Roma sempat
menggemparkan panggung sepakbola Italy bahkan eropa ketika mampu menyabet 10
kemenangan beruntun di awal musim. Berhasil mematahkan rekor Juve yang sempat
meraih 9 kemenangan beruntun yang akhirnya membawa Juve meraih scudetto sebelum
akhirnya gelar scudetto itu di cabut. Di level eropa, Roma hanya kalah dari
Spurs.
Masuk ke giornata 2
digit, yakni ke 10 Roma sempat kesulitan untuk menang sebelum Bradley menjadi
protagonista dengan satu gol nya di penghujung laga. Padahal saat itu Roma
sedang bermain dengan 10 pemain setelah diusirnya Mehdi Benatia. Dan Roma
menghancurkan rekor tidak pernah kalah Udinese di kandang dalam 22 pertandingan
terakhirnya.
Tepatnya di giornata ke
11, rekor 100% Roma terhenti. Adalah Torino yang menghentikannya. Torino
menjadi tim pertama yang berhasil meredam auman serigala ibu kota. Dengan
sebiji gol dari Alessio Cerci, serigala Roma seakan kehilangan aumannya di
kandang Torino. Padahal Roma sempat memimpin di interval 45 menit awal sebelum
Cerci menyamakan kedudukan di babak kedua. Gol itu semakin menyakitkan karena
Cerci adalah mantan pemain Roma. Gawang Roma yang sempat perawan dalam beberapa
petandingan terakhir ahirnya bobol juga.
Disini saya mencatat
ada beberapa penyebab kendornya Roma :
1. Kehilangan Francesco Totti
Faktor
absen lamanya Totti bisa dikatakan menjadi salah satu alasan terkuat mlempemnya
Roma. Totti yang cedera ketika Roma mengalahkan tamunya, Napoli di kandang pada
bulan lalu hingga saat ini belum bisa di pastikan kapan akan bermain. Ketika
Totti bermain, Roma sangatlah ganas. Totti telah mencetak 3 gol dan masuk dalam
top three pencetak gol Roma di musim ini. Il Capitano menjadi pusat serangan AS
Roma musim ini. Tidak hanya tajam, Totti juga mampu menjadi pengumpan yang baik
bagi 2 striker bayangan Roma. Ketika Roma bermain dengan Totti, Roma mampu
mencetak 22 gol dalam 8 pertandingan. Ketika Totti absen, Roma hanya mampu
mencetak 3 gol dalam 4 pertandingan. Bahkan lawan Cagliari, menjadi
pertandingan pertama Roma tanpa mencetak gol. Dan itu semua terjadi ketika
Totti absen. Totti masih menjadi pusat serangan Roma hingga saat ini. 4
pertandingan terakhir, Roma bermain seakan tanpa arah. Kebingungan menentukan
arah serangan.
2. Belum Terlihatnya Pelapis
Pertahanan Roma
Roma
harus kemasukan 3 gol dalam 4 pertandingan terakhirnya. Padahal dalam 10
pertandingan awal, Roma hanya kemasukan 1 gol. Disini, kinerja Burdisso yang di
plot sebagai pelapis dari Benatia dan Castan belum menunjukkan kinerjanya.
Burdisso yang masuk ketika Castan dan Benatia terkena akumulasi kartu, menjadi
lubang besar yang mudah di tembus. Berkali-kali passing yang di lepaskan
Burdisso pun malah menjadikan blunder buat Roma sendiri.
Selain
Burdisso, pusat masalah Roma ada di full back kirinya, yakni Dodo. Dodo dipasang
ketika Balzaretti masih terkena cedera. Area kiri Roma menjadi salah satu area
paling rawan yang mudah ditekan lawan. 2 pemain tadi belum menunjukkan
kelasnya. Mereka berdua menjadi titik terlemah Roma.
3. Terbacanya Strategi Rudi Garcia
Sebenarnya,
alasan terkuat mlempemnya Roma selain kehilangan Totti adalah hal ini. sejak
Totti masih bermain, atau ketiak melawan Napoli, strategi Roma sebenarnya sudah
mulai di baca. Ketika lawan Napoli, meskipun Roma unggul, tapi kedua gol nya
dicatatkan melalui set piece bukan open play. Pelatih-pelatih di Italy mulai
sadar akan bahayanya Roma dan mencatat kelemahan-kelemahan Roma. Terbukti, roma
seperti macan ompong di 5 giorata terakhir.
Semoga Garcia
memberikan formula nya untuk bisa mengangkat lagi performa AS Roma yang mulai
menurun. Di sisa 5 giornata sebelum paruh musim, Roma masih bisa untuk bangkit.
Dan pertandingan melawan Fiorentina akan jadi ajang pembuktian AS Roma. Forza
Roma






0 komentar:
Posting Komentar