kita kalah 1-0 dan gagal lolos ke Final.
Sebenarnya wajar, karena euforia Piala Dunia memang lebih besar jika di banding Turnamen sekelas Asian School Football U-18 yang skala cuma se Asia di banding Piala Dunia. Tetapi atas nama loyalitas, mereka mati-mati an mendukung timnas negara lain dan melupakan Indonesia. Untung, salah satu akun twitter ada yang emmbuka obrolan utnuk melakukan #awayday ke Myanmar untuk mendukung Timnas U-19. Bagi mereka yang rela bermahal-mahal ria datang ke Brazil untuk melihat Piala Dunia, alangkah eloknya jika kalian juga ke Myanmar untuk menyempatkan diri minimal memberikan penghormatan dan memberikan penyemangat buat pahlawan kita yang berjuang di Myanmar.

Bukan maksud untuk menghentikan aksi kalian untuk mendukung Timnas negara lain, karena saya pun juga mendukung Timnas negara lain. Tetapi ingat, GARUDA DI DADAKU.