Ultras Mania Gresik

Kita pernah juara. Gresik pernah juara. Dan sekarang "KAMI RINDU JUARA" Liga Indonesia

Roma Club Indonesia

Kami ada. Kami berpesta. Kami bersatu. Hanya untuk satu kebanggaan, AS ROMA

AS ROMA

LA ROMA NON SI DISCUTE SI AMA

Fan Fiction

Cerita fiksi untuk meluapkan ekspresi jiwa. Tentang hiburan, luapan perasaan, dan pengorbanan.

48 Family

The power of Idol. Idol can't make you horny, just can make you proud with them. Kita pecinta idol sebagaimana kita mencintai sepakbola.

Jumat, 22 Mei 2015

Tetaplah Tersenyum, Bulan

Bulan tampak semakin indah ketika ditemani ribuan bintang. Keberadaan bintang sekilas memang seperti pengiring dari bulan. Tapi kembali, bulan tanpa bintang hanya satu titik yang memancarkan cahanya sendiri. Cahaya nya menandakan ke egoisan. Tapi ketika ada bintang, langit seakan lebih indah. Bagaikan bintik-bintik putih di kertas hitam.

Mungkin bagi sebagian orang, bintik-bintik putih di kertas hitam bagaikan noda abstrak yang tak berguna. Tapi bagiku, itulah keindahan. Melihat bintang dan bulan menghiasi langit malam hari itu sebuah harta yang berharga.

Bayangkan kalau nanti sang bulan sedih dan urung muncul di malam hari. Gelap, tak indah rasanya. Bisa jadi ia sedih karena di langit, ia sedang bertengkar dengan matahari yang masih ingin menampakkan kekuatannya dan tak mau mengalah dan memberikan langit sebagai catwalk bagi seluruh penghuni langit. Bisa apa sang bulan. Ia hanya makhluk langit yang tak berdaya. Ia nampak besar dan kekar. Tapi kekuatannya tak sebesar matahari, dan bahkan ada atau tidaknya bulan tergantung dari matahari. Ia lemah, tapi punya tekad.

Hari itu, sekolah terlihat seperti apa adanya. Tak ada yang berbeda. Pelajaran membosankan seperti biasa. Kadang saya berfikir, apa semua pelajaran membosankan kayak gini ya. Atau itu cuma saya yang rasakan. Kita hanya di jejali puluhan rumus dan teori tanpa bisa melakukan pembenaran atau sekedar menyalahkan status quo yang ada.

Saya ingat, saat itu adalah 21 Mei. 17 tahun yang lalu ada Reformasi besar-besaran. Reformasi untuk mengganti status quo yang bertahan selama 32 tahun. Status quo yang dibangun dengan pondasi yang kokoh. Bagaimana tidak kokoh, pondasi nya di isi dengan aparat negara dan ancaman.

Saat itu, yang saya ingat adalah guru sejarah saya menjelaskan bahwa rezim orde baru di turunkan mahasiswa dan rakyat karena sudah tidak pro rakyat. Kata buku seperti itu. Cuma, saya tertarik dengan kejadian sebelumnya. Estafet perubahan dari orde lama ke orde baru. Ya, supersemar. Apa benar supersemar yang kita kenal dan kita pahami itu sesuai dengan kenyataan. Apa tidak ada unsur kesengajaan untuk mengganti supersemar.

Saya ingat, sejarah ditulis oleh pemenang perang. Entah itu quote siapa. Tapi, saya semakin yakin kalau sejarah Indonesia saat supersemar ditulis oleh pemenang perang. Perang ini bukan angkat senjata semata.

Ah, mata mulai ngantuk. Membosankan. Yang dijelaskan, semua ada di buku. Tidak ada satupun guru sejarah yang berani mengatakan yang sebenarnya terjadi. Bagaimana kekejaman rezim sebelumnya dan bagaimana suksesi dari Orde lama ke orde baru.

Posisi duduk ku di sisi meja guru tapi d belakang sendiri. Entah kenapa cowok selalu punya kebanggaan pas mampu mengamankan posisi duduk paling belakang. Kayak bisa dapatkan cewek idola di sekolah.

Kucoba memalingkan muka ke satu sudut ruangan kelas. Sampai akhirnya mata ini berhenti melakukan petualangan dan berhenti di satu orang. Namanya Bulan. Bukan cewek populer di sekolah. Cuma cewek ceria yang kebetulan menghiasi hari-hariku.

Bulan mungkin beda dengan kebanyakan. Dia tak cuma mengandalkan parasnya yang elok untuk sekedar menjalin hubungan pertemanan. Dia bukan minyak dalam pusaran air yang dengan sombongnya menolak untuk bergabung dengan air menyatukan kekuatan. Ia adalah madu. Yang rela menyatu dengan air dan menghilangkan warna aslinya, hanya untuk memberikan rasa manis. Dia itu bagaikan mutiara di dasar laut. Kalau belum diasah, tampak biasa saja. Kalau sudah diasah, tak ternilai lagi harganya.

Ya, itulah Bulan. Gadis ceria yang mencairkan suasana dengan celotehan lucu nan menggemaskannya. Bulan bukanlah cewek yang pintar di kelas. Cuma, ia rajin dan tak punya rasa takut untuk menjadi maju. Jangan heran kalau ia mampu masuk 10 besar di kelas. 

Beberapa minggu berselang, ada yang aneh dari Bulan. Ia yang ceria mendadak murung. Senyumnya yang murah bahkan di diskon itu pun seakan menjadi mahal dan enggan untuk di lepaskan. Aneh pikirku.

Saya, meskipun mengidolakan Bulan, tak ada keberanian untuk sekedar mendekat. Rasa malu ku mengalahkan keinginan ku. Lemah memang. Tapi inilah aku dengan segala kekurangannya.

“Bin, ngerasa ada yang aneh gak sih dari si Bulan ?”, tanyaku ke teman sekelasku yang dekat sama Bulan. Bintang namanya. “Iya nih, aku juga bingung dia kenapa. Murung mulu kerjaannya.”, jawab Bintang. “Padahal kemarin-kemarin itu dia ketawa ketiwi gitu sama anak-anak. Eh, sekarang murung gak jelas gini.”, lanjut Bintang. Fyi, Bintang ini teman masa kecil Bulan. Banyak yang bilang kalau ada Bintang pasti ada Bulan. Jadi, minimal Bulan cerita masalahnya ke Bintang. Tapi Bintang sendiri kaget. Aneh.

Hari itu anomali bagiku. Tak sesuai kebiasaan yang sudah digariskan tuhan. Bulan sedih itu menyalahi aturan yang sudah di buat tuhan. Kadang saya mikir, apa tuhan sengaja menurunkan Bulan dari surga untuk menceriakan kesedihan. Kalau itu benar, hari ini adalah hari dimana Bulan manyalahi aturan.

Di rumah, rasa penasaranku semakin membuncah. Otak ku berasa di isi oleh larva yang kapanpun bisa meledak. Yang kandungan larva nya adalah semua tentangmu, Bulan. Sampai ku putuskan besok harus berani. Sekedar say hello dan kalau bisa tanya kabar dan kenapa dia berani menyalahi aturan tuhan untuk bersedih.

Esoknya, terjadi seperti biasa. Daun berguguran. Bukan, ini bukan Bunga Sakura yang gugur. Tapi daun pohon mangga di depan sekolah yang hampir tiap hari memberikan pekerjaan buat penjaga sekolah.

Ah, itu Bulan, kata ku dalam hati. Kaki ku otomatis berhenti seketika Bulan lewat depan. “Hai Angga.”, sapa Bulan padaku. “Hai juga lan. Sehat ?”, jawabku. Duh, pertanyaan bodoh macam apa itu. “Baik kok ngga. Duluan yo. Ditunggu Bintang soalnya. Bye.”, jawab Bulan.

Tak terasa air asin meluncur deras dari atas kepala menelusuri seluruh badan. Dari hulu ke hilir. Mungkin keringat sudah tahu waktu kapan dia harus keluar. Semacam BOT twitter yang sudah tahu kapan harus muncul.

Pelajaran dimulai dan aura negatif sudah mengelilingi guru ku yang berdiri di depan. Entah, selalu bosan kalau pelajaran matematika. Mungkin ini alasanku milih IPS daripada IPA. Tak ada penyesalan sama sekali pas pilih IPS daripada IPA.

Bel istirahat berbunyi. Bulan masih sama seperti kemarin. Ia tak banyak omong. Sekedar melayani sapaan orang. Padahal biasanya ia punya segudang topik yang ingin dibagi ke orang banyak. Atau bisa bikin perut teman-temannya kesakitan karena ketawa. Ya, itulah Bulan yang dulu.
Entah setan apa yang merasuki otak ku. Aku ajak Bulan keluar kelas dan ngobrol di luar kelas. Rasa malu dan keringat yang biasanya keluar sesuai jadwal, terasa hilang dan mengerti kondisi yang punya badan.

“Bulaaaannn, mau ngobrol nih. Sharing gitu. Boleh kan ?”, tanyaku ke Bulan. “Eh iya silahkan Ngga. Ada apa toh. Kok kayaknya penting gitu. Baru putus sama ceweknya ya.”, tanyanya nyerocos sambil makan permen. Ah, ini Bulan yang dulu. Banyak ngomong. Kadang ngeselin tapi ngangenin. Itulah Bulan.

“Eh cewek apaan sih. Orang gak punya cewek alias single, bukan jombl.”, kataku. Dia ketawa sambil jitak kepala ku. “Dasar Angga si raja gombal. Ga mau di bilang jomblo tapi single. Sama aja geblek. Hahaha.”, jawab nya. Entah, hati ku mulai senang. Dia tak lagi cemberut.

“Gini gini lan, kamu kenapa sih ? Kok kemarin-kemarin cemberut terus. Ada masalah apa ?”, tanyaku. Bulan sontak kaget mendengar pertanyaanku yang mungkin menohok. “Lah aku kenapa ngaa ? Aku biasa aja kok.”, jawabnya ngeles. “Bohong banget kalau kamu biasa aja. Jangan bohong lah. Aku tahu kamu ada masalah. Kamu jadi aneh ih. Suka diem sendiri, murung sendiri. Ga suka ah aku.”, kataku.

Bulan diam sebentar. “Hahah, kamu lebay ngga. Suer aku ga ada masalah kok. Cuma malas aja buat ketawa-ketawa. Hahaha. Aku aneh ya ngga.”, jawabnya sambil ketawa. “Iya kamu aneh kalau sedih murung gitu. Kamu ya yang suka ketawa dan bikin ceria. Aneh tau gak.”, ketusku. “Ih, Angga kok marah-marah sih. Takut ah. Hahaha.”, jawabnya sambil muka nya sok ketakutan.

“Bukan apa-apa lan, ada banyak orang yang rindu celotehan dan sikap mu yang lucu itu. Kamu gak sadar kan kalau banyak yang bisa ketawa karena tingkah mu.”, kataku. “Kalau boleh jujur, aku salah satu orang yang rindu sama tingkah lucu menggelikan mu. Meskipun kadang menjijikan. Hahah.”, kataku sambil ketawa. “Heh, jahat. Menjijikkan katanya. Marah nih. Hahaha.”, katanya sambil pukul tanganku.

“Eh serius. Ada yang aneh pas suasana kelas jadi sunyi senyap dan garing. Yang selama ini bisa menghidupkan suasana kan Cuma kamu. Aku yakin, banyak yang ngerasa aneh.” “Aku gak pengen tahu alasanmu. It’s your privacy. Cuma, aku pengen kamu tahu aja kalau ada banyak orang yang terbiasa hidup dengan celotehanmu dan merindukan tingkah lucumu.”, kataku.

Ia diam sejenak. “Iya sih ngga. Aku akhir-akhir ini merasa kalau aku agak murung. Tapi santai ya. Aku sudah baikan kok. I will make you and my friend cries caused me. Ahaha.”, jawabnya sambil ketawa lepas.

Bel masuk sudah berbunyi. Entah gonjalan yang sempat ada di hati seakan menghilang. Lega rasanya. Seluruh kegelisahan sudah tersampaikan. Meskipun saya tak tahu alasan dia murung. Asalkan dia kembali tersenyum, itu luar biasa.

Di mataku, Bulan itu sebagai pelengkap sekaligus pemeran utama dalam cerita kehidupanku. Tanpa Bulan, hidupku sepi. Mungkin ini yang dirasakan teman-teman yang lain. Bulan sukses menorekan bintik putih di kertas hitam perjalanan hidupku. Tetaplah menjadi Bulan yang menyinari semua orang di kegelapan malam. Tetaplah tersenyum, Bulan.

Selasa, 28 April 2015

Sengkarut Benang Kusut Sepakbola Indonesia

Media massa di Indonesia seakan tak pernah habis berita. Kalau beberapa saat yang lalu sempat gempar berita tentang pemilihan Kapolri dan kalau ditarik lebih panjang, kasus Kapolri itu merebak setelah ada isu kriminalisasi KPK. Tapi ada yang dilupakan masyarakat dan mungkin media massa. Perlawanan gesit dan giras dari ibu-ibu dari Warga Rembang. Pemberitaan media massa tak se massive pemberitaan pemilihan Kapolri atau bahkan pemberitaan kematian salah satu komedian. Ya, saya paham kalau pemberitaan media terhadapa perlawanan keras nan giras ala ibu-ibu Rembang yang menolak pembangunan pabrik Semen tidak bisa menjual menurut media.

Dan saat ini, semua mata tertuju pada sepakbola Indonesia. Hiburan yang paling ditunggu dan di nanti ribuan orang di seantero negeri. Sepakbola Indonesia gaduh dengan keputusan Menpora, Imam Nahrowi yang membekukan PSSI. Induk tertinggi sepakbola Indonesia yang penuh dengan masalah. Sudah lama federasi yang tak berani menyentuh, ada yang berani menyentuh dan bahkan melakukan “cubitan” keras.

Sejak Menpora di pimpin Adhyaksa Dault sampai era Menpora yang terkena kasus hukum, Andi Malarangeng dan penggantinya Roy Suryo, PSSI di biarkan hidup dengan penuh luka dan borok. Menpora yang baru dengan membawa semangat dan keberanian baru berani mengobati PSSI meskipun kadang proses pengobatan menyakitkan.

Sebagai salah satu pecinta sepakbola Indonesia, saya harus bisa menguatkan hati, mata, dan keinginan untuk datang ke stadion dan berteriak memberikan semangat untuk tim idola. Saya rindu suara khas penghuni stadion. Saya rindu aroma harum khas rumput stadion. Saya rindu pemandangan indah seluruh elemen di stadion tertawa gembira selepas pertandingan selesai dan melihat tim lawan tertunduk lesu karena pulang dengan tangan hampa. Jujur, saya rindu itu. Saya rindu stadion.

Saya tak bisa membayangkan puluhan ribu orang yang nyawa nya bergantung ke sepakbola dan segala aktivitas yang melibatkan sepakbola. Dan saya mengutip kata-kata Pak Djamal Aziz anggota Exco PSSI dalam suatu kesempatan di Metro TV beberapa saat yang lalu, bahwa ada banyak orang yang merugi ketika liga berhenti. Mulai dari pelatih, pemain, tukang pijat, anak gawang, calo tiket (contoh buruk), dan mungkin yang hanya ada di stadion Gresik, ada penjual lumpia, air mineral, dll. Bayangkan puluhan ribu nyawa manusia bergantung ke sepakbola.

Kompetisi harus dan harus berjalan. Tak boleh ada penundaan lagi. Sebagai seorang suporter yang selalu berusaha datang ke stadion dan menjadikan stadion sebagai tempat rekreasi dan melepas penat, penundaan liga ibarat kehilangan tempat rekreasi dan ajang silaturahmi antar warga. Bayangkan, dari 24 jam setiap hari kita beraktivitas, kita cenderung melupakan orang sekitar. Lalu, acara apa yang bisa mengumpulkan massa sebanyak ribuan bahkan puluhan ribu dalam satu tempat ? Pertandingan sepakbola.

Dan mungkin inilah yang membuat kita secara atau tidak sadar menolak keputusan Menpora untuk membekukan PSSI. Federasi yang selama ini berjalan tanpa menghiraukan kritik, kecaman, dan arahan pemerintah dan masyarakat. Federasi yang selama ini jadi pesakitan. Federasi yang selama mampu bikin suporter di lapangan membentangkan spanduk kecaman untuk federasi. Federasi yang sejak dulu kita ingin revolusi.

Saya sebagai pecinta sepakbola Indonesia ingin sepakbola kembali seperti sedia kala. Seperti sebelum-sebelumnya. Tentu dengan penataan, organisasi, dan struktur yang lebih baru dan diharapkan lebih baik dari sebelumnya. Liga yang berjalan sesuai dengan asas Fair Play. Asas yang di dengung-dengungkan oleh bapak nya PSSI, FIFA. Liga yang berjalan dengan profesional yang tidak ada lagi alasan klub untuk menunggak gaji pemain dan pelatih. Liga yang bersih dari intervensi politik. Liga yang berjalan dengan wasit yang bersih. Liga yang berjalan dengan keputusan juara ditentukan oleh pertandingan di lapangan bukan dengan deal-deal sebelum liga berjalan. Itu baru liga yang kita inginkan.

Belum lagi federasi. Federasi harus bersih dari kepentingan politik partai dan golongan tertentu. Federasi yang tidak punya dendam politik. Federasi yang isinya orang-orang yang mengerti sepakbola dan memiliki keinginan untuk memajukan sepakbola Indonesia. Federasi yang sukses mengembalikan posisi Timnas Indonesia ke posisi asli sebagai salah satu Macan Asia, bukan sebagai Pecundang Asia. Karena hanya pecundang lah yang kalah, tunduk, dan di bokongi oleh lawan yang dulu jadi bulan-bulanan.

Kita tak bisa berharap federasi di isi oleh malaikat. Karena malaikat punya tugas yang lebih dari menjalankan federasi. Tapi kita boleh berharap federasi di isi oleh manusia berhati malaikat bukan berhati maksiat. Kita tentu ingin federasi di isi oleh manusia yang bersih, bukan manusia yang sok bersih. Kita tentu boleh bermimpi Timnas Indonesia mampu masuk Piala Dunia tahun 2022, bukan tahun 2045 seperti yang selama ini PSSI inginkan. Kita tentu boleh bermimpi salah satu klub di Indonesia mampu bermain di World Club Championship dan bertanding melawan jawara Eropa, bukan hanya menjadi penonton klub eropa bertanding. Kita tentu punya keinginan pemain Indonesia bisa bermain di Eropa seperti sebelumnya, bukan hanya melihat pemain Eropa di layar kaca Indonesia.

Kita tentu boleh bermimpi dan punya keinginan. Selama federasi dan liga masih berjalan dengan penuh luka yang federasi sendiri tak sadar akan luka itu, maka kita selamanya akan terus bermimpi dan tidak pernah terwujud. Dan ini waktu yang tepat untuk membenahi, membersihkan, menyehatkan, dan sekaligus operasi darurat untuk sepakbola Indonesia yang lebih baik.

Jumat, 17 April 2015

Curhat Untuk Akhi Fahri Hamzah

Assalamualaikum akhi. Semoga kebaikam dan kesehatan selalu ada di diri akhi. Akhi, izinkan saya untuk menceritakan salah satu olahraga yang saya gemari dan sempat akhi komentari beberapa saat yang lalu. Tentang sepakbola.

Akhi, saya mengenal sepakbola tepat 16 tahun yang lalu. Saat itu saya masih duduk di kelas 1 SD. Dan 2 tahun kemudian, tangisan air mata saya keluar pertama kali untuk sepakbola. Tahun 2002, Petrokimia Putra jadi Juara Liga Bank Mandiri. Itu tangisan pertama saya di dalam stadion. Tangisan pertama saya di dalam Stadion Gelora Bung Karno yang sempat jadi venue konser One Direction.

Tetapi sejatinya, saya “dikenalkan” oleh orang tua saya sepakbola sejak di dalam kandungan. Ibu saya ngidam ingin lihat sepakbola. Mungkin ini lah hasilnya. Dul;u saya ikut sekolah sepakbola di Jakarta, SSB Arcici. Tapi berhenti karena harus kembali ke Gresik. Tapi gar\irah sepakbola saya tidak berhenti sampai disitu. Kadang saya berfikir, saya mencintai sepakbola lebih dari saya mencintai pacar saya.

Dulu ketika saya masih sekolah dengan seragam putih merah, saya hanya bermain sepakbola seperti layaknya anak kecil. Saat itu belum mengenal apa itu mafia wasit, mafia sepakbola, skandal pengaturan skor, skandal pajak, dll. Dan keburukan yang saya sebutkan diatas terjadi di Indonesia.

Dan semua itu saya sadari keberadaannya setelah saya duduk di bangku SMP. Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri Gresik United saat itu dikerjai wasit di Bantul. Pertandingan berhenti sebelum waktu berakhir. Disitulah saya mulai sadar, ada yang tak beres. Belum lagi setelah saya tahu kalau PSSI sempat dipimpin oleh seorang penjahat yang menjalankan tugasnya di balik jeruji besi.

Kita butuh revolusi besar-besaran, akhi. Dan statement akhi agar PSSI mengabaikan Menpora dan agar ISL jalan terus itu seakan menambah luka kami. Luka saya dan luka teman-teman pecinta sepakbola di Indonesia. Padahal saat itu, Menpora dan BOPI sedang berusaha sedang berikhtiar untuk memperbaiki liga agar lebih professional.

Apa akhi lupa, kalau beberapa tahun terakhir ada pemain asing yang meninggal di Indonesia karena tidak digaji ? Apa akhi lupa, kalau banyak pemain local di Indonesia yang tidak digaji berbulan-bulan ? Apa akhi tahu kalau ada salah satu pmain asing di Indonesia yang terlibat mafia bola karena ia tak digaji oleh klub  ? Apa akhi tahu kalau klub-klub di Indonesia banyak yang belum punya NPWP ? Kalau saya sebutkan semua pertanyaan yang mengganjal hati saya, akan sangat banyak sekali, akhi.

Di statement ini, akhi bilang kalau PSSI tidak ambil dana dari pemerintah, jadi Menpora tidak usah ikut campur. Apa it benar akhi ? Kalau itu benar statement akhi, tolong cek putusan hokum yang memenangkan FDSI (Forum Diskusi Sepakbola Indonesia) di Komisi Informasi Publik desember lalu. Mungkin akhi lupa, atau mungkin akhi tidak tahu hal itu. Silahkan ditanyakan kembali ke yang bersangkutan.

Akhi, apa akhi lupa kalau tidak boleh ada intervensi pemerintah. Dan ini yang selalu di gembar-gemborkan PSSI ketika Menpora datang untuk membantu menyelesaikan masalah di PSSI. Kampanye menolak intervensi pemerintah semakin nyaring suaranya setelah Menpora yang baru berani dan tegas.

Tetapi apa yang dilakukan PSSI. Dia malah “wadul” ke DPR dan ke Wapres. Seakan mereka lup[a kalau Wapres dan DPR itu juga bagian dari pemerintah. Dan akhi membela PSSI sekuat tenaga. Harusnya akhi marah. Lembaga DPR yang terhormat dianggap bukan lembaga pemerintah.

Ah akhi, saya tahu, niatnya baik (kalau niat baik) untuk memajukan sepakbola kita. Tapi akhi harusnya belajar lebih dulu tentang sepakbola secara umm dan sepakbola Indonesia sebelum nantinya akhi datang dan menjadi seorang pahlawan.

Akhir kata akhi, saya mendoakan akhi sehat. Agar selalu bisa mengikuti perkembangan sepakbola di Indonesia. Dan akhi, saat ini 18 April 2015 Kongres 5 tahunan PSSI digelar. Akhi ingat atau memang tidak tahu ? Dan saat ini pula ribuan BONEK datang meminta keadilan atas segala aksi tipu-tipu yang dilakukan PSSI ke Persebaya 1927. Saya bukan seorang BONEK, tapi saya sebagai pecinta sepakbola mendukung aksi BONEK.

Semoga PSSI bersih dari MAFIA meskipun susah. Kami, akan terus dan tetap akan melawan.
Salam dari anak bangsa.

Wassalamualaikum….

Minggu, 01 Maret 2015

Pudak48 Menulis

1. Project Pudak48
Pudak48 saat ini mendekati tahun yang kedua. Masa dimana seorang bayi mulai berbicara dan memanggil orang di sekitar mereka. Masa dimana mereka akan meraih apapun yang bisa mereka raih. Masa dimana dia harus mendapatkan asupan nutrisi yang bisa membawa dia menjadi seorang ksatria atau seorang pecundang. Dan itu tergantung dengan apa yang ia lihat, yang ia rasakan, dan ia jadikan cerminan.
Juni nanti, semua akan terlihat. Menjadi seorang ksatria atau pecundang. Untuk itu, kita mencoba untuk berkaca dan melihat masa lalu kita untuk dijadikan pedoman bagi kita nanti untuk melangkah.
Dan, Pudak48 memiliki keinginan untuk menjadikan dua tahun perjalanan kita sebagai sebuah buku. Buku yang bisa untuk mengenang perjalanan kita. Buku yang nantinya bisa dijadikan pedoman bagi kita untuk melangkah ke depannya nanti. Buku ini isinya adalah sebagai berikut :
- Penjelasan terkait Pudak48
Penjelasan terkait pudak bisa berupa where when who where why dan how yang berhubungan dengan Pudak48 (Bagian ini ditulis oleh tim Pudak48).
- Cerita perjalanan Pudak48 sebagai sebuah komunitas idoling
Cerita perjalanan pudak48 bisa berupa kegiatan-kegiatan pudak48 yang kalian ikuti. Misalnya project-project yang di gagas dan diikuti oleh Pudak48.
- Cerita perjalanan kita (anggota Pudak48) selama 2 tahun dalam dunia idol baik yang berhubungan dengan Pudak48 ataupun tidak.
Cerita perjalanan kita anggota Pudak48 adalah cerita pengalaman pribadi kalian, anggota, teman, keluarga kami terkait Pudak48 dan JKT48 tentunya. Bisa tentang cerita kalian pertama kali ke theater atau kejadian-kejadian yang menurut kalian bisa untuk dibagi ke publik.
Buku ini nantinya akan kita cetak melalu self publishing di salah satu publisher di Indonesia. Buku ini nanti akan kita perkenalkan ketika 2nd anniv Pudak48 bulan Juni nanti. Ingat, semua cerita yang kalian tulis haruslah kisah nyata
- Cerpen fiksi
Jadi ini bagi kalian yg punya hobi menulis cerpen. Kami ajak kalian bergabung dengan kita untuk bikin sebuah cerpen dengan tema Idoling dan JKT48. Terserah jalan ceritanya seperti apa. Itu kreasi kalian.

2. Syarat Peserta
Dapat diikuti oleh seluruh Anggota Pudak48, tanpa batasan umur, jenis kelamin, agama, dan tempat. Asal kalian ingin terlibat dalam kegiatan ini. Setiap orang dapat mengirimkan maksimal 2 karya tulisan terbaiknya.

3. Syarat Penulisan
- Cerita ditulis dalam Bahasa Indonesia ataupun Bahasa Inggris (kalau mau ye) minimal 1 halaman dan maksimal 4 halaman A4. Diketik rapi dalam microsoft word. Pasi 1,5 dg font Times New Roman dengan ukuran font 12 pt
- Cerita tersebut adalah kisah nyata dari penulis. Bisa berupa cerita kalian tentang #PudakBudalMalang Jilid 1-3 ataupun ketika ke Theater bersama, dll dan harus follow @pudak48 di twitter. Khusus untuk cerpen fiksi, karya kalian haruslah bertemakan IDOLA atau JKT48.

4. Cara Berpartisipasi
Menulis cerita sesuai keinginan kalian yang sudah diketik rapi dalam bentuk microsoft word. Kirimkan cerita kalian beserta data diri kalian, : Nama, Akun twitter dan kirim ke pudak48@gmail.com dalam bentuk file (attach file bukan ditulis di email). Dengan format dalam subjek email : (PM)-(judul tulisan)-(nama penulis): Contoh (PM)-(Matahari Terindah)-(Fahrezal Gita Hidayat Putra)
Untuk mengikuti ini, tidak ada pungutan biaya alias GRATIS
Periode #Pudak48Menulis
Project menulis ini di mulai selasa, 3 maret 2015 dan ditutup Minggu, 3 Mei 2015 pukul 23:59 WIB

5. Lain-lain
Setiap tulisan yang masuk akan mendapatkan editing terlebih dahulu sebelum dicetak.
Penulis akan mendapatkan bingkisan dari Pudak48.
Hak cipta karya tulis akan menjadi milik Pudak48.
Selamat menulis ^^

Minggu, 15 Februari 2015

Kaze wa Fuiteru dan Kekuatan Hembusan Angin

Angin yang berhembus, mampu menerbangkan benda yang berat sekalipun. Amerika bukanlah sebuah negara yang terancam dengan adanya Tsunami. Tapi Amerika sangat terancam dengan berbagai badai topan. Tenang, Badai Veranda tak akan mengguncang dan menerbangkan rumah di Amerika.
Angin tidak pilih-pilih. Dia bergerak sesuai keinginan hati. Entah efeknya parah atau tidak, dia tak perduli. Asal tugasnya (Untuk berhembus) berjalan dengan sempurna. Kalau ada yang terkena efek buruk, artinya itu suratan tangan. Di Amerika sendiri sudah banyak rumah anti badai (badai sungguhan, bukan Veranda). Artinya, mereka sudah antisipasi kalau ada kejadian serupa terulang. Pun, di Jepang. Jepang adalah negara yang paling rawan akan gempa, sudah mempersiapkan kalau tiba-tiba ada gempa dan berbuntut Tsunami.
Menjadi public figure pun begitu. Dia akan bergantung pada angin dan kekuatannya bersahabat dengan angin. Kadang, dia bisa naik karena angin dan ketika lengah, angin tak segan untuk turun. Ingat, angin tak pilih kasih. Tapi kita bisa bersahabat dengan angin. Bukan menjadi salah satu bagian dai Avatar, melainkan mengenal angin dengan baik. Kapan angin datang dan mempersiapkan “tameng” agar angin tidak membawanya turun.
Saya adalah salah satu orang yang pada awalnya kurang yakin kalau Tata (Thalia) mampu bertahan dalam deretan 16 besar (senbatsu single)  keramat member JKT48. Bukan tanpa alasan. Karena ia sejak awal masuk Gen 2, sudah kalah pamor dibanding Viny, Yupi, dan sang kapten, Naomi. Bahkan, dia mampu lolos senbatsu single ketika ada senbatsu sousenkyou. Atau pemilu nya 48 group. Sebelumnya, ia hanya mampu jadi bench warmer. Ia hanya jadi cadangan.
Tata dan Bantuan Angin
Dalam dunia musik, keberadaan fans itu sangat penting. Jika di ibaratkan kehidupan, fans itu angin dan aktor musik itu dedaunan. Daun sangat bergantung dengan angin. Dedaunan bisa terbang ke angkasa dengan bantuan angin. Dan angin bisa dengan mudah menurunkan daun ke tanah. Sangat mudah.
Dalam JKT48 itu unik. Ada yang namanya kompetisi antar member. Di Indonesia mungkin baru ini (JKT48). Kalau band atau aktor musik lain butuh fans untuk menaikkan pamor band nya, maka JKT48 ini tidak sepenuhnya benar. Ya, JKT48 butuh fans untuk menaikkan pamor JKT48. Tapi member yang jumlahnya banyak itu berusaha menaikkan pamornya juga. Baik di hadapan publik (yang tak tahu JKT48) ataupun di depan para fans. Dan disinilah peran angin (fans) dimulai.
Tata, masuk ke senbatsu karena adanya bantuan angin. Naif kalau kita menafikkan usaha dia selama ini. Tapi hasilnya nihil. Senbatsu single belum pernah. Tapi angin datang dan membawa dia naik ke langit. Kalau langit di ibaratkan punya 7 tingkatan, maka dia masih ada di tingkatan pertama.
Ia berhasil naik ke langit karena ia sukses “bersahabat” dengan angin. Ia mengumpulkan angin agar bisa membantu ia naik ke langit. Hasilnya bisa dilihat sendiri. Saat ini, ia sudah 3X jadi senbatsu single. Gingham Check (Senbatsu pertama), Kokoro no Placard, dan yang terbaru Kaze wa Fuiteru. Pertanyaannya, sampai kapan angin yang berhembus mampu menahan Tata di langit ?
Pertanyaan ini bisa dijawab oleh sang daun atau Tata sendiri. Tergantung dari sampai kapan ia mampu bertahan meyakinkan sang angin agar terus menopang dia. Tentu ia harus lakukan itu sembari meng-upgrade kemampuannya bertahan hidup. Ia harus bisa membuat angin tidak bosan untuk menopang dia bahkan kalau bisa menaikkan dia sampai langit kedua.

Dunia wota keras, bung. Dunia wota penuh kecemburuan sosial. Si daun pilih kasih, maka kapan saja angin bisa pergi. Mudah. Kalau angin pergi, hancur sudah. Nah, ini tergantung dari si daun, apakah dia mau dan mampu untuk maintain status quo atau malah merubah kondisi.

Kamis, 12 Februari 2015

Verde, Si Hijau Yang Menjadi Harapan Si Biru dan Si Merah Kuning

Umurnya belum genap 19 tahun. Sepasang assist yang ia berikan, yang masing-masing untuk Ljajic dan wonderkid Paredes menjadikan ia sebagai pemain termuda yang memberikan assist di Serie A (18 tahun 7 bulan). Menjalani debut sebagai starter di AS Roma musim ini, Daniele Verde mampu memberikan magis dan memutus mata rantai kegagalan AS Roma meraih kemenangan. Verde menjalani debut ketika AS Roma melawan Palermo pada 15 Januari 2015.
Verde memberikan magical pass ke Ljajic dan membantu Ljajic mencetak gol pertama Roma ke gawang Cagliari. Magis Verde kembali ia keluarkan ketika memasuki 10 menit terakhir babak kedua. Mendapat umpan lambung dari Holebas, Verde berhasil mengalahkan bek Cagliari dalam perburuan bola. Lalu ia memberikan umpan lambung yang tepat mengarah ke Paredes.
Verde merupakan pemain asli dari akademi Roma. Menambah banyaknya deretan pemain akademi Roma yang bermain di tim inti. Totti, De Rossi, dan Florenzi adalah nama lain yang lebih dulu bermain di Seri A. Khusus untuk Florenzi, dia di orbitkan oleh Zeman  pada musim 2012-2013 lalu.
Verde juga merupakan anggota dari skuad U19 Italy. Id dipanggil timnas pertama kali pada september silam.Ia telah bermain sebanyak 3 kali dan mencetak satu gol ke gawang Armenia pada 10 Oktober 2014 dalam Kualifikasi UEFA U-19.
Penampilan perdana Verde sebagai starter mendapat pujian banyak pihak. Bahkan, dia menjadi Man of The Match laga Cagliari melawan AS Roma, minggu malam kemarin. Garcia, sang pelatih pun memuji Verde. “Verde is an ipmortant member of the squad. Aside from his speed and technique, he works very hard.” Seperti yang dilansir oleh The Guardian.

Saat ini, Italy memiliki banyak sekali darah segar di posisi striker. Selain Verde, ada pula wonderkid dari Sassuolo, Simone Zaza dan Domenico Berardi. Serta ada striker yang “terbuang” dari Roma dan saat ini bermain di Sampdoria, Stefano Okaka. Ketika Balotelli sedang mengalami masa-masa sulit di Liverpool, setidaknya Italy masih memiliki harapan khususnya di lini depan dari pemain-pemain diatas. Kita tunggu, bagaimana kiprah selanjutnya dari Verde. Dan semoga AS Roma dan Italy bisa menemukan Verde Verde Verde yang lain. Pertanyaan besarnya adalah, mampukah Verde (dalam bahasa Italy yg berarti Hijau) mampu menambah warna baru di dalam Si Biru (Italy) dan Si Merah Kuning (Giallorossi/AS Roma) ?

Marahmu Rinduku

Aku benci dengan orang yang suka marah. Aku benci dengan kemarahan.

Saat itu hari pertama masuk perguruan tinggi. Perguruan tinggi yang sejak lama aku inginkan. Salah satu unggulan di jawa timur. Ada kewajiban untuk ospek saat itu. Cuma, karena memang aku malas untuk ikut hal yang menurutku tidaklah penting. Hanya melihat rektor cuap-cuap bilang hal normatif dan bikin kuping dan perut jadi panas.

Saat itu aku putuskan untuk sekedar duduk di sekitaran kampus. Disitulah aku bertemu dengan dia. Saat itu aku lihat dia duduk sambil memegang kamera DSLR. Entah apa dia memang ada passion disitu atau cuma ikut apa kata trend. Dia mengamati sesuatu. Aku tak terlalu jelas apa yang sedang ia amati.

Rasa penasaranku menang dan rasa malu pun hilang. Aku beranikan diri menyapa. “Hai.” Kataku. Dia diam saja sambil terus mengamati sesuatu yang saat aku lihat ternyata seekor kupu-kupu. Kupu-kupu itu terbang. Dia berbalik ke arahku. “Ah, kan kupu-kupu nya terbang. Kamu sih.”, jawabnya sambil muka yang sedikit marah.

“Eh, maaf. Aku ga tahu kalau kamu lagi lihat kupu-kupu. Maaf banget.” Kataku sambil menjulurkan tangan, tanda penyesalan. Dia diam sejenak. “Halo. Minta maaf ya.” Kataku sambil tangan aku arahkan ke muka nya. “Eh jangan sok akrab deh. Iya aku maafkan. Pergi sana.” Katanya sambil mengusir ku.

Hari itu berakhir sampai disitu. Iya, berakhir dengan sebuah perintah untuk pergi. Baru kali ini aku merasa sebuah kata “pergi” jadi begitu menyesakkan.

Kuliah hari pertama pun di mulai. Kuliah di minggu pertama hanya di isi dengan perkenalan. Hanya itu. Bosan rasanya. Durasi kuliah pun cuma 15-20 menit. Kata abangku sih normal. Minggu pertama katanya. Cuma kontrak kuliah. Bahas pembagian nilai dan penentuan ketua kelas. Oh iya, aku ambil jurusan Ilmu Politik. Ada beberapa mata kuliah yang saya harus sekelas dengan teman satu jurusan, dan ada beberapa yang lintas jurusan.

Aku ingat, saat itu mata kuliah Bahasa Indonesia. Mata kuliah lintas jurusan tapi masih dalam satu fakultas, Fisip. Saat itu teman satu jurusanku hanya beberapa saja yang sekelas denganku. Sebut saja Ikha, Dina, Andro, dan 5 orang lain yang jujur aku ga tahu siapa mereka. Mereka selalu bersama macam becak sama tukang becaknya.

Mataku melirik salah satu pojok kelas. Aku merasa ada yang aneh. Mungkin familiar. Lagi-lagi aku penasaran. Aku coba mendekat dan baam. Itu gadis yang sempat membentakku. Yang sempat menyuruhku pergi pas ospek.

Eh tapi kenapa dia malah mendekat. Aku gugup dan coba duduk di bangku paling depan. Jarang aku duduk di bangku depan. Kalau ga karena aku gugup aja ini. Dia melihat ke arahku. “Aku boleh duduk di sini ?” katanya sambil menunjuk ke bangku sebelah. “Eh iya silahkan.” Jawabku. Sejenak aku terdiam. Anak ini yang dulu sempat membentakku. Lalu sikap dia sekarang dingin banget. Aneh ini anak, pikirku dalam hati.

Kuliah berakhir dengan cepat (padahal sangat cepat). Aku bosan. Aku ingin pulang tapi rasanya malas di rumah. Belum sempat mikir mau pulang atau enggak, tiba-tiba ada tangan yang memegang pundakku, sambil berkata “Hei, sibuk kah ? Ke kantin yuk.” Aku menoleh. Kaget, ternyata dia gadis yang tadi. “Eh, anu. Eh anu.” Kataku terbata-bata. “Anu apa. Ayo ke kantin. Mau gak ? Aku yang traktir deh.” Katanya lagi. “Eh anu. Eh iya. Ayo deh. Ga usah di traktir tapi.” Jawabku. “Udah, santai aja. Anggap aja sebagai permintaan maaf yang kemarin.”, katanya sambil meraih tanganku. Dia menyeretku keluar. Gilanya, aku nurut aja.

Duduklah kita di meja di kantin. Dia pesan batagor 2 porsi sama teh 2 porsi. Aku yang traktir jadi aku yang milih makanan, katanya. Dia mulai buka pembicaraan.”Eh iya, aku Grace anak Komunikasi.” Katanya sambil menjulurkan tangannya ke arahku. “Eh iya aku Vito, anak Politik.” Jawabku sambil menyalami tangannya. Pembicaraan kita jauh banget. “Ah maaf ya, kemarin aku marah sama kamu. Aku baru pertama kali lihat kupu-kupu. Makanya aku pengen tahu lebih jelas. Mau aku foto sih, cuma kamu ganggu. Kabur deh dia.” Katanya sambil wajah yang mulai memelas. Lucu deh sebenarnya. Mukanya bisa berubah drastis. Dari yang dulu marah-marah sekarang melas. “Eh iya, santai aja. Aku ga tahu kalau kamu lagi lihat kupu-kupu.”, kataku.

Aku lihat dia mengeluarkan buku kecil. Semacam note gitu. Ah, mungkin dia anak sibuk. Selalu tulis kegiatan. Obrolan kita berakhir pas dia di telfon seseorang. Sudah dijemput katanya. “Itu pacarmu ?” tanyaku berani. “Bukan, itu supir. Aku ga boleh bawa mobil sendiri sama papa. Makanya supir jemput. Aku balik duluan ya. Sampai ketemu minggu depan.” Katanya sambil pergi.

Dini, mulai masuk ke dalam setiap lembaran cintaku. Bukan Grace. Iya, Grace memang sedang ada di dalam cerita persahabatanku. Bukan cinta. Aku mulai merasakan ada sesuatu dari Dini yang selama ini aku cari. Bukan kacamata, bukan parasnya. Tapi sekali lagi, aku malu. Dini nampak begitu jauh. Melihatnya dari jauh, nampak begitu indah.

Bukan tak pernah aku mendekatinya. Hanya mendekatinya dari kejauhan. Bukan mendekati kehidupannya. Pemuja rahasia, kalau kata Duta SO7. Tapi ini lebih dari itu. Lebih parah maksdunya. Sikap acuh mu, pancarkan keindahan. Memandangmu dari kejauhan, nampak menyenangkan. Melihatmu tak melihatku, sungguh menyakitkan. Namun, yang menyakitkan pun seakan bersahabat denganku. Ya, ketika kamu mengabaikanku, anugerah buatku.

Dan Grace, selalu ada. Pernah suatu ketika Grace curiga denganku. Pancaran mataku mengatakan kalau aku sedang bingung. Dan Grace dengan mudah memahami itu. Antara malu tapi ingin meluapkan semuanya padanya. Tapi Grace selalu punya cara untuk meyakinkanku mencertiakan kegundahan hatiku. Ya, dia mengerti emoticon yang terpancar dari dalam hati.

Tapi Grace kali ini beda. Dia nampak aneh. Tak seperti biasanya. Ia seakan acuhkanku. Bahkan ketika aku coba mendekat, dia bingung dan bertanya, “Kamu siapa ?” Sungguh sebuah pertanyaan yang cukup membuat tubuh kaku berdiri. Ada apa dengan dia ? Apa ada salah ? Dia berbeda. Tapi, ada satu hal yang tidak berubah. Marah. Dia selalu marah. Ingat saat dia bertanya, aku siapa ? Dia lakukan itu dengan marah.

Dan aku benci itu. Aku masih benci mereka yang mudah marah.

Aku bingung lagi. Tiba-tiba Grace kembali dekat denganku. Kata-kata “Kamu Siapa” yang sempat di ucapkan, seakan tak pernah terjadi. Aneh, sungguh aneh.

Aku sering main ke rumahnya. Bahkan, orang tuanya sampai kenal akrab denganku. Katanya, baru aku temannya yang pernah masuk ke rumah. Istimewa ? Ga juga. Karena aku ga merasa. Hahah, sombong sekali.

Dia minta tolong diajarkan cara menulis novel yang baik dan benar. Susah, karena aku pun cuma penulis lepas di LKM kampus. Bukan orang yang tepat, pikirku. Tapi dia ngotot minta tolong padaku. Sampai akhirnya, aku kenalkan dia ke temanku yang aku pikir dia lebih ahli. Dita namanya. Jurusan sastra. Anaknya telaten, sabar, dan satu lagi, dia ternyata teman satu sekolah Grace ketika SMA. Cuma, mereka berdua jarang bahkan tak pernah saling ngobrol. Aneh, pikirku.

Mereka makin akrab. Artinya, hidupku tak lagi diganggu sama marahnya Grace. Kadang, aku kasihan sama Dita, apa jadinya dia kalau setiap hari setiap saat si Grace marah. Untungnya, Dita anaknya sabar. Bahkan bagi kawan-lawan LKM, Dita ini ibu nya anak-anak. Istri-able.

Handphone ku bunyi. Ada sms rupanya. Dari Grace. Dia pamer, kalau dia sudah bisa bikin mini novel. “Eh kebo, novel ku udah jadi lho. Gak mau baca ?”, tanyanya padaku lewat sms. “Mau baca dong. Pasti jelek. Hahah.” Jawabku. “Nanti ya, tunggu saatnya. Eh, jelek-jelek gini ini real story ya. Aku bilangin Dita lho. Kan dia yang bantu aku.”, Jawabnya.

Seminggu setelah itu, Dita ajak aku ketemuan. Penting katanya. “Oke, aku tunggu di cafe deket kos mu deh ya. Jam 7 malam. Jangan telat. Telat traktir. Hahah.” Kataku lewat sms.

“Nih, novelnya Grace. Jangan dibuka dulu. Grace mau, buku ini dibuka pas hari ulang tahunmu.”, katanya sembari menyerahkan bukunya padaku. “Oh ini yang dia buat sama kamu ? Wait, kamu kok jadi akrab banget sama dia. Kuat sama dia ?”, tanyaku. “Iya yang dia buat sendiri. Aku cuma bantu dikit banget. Dia anaknya baik. meskipun emosi nya gampang naik turun. Labil sih. Tapi, aku yakin kamu juga sabar orangnya. Hahaha.”, katanya sambil ketawa. Ya, kia berdua akhirnya tertawa bersama. “Oh iya, ada surat dari Grace juga. Buka nya nanti pas kamu mau baca novel ini. Aku ga tahu apa isinya. Janji dibuka pas ulang tahunmu ya.”, katanya. “Oke, janji.”

Ulang tahunku kurang dua hari lagi. Atau 12 Desember. Hari ini Grace harusnya kuliah. Tapi sudah seminggu aku ga lihat dia di kampus. Ada yang aneh, pikirku. Dia pernah janji, akan datang pas ulang tahunku. Dia pernah janji akan rayakan ulang tahun bareng. Dia orang yang selalu menepati janji, pasti.

Karena curiga, aku datang ke rumahnya. Kosong. Tak ada satupun prang di rumahnya. Satpam yang biasa jaga di depan pun gak ada. Kosong. Ku coba hubungi dia pun sama, nihil.

Ulang tahunku pun tiba. Kosong. Perasaanku kacau. Aku mulai marah sama dia. Dia ternyata orang yang ingkar janji, pikirku.

Tok tok tok, suara pintu rumah ada yang ngetuk. Semoga itu Grace. Tapi yang datang Dita. Aku kaget, ada Dini. Dia yang selama ini jadi objek delusi bersih saya sekarang ada di depan mata. Dia masuk ke rumah. Mereka bawa sebuah roti. Mereka membawa kado. Tapi yang kumau cuma satu,Grace.

Dita suruh aku baca surat dari Grace dan buka novelnya. Berdebar hatiku. Berasa ada yang aneh. Memang. Mata mulai berkaca-kaca. Dini pun sama, dia terlihat gemetar, pun dengan Dita.

Dear Vito.
Ini sahabatmu, Grace. Selamat ulang tahun teman, sahabat, saudara beda orang tua. Semoga panjang umur (jangan sepertiku) dan semoga sukses (jangan sepertiku). Mohon maaf, Grace tidak bisa hadir di pesta ulang tahunmu. Grace ada urusan lain di tempat lain. Tapi yakin deh, Grace selalu ada di samping, di depan, dan di belakangmu. Vito, disana ada Dini kan ? Cewek yang kamu suka ? Kamu seneng gak ? Cewek yang kamu suka ada disaat kamu ultah. Heheh. Itu kejutan dari aku, lho. Hanya itu sih yang aku bisa kasih buat kamu. Oh ya, novel, Cepat dibaca novel dariku ya. Jangan lupa. Di sebelahmu ada Dita juga kan ? Sampaikan terima kasihku untuknya. Terima kasih atas segala kebaikan dan kesabarannya bantu aku.
Eh Vit, sebenarnya ada yang mau aku kasih tahu. Aku orangnya penvcemburu ulung. Mungkin aku tidak ekspresif orangnya. Cemburuku selalu tertutupi dengan rasa maluku. Ya, aku sama kan kayak kamu. Pemalu dan pencemburu ulung. Tapi, aku bisa jujur lho. Aku jujur ke Dini kalau aku cemburu padanya. Aku cemburu, kenapa bukan aku yang ada di hatimu. Kenapa bukan aku yang kamu cinta. Kenapa bukan aku dan kenapa bukan aku. Jangan bayangkan wajahku saat nulis ini, ya. Jelek banget.
Oh ya, karena aku sudah jujur, kamu juga dong. Jujur ke Dini kalau kamu suka sama dia. Bilang ya. Jangan dipendam. Kasihan nanti bisa jadi batu ginjal. Kan sakit hahaha.
Terima kasih atas semuamuamuamuanya Vit. Aku ga yakin, di tempat ini di tempat baru ini aku akan menemukan teman sahabat saudara sepertimu. Orang pertama yang bisa bikin mimpi ku lebih berwarna. Orang yang bisa bikin aku bersemangat untuk bangun dari tidur malamku. Tapi maaf, kali ini aku tak kuat bangun dari tidur panjangku. I love You, Muhammad Vito Setiawan.

Antara bingung dan sedih. “Apa ini. Apa maksudnya dit din. Apa maksud surat ini. Dia pindah rumah kan ? Dia kenapa dit din.” Tanyaku pada mereka. Tak ada jawaban. “Hei kalian, tolong jawab.” Bentakku padanya. Dini mulai menangis. Dita menyuruhku duduk dan diam. Kita bertiga duduk. Dita menceritakan semuanya. Dia menyuruhku diam mendengarkan tanpa komentar apapun.

“Jadi kamu ingat kenapa Grace selalu bawa notes kecil kan ? Itu memang sengaja. Katanya, biar aku bisa ingat hal indah selama aku masih bisa hidup. Aku kaget, Vit. Serius. Maksudnya apa. Kamu tahu isi novel itu tentang apa ? Itu true story. Tentang dia dan kamu. Isinya adalah cerita hari-hari kalian yang ada di dalam notes yang dia punya. Notes yang ada hubungannya sama kamu beda warnanya. Ada logo hati di dalamnya. Katanya sebagai kenangan berdua. Dia kena kanker otak stadium akhir. Dokter prediksi umur dia tidak lama lagi. Bahkan, dia bisa merasakan dengan kasih surat dan novel itu, jauh sebelum kamu ulang tahun. Hebatnya, dia bisa meyakinkan Dita untuk datang ke rumahmu hari ini. Padahal, dia baru bisa meyakinkan Dita seminggu yang lalu atau sehari sebelum dia pergia dari rumah. Orang tuanya pindah rumah. Agar kamu tidak datang lagi. Atas permintaan Grace. Dia tak ingin kamu selalu ingat padanya.”, katanya. Aku cuma bisa diam. Badan seakan tersambar listrik. Mati.

“Dan aku, datang kesini untuk Grace dan untuk kamu. Dan roti ini, itu yang beli Grace. Yang minta desainnya Grace. Semua Grace yang atur. Aku dan Dita cuma ikut apa kata Grace. Ini permintaan terakhir Grace sebelum dia meninggal. Yang ia ingat cuma kamu. Bukan yang lain.”, kata Dini. Perkataan dini makin buatku sedih.

“Terima kasih kalian telah baik sama Grace. Terimakasih telah kabulkan permintaan terakhir Grace sebelum meninggal. Dita, terima kasih bantu dia selesaikan novel. Dini, terima kasih sudah mau datang kesini dan menuruti apa kata Grace. Tapi, aku cuma mau Grace. Aku cinta sama Grace. Dini, aku tahu aku suka sama kamu. Cuma aku suka kamu abaikanku. Bukan memilikimu. Aku ga bisa. Aku cuma mau miliki Grace.”, kataku pada mereka.

Diam. Sunyi. Sepi.

Aku benci dengan orang yang suka marah. Aku benci dengan kemarahan. Dan aku rindu dengannya yang suka marah. Aku rindu dengan kemarahannya. Aku rindu kamu, Grace. Aku rindu kamu marah lagi. Aku rindu semua tentangmu. Novelku sudah jadi, lho. Judulnya Grace. Iya judulnya itu namamu. Ceritanya tentangmu. Tentang kamu yang buat aku tampak bodoh dihadapan cewek. Kalau sempat, datang ke mimpi. Aku rindu kamu. Aku sayang kamu, Grace. semoga senang di kehidupan barumu.