Senin, 25 November 2013

Agama, Pemanas Atau Pendingin Kehidupan ?

Kopi di atas meja memanggil untuk segera dijamah. Asap dari kopi menggebu-gebu di atas. Sambil ditunggu, ku ambil remote TV dan segera menjamah tombol power. Kaget ketika melihat TV, masih ada konflik yang berlatarkan agama. Otak saya berfikir, agama ini untuk mensejahterakan kehidupan di satu sisi dan bisa merusak hubungan antar manusia di lain sisi.
Natal merupakan salah satu hari istimewa bagi umat kristiani. Di saat natal, bisa dikatakan seperti Hari Raya Idul Fitri nya umat islam. Saat-saat sakral di dalam kehidupan seseorang yang beragama. Kedamaian Natal yang selama ini di dambakan oleh ummat kristiani hingga sekarang belum tercapai. Masih banyak sekali gereja-gereja yang masih di jaga oleh aparat keamanan lengkap dengan alat pendeteksi bom. Kejadian beberapa tahun yang lalu ternyata masih membekas dan menimbulkan luka mendalam. Pemerintah masih takut membiarkan ummat kristiani beribadah natal tanpa adanya penjagaan ketat dari aparat keamanan.
Paranoid yang berlebihan yang di mix dengan rasa intoleransi menghasilkan kondisi dimana Perayaan Natal menjadi mencekam. Paranoid berlebih yang di alami Indonesia akan kejadian bom natal dan rasa intoleransi yang di lakukan okum biadab yang membuat ummat kristiani tidak bisa beribadah dengan tenang ketika natal. Kasus intoleransi lainnya adalah pensegelan gereja oleh warga sekitar. Dengan alasan mengganggu ketertiban umum, aktivitas gereja di Bekasi di bekukan. Pemerintah yang bertindak sebagai ulil amri pun seakan diam di tempat tak berkutik.
Toleransi dan Pluralisme merupakan pilar penting dalam membangun demokrasi di suatu negara. Kita meyakini demokrasi sebagai sistem politik kita tapi tidak mengadopsi demokrasi secara benar dan sesuai dengan kebutuhan. Sesuai kebutuhan ? Ya, karena Indonesai merupakan negara yang memiliki banyak sekali suku, agama, dan ras. Indonesia tidak hanya satu agama tapi banyak agama. Banyaknya kelompok agama yang mementingakn keinginan pribadinya dan mengindahkan kepentingan bersama membuat Indonesia semakin tertekan. Mereka tidak sadar akan keberadaan agama lain di Indonesia.
Konflik horizontal yang berlatar agama pun pernah terjadi di Indonesia. Konflik Poso misalnya. Konflik antara Islam dan kristen yang menyebabkan teroris dari negara lain ikut membantu salah satu pihak. Dan bukan tidak mungkin hal itu akan terjadi lagi nanti jika pemerintah sebagai ulil amri tidak mengambil kebijakan tegas. Padahal dulu, ketika zaman Nabi Muhammad SAW, islam, yahudi, dan kristen hidup berdampingan di Madinah. Mengapa sekarang, di zaman yang katanya lebih modern dan lebih maju, konflik berlatar agama masih ada.
Hal ini di perparah dengan adanya keinginan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara islam. Banyak ormas islam yang menolak dengan tegas dengan alasan tidak sesuai konstitusi termasuk NU. Ya, konstitusi kita memang dirancang untuk menjadikan Indonesia sebagai negara demokrasi yang menerima segala bentuk perbedaan. Salah satu ulama besar, KH. Sholahuddin Wahid menyebutkan, bahwa tidak perlu menjadi negara islam, cukup menjalankan 5 sila.[1]
Kasus lain yang sempat mencuat adalah tindakan main hakim sendiri oleh salah satu kelompok agama. Mereka merusak dan menghajar bangunan dan manusia yang di anggap melanggar peraturan. Bahkan mereka tidak segan melakukan pemukulan. Dia melakukan itu atas justifikasi agama. Mereka melakukan itu karena menurut mereka, itu merupakan kewajiban mereka sebagai muslim. Di suatu ketika, saya lupa itu kapan. Ketika itu perwakilan dari ormas islam yang ini di undang oleh salah satu stasiun TV bersama Imam Besar Masjid Istiqlal, KH. Ali Mustafa Ya’qub. Di acara itu, terlihat jelas alasan mengapa mereka melakukan itu. Mereka memberikan salah satu hadits sebagai alasan mereka melakukan itu. Hadits itu di tafsirkan oleh pemimpinnya, Habib Rizieq. Dan KH. Ali Mustafa Ya’qub pun mengeluarkan buku haditsnya dan membacakan tafsiran hadits berdasarkan salah satu ulama besar islam. Disana, KH Ali berbicara bahwa penafsiran hadits itu baik, tapi akan menjadi malapetaka jika ditafsirkan secara ngawur.
Madura tahun ini di gemparkan dengan kasus syiah. Konflik antara Syiah dan Sunni pada agustus lalu, dampaknya hingga saat ini belum tuntas. Penyerangan yang di lakukan oleh warga terhadap syiah hanya karena di anggap sesat membuat Indonesia gempar. Karena syiah dan sunni yang sejak awal tidak ada konflik apapun, ternyata pecah konflik di Madura. Seperti yang kita ketahui, Maudra merupakan salah satu daerah yang memiliki pengetahuan agama islam yang kuat. Bahkan ada anggapan bahwa warga Madura lebih nurut dengan Kyai mereka di banding polisi. Bagaimana agama mampu mempengaruhi perilaku mereka.
Disini, tidak ada niatan saya untuk mengadu domba antar ormas islam atau individu tertentu. Saya hanya berusaha membuka mata kita bahwa konflik horizontal di Indonesia yang berlatarkan agama ternyata banyak terjadi. Di negara yang katanya mengedepankan kesopanan dan kesantunan pun masih banyak terjadi konflik. Yang lebih miris karena agama.
“Religion has itself been a form of violence in various communities” (McTernan, 2003).[2] Disini bukan diartikan sebagai agama merupakan bagian dari kekerasan, tapi kekerasan yang berlatar agama.
Jadi, agama dan konflik menjadi sebuah hal yang akan selalu bertemu. Baik itu karena salah penafsiran atau pun karena muncul provokasi yang menjadikan saling serang. Pendidikan agama yang benar merupakan salah satu cara mencegah konflik berlatarkan agama. Ambil kasus perbedaan penafsiran hadits nabi yang meyebabkan ada konflik di Indonesia mengenai jihad misalnya. Bisa di hindari asal mereka-mereka yang memiliki ilmu tidak mendahulukan egonya dan membagi sesuatu yang benar. Lalu, pendidikan dalam keluarga pun harus di dahulukan. Keluarga yang merupakan tempat sosialisasi pertama sebuah anak. Keluarga pu harus mengajarkan nilai-nilai perdamaian terhadap anak.




[1] Disebutkan dalam twitter Gus Shola pada 23 November 2013 23.00 WIB
[2] Dikutip dari McTernan, O. (2003). Violence in God’s Name: The role of religion in an age of conflict, New
York: Orbis Books dalam jurnal Eunice Karanja Kamaara

0 komentar:

Posting Komentar