Ultras Mania Gresik

Kita pernah juara. Gresik pernah juara. Dan sekarang "KAMI RINDU JUARA" Liga Indonesia

Roma Club Indonesia

Kami ada. Kami berpesta. Kami bersatu. Hanya untuk satu kebanggaan, AS ROMA

AS ROMA

LA ROMA NON SI DISCUTE SI AMA

Fan Fiction

Cerita fiksi untuk meluapkan ekspresi jiwa. Tentang hiburan, luapan perasaan, dan pengorbanan.

48 Family

The power of Idol. Idol can't make you horny, just can make you proud with them. Kita pecinta idol sebagaimana kita mencintai sepakbola.

Rabu, 24 Juni 2015

Apakah Kalian Benar-Benar Melihat ke Tim K3

Tim K3 adalah bukti bahwa yang tak terlihat belum tentu tak bisa dilihat. Yang tidak tampak bukan berarti ia tak bisa menampakkan dirinya. Sekali-sekali, yang tak terlihat ini menampilkan sesuatu sehingga ia menjadi terlihat. Meskipun, sampai saat ini pertanyaan besar masuk ke dalam diri daya, “Apakah kalian benar-benar melihat ke Tim K3 ?”
Tim K3 melihatkan kepada kita bahwa kehidupan ini tak selamanya adil. Setidaknya itu yang keluar dari mulut banyak pihak yang mengikuti dan melihat Tim K3. Anggapan bahwa adanya ketidakadilan adalah bukti bahwa kita masih merasa inferior. Sejatinya, tak ada yang berbeda. Setidaknya Tim K3 mengajarkan kita bahwa ketidakadilan bisa dilawan dengan semangat yang tak kunjung padam. Habis Gelap Terbitlah Terang.
Ya, karena hidup tak selamanya lurus bukan.
Tapi apakah usaha dan semangat yang tak kunjung padam tersebut bisa membuat kita untuk sejenak mengarahkan muka kita dan melihat ke mereka ? Tak perlu memberikan penilaian baik atau buruk. Cukup melihat mereka. Ibarat permata, mereka belum dipoles secara sempurna. Semuanya adalah permata yang masih kotor. Sangat kotor. Karena tak ada kesempatan bagi mereka untuk memoles dirinya sendiri. Banyak atau tidaknya yang melihat mereka adalah acuan bagi mereka untuk dipoles atau bahkan di biarkan menjamur. Membusuk.
Pertanyaan lainnya adalah, apakah kalian yang tidak pernah melihat mereka atau kalian tak diberi kesempatan untuk melihat mereka ? Karena itu menghasilkan jawaban berbeda. Ya karena konteksnya berbeda. Tapi hasilnya sama, tidak ada yang melihat mereka.
Tim K3 memberikan kita pelajaran bahwa usaha dan semangat saja tidak cukup. Karena ada variabel lain yang harus dipenuhi untuk mampu menjadi bintang yang bersinar. Minimal, bintang yang dikenali oleh yang lain. Dan satu-satunya jalan untuk bisa dikenali adalah dilihat.
Adalah berjuang bersama. Tim K3 memberikan opsi lain agar mereka bisa dilihat. Mereka membutuhkan orang lain untuk menyadarkan mereka-mereka yang enggan untuk melihat ke padanya. Tim K3 membutuhkan dukungan agar banyak yang melihat mereka. Tim K3 membutuhkan cahaya lain dari bawah untuk menyorot ke mereka seraya berkata, “Lihatlah aku.”
K3luarga K3
Lalu apakah selama ini lampu yang ada di theater tak cukup terang menerani mereka ? Bukan. Cahaya yang dikeluarkan selama ini adalah ilusi. Cahaya yang selama ini menerangi mereka ternyata tak mampu membuat mereka tampak bersinar.
Lewat lagu Lucky Seven, mereka memberikan pesan. Bahwa mereka tidak pernah lari dari kesulitan apapun. Mereka membutkikan bahwa segala tantangan ada untuk dihadapi bukan untuk ditakuti. Keyakinan mereka bahwa cobaan seperti apapun pasti bisa mereka hadapi. Dan tantangan 13 Juni kemarin adalah bukti bahwa Lucky Seven telah memberikan artipada setiap diri mereka.
Dengan segala usaha yang mereka kerjakan selama ini, dengan segala cucuran keringat yang keluar dari segala penjuru pori-pori di badan, dengan segala tetesan air mata yang mengucur deras, dengan segala darah yang keluar, pertanyaan kembali muncul, “Apa kalian masih enggan melihat perjuangan mereka ?”


















Tulisan ini dibuat untuk merayakan Ulang Tahun Tim K3 yang kedua pada 25 Juni 2015. 2 Tahun yang lalu, Tim K3 berdiri dengan beban untuk bisa menyaingi kakak nya yang sudah jauh berada di depan. Dan sekarang, mari bantu K3 untuk setidaknya menyamakan posisi dengan sang kakak.



Senin, 22 Juni 2015

Shinta Naomi dan Pentingnya Show Must Go On

Konser buah-buah sudah selesai sekitar seminggu yang lalu. Selain rasa puas dan bangga yang dihasilkan, ada juga rasa yang lain. Sebagian besar orang punya rasa kecewa. Saya pribadi, rasa yang dominan saat itu sesaat setelah konser rasa-rasa selesai adalah rasa puas. Bagaimana tidak puas, impian mengibarkan giant seifuku di luar jawa timur akhirnya tercapai. Dan itu juga berkat bantuan yang lain. Meskipun tahun lalu, giant seifuku sempat “nyangsang” juga di Jakarta.
Sepulang dari FX, saya dan yang lain bercerita di mobil. Masing-masing dari mereka mengutarakan kekecewaannya terhadap keputusan manajemen yang merubah anggota member masing-masing tim. Twitter land gempar. Bahkan akun sepakbola menyadari hal ini dan menyatakan bahwa transfer member JKT48 lebih heboh dibanding transfer pemain sepakbola musim ini. Selain karena transfer window musim panas ini memang belum resmi dibuka (biasanya 1 atau 2 juli), perpindahan member ternyata menimbulkan efek kejut berkekuatan tinggi.
Dijadikannya 3 member Team J menjadi kapten disemua tim, adalah satu diantara kejutan yang menyesakkan bagi sebagian orang. Kalau biasanya kejutan berakhir dengan kegembiraan, maka kali ini kejutan berakhir dengan cacian dan makian. Bisa di bandingkan berapa kalimat jelek yang masuk ke tab mention JOT dengan kalimat yang baik sesaat setelah keputusan itu keluar.
Tak terkecuali bagi teman-teman baru saya yang berada di dalam mobil. Mereka sama dengan yang lain yang tidak suka dengan keputusan itu. Alasannya beragam. Mulai dari “Kenapa harus Kinal yang jadi kapten.”, “Kenapa Naomi yang harus dipindah ke tim J”, dan yang ekstrim, “Kok Tim J enak banget ya. Dream Team.” Yang terakhir setidaknya saya setuju. Tim J “dapat” Elaine dan Naomi dalam satu waktu. Itu ibarat Barcelona dapat Marco Veratti dan Sergio Ramos di transfer window nanti. Veratti yang disebut sebagai wonderkid di ibaratkan seperti Elaine, dan Ramos seperti Naomi. Berlebihan ? Tidak.
Saya pribadi kecewa karena Naomi, kapten K3 yang harus dipindah ke tim lain. Opini yang muncul adalah kalau ada pergantian kapten, artinya kapten itu gagal atau kapten itu sukses. Tapi opini lebih mengarah kalau kapten Naomi gagal dengan dijadikannya Kinal yang notabene adalah kapten “lawas” Tim J sebagai pengganti Naomi sebagai Kapten K3. Naomi gagal ? Tanya ke yang mengikuti K3 secara penuh.
Terhitung mulai 1 Agustus, masing-masing Tim akan punya kapten baru dengan susunan tim yang baru juga. Jadi masih ada sekitar satu bulan lebih dikit untuk membuktikan ke publik kalau dia (Naomi) bukan lah kapten gagal. Mungkin, setelah lebaran, ada 1-2 show sebelum masuk ke bulan agustus. Yang artinya, masa bakti Naomi di K3 sudah habis.
Pertanyaannya, mau sampai kapan terus-terusan meratapi Naomi yang sebentar lagi akan jadi anggota tim lain ? Show Must Go On. Walau anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Mungkin itu istilah yang tepat bagi Naomi, K3, dan para fans K3. Mau diratapi kepergian Naomi terus menerus ? Apa dikira kalau masih tak rela Naomi di Tim J bisa merubah situasi dan kondisi di dunia sana ? Enggak.
Yang terpenting adalah bagaimana caranya masing-masing pihak (fans dan member khususnya Naomi) bisa memberikan kesan terbaik sebelum agustus datang. Bagaimana Naomi memberikan yang terbaik di sisa masa bakti nya di K3. Bagaimana member K3 nurut sama Naomi di akhir masa baktinya dan mungkin ada “pesta” untuk Naomi.

Siapapun kaptennya, Show Must Go On.

Sabtu, 20 Juni 2015

Asam Manis Lemon

Sebuah Catatan Perjalanan Konser Lemon dan Project Giant Seifuku

Yg paling jauh dari kita adalah masa lalu. Ya, masa lalu menjadi hal yg susah untuk kita raih. Dan catatan ini adalah cara bagi saya, bukan untuk mengembalikan masa lalu. Setidaknya masa lalu bisa memberikan jalan yg indah bagi saya ke depannya lagi khususnya dan teman-teman sekalian.
Cerita ini adalah sebuah catatan perjalanan saya pribadi ketika yg awalnya "dipaksa" datang dan akhirnya menerima itu dan menjadi enjoy. Maha dahsyat tuhan yg bisa dg mudah merubah hati dan perasaan seseorang.
Perjalanan kali ini terasa spesial. Karena ada orang-orang hebat yg membantu saya untuk berangkat. Mungkin tanpa mereka, saya tak akan berangkat. Asli. Terimakasih atas bantuannya.
Perjalanan ini dimulai bahkan sebelum berangkat. Jadi dimulai ketika harus susah payah menjemput sebuah seifuku raksasa K3banggan teman2 Jatim (Malang, Kediri, Blitar, dan Gresik) hari selasa di rumah salah satu teman. Susah payah nya lagi adalah ternyata kita harus atur skenario packing yg ternyata susah. Tujuannya adalah biar ketika di Jakarta tinggal langsung pakai. Tapi susah. Jadi asal aja gitu packing nya.
Di hari rabu, badan tiba-tiba tepar. Kepala pusing dan meriang. Ada aja halangan. Demi K3 sih berangkat aja wes. Ya kan Tata ? :)
Apes nya adalah kamis pagi telat bangun dan harus cepet2an berangkat ke Stasiun. Kebetulan berangkat dari Surabaya jam 12 siang. Mandi jam 7 dalam posisi setengah sadar dan badan gemetaran sendiri. Ngalam adem sam.
Sampai Stasiun Gubeng 10 menit sebelum kereta berangkat. Edan. Mepet banget. Ah iya. Saya cuma bawa bendera yg kecil 4 meter. Yg 12X9 meter dibawa salah satu pasukan Nadilavatic asal Malang, Mas Galih. Tanpa Mas Galih, hancur sudah rencana.
Single Fighter di kereta dan seakan jadi obat nyamuk. Duduk 2-2 dan di depan ada orang pacaran. Harusnya FPI bikin petisi agar dilarang pacaran di dalam kereta. Kasihan kaum jomblo seperti saya. Jangan di bayangkan rasanya seperti apa. Sakitnya seperti ketemu mantan calon gebetan udah jadian sama yg lain.
Sampai di Pasar Senen jam 02.00 WIB di hari jumat. Bray, jam 2 pagi dan saya sendirian di sana. Takutnya ada yg nyulik. Nanti Tata kangen lalu sedih lalu nangis lalu. Ah, hanya angin lalu.
Karena banyak yg tidur di depan mushola, saya pun memutuskan untuk join tidur. Bedanya, yg lain tidur beralaskan koran bekas, saya tidur beralaskan koran yg atasnya bendera K3 yg saya bawa dari Malang ukuran 4 meter. Biar dah dikira wota. Ngantuk bray.
Agak siang an harus nunggu Galih, sang Nadila Defender yg bertugas bawa seifuku besar. Bayangkan, saya di stasiun mulai jam 2 pagi sampai jam 10 siang. 8 jam. Udah kayak setengah perjalanan Jakarta-Malang njir. Jemputan datang jam 11 siang. Dijemput Nadilavatic. Ada presiden berjenggot nya Nadilavatic, Towi, ada Anggi dari K3 United, ada Adit dari Nadilavatic dan satu lagi gak tahu nama. But, thank you sudah dijemput. Dari stasiun langsung cus ke venue di Kelapa Gading. Dan baru kali ini saya naik mobil di jalanan ibukota. Biasanya busway, angkot, dan taxi. Hahaha. Dan baru itu juga tahu bentuknya MOI, Mall of Indonesia. Itu Mall atau museum. Bagus gede banget lagi. Dan baru tahu juga kalau tempat nya konser di kandang nya Satria Muda Britama alias di Mahaka Sport alias Britama Arena alias bagus njir.
Disana yg dilakukan adalah cepak-cepak bendera. Berdasarkan instruksi dari salah satu teman. Karena ternyata diluar venue rame orang, makanya kita memutuskan hanya membuka bendera yg ukurannya Cuma 4 meter. Kalau yang 12 meter, bisa jalanan ketutup.
Pulang dari venue, ke FX duls gan. Biasa, naque FX. Di FX ternyata ada yang cepak-cepak. Di situlah saya ketemu Ordo Ndlvtc cem Tama, Ido, Luthfi, sama ada beberapa yang lain yang saya tak tahu siapa dia alias asing banget. Untung ada tempat yang namanya sofa dan bisa sekedar melepas penat alias ngantuk pak.
Balik dari Mall 2 huruf sekitar jam 11 malam dan kita berdua sama Thowi (jangan dibayangkan mesra nya di libom) jalan ke rumah si Haical. Clan Sinkadorable. Jauh banget. Jam 1 baru sampai di rumah Haical. Harus cepat tidur, karena besok perjalanan jauh alias jam 6 janji kita berangkat. Dan jam 8 ketemu sama yang lain di mall 2 huruf (lagi). Dan bingo. Kita bangun jam 7. Berangkat jam 8 dan sampai di mall 2 huruf jam 10 an. Hahaha. Buru-buru bernagkat ke venue karena eh karena ada tugas negara yang belum kita selesaikan.
Di venue yang panas banget gila, clan matahari sudah bersiap semua. Atas perintah yang lain, bendera 12 meter digeber di atas lapangan basket. Ga usah kaget kalau besarnya bendera hampir menutupi semua sisi lapangan basket.
Singkat cerita, masuk ke venue. Sebelum masuk venue, ada sesi doa bersama demi kesuksesan semua project konser dari Aliansi Matahari. Dari sinilah saya yakin kalau “militansi” teman-teman di daerah jauh lebih edan dibanding yang di pusat. Dengan jumlah aliansi matahari yang tak terlalu banyak, rasa optimisme saya untuk gagal kembali muncul. Masa iya, ini bendera bisa digeber dengan jumlah pasukan yang dikit banget. Asli ya, di tribun atas Cuma ada sekitar 7.8 orang. Itupun kita tanpa simulasi di dalam venue. Dikira member doang yang bisa gladi resik. Kita juga dong. Di tribun bawah dan VIP pun ga sebanyak ketika konser di Malang. Nyali mulai menciut. Jelas, karena ini bukan daerah yang “ramah” bagi mereka yang ingin membuat sebuah project. Gagal, itu yang ada di benak saya.
Dan kali ini, saya ucapkan ribuan terimakasih untuk teman-teman di tribun atas yang kalau gak salah itu dari fanbase Shafa. Terimakasih. Mungkin tanpa kalian, project ini tidak akan pernah berhasil.
Masalah muncul ketika kita harus bawa stik pancing ke venue. Dengan sedikit diplomasi negosiasi alias bersilat lidah, mengelabui petugas keamanan dengan sedikit omongan, itu bisa masuk. Sialnya, di venue tak bisa dipakai. Apa sialnya Cuma sampai disitu ? Tidak.
Di dalam venue, ternyata jauh diluar dugaan kita. Di setiap sisi pagar, ada lampu sorot. Beda dengan kondisi di Malang dulu. Anehnya, kondisi di dalam venue, gelap banget. Dan saya yakin bendera yang di kibarkan, tidak terlihat. Masalah seifuku, skenario awal kita adalah mengibarkan seifuku persis yang dilakukan ketika konser di Malang. Tapi dengan kondisi pagar yang penuh lampu dan resiku lampu akan jatuh plus yang kita takutkan adalah kondisi kain yang rentan sobek. Ya, mau gak mau, kita rubah skenario saat itu juga.
Plan B kita adalah mengibarkan bendera seperti bendera di stadion. Jadi, seifuku dikibarkan di tribun. Kecewa sih. Tapi itu jalan terakhir daripada tidak sama sekali.
Mau gak mau 7-8 orang yang di tribun atas harus capek-capek sendiri mengibarkan seifuku besar. Bahkan 2 diantaranya adalah cewek. Agak gimana gitu rasanya. Bukan apa-apa, ga enak hati kalau harus meminta tolong ke mereka berdua. Untungnya mereka membantu tanpa saya minta tolong. Salut.
Skenario lain yang kita rencanakan adalah mengibarkan seifuku ketika encore sampai MC Encore. Tapi dirubah sedemikian cepatnya dan baru di kibarkan ketika lagu Korogaru. Lagu kebangsaan K3.
Segala perubahan skenario terpaksa dilakukan karena kondisi di dalam venue yang tidak bisa ditebak dan kita sama sekali tidak tahu rencana apa yang di jalankan oleh manajemen. Beda cerita ketika di Malang, kita sudah tahu rencana mereka sejak sehari sebelum konser. Tata letak panggung, kondisi tribun, dll. Untungnya, teman-teman semua sigap meskipun agak panik. Wajar. Mungkin bagi mereka, project ketika konser baru kali ini dan perubahan skenario juga baru kali ini terjadi dan harus dirubah secepat mungkin.
Terakhir dari saya, saya meminta maaf kepada semua pihak yang ,merasa dirugikan dengan adanya project giant seifuku. Maaf apabila kami mengganggu kenyamanan kalian semua. Semata-mata kami lakukan demi idola kami. Tanpa ada rasa ingin menjadikan kami lebih dikenal.
Kedua, saya meminta maaf kepada teman-teman saya, Clan Skyleng asuhan Ustadz Bhir dan murid-muridnya apabila saya merusak rencana dan merubah agenda teman-teman semua. Kemarin terjadi begitu cepat dan saya tidak bisa melakukan apapun.
Saya juga mengucapkan terimakasih atas izin teman-teman di Jatim, sang pemilik Giant Seifuku (Kediri, Malang, Blitar, dan Gresik) agar saya bisa bawa Giant Seifuku ke Jakarta (lagi). Kedua, untuk yang sudah saya repotkan dalam project ini. Khususnya Pandu dan Galih (Clan Ndlvtc).
Terimakasih juga untuk tumpangan mobil dan jemputannya, Tantowi Jauhari, Ksatria Berjenggot, btw jenggot kita sama. Dan tumpangan tidurnya, Mas Haical. Tanpa kalian, sudah jadi bubur kali saya disana.
Terimakasih juga untuk seluruh punggawa Aliansi Matahari dan K3 United yang meyakinkan saya untuk berani mengibarkan Giant Seifuku di Jakarta. Kalian hebat. Meskipun banyak yang tidak suka dengan kalian, tapi kalian tetap berjuang demi idola kalian. Khusus untuk teman-teman Shafa Oshi. Kalian luar biasa.
Dan saya masih menyayangkan masih adanya “penumpang gelap” disana. Semoga lain kali tidak ada lagi penumpang gelap dan semua menjadi penumpang yang baik.

Maaf apabila tulisan ini menyakiti hati siapapun yang membaca. Terima Kasih.


Berikut dokumentasi foto 



Jumat, 22 Mei 2015

Tetaplah Tersenyum, Bulan

Bulan tampak semakin indah ketika ditemani ribuan bintang. Keberadaan bintang sekilas memang seperti pengiring dari bulan. Tapi kembali, bulan tanpa bintang hanya satu titik yang memancarkan cahanya sendiri. Cahaya nya menandakan ke egoisan. Tapi ketika ada bintang, langit seakan lebih indah. Bagaikan bintik-bintik putih di kertas hitam.

Mungkin bagi sebagian orang, bintik-bintik putih di kertas hitam bagaikan noda abstrak yang tak berguna. Tapi bagiku, itulah keindahan. Melihat bintang dan bulan menghiasi langit malam hari itu sebuah harta yang berharga.

Bayangkan kalau nanti sang bulan sedih dan urung muncul di malam hari. Gelap, tak indah rasanya. Bisa jadi ia sedih karena di langit, ia sedang bertengkar dengan matahari yang masih ingin menampakkan kekuatannya dan tak mau mengalah dan memberikan langit sebagai catwalk bagi seluruh penghuni langit. Bisa apa sang bulan. Ia hanya makhluk langit yang tak berdaya. Ia nampak besar dan kekar. Tapi kekuatannya tak sebesar matahari, dan bahkan ada atau tidaknya bulan tergantung dari matahari. Ia lemah, tapi punya tekad.

Hari itu, sekolah terlihat seperti apa adanya. Tak ada yang berbeda. Pelajaran membosankan seperti biasa. Kadang saya berfikir, apa semua pelajaran membosankan kayak gini ya. Atau itu cuma saya yang rasakan. Kita hanya di jejali puluhan rumus dan teori tanpa bisa melakukan pembenaran atau sekedar menyalahkan status quo yang ada.

Saya ingat, saat itu adalah 21 Mei. 17 tahun yang lalu ada Reformasi besar-besaran. Reformasi untuk mengganti status quo yang bertahan selama 32 tahun. Status quo yang dibangun dengan pondasi yang kokoh. Bagaimana tidak kokoh, pondasi nya di isi dengan aparat negara dan ancaman.

Saat itu, yang saya ingat adalah guru sejarah saya menjelaskan bahwa rezim orde baru di turunkan mahasiswa dan rakyat karena sudah tidak pro rakyat. Kata buku seperti itu. Cuma, saya tertarik dengan kejadian sebelumnya. Estafet perubahan dari orde lama ke orde baru. Ya, supersemar. Apa benar supersemar yang kita kenal dan kita pahami itu sesuai dengan kenyataan. Apa tidak ada unsur kesengajaan untuk mengganti supersemar.

Saya ingat, sejarah ditulis oleh pemenang perang. Entah itu quote siapa. Tapi, saya semakin yakin kalau sejarah Indonesia saat supersemar ditulis oleh pemenang perang. Perang ini bukan angkat senjata semata.

Ah, mata mulai ngantuk. Membosankan. Yang dijelaskan, semua ada di buku. Tidak ada satupun guru sejarah yang berani mengatakan yang sebenarnya terjadi. Bagaimana kekejaman rezim sebelumnya dan bagaimana suksesi dari Orde lama ke orde baru.

Posisi duduk ku di sisi meja guru tapi d belakang sendiri. Entah kenapa cowok selalu punya kebanggaan pas mampu mengamankan posisi duduk paling belakang. Kayak bisa dapatkan cewek idola di sekolah.

Kucoba memalingkan muka ke satu sudut ruangan kelas. Sampai akhirnya mata ini berhenti melakukan petualangan dan berhenti di satu orang. Namanya Bulan. Bukan cewek populer di sekolah. Cuma cewek ceria yang kebetulan menghiasi hari-hariku.

Bulan mungkin beda dengan kebanyakan. Dia tak cuma mengandalkan parasnya yang elok untuk sekedar menjalin hubungan pertemanan. Dia bukan minyak dalam pusaran air yang dengan sombongnya menolak untuk bergabung dengan air menyatukan kekuatan. Ia adalah madu. Yang rela menyatu dengan air dan menghilangkan warna aslinya, hanya untuk memberikan rasa manis. Dia itu bagaikan mutiara di dasar laut. Kalau belum diasah, tampak biasa saja. Kalau sudah diasah, tak ternilai lagi harganya.

Ya, itulah Bulan. Gadis ceria yang mencairkan suasana dengan celotehan lucu nan menggemaskannya. Bulan bukanlah cewek yang pintar di kelas. Cuma, ia rajin dan tak punya rasa takut untuk menjadi maju. Jangan heran kalau ia mampu masuk 10 besar di kelas. 

Beberapa minggu berselang, ada yang aneh dari Bulan. Ia yang ceria mendadak murung. Senyumnya yang murah bahkan di diskon itu pun seakan menjadi mahal dan enggan untuk di lepaskan. Aneh pikirku.

Saya, meskipun mengidolakan Bulan, tak ada keberanian untuk sekedar mendekat. Rasa malu ku mengalahkan keinginan ku. Lemah memang. Tapi inilah aku dengan segala kekurangannya.

“Bin, ngerasa ada yang aneh gak sih dari si Bulan ?”, tanyaku ke teman sekelasku yang dekat sama Bulan. Bintang namanya. “Iya nih, aku juga bingung dia kenapa. Murung mulu kerjaannya.”, jawab Bintang. “Padahal kemarin-kemarin itu dia ketawa ketiwi gitu sama anak-anak. Eh, sekarang murung gak jelas gini.”, lanjut Bintang. Fyi, Bintang ini teman masa kecil Bulan. Banyak yang bilang kalau ada Bintang pasti ada Bulan. Jadi, minimal Bulan cerita masalahnya ke Bintang. Tapi Bintang sendiri kaget. Aneh.

Hari itu anomali bagiku. Tak sesuai kebiasaan yang sudah digariskan tuhan. Bulan sedih itu menyalahi aturan yang sudah di buat tuhan. Kadang saya mikir, apa tuhan sengaja menurunkan Bulan dari surga untuk menceriakan kesedihan. Kalau itu benar, hari ini adalah hari dimana Bulan manyalahi aturan.

Di rumah, rasa penasaranku semakin membuncah. Otak ku berasa di isi oleh larva yang kapanpun bisa meledak. Yang kandungan larva nya adalah semua tentangmu, Bulan. Sampai ku putuskan besok harus berani. Sekedar say hello dan kalau bisa tanya kabar dan kenapa dia berani menyalahi aturan tuhan untuk bersedih.

Esoknya, terjadi seperti biasa. Daun berguguran. Bukan, ini bukan Bunga Sakura yang gugur. Tapi daun pohon mangga di depan sekolah yang hampir tiap hari memberikan pekerjaan buat penjaga sekolah.

Ah, itu Bulan, kata ku dalam hati. Kaki ku otomatis berhenti seketika Bulan lewat depan. “Hai Angga.”, sapa Bulan padaku. “Hai juga lan. Sehat ?”, jawabku. Duh, pertanyaan bodoh macam apa itu. “Baik kok ngga. Duluan yo. Ditunggu Bintang soalnya. Bye.”, jawab Bulan.

Tak terasa air asin meluncur deras dari atas kepala menelusuri seluruh badan. Dari hulu ke hilir. Mungkin keringat sudah tahu waktu kapan dia harus keluar. Semacam BOT twitter yang sudah tahu kapan harus muncul.

Pelajaran dimulai dan aura negatif sudah mengelilingi guru ku yang berdiri di depan. Entah, selalu bosan kalau pelajaran matematika. Mungkin ini alasanku milih IPS daripada IPA. Tak ada penyesalan sama sekali pas pilih IPS daripada IPA.

Bel istirahat berbunyi. Bulan masih sama seperti kemarin. Ia tak banyak omong. Sekedar melayani sapaan orang. Padahal biasanya ia punya segudang topik yang ingin dibagi ke orang banyak. Atau bisa bikin perut teman-temannya kesakitan karena ketawa. Ya, itulah Bulan yang dulu.
Entah setan apa yang merasuki otak ku. Aku ajak Bulan keluar kelas dan ngobrol di luar kelas. Rasa malu dan keringat yang biasanya keluar sesuai jadwal, terasa hilang dan mengerti kondisi yang punya badan.

“Bulaaaannn, mau ngobrol nih. Sharing gitu. Boleh kan ?”, tanyaku ke Bulan. “Eh iya silahkan Ngga. Ada apa toh. Kok kayaknya penting gitu. Baru putus sama ceweknya ya.”, tanyanya nyerocos sambil makan permen. Ah, ini Bulan yang dulu. Banyak ngomong. Kadang ngeselin tapi ngangenin. Itulah Bulan.

“Eh cewek apaan sih. Orang gak punya cewek alias single, bukan jombl.”, kataku. Dia ketawa sambil jitak kepala ku. “Dasar Angga si raja gombal. Ga mau di bilang jomblo tapi single. Sama aja geblek. Hahaha.”, jawab nya. Entah, hati ku mulai senang. Dia tak lagi cemberut.

“Gini gini lan, kamu kenapa sih ? Kok kemarin-kemarin cemberut terus. Ada masalah apa ?”, tanyaku. Bulan sontak kaget mendengar pertanyaanku yang mungkin menohok. “Lah aku kenapa ngaa ? Aku biasa aja kok.”, jawabnya ngeles. “Bohong banget kalau kamu biasa aja. Jangan bohong lah. Aku tahu kamu ada masalah. Kamu jadi aneh ih. Suka diem sendiri, murung sendiri. Ga suka ah aku.”, kataku.

Bulan diam sebentar. “Hahah, kamu lebay ngga. Suer aku ga ada masalah kok. Cuma malas aja buat ketawa-ketawa. Hahaha. Aku aneh ya ngga.”, jawabnya sambil ketawa. “Iya kamu aneh kalau sedih murung gitu. Kamu ya yang suka ketawa dan bikin ceria. Aneh tau gak.”, ketusku. “Ih, Angga kok marah-marah sih. Takut ah. Hahaha.”, jawabnya sambil muka nya sok ketakutan.

“Bukan apa-apa lan, ada banyak orang yang rindu celotehan dan sikap mu yang lucu itu. Kamu gak sadar kan kalau banyak yang bisa ketawa karena tingkah mu.”, kataku. “Kalau boleh jujur, aku salah satu orang yang rindu sama tingkah lucu menggelikan mu. Meskipun kadang menjijikan. Hahah.”, kataku sambil ketawa. “Heh, jahat. Menjijikkan katanya. Marah nih. Hahaha.”, katanya sambil pukul tanganku.

“Eh serius. Ada yang aneh pas suasana kelas jadi sunyi senyap dan garing. Yang selama ini bisa menghidupkan suasana kan Cuma kamu. Aku yakin, banyak yang ngerasa aneh.” “Aku gak pengen tahu alasanmu. It’s your privacy. Cuma, aku pengen kamu tahu aja kalau ada banyak orang yang terbiasa hidup dengan celotehanmu dan merindukan tingkah lucumu.”, kataku.

Ia diam sejenak. “Iya sih ngga. Aku akhir-akhir ini merasa kalau aku agak murung. Tapi santai ya. Aku sudah baikan kok. I will make you and my friend cries caused me. Ahaha.”, jawabnya sambil ketawa lepas.

Bel masuk sudah berbunyi. Entah gonjalan yang sempat ada di hati seakan menghilang. Lega rasanya. Seluruh kegelisahan sudah tersampaikan. Meskipun saya tak tahu alasan dia murung. Asalkan dia kembali tersenyum, itu luar biasa.

Di mataku, Bulan itu sebagai pelengkap sekaligus pemeran utama dalam cerita kehidupanku. Tanpa Bulan, hidupku sepi. Mungkin ini yang dirasakan teman-teman yang lain. Bulan sukses menorekan bintik putih di kertas hitam perjalanan hidupku. Tetaplah menjadi Bulan yang menyinari semua orang di kegelapan malam. Tetaplah tersenyum, Bulan.

Selasa, 28 April 2015

Sengkarut Benang Kusut Sepakbola Indonesia

Media massa di Indonesia seakan tak pernah habis berita. Kalau beberapa saat yang lalu sempat gempar berita tentang pemilihan Kapolri dan kalau ditarik lebih panjang, kasus Kapolri itu merebak setelah ada isu kriminalisasi KPK. Tapi ada yang dilupakan masyarakat dan mungkin media massa. Perlawanan gesit dan giras dari ibu-ibu dari Warga Rembang. Pemberitaan media massa tak se massive pemberitaan pemilihan Kapolri atau bahkan pemberitaan kematian salah satu komedian. Ya, saya paham kalau pemberitaan media terhadapa perlawanan keras nan giras ala ibu-ibu Rembang yang menolak pembangunan pabrik Semen tidak bisa menjual menurut media.

Dan saat ini, semua mata tertuju pada sepakbola Indonesia. Hiburan yang paling ditunggu dan di nanti ribuan orang di seantero negeri. Sepakbola Indonesia gaduh dengan keputusan Menpora, Imam Nahrowi yang membekukan PSSI. Induk tertinggi sepakbola Indonesia yang penuh dengan masalah. Sudah lama federasi yang tak berani menyentuh, ada yang berani menyentuh dan bahkan melakukan “cubitan” keras.

Sejak Menpora di pimpin Adhyaksa Dault sampai era Menpora yang terkena kasus hukum, Andi Malarangeng dan penggantinya Roy Suryo, PSSI di biarkan hidup dengan penuh luka dan borok. Menpora yang baru dengan membawa semangat dan keberanian baru berani mengobati PSSI meskipun kadang proses pengobatan menyakitkan.

Sebagai salah satu pecinta sepakbola Indonesia, saya harus bisa menguatkan hati, mata, dan keinginan untuk datang ke stadion dan berteriak memberikan semangat untuk tim idola. Saya rindu suara khas penghuni stadion. Saya rindu aroma harum khas rumput stadion. Saya rindu pemandangan indah seluruh elemen di stadion tertawa gembira selepas pertandingan selesai dan melihat tim lawan tertunduk lesu karena pulang dengan tangan hampa. Jujur, saya rindu itu. Saya rindu stadion.

Saya tak bisa membayangkan puluhan ribu orang yang nyawa nya bergantung ke sepakbola dan segala aktivitas yang melibatkan sepakbola. Dan saya mengutip kata-kata Pak Djamal Aziz anggota Exco PSSI dalam suatu kesempatan di Metro TV beberapa saat yang lalu, bahwa ada banyak orang yang merugi ketika liga berhenti. Mulai dari pelatih, pemain, tukang pijat, anak gawang, calo tiket (contoh buruk), dan mungkin yang hanya ada di stadion Gresik, ada penjual lumpia, air mineral, dll. Bayangkan puluhan ribu nyawa manusia bergantung ke sepakbola.

Kompetisi harus dan harus berjalan. Tak boleh ada penundaan lagi. Sebagai seorang suporter yang selalu berusaha datang ke stadion dan menjadikan stadion sebagai tempat rekreasi dan melepas penat, penundaan liga ibarat kehilangan tempat rekreasi dan ajang silaturahmi antar warga. Bayangkan, dari 24 jam setiap hari kita beraktivitas, kita cenderung melupakan orang sekitar. Lalu, acara apa yang bisa mengumpulkan massa sebanyak ribuan bahkan puluhan ribu dalam satu tempat ? Pertandingan sepakbola.

Dan mungkin inilah yang membuat kita secara atau tidak sadar menolak keputusan Menpora untuk membekukan PSSI. Federasi yang selama ini berjalan tanpa menghiraukan kritik, kecaman, dan arahan pemerintah dan masyarakat. Federasi yang selama ini jadi pesakitan. Federasi yang selama mampu bikin suporter di lapangan membentangkan spanduk kecaman untuk federasi. Federasi yang sejak dulu kita ingin revolusi.

Saya sebagai pecinta sepakbola Indonesia ingin sepakbola kembali seperti sedia kala. Seperti sebelum-sebelumnya. Tentu dengan penataan, organisasi, dan struktur yang lebih baru dan diharapkan lebih baik dari sebelumnya. Liga yang berjalan sesuai dengan asas Fair Play. Asas yang di dengung-dengungkan oleh bapak nya PSSI, FIFA. Liga yang berjalan dengan profesional yang tidak ada lagi alasan klub untuk menunggak gaji pemain dan pelatih. Liga yang bersih dari intervensi politik. Liga yang berjalan dengan wasit yang bersih. Liga yang berjalan dengan keputusan juara ditentukan oleh pertandingan di lapangan bukan dengan deal-deal sebelum liga berjalan. Itu baru liga yang kita inginkan.

Belum lagi federasi. Federasi harus bersih dari kepentingan politik partai dan golongan tertentu. Federasi yang tidak punya dendam politik. Federasi yang isinya orang-orang yang mengerti sepakbola dan memiliki keinginan untuk memajukan sepakbola Indonesia. Federasi yang sukses mengembalikan posisi Timnas Indonesia ke posisi asli sebagai salah satu Macan Asia, bukan sebagai Pecundang Asia. Karena hanya pecundang lah yang kalah, tunduk, dan di bokongi oleh lawan yang dulu jadi bulan-bulanan.

Kita tak bisa berharap federasi di isi oleh malaikat. Karena malaikat punya tugas yang lebih dari menjalankan federasi. Tapi kita boleh berharap federasi di isi oleh manusia berhati malaikat bukan berhati maksiat. Kita tentu ingin federasi di isi oleh manusia yang bersih, bukan manusia yang sok bersih. Kita tentu boleh bermimpi Timnas Indonesia mampu masuk Piala Dunia tahun 2022, bukan tahun 2045 seperti yang selama ini PSSI inginkan. Kita tentu boleh bermimpi salah satu klub di Indonesia mampu bermain di World Club Championship dan bertanding melawan jawara Eropa, bukan hanya menjadi penonton klub eropa bertanding. Kita tentu punya keinginan pemain Indonesia bisa bermain di Eropa seperti sebelumnya, bukan hanya melihat pemain Eropa di layar kaca Indonesia.

Kita tentu boleh bermimpi dan punya keinginan. Selama federasi dan liga masih berjalan dengan penuh luka yang federasi sendiri tak sadar akan luka itu, maka kita selamanya akan terus bermimpi dan tidak pernah terwujud. Dan ini waktu yang tepat untuk membenahi, membersihkan, menyehatkan, dan sekaligus operasi darurat untuk sepakbola Indonesia yang lebih baik.

Jumat, 17 April 2015

Curhat Untuk Akhi Fahri Hamzah

Assalamualaikum akhi. Semoga kebaikam dan kesehatan selalu ada di diri akhi. Akhi, izinkan saya untuk menceritakan salah satu olahraga yang saya gemari dan sempat akhi komentari beberapa saat yang lalu. Tentang sepakbola.

Akhi, saya mengenal sepakbola tepat 16 tahun yang lalu. Saat itu saya masih duduk di kelas 1 SD. Dan 2 tahun kemudian, tangisan air mata saya keluar pertama kali untuk sepakbola. Tahun 2002, Petrokimia Putra jadi Juara Liga Bank Mandiri. Itu tangisan pertama saya di dalam stadion. Tangisan pertama saya di dalam Stadion Gelora Bung Karno yang sempat jadi venue konser One Direction.

Tetapi sejatinya, saya “dikenalkan” oleh orang tua saya sepakbola sejak di dalam kandungan. Ibu saya ngidam ingin lihat sepakbola. Mungkin ini lah hasilnya. Dul;u saya ikut sekolah sepakbola di Jakarta, SSB Arcici. Tapi berhenti karena harus kembali ke Gresik. Tapi gar\irah sepakbola saya tidak berhenti sampai disitu. Kadang saya berfikir, saya mencintai sepakbola lebih dari saya mencintai pacar saya.

Dulu ketika saya masih sekolah dengan seragam putih merah, saya hanya bermain sepakbola seperti layaknya anak kecil. Saat itu belum mengenal apa itu mafia wasit, mafia sepakbola, skandal pengaturan skor, skandal pajak, dll. Dan keburukan yang saya sebutkan diatas terjadi di Indonesia.

Dan semua itu saya sadari keberadaannya setelah saya duduk di bangku SMP. Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri Gresik United saat itu dikerjai wasit di Bantul. Pertandingan berhenti sebelum waktu berakhir. Disitulah saya mulai sadar, ada yang tak beres. Belum lagi setelah saya tahu kalau PSSI sempat dipimpin oleh seorang penjahat yang menjalankan tugasnya di balik jeruji besi.

Kita butuh revolusi besar-besaran, akhi. Dan statement akhi agar PSSI mengabaikan Menpora dan agar ISL jalan terus itu seakan menambah luka kami. Luka saya dan luka teman-teman pecinta sepakbola di Indonesia. Padahal saat itu, Menpora dan BOPI sedang berusaha sedang berikhtiar untuk memperbaiki liga agar lebih professional.

Apa akhi lupa, kalau beberapa tahun terakhir ada pemain asing yang meninggal di Indonesia karena tidak digaji ? Apa akhi lupa, kalau banyak pemain local di Indonesia yang tidak digaji berbulan-bulan ? Apa akhi tahu kalau ada salah satu pmain asing di Indonesia yang terlibat mafia bola karena ia tak digaji oleh klub  ? Apa akhi tahu kalau klub-klub di Indonesia banyak yang belum punya NPWP ? Kalau saya sebutkan semua pertanyaan yang mengganjal hati saya, akan sangat banyak sekali, akhi.

Di statement ini, akhi bilang kalau PSSI tidak ambil dana dari pemerintah, jadi Menpora tidak usah ikut campur. Apa it benar akhi ? Kalau itu benar statement akhi, tolong cek putusan hokum yang memenangkan FDSI (Forum Diskusi Sepakbola Indonesia) di Komisi Informasi Publik desember lalu. Mungkin akhi lupa, atau mungkin akhi tidak tahu hal itu. Silahkan ditanyakan kembali ke yang bersangkutan.

Akhi, apa akhi lupa kalau tidak boleh ada intervensi pemerintah. Dan ini yang selalu di gembar-gemborkan PSSI ketika Menpora datang untuk membantu menyelesaikan masalah di PSSI. Kampanye menolak intervensi pemerintah semakin nyaring suaranya setelah Menpora yang baru berani dan tegas.

Tetapi apa yang dilakukan PSSI. Dia malah “wadul” ke DPR dan ke Wapres. Seakan mereka lup[a kalau Wapres dan DPR itu juga bagian dari pemerintah. Dan akhi membela PSSI sekuat tenaga. Harusnya akhi marah. Lembaga DPR yang terhormat dianggap bukan lembaga pemerintah.

Ah akhi, saya tahu, niatnya baik (kalau niat baik) untuk memajukan sepakbola kita. Tapi akhi harusnya belajar lebih dulu tentang sepakbola secara umm dan sepakbola Indonesia sebelum nantinya akhi datang dan menjadi seorang pahlawan.

Akhir kata akhi, saya mendoakan akhi sehat. Agar selalu bisa mengikuti perkembangan sepakbola di Indonesia. Dan akhi, saat ini 18 April 2015 Kongres 5 tahunan PSSI digelar. Akhi ingat atau memang tidak tahu ? Dan saat ini pula ribuan BONEK datang meminta keadilan atas segala aksi tipu-tipu yang dilakukan PSSI ke Persebaya 1927. Saya bukan seorang BONEK, tapi saya sebagai pecinta sepakbola mendukung aksi BONEK.

Semoga PSSI bersih dari MAFIA meskipun susah. Kami, akan terus dan tetap akan melawan.
Salam dari anak bangsa.

Wassalamualaikum….

Minggu, 01 Maret 2015

Pudak48 Menulis

1. Project Pudak48
Pudak48 saat ini mendekati tahun yang kedua. Masa dimana seorang bayi mulai berbicara dan memanggil orang di sekitar mereka. Masa dimana mereka akan meraih apapun yang bisa mereka raih. Masa dimana dia harus mendapatkan asupan nutrisi yang bisa membawa dia menjadi seorang ksatria atau seorang pecundang. Dan itu tergantung dengan apa yang ia lihat, yang ia rasakan, dan ia jadikan cerminan.
Juni nanti, semua akan terlihat. Menjadi seorang ksatria atau pecundang. Untuk itu, kita mencoba untuk berkaca dan melihat masa lalu kita untuk dijadikan pedoman bagi kita nanti untuk melangkah.
Dan, Pudak48 memiliki keinginan untuk menjadikan dua tahun perjalanan kita sebagai sebuah buku. Buku yang bisa untuk mengenang perjalanan kita. Buku yang nantinya bisa dijadikan pedoman bagi kita untuk melangkah ke depannya nanti. Buku ini isinya adalah sebagai berikut :
- Penjelasan terkait Pudak48
Penjelasan terkait pudak bisa berupa where when who where why dan how yang berhubungan dengan Pudak48 (Bagian ini ditulis oleh tim Pudak48).
- Cerita perjalanan Pudak48 sebagai sebuah komunitas idoling
Cerita perjalanan pudak48 bisa berupa kegiatan-kegiatan pudak48 yang kalian ikuti. Misalnya project-project yang di gagas dan diikuti oleh Pudak48.
- Cerita perjalanan kita (anggota Pudak48) selama 2 tahun dalam dunia idol baik yang berhubungan dengan Pudak48 ataupun tidak.
Cerita perjalanan kita anggota Pudak48 adalah cerita pengalaman pribadi kalian, anggota, teman, keluarga kami terkait Pudak48 dan JKT48 tentunya. Bisa tentang cerita kalian pertama kali ke theater atau kejadian-kejadian yang menurut kalian bisa untuk dibagi ke publik.
Buku ini nantinya akan kita cetak melalu self publishing di salah satu publisher di Indonesia. Buku ini nanti akan kita perkenalkan ketika 2nd anniv Pudak48 bulan Juni nanti. Ingat, semua cerita yang kalian tulis haruslah kisah nyata
- Cerpen fiksi
Jadi ini bagi kalian yg punya hobi menulis cerpen. Kami ajak kalian bergabung dengan kita untuk bikin sebuah cerpen dengan tema Idoling dan JKT48. Terserah jalan ceritanya seperti apa. Itu kreasi kalian.

2. Syarat Peserta
Dapat diikuti oleh seluruh Anggota Pudak48, tanpa batasan umur, jenis kelamin, agama, dan tempat. Asal kalian ingin terlibat dalam kegiatan ini. Setiap orang dapat mengirimkan maksimal 2 karya tulisan terbaiknya.

3. Syarat Penulisan
- Cerita ditulis dalam Bahasa Indonesia ataupun Bahasa Inggris (kalau mau ye) minimal 1 halaman dan maksimal 4 halaman A4. Diketik rapi dalam microsoft word. Pasi 1,5 dg font Times New Roman dengan ukuran font 12 pt
- Cerita tersebut adalah kisah nyata dari penulis. Bisa berupa cerita kalian tentang #PudakBudalMalang Jilid 1-3 ataupun ketika ke Theater bersama, dll dan harus follow @pudak48 di twitter. Khusus untuk cerpen fiksi, karya kalian haruslah bertemakan IDOLA atau JKT48.

4. Cara Berpartisipasi
Menulis cerita sesuai keinginan kalian yang sudah diketik rapi dalam bentuk microsoft word. Kirimkan cerita kalian beserta data diri kalian, : Nama, Akun twitter dan kirim ke pudak48@gmail.com dalam bentuk file (attach file bukan ditulis di email). Dengan format dalam subjek email : (PM)-(judul tulisan)-(nama penulis): Contoh (PM)-(Matahari Terindah)-(Fahrezal Gita Hidayat Putra)
Untuk mengikuti ini, tidak ada pungutan biaya alias GRATIS
Periode #Pudak48Menulis
Project menulis ini di mulai selasa, 3 maret 2015 dan ditutup Minggu, 3 Mei 2015 pukul 23:59 WIB

5. Lain-lain
Setiap tulisan yang masuk akan mendapatkan editing terlebih dahulu sebelum dicetak.
Penulis akan mendapatkan bingkisan dari Pudak48.
Hak cipta karya tulis akan menjadi milik Pudak48.
Selamat menulis ^^